Be My Brides

Be My Brides
Episode 56



Gavin sudah duduk di kursi kerjanya, setelah selesai menyerahkan kontrak kerjasama yang didapatkannya untuk urusan produk baru perusahaan mereka. Dia menarik napas panjang, dan menghelakan secara perlahan. 


"Vin! Gue dengar, lo kau resign, ya?" 


Gavin yang tengah memperhatikan meja kerjanya dalam diam, menoleh saat melihat Anggi berjalan ke arahnya. 


Sambil memberikan seutas senyum tipis, Gavin mengangguk. 


"Loh, kok cepat banget, sih? Bukannya lo bilang, akhir bulan depan, ya?" tanya Anggi cemberut, pada Gavin yang hanya diam menatapnya. 


Memang, Gavin pernah mengatakan kalau dia hanya akan bekerja di tempat itu, sampai akhir bulan depan saja. Tapi, karena permasalahan yang kemarin mereka hadapi, membuat Gavin mengambil keputusan lain, untuk segera mundur dari tempat ia bekerja saat ini. 


"Padahalkan, lo belum ada tiga bulan kerja di sini. Masa udah mau resign aja sih, Vin? Kesel banget deh, gue…" Rungut Anggi masih cemberut, duduk di kursi yang ada di sebelah Gavin. 


"Ini karena permintaan istri lo, ya? Dia nggak mau, kalau lo--" 


"Istri gue nggak kekanak-kanakan gitu, kali… Asal banget sih lo, Mbak…" Sengit Gavin tidak suka, pada Anggi yang segera menyipitkan kedua matanya curiga. 


"Lah, terus, kenapa dong, lo tiba-tiba resign? Emang lo ada masalah?" tanya Anggi menuntut, yang kali ini hanya dibalas gidikan bahu sekilas oleh Gavin. 


"Semuanya ada alasan. Tapi, nggak semuanya juga lo mesti tahu," balas Gavin santai, lantas membuat wajah Anggi semakin terlihat kusut mendengarnya. 


Sejenak, Anggi menunduk. Dia jelas terlihat sangat sedih dengan keputusan yang Gavin ambil. Dia seperti seseorang yang akan kehilangan semangat hidupnya. 


"Nggak asyik, banget sih, kalo lo nggak ada… Sumpah! Gue bosen," keluh Anggi pelan, masih menunduk, sontak membuat Gavin menarik sudut bibirnya sedikit tipis. 


"Kenapa bosen? Lo kira gue ini mainan lo, apa?" ledek Gavin sedikit sinis, melihat Anggi yang hanya menarik napasnya sedikit panjang. 


Lagi-lagi, Anggi tidak bersuara. Dia berulang kali membuang napas beratnya, sambil bergumam tidak jelas. 


Melihat itu, Gavin merasa sedikit kasihan. Ingin menghibur, tapi takut kalau Anggi malah semakin pecicilan jika mendengarnya. 


Selama ini, Gavin cukup tahu, kalau Anggi hanya mencari perhatian saja dengannya. Mencari perhatian dalam arti, ingin mengalihkan perhatiannya yang mungkin selalu tertuju pada sesuatu yang tidak dia inginkannya. 


"Ngapain lo masang tampang sedih gitu? Nggak rela, kalo Gavin ninggalin lo?" 


Gavin baru akan membuka mulutnya, saat tiba-tiba saja Andi datang --dengan gaya sinis-- berdiri menyandar di depan meja Gavin. 


"Lo nggak jera juga, godain laki orang? Mau gue kasih pelajaran lagi?" ujar Andi, dengan ancaman terselubung, membuat Anggi mulai merasa risi melihatnya. 


"Yaudah deh, Sayang… Kalo gitu, semoga sukses di tempat lain, ya… Jangan pikir ini yang terakhir, loh… Lo bisa kok, manggil gue kalo emang lo butuh," kata Anggi genit, mengabaikan ucapan Andi dengan cara menyolek dagu Gavin sedikit. 


"Oke, Sayang… Bye!" ujar Anggi mengerling pada Gavin, lantas berdiri dengan gaya sombong meninggalkan meja Gavin yang terbengong, bersama Andi yang tampak sedang menahan emosinya. 


"Dia ngacangin gue lagi?"


Gavin menoleh, melihat Andi yang bergumam sambil terus menatap kepergian Anggi yang kian menjauh. 


