Be My Brides

Be My Brides
Episode 31



Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, lusa adalah hari dimana Gavin akan melaksanakan seminar proposalnya. Meskipun hal itu bukanlah sesuatu yang cukup berat, namun Gavin tetap berusaha untuk menampilkan yang terbaik untuk hasil kuliahnya. 


Selama dua hari ini, Gavin belajar dengan serius. Dia sudah mengurangi waktu bertemunya dengan Kalya, dan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Berlatih dan mempelajari isi skripsinya lebih dalam lagi, untuk bisa mengejar target kelulusan dari yang ia pikirkan sebelumnya. Dia sudah tidak sabar, untuk mencari kerja dan tinggal satu atap dengan istrinya. 


"Gavin," 


Gavin yang saat ini tengah membaca ulang isi proposal skripsinya, berhenti, ketika pintu ruangannya terbuka dan menampilkan sosok ibunya. 


"Ma," sapa Gavin tersenyum. 


"Lagi latihan?" tanya Nia, masuk ke dalam kamar Gavin dan duduk di atas ranjang pemuda tersebut. 


"Iya, Ma… Biar nggak gagap waktu seminar nanti." Jawab Gavin santai, menghampiri Nia yang memegang sebuah piring di tangannya. 


"Mama bawa apa?" tanya Gavin melihat apa yang Nia bawa untuknya. 


"Ini, tadi Papa kamu pulang bawa melon. Katanya lagi pengen makan ini, sih… Jadi, sekalian aja Mama potong buat kamu." Kata Nia, sembari menyerahkan piring buahnya kepada Gavin. 


"Loh, emang Papa udah pulang?" tanya Gavin heran, lantas melihat ke arah jam yang ada di dinding kamarnya masih menunjukkan pukul lima sore.


"Iya, udah." 


"Tumben," 


"Ya nggak tahu juga, sih… Emang udah beberapa hari ini Papa kamu tuh, suka pulang lebih awal. Mama juga heran, kenapa…" Jawab Nia, seketika, membuat Gavin menyipitkan matanya curiga. 


"Jadi, akhir-akhir ini, Papa sering pulang cepat?" tanya Gavin memastikan, yang anehnya dengan nada bicara yang sedikit berbeda. 


"Iya, emang kenapa?" tanya Nia balik, mengerutkan dahinya heran. 


"Ouh… Ouh… Ouh… Apa-apaan ini? Kenapa Pak Kendra Sunjaya yang biasanya hobi kerja sampai malam, bisa berubah jadi hobi cepat pulang? Ada apa ini? Apa karena beliau sudah tidak punya pekerjaan lagi di kantornya, atau karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istri tercintanya di rumah? Hm…? Hm…? Hm…?" goda Gavin tiba-tiba kepada Nia, sambil menaik turunkan kedua alisnya. 


"Hush! Gavin, apaan sih! Usil banget!" tegur Nia masam, membuat Gavin yang tadi **** senyum, menjadi tertawa. 


"Cie… Cie… Cie... Cie... Yang lagi puber kedua…" 


"Gavin!" 


Dan tawa Gavin pun langsung pecak terbahak-bahak, melihat wajah ibunya memerah. 


"Bandel banget, sih!" omel Nia lagi, semakin membuat Gavin merasa senang, dan memeluk tubuh ibunya gemas. 


"Sory deh, Ma… Abis, Gavin senang, kalo Papa itu semakin hangat sama Mama. Ya, walaupun sikapnya sama orang lain tetap dingin dan agak ketus, tapi seenggaknya sama Mama, Papa bisa lebih manis. Iya nggak?" kata Gavin pada Nia, yang mengusap lengan anaknya itu dengan penuh kasih sayang. 


"Kamu tahu, karena kamu itu mirip banget sama Papa, ya?" balas Nia santai, melirik ke arah Gavin yang langsung menoleh ke arahnya. 


"Kenapa? Kamu nggak ngerasa? Emang kamu nggak tahu, kalau kamu itu ketus?" tanya Nia, balas menggoda Gavin, yang seketika membuat pria itu memutar pandangannya berpikir. 


"Kamu itu 'kan galak banget, Gavin… Apalagi, sama orang lain. Kamu bisa lebih judes daripada nenek-nenek yang kehilangan kondenya tahu, nggak?" ledek Nia lagi pada Gavin, sambil mencubit sebelah pipi anaknya itu pelan. 


"Hah? Masa sih, Ma? Perasaan, Gavin nggak gitu, deh…" Balas Gavin setengah terbengong, dengan alis yang kembali bertautan. 


"Iya, kamu emang nggak gitu. Tapi, lebih parah daripada itu!" tandas Nia terkekeh pelan, melihat Gavin yang mencebikkan bibirnya sebal.


