
Pagi ini, suasana di kediaman Kendra tidak secerah biasanya. Suasana tegang dan aura sedih terpancar di setiap wajah yang ada di rumah Kendra yang megah. Baik si Tuan rumah sampai asisten rumah tangga mereka pun terlihat murung menyaksikan Kalya turun dari kamarnya yang berada di lantai dua.
Dengan sebuah koper yang besar --yang dibawakan oleh asisten rumah tangga Kendra lainnya-- dan satu kardus berisikan barang yang akan ia bawa, Kalya datang dan berdiri tepat di hadapan Kendra duduk bersama istrinya saat ini.
"Kamu yakin mau pindah hari ini juga? Nggak tunggu sampai minggu depan aja?"
Sekali lagi, Kendra menanyakan keputusan yang sudah Kalya buat kemarin malam. Entah kenapa, sampai detik ini Kendra merasa belum bisa melepaskan adiknya itu dari rumah mereka.
"Iya, Mas, nggak bisa. Soalnya, Kalya udah terlanjur bilang bakal pindah hari ini juga sama Mas Keanu. Dan bentar lagi, Ricky bakal datang jemput Kalya." Jawab perempuan itu.
Kalya menatap sedih sepasang suami istri itu. Rasanya, ia tidak tega melihat kemuraman yang tergambar di wajah orang-orang yang disayanginya tersebut. Dia tahu, satu-satunya jalan untuk menghilangkan kesedihan di wajah mereka hanyalah dengan tetap tinggal di rumah Kendra. Tapi, Kalya tidak bisa melakukannya. Bukan Kalya tidak mau, hanya saja, dia tidak bisa.
"Rumah ini pasti bakal sunyi banget, kalau kamu pergi." Keluh Kendra bergumam, menatap Kalya dengan sorot mata kesedihan.
"Kamu tahu 'kan, rumah ini selalu terasa sunyi kalau nggak ada kamu. Beda sama rumah Keanu, yang selalu rame karena tiga anaknya yang bawel-bawel." Kendra membuang pandangannya ke arah lain, dan mendesahkan napas panjang. "Nggak kayak rumah ini. Sepi…" keluhnya lagi.
Kalya hanya bisa diam mendengar ucapan Kendra. Kalau dia bisa, dan kalau keadaannya masih seperti sedia kala, tentu Kalya tidak akan mau meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu. Apalagi, sejak kecil, dia lebih dekat dan manja pada Kendra. Walaupun Keanu sama baiknya, tapi tidak seperti ikatan hati Kalya dengan Kendra. Bersama Kendra, Kalya bisa merasakan yang namanya kehangatan keluarga yang sebenarnya.
Ah, andai saja Gavin tidak merusak kebahagiaan Kalya pada malam itu, pasti saat ini Kalya dan Kendra sedang asyik berlari pagi mengelilingi kompleks tempat tinggal mereka bersama.
"Iya, Kalya… Mbak harap, kamu mau pertimbangkan lagi keputusan kamu untuk pindah ke rumah Keanu. Emang, kamu tega, lihat Mbak kesepian? Ntar, yang menemin Mbak jalan-jalan siapa? Terus, kalo Mbak kangen kamu, gimana? Apalagi Gavin. Dia pasti bakal jadi yang paling sedih kalo kamu pindah. Dari kecil, dia 'kan cuma dekat sama kamu," ujar Nia, tanpa sadar, membuat Kalya mendadak bosan.
Harus Kalya akui, beberapa saat lalu dia sempat goyah dan tidak tega meninggalkan Kendra dan juga Nia. Terlalu jahat, jika ia membiarkan Kendra dan juga istrinya itu bersedih karena keputusan Kalya untuk pergi. Hanya saja, sampai saat Nia menyebutkan nama putra semata wayangnya tadi, sisi jahat Kalya pun mulai tertawa. Dia benci dan semakin bertekad untuk mengakhiri hubungannya dengan lelaki yang seharusnya tetap menjadi keponakannya itu andai Gavin tidak mencari perkara dengan Kalya.
"Udahlah, Mbak… nggak usah sedih gitu. Kayak Kalya mau pindah kemana aja," ucap Kalya terkekeh, mencoba menutupi isi hatinya yang sebenarnya.
Gadis itu menunduk. Berlutut di depan Kendra dan juga Nia, kemudian menggenggam sebelah tangan mereka dengan kedua tangannya.