"Paling cuma sama Kalya doang kamu manisnya. Nggak galak, nggak ketus, dan sukanya berbicara dengan cara lemah lembut. Yah, maklum sih, ya… Namanya juga orang kecintaan. Ya, nggak Gavin?" goda Nia kemudian, membuat wajah Gavin lambat laun, berubah menjadi merah. 


"Apa ya, sebutannya buat orang kaya gitu…?" 


Seolah belum puas dengan meledek anaknya, Nia pun mengetuk dagunya pelan, seolah berpikir. 


"Ah, Mama ingat…!" seru Nia girang, melihat ke arah Gavin dengan semangat. 


"Bucin."


"Mama!"


Kali ini, giliran Nia yang tertawa terbahak-bahak. Melihat wajah merah Gavin yang cemberut, membuat wanita itu mengusap rambut Gavin dengan lembut. 


"Ah, rasanya udah lama Mama nggak lihat muka kamu ceria kayak gini, Gavin… Mama jadi kangen," ucap Nia tiba-tiba, dengan kedua matanya yang langsung berembun.


"Dulu, suara kamu aja yang selalu kedengaran di rumah ini. Tapi, lambat laun, kamu jadi pendiam. Dan itu buat Mama khawatir." Ungkap Nia pelan, memperhatikan tangannya yang membelai halus kepala anaknya. 


"Mama pikir, seiringnya kamu bertambah dewasa, sikap ceria kamu juga bakal menghilang untuk keluarga ini." Lanjut Nia lagi, lantas menarik napas panjangnya sejenak dan membuangnya. 


"Maaf, Mama nggak bisa mengerti sama perasaan kamu sebelum ini. Mama terlalu fokus sama perasaan Mama sendiri, sampai nggak sadar, kalau Mama udah menyampingkan perasaan kamu. Mama--" 


"Ma…" 


Nia yang kembali terlihat sedih, menghentikan ucapannya, ketika Gavin menggenggam kedua tangannya. 


"Itu bukan salah Mama. Semua orangtua pasti berusaha melakukan yang terbaik untuk anaknya. Tapi, ya terkadang, emang ada masanya anak itu lebih mikirin ego daripada perasaan kedua orangtuanya. Jadi, Mama nggak salah kok…" Balas Gavin lembut, tak kuasa, membuat Nia merasa sedikit terharu. 


"Oooh, yang mau jadi ayah, udah bisa berpikir dewasa, ya?" angguk Nia **** senyumnya, menggoda Gavin hingga merasa sedikit malu. 


"Mama," 


Dengan rasa senang, Nia berhambur memeluk tubuh Gavin dan mengusap punggung anaknya itu pelan. 


"Mama yakin, dengan semua hal yang udah kamu dapat, kamu pasti bisa jadi orangtua yang baik. Dan Mama akan selalu dukung apapun yang kamu lakukan untuk keluarga kamu ke depannya." Ucap Nia masih mengusap punggung Gavin, yang hanya dibalas gumaman pelan oleh pria tersebut. 


"Makasih, Ma…" Ucap Gavin begitu halus. 


Sejenak, ibu dan anak itu berpelukan, hingga tiba saatnya Nia tersadar, dan langsung menatap kedua mata Gavin dengan tajam. 


"Oh, ya… Mama baru ingat. Soal Thalita… Gimana perempuan itu sekarang?" tanya Nia tajam, melihat Gavin yang mengerutkan alisnya bingung. 


"Ngapain Mama nanyain dia? Kangen?" sindir Gavin kesal, seketika mendengar nama Thalita disebut. 


"Ih, amit-amit! Ya, enggak lah! Apaan sih, kamu ini…!" sembur Nia terlihat dongkol. 


"Mama nanya, karena kemarin Mama dengar dari Tante Rara, kalo kamu dan Kalya itu ribut gara-gara perempuan itu!" ujar Nia marah, menopangkan kedua tangannya di dada. 


"Oh…" 


"Dengar ya, Gavin! Apapun ceritanya, Mama nggak mau kalau sampai hubungan kamu sama Kalya rusak cuma karena orang lain. Terutama si Thalita itu! Mama nggak mau dan nggak akan pernah sudi, kalau kamu sampai tergoda apalagi berpaling sama dia! Paham kamu?!" tuding Nia mengomel, pada Gavin yang mendadak sakit telinga mendengar ocehan ibunya. 