"Kalau Mas Kend, nggak mungkin bakal kangen sama aku. Karena bagaimanapun, aku kan masih kerja di kantor Mas Kendra. Jadi, kalo mau ketemu, tinggal telepon, aku pasti bakalan datang. "
Kemudian, Kalya beralih menatap Nia yang matanya sudah mulai berembun. "Dan untuk Mbak Nia, nggak usah nangis! Kita masih tinggal satu kota, kok! Jadi, kalo Mbak mau jalan, tinggal bilang aja…Kalya pasti datang. Dan lagi, kita juga bisa pergi bareng Mbak Rara. Biar rame, deh… asyik, kan?" bujuk Kalya lagi, entah kenapa membuat wajah Nia semakin muram. Mungkin, itu artinya, apapun yang Nia katakan, adik iparnya itu tetap akan pergi.
"Kamu tahu, apa yang membuat Mas susah untuk melepaskan kamu?"
Kalya menolehkan kepalanya melihat Kendra. "Karena Mas terlalu sayang dan khawatir sama aku, kan? Emang ada alasan apa lagi?" sahut Kalya kemudian tersenyum.
"Bukan cuma itu. Selama ini, Mas bukan cuma anggap kamu sebagai adik. Tapi, Mas juga udah anggap kamu sebagai anak Mas sendiri. Mas udah langsung sayang sama kamu, saat pertama kali dengar tangisan kamu lahir ke dunia ini." Kendra menatap wajah Kalya dan merangkumnya dengan kedua telapak tangannya yang besar.
"Selama dua puluh delapan tahun kamu nggak pernah jauh dari Mas. Dan sekarang, kamu harus pindah dari samping, Mas. Meski itu ke rumah Keanu sekalipun, tetap aja, Mas akan merasa kehilangan kamu, Kalya…," ungkap Kendra benar-benar menyentuh perasaan Kalya, karena Kalya pun merasa demikian.
"Mas… aku mengerti perasaan Mas Kendra seperti apa. Tapi, aku juga tetap harus pergi. Aku udah janji sama Mas Keanu. Mereka udah nyiapin segala sesuatunya untuk aku tinggal di sana. Jadi, nggak mungkin kalau aku batalin janji aku gitu aja. Bisa-bisa, mereka kecewa dan merasa aku nggak sayang sama mereka." Kalya menyentuh punggung tangan Kendra pelan dan melepaskan tangan makanya itu dari wajahnya.
"Tapi, Mas tenang aja… aku punya satu rahasia buat Mas. Mau tahu, nggak?" bisik Kalya sedikit keras, hingga membuat Kendra mengerutkan dahinya bingung.
"Apa?"
Kalya tersenyum sekilas, sembari berkata, "Mas Kendra adalah kakak kesayangan aku. Kakak yang paling aku sayangi!" katanya sukses menghibur sedikit hati Kendra. "Tapi, jangan bilang-bilang sama Mas Keanu, ya! Ntar dia ngambek lagi… terus, kalo dia ngambek, dia pasti nggak mau beliin aku apa-apa lagi. Dia 'kan agak pelit kalo soal uang, jadi, aku harus hati-hati..." sambungnya kemudian menyengir, membuat Kendra dan jadi tertawa.
"Kamu ini, ya... Dia itu bukan pelit, tahu…cuma dia emang nggak mau manjain kamu pakai uang aja! Katanya, takut kamu jadi matre!" Kendra menyentil puncak hidung Kalya hingga gadis itu tertawa.
"Itu makanya, Mas Kendra yang jadi Kakak kesayangan aku! Mas Kend 'kan nggak pelit kalo aku minta ini itu… Ya' kan…?"
Kalya lagi, kali ini berhasil membuang aura kesedihan sedikit hilang dari raut wajah kakak dan iparnya. Meski Kalya harus membahas tentang dirinya di masa lalu, sebelum dia tahu tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Mau tidak mau, Kendra pun akhirnya menyerah. Dia hanya bisa menarik napas panjang seraya tersenyum.
"Yaudah, kalau memang keputusan kamu udah bulat buat pindah, Mas bisa apalagi?" kata Kendra mengedikkan bahunya sekali dan mengusap kepala Kalya dengan sayang.
"Mbak dan Mas pasti akan kangen kamu, Kalya…" tambah Nia pun yang akhirnya bisa menerima keputusan Kalya.
Tin!
Tidak berapa lama, suara klakson dari depan rumah menginterupsi kegiatan mereka, disusul seorang satpam rumah mereka yang berlari tergopoh masuk ke dalam rumah.
"Den Ricky sudah datang, Tuan." Beritahu satpam tersebut.
"Oh, kalau begitu, tolong kamu bawakan koper Kalya ke depan." Pinta Kendra membalas.
Sementara itu, Kendra yang ditemani Nia mengantarkan Kalya hingga ke depan pintu rumah.
"Pagi, Om, Tante…. Apa kabar?"
Seorang lelaki yang baru saja turun dari mobil langsung menghampiri Kendra sekeluarga. Dia mencium punggung tangan Kendra, Nia dan juga Kalya secara bergantian.