"Aduh, Mama… Nggak usah Mama teriakin juga, Gavin nggak bakal pernah tergoda sama perempuan berlidah ular kayak gitu. Jadi--" 


"Jangan sesumbar!" sela Nia keras, membuat Gavin sedikit kaget mendengarnya. "Di luar sana banyak laki-laki yang awalnya bilang nggak bakal tergoda kayak kamu! Tapi, kenyataannya? Baru ditunjukin paha mulus dikit aja, matanya udah langsung jelalatan ke sana ke mari! Jadi, jangan omong besar, kalo kenyataannya nanti kamu nggak sanggup ngelakuinnya! Dengar?!" ultimatum Nia lagi sangat berapi-api dan membuat Gavin bingung sendiri menghadapinya. 


"Iya, Ma… Dengar," jawab Gavin tersenyum tipis, karena dia tidak tahu lagi harus bersikap apa menghadapi ocehan ibunya.


"Mama heran, apa sih maunya si Thalita itu? Kenapa bisa-bisanya dia datang lagi, setelah ninggalin Ricko gitu aja? Memang dasar perempuan nggak punya hati!" rutuk Nia masih terlihat marah, sambil membuang pandangannya ke arah lain. 


"Mama berharap, dia menghilang aja dari kehidupan kita. Nggak pernah hadir, atau kalau bisa, mati aja deh, sekalian! Biar--" 


"Mama…"


Sumpah serapah yang Nia lontarkan atas diri Thalita terputus, ketika mendengar Gavin memanggilnya dengan gusar. 


"Apa? Kamu mau belaian dia? Kamu mulai tertarik sama dia?!" cecar Nia jengkel, menatap sengit pada Gavin yang menggelengkan kepalanya pelan. 


"Bukan gitu, Ma… Gavin mah, nggak peduli dia itu mau gimana nantinya. Yang Gavin pikirin sekarang, ngapain Mama ngomel-ngomel kayak gitu cuma karena mantan tunangannya si Ricko yang nggak penting itu? Mama mau, darah tinggi Mama kumat, terus masuk rumah sakit cuma karena perempuan yang nggak punya otak kayak dia? Mama mau tiba-tiba stroke cuma gara-gara kesel sama dia?"


"Kamu nyumpahin Mama?" sengit Nia lagi, membuat Gavin menarik napasnya panjang. 


"Bukan nyumpahin… Gavin cuma nggak mau Mama kenapa-kenapa, cuma karena mikirin dia doang. Gavin mau, Mama sehat, sampai nanti anak Gavin lahir dan bisa manggil Mama dengan sebutan Oma." Ucap Gavin, lantas merangkul Nia yang masih memasang wajah cemberutnya. 


"Udah, pokoknya Mama nggak usah khawatir lagi soal perempuan itu ataupun yang lainnya. Percayakan semuanya sama Gavin. Gavin janji, nggak akan biarin siapapun untuk mengambil kebahagiaan keluarga kita. Ya… kecuali dia mau mati."


"Gavin,"


"Hehehe…" 


Gavin semakin mengeratkan pelukannya di bahu Nia, dan membujuk wanita paruh baya itu untuk tidak marah-marah lagi. Meski di dalam hatinya masih ragu, soal Thalita yang mungkin tidak akan diam, dengan keadaan keluarga mereka yang seperti ini. 


Terakhir, Gavin mendengar kalau dia kembali mengganggu Ricko hingga tidak pulang ke rumah malam itu. Membuat Gavin bertanya-tanya, bagaimana kabar saudara sepupunya itu saat ini. 


"Apapun itu, gue harap… Lo baik-baik aja, Ko." 


***


Keesokan harinya, Gavin berencana untuk mengantarkan Kalya ke rumah sakit. Setelah mengetahui kalau wanita itu hamil, Kalya tampaknya belum pernah memeriksakan kandungannya sekalipun. Dan karena khawatir terjadi sesuatu terhadap calon bayinya, Gavin pun berinisiatif untuk mengajak istrinya tersebut untuk cek up. Meski awalnya Kalya menolak karena alasan Gavin akan melakukan seminar esok hari, tapi Gavin tetap berkeras dan memaksa wanita itu untuk ikut. 


"Kamu yakin, kita mau ke rumah sakit sekarang? Nggak sebaiknya besok lusa aja?" tanya Kalya untuk kesekian kalinya pada Gavin, saat pria itu sudah tiba di depan rumah Keanu untuk menjemputnya. 


"Nggak. Kalau bisa hari ini kenapa mesti nunggu besok, sih?" ajak Gavin langsung menarik lengan Kalya menuju mobilnya yang ia parkir di halaman rumah Keanu. 


Dengan malas, Kalya duduk di kursi penumpang yang ada di samping Gavin, begitu pria itu membukakan pintu untuknya. Entah kenapa, rasanya beberapa hari ini Kalya sangat malas untuk keluar rumah. Malas bergerak, dan gampang merasa bosan jika tengah melakukan sesuatu hal. 


"Oh ya, gimana keadaan Ricko? Dia udah pulang?" tanya Gavin, mencari bahan pembicaraan dengan Kalya, karena melihat wanita itu hanya diam sambil menghelakan napas berat sepanjang perjalanan. . 


"Udah." Jawab Kalya lesu, membuat Gavin mengangguk. 


"Tapi, pergi lagi." Sambungnya, seketika membuat Gavin kembali menoleh kepadanya. 


"Pergi lagi? Kemana?" tanya Gavin penasaran. 


"Restoran."


"Jadi, selama ini, dia nggak pulang ke rumah itu, kemana?" 


"Restoran juga." Jawab Kalya lagi, membuat Gavin mengerutkan dahinya heran. 


"Waktu abis ketemu sama Thalita waktu itu, Ricko nggak pulang ke rumah. Katanya sih, dia tidur di restoran. Nggak tahu deh, benar apa enggak. Dia juga nggak mau ngomong banyak soal itu." Jelas Kalya lagi, dengan mimik wajahnya yang lesu, menyandarkan kepalanya di jendela mobil. 


"Itu anak kok, bikin khawatir aja sih…," keluh Kalya kemudian menghelakan napas panjang dan berat. 


Semula, Gavin hanya terdiam mendengar ucapan Kalya. Pikirnya, mungkinkah Kalya terlihat tidak bersemangat begini hanya karena memikirkan Ricko? 


"Kal," panggil Gavin pelan, hanya dibalas gumaman singkat dari Kalya. 


"Seandainya aja… Aku ada di posisi Ricko, kamu khawatir juga, nggak?" tanya Gavin tiba-tiba pada Kalya, hingga membuat wanita itu menolehkan kepalanya. 


"Maksud kamu?" tanya Kalya terlihat bingung. 


"Ya… Maksud aku, kalau misalnya aku ada posisi Ricko yang nggak pulang semalaman, terus tibanya pulang, malah pergi lagi tanpa ngucapin apa-apa… Kamu khawatir, nggak?"


"Ya, khawatirlah! Gimana sih?" rungut Kalya membalas, menekuk wajahnya tidak senang. 


"Jangankan kamu ataupun Ricko! Ricka atau Ricky aja yang bandelnya minta ampun gitu, kalau nggak pulang ke rumah semalaman dan nggak kasih kabar, pasti bikin aku merasa khawatir!" ujar Kalya berikutnya, tanpa sadar membuat Gavin kembali terdiam. "Gimana, sih?" 


Gavin hampir merasa senang mendengar ucapan Kalya yang mengkhawatirkan dirinya tadi. Tapi, begitu mendengar ucapan wanita itu berikutnya, seketika pula rasa bahagia Gavin berubah menjadi perasaan yang sulit untuk diartikan. Ingin marah, namun tidak tahu harus seperti apa. 


"Oh… Gitu, ya?" gumam Gavin, hanya bisa menahan sesak di dadanya.


Lalu, tanpa berusaha untuk membuka pembicaraan lagi dengan Kalya, Gavin tampak fokus dengan jalanan yang ada di depannya. Meski pikirannya sudah melalang buana entah kemana, Gavin tetap meneruskan niatnya untuk mengecek keadaan buah hatinya di kandungan Kalya. 


Tidak berapa lama, mobil Gavin pun akhirnya berhenti di parkiran sebuah rumah sakit besar yang tadi di rekomendasikan oleh ibunya. Dia segera turun, dan menuntun Kalya keluar dari dalam mobil. 


Dalam diam, Gavin mulai mengaitkan tangan Kalya di lengannya dan memasuki rumah sakit tersebut. Entah kenapa, hatinya sedang tidak ingin berbicara apapun lagi dengan wanita tersebut. 


"Eh, Gavin, sebentar!" 


Gavin hampir berdecak sebal, saat hendak menaiki undakan tangga rumah sakit, Kalya tiba-tiba berhenti dan menahan tangannya dengan kuat. 


"Kenapa sih, Kal?" tanya Gavin sedikit ketus, pada Kalya yang tampak sedang memperhatikan sesuatu dengan cara seksama. 


"I-itu…!" tunjuk Kalya ke arah sebuah mobil ambulans yang baru saja lewat di hadapan mereka, dan berhenti di depan pintu unit gawat darurat yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. 


Mengikuti arah jari telunjuk Kalya, Gavin pun melihat beberapa petugas dari ruang UGD mengerumuni pintu belakang ambulans dan mengeluarkan seseorang. 


Tapi, bukan orang di atas tandu ambulans tersebut yang menjadi fokus Gavin. Melainkan sosok pria yang ikut keluar dari mobil pengangkut orang sakit tersebut, yang membuat kedua mata Gavin melebar. 


Sambil mengerutkan alisnya dalam, dia pun bergumam. "Ricko?" 


"Thalita?" 


Bersambung