"Baik, Ricky…. Kamu sendiri, gimana? Sehat 'kan?" balas Nia mengusap punggungnya Ricky sejenak.
"Yah, kayak yang Tante lihat aja! Aku sehat." Sahut cowok bernama Ricky itu merentangkan kedua tangannya bangga.
"Orangtua kamu? Ricko dan Rika, gimana? Baik? Kok nggak pernah main lagi kemari?"
"Baik, Tante... Tapi, ya gitu… Mereka semua emang lagi sibuk! Tante tahu sendiri kan, restoran yang baru dibuka sama Ricko lagi rame-ramenya. Sedangkan Rika, bentar lagi lulus tugas jadi dokter magang. Jadi, mau gimana lagi?"
"Mereka sibuk, tapi kamu enggak 'kan? Tante dengar dari Om Kendra, kamu nggak begitu sibuk akhir-akhir ini, tapi, kok nggak pernah main kemari, ya?" cetus Nia langsung, seperti menyindir Ricky, hingga membuat cowok itu terbatuk seketika.
"Eum, itu… itu, Tante…anu…"
Ricky yang terlihat tergagap, entah kenapa terlihat lucu, hingga membuat Kendra dan dua wanita di dekatnya, menjadi tertawa.
"Mbak, tahu nggak? Ricky ini emang nggak lagi sibuk kerjaan, Mbak! Tapi, lagi sibuk investasi cinta...soalnya, Kalya dengar, dia pengen nikah tahun depan! Ya, nggak, Ky?" cerita Kalya pada Nia, yang membuat Ricky terbelalak tidak percaya.
"Tente!"
"Oh, ya? Bener itu, Ky? Investasinya sama siapa? Boleh dong, dikenalin sama Om dan Tante… siapa tahu, bisa dibantu lamaran,"
Wajah Ricky jadi memerah saat Kendra mengatakan hal tersebut. Agak malu, sih, rasanya jika niatnya yang ingin segera menikah menjadi bahan tertawaan seperti ini. Ricky jadi punya niat untuk membalas ucapan pamannya tersebut.
"Eum...emang, Om udah siap buat jadi ipar aku? Om rela, kalo aku lamar Tante Kal sekarang? Om bakal terima?"
"Ricky, apaan sih?! Nggak lucu, tahu!"
Plak!
"Awww! Tanteee!!!"
Pukulan yang Kalya berikan di bahu Ricky, seketika membuat cowok itu --yang tadinya menyeringai jahil-- jadi berteriak kesakitan. Matanya melotot kesal pada Kalya yang juga balas menatapnya dengan sorot mata ingin membunuh.
"Siapa suruh jahil! Lihat tuh, Mas Kendra jadi kaget gitu, kan?!" omel Kalya seketika membuat Ricky mengalihkan perhatiannya pada Kendra.
Dan apa yang lelaki itu lihat dari ekspresi pamannya, membuat dia tertawa.
"Aduh, Om…! Muka Om kok lucu banget, sih? Bengong gitu! Aku 'kan jadi ketawa...!" ledek Ricky membuat Kalya menggelengkan kepalanya heran.
"Ricky!" tegurnya gusar, membuat cowok itu sedikit mengerut.
"Hehehe, aku bercanda, Om…! Bercanda…! Jangan ambil serius gitu, dong...!" seru Ricky, perlahan-lahan mengurangi ketegangan wajah Kendra.
"Bercandaan kamu itu nggak lucu tahu, Rick! Kamu buat Om sama Tante kaget, tahu! Dasar!" omel Nia, mengusap dadanya, lalu melirik ke arah Kendra yang masih terdiam.
"Udah, Mas…nggak usah dipikirin omongan keponakan kamu ini. Kamu 'kan tahu sendiri dia gimana dari kecil." Nia melirik Ricky yang masih tersenyum ******** bibirnya. "...jahil!"
"Iya, Mas… nggak usah dengerin Bocah ini! Dia emang rese!"
"ADUH, TANTE! SAKIT…!" Ricky langsung berteriak kencang, saat Kalya menarik sebelah telinganya tanpa aba-aba.
Sambil menarik-turunkan telinga Ricky yang membuat lelaki itu ikut naik-turun, Kalya melanjutkan omelannya. "Heh! Ini Tante peringatin sama kamu, ya! Kamu itu jangan suka bicara sembarangan! Aku ini Tante kamu, tahu! Jangan kurang ajar! Kamu pikir, kamu pantas bicara kayak gitu sama Tante kamu sendiri, hah?! Pantes?!"
"Ng-nggak, Tante… maaf," Ricky meringis kesakitan karena cubitan Kalya di telinganya sangat keras.
"Lagian, asal kamu tahu, ya! Aku ini nggak ada niat buat menikah! Dan aku juga nggak bakalan menikah! Sama kamu, atau sama siapapun! Jadi, walaupun kamu bercanda, kamu tetap nggak boleh ngomong kayak gitu lagi sama aku! Ngerti?!"
"Ngerti, Tante… Ngerti… tapi, tolong lepasin dong, Tante… sakit, tahu... Ntar telinga aku panjang lagi, Tante… Please…" pinta Ricky memohon menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Kalya --yang tampaknya tidak sadar dengan ucapannya tadi-- pun akhirnya melepaskan jewerannya dari telinga Ricky. Dia bertolak pinggang di depan Ricky tanpa melihat perubahan raut wajah Kendra dan Nia yang tampak bingung satu sama lain.
"Sssssh… Tante! Emang aku anak kecil apa, pake dijewer segala! Mentang lebih tua!" rungut Ricky mengusap telinganya yang panas. "Lagian itu tangan apa tang, sih? Kok sakit banget?" imbuhnya lagi, membuat Kalya kembali mendelik kesal.
"Mau Tante jewer pake gunting rumput?" balas perempuan itu, seketika membuat Ricky menggeleng cepat.
"Enggak, Tante... Demi Tuhan, enggak!" seru cowok itu, kemudian bergidik ngeri.
"Psikopat," gumamnya dalam hati.
Sementara itu, Kendra yang memang masih bingung dengan ucapan Kalya tadi, memutuskan untuk bertanya.
"Kalya," panggilnya, saat Kalya sedang memerintahkan Ricky untuk memasukkan kopernya ke dalam mobil.
Perempuan itu berbalik dan menjawab. "Ya, Mas?"
"Itu, Mas mau tanya… soal kamu--"
"Eh, ada Ricky, rupanya..."
Belum sempat Kendra menanyakan apa yang mendadak jadi pikirannya, tiba-tiba saja, Gavin muncul dari dalam rumah dan menatap datar semua orang yang ada di sana.
"Eh, Gav! Apa kabar, lo? Masih nggak sopan aja, manggil gue nama…." Sapa Ricky sarkastik yang hanya dibalas desisan sinis oleh Gavin.
Cowok itu tampak tidak peduli. Dia malah menoleh dan menatap Kalya yang mendadak, menundukkan wajahnya dalam.
"Mau kemana? Kabur?" tanya Gavin penuh sindiran, tak ayal membuat Kendra dan juga Nia yang mendengarnya menjadi bingung.
"Gavin? Maksud kamu apa sih? Kok gitu ngomongnya?" tegur Nia yang lagi-lagi tidak mendapat balasan apapun dari Gavin.
"Kok diam? Perasaan, tadi galak banget sama si Ricky? Pake pegang teling segala lagi… Kok sekarang malah diam?" tuntut Gavin tanpa takut sama sekali.
"Gavin, kamu kok gitu sama Tante kamu? Ada masalah?" tegur Kendra, kali ini membungkam mulut Gavin.
"Rick, ayo kita pergi sekarang!" ajak Kalya langsung, menghindari kontak mata dari Gavin yang terus menatapnya.
"Mas, Mbak, aku dan Ricky pamit dulu, ya… kapan-kapan, aku main ke rumah ini lagi."
Kalya mencium punggung tangan Kendra dan Nia bergantian. Dan saat melewati Gavin, tiba-tiba tangan Kalya ditarik secara diam-diam.
"Gavin...!" Kalya menggeram dalam hatinya melihat sikap Gavin yang seperti ini.
"Gavin, lepas!" Kalya pun akhirnya menoleh dan menatap kesal pada Gavin. Tapi, sayang, lelaki satu itu tampaknya lebih keras kepala lagi daripada Kalya.
"Tante, kenapa…"
Ricky yang baru saja melakukan hal sama pada Kendra dan juga Nia, berhenti di belakang Kalya. Posisinya yang saat ini tidak sengaja menutupi pandangan Kendra dan juga Nia, membuat Gavin merasa leluasa untuk menyentuh tangan Kalya lebih lama lagi. Tapi, tidak dengan mata Ricky yang awas, langsung melihat apa yang Gavin lakukan pada Kalya.
"Ayo, Tante! Kita udah telat!"
Tanpa memberikan kesempatan bicara, Ricky pun segera melepaskan tangan Gavin dari Kalya dengan kasar, dan menarik lengan wanita itu menuju mobil yang terparkir di depan rumah.
Setelah memastikan Kalya masuk ke dalam mobil, Ricky pun berbalik sekali lagi.
"Mari Om, Tante…" ucapnya ramah pada Kendra dan juga Nia. Tapi, saat matanya berserobok dengan Gavin, wajah lelaki itu berubah menjadi dingin.
"Pengecut!"
*****