Lalu, tanpa diminta, Andi duduk di kursi sebelah Gavin yang tadi diduduki oleh Anggi. 


"Lo… ada urusan apa sih, sama Mbak Anggi?" tanya Gavin agak penasaran, karena interaksi aneh keduanya yang cukup sering dia lihat. 


Gavin curiga, kalau tingkah pecicilan Anggi itu memang ada pengaruhnya dengan Andi. Dilihat dari gelagat wanita itu terhadap Andi yang sangat bertolak belakang dengan sikap Anggi kepada pria lain di sekitarnya.


"Ah, enggak. Gue nggak ada urusan apa-apa sama dia. Kenapa?" elak Andi tersenyum kikuk, yang jelas terlihat di ganjil di mata Gavin. 


"Lo naksir sama dia?" terka Gavin, sontak membuat kedua mata Andi membola.


"Hah?! Lo--" 


"Atau lo benci?" terka Gavin lagi menyelak, kemudian mengerutkan sedikit alisnya samar. 


"Lo bilang, kalo lo pernah menikah dan bercerai. Apa… Ini ada urusannya sama dia? Apa Anggi pernah ngelakuin sesuatu hal yang fatal? Atau dia yang--" 


"Dia mantan istri gue." Sahut Andi begitu pelan, tak ayal langsung membuat tubuh Gavin membeku. 


"Ma--mantan? Maksudnya?" 


Andi terlihat menarik napas panjang dan membuangnya. Wajahnya terlihat lesu, saat menatap lurus ke lantai ruangan mereka yang terlihat cukup bersih. 


"Gue sama dia nikah karena dia hamil duluan. Ya, lo tahulah… Pergaulan yang salah itu gimana. Dan dia… hamil anak gue." Aku Andi lirih, mengedikkan bahunya gamang, tidak berani menatap sekitar. 


Yah, Gavin cukup tahu, bagaimana sebuah rumah tangga tanpa ada cinta kedua belah pihak di dalamnya. Tapi, Anggi? 


"Mbak Anggi cinta sama lo?" tanya Gavin spontan, membuat Andi segera menoleh ke arahnya. 


Sembari tersenyum tidak percaya, Andi bertanya, "Tumben lo penasaran? Biasanya, lo nggak peduli sama apapun cerita orang. Apa sekarang, lo mulai tertarik sama si bongsor itu?" selidik Andi yang terdengar cukup aneh, kali ini dibalas Gavin dengan dengusan tanda sebal. 


"Gue masih cinta sama istri gue. Kalo lo nggak mau jawab, ya udah… Terserah," sahut Gavin omong kosong, dimana sebenarnya dia penasaran dengan cerita Anggi dan juga Andi. 


Selama ini, Gavin tidak bisa menampik kalau dia melihat sorot mata lain kala Anggi tengah menggodanya atau sedang bertatap muka dengan Andi. 


Saat melihatnya, Gavin akan mendapati kesan sayu dan tidak bersemangat dari kedua mata Anggi. Dan saat berhadapan dengan Andi, Gavin bisa melihat kalau Anggi tengah menyimpan sebuah amarah, dimana dia seperti ingin melukai siapapun yang ada di dekatnya.  Dari situ, Gavin menilai, kalau Anggi pasti sudah banyak disakiti. 


Andi tersenyum. Sangat tipis, dengan pandar mata yang sangat lesu. 


"Gue nggak peduli dia cinta sama gue atau enggak. Yang jelas, gue pengen… Dia balik ke sisi gue, dan menjadi istri gue lagi. Itu--" 


"Egois." Kata Gavin singkat, sontak membuat dia merasa kaget sendiri. 


Hell! Tolong ingatkan Gavin kalau dia pun pernah bersikap demikian terhadap Kalya. 


"Egois, lo bilang?" 


Gavin melirik ke arah Andi yang tengah tertawa dengan nada suara yang sumbang. Untung saat ini adalah jam istirahat. Jadi, ruangan mereka terlihat cukup sunyi, untuk keduanya membahas hal aneh seperti ini. 


"Gue cinta sama dia. Apapun bakal gue lakuin untuk mendapatkan Anggi lagi buat gue. Apa lagi…" Andi menghentikan ucapannya, saat Gavin melihat mata pria itu memerah.


"Gue mau menebus rasa bersalah gue sama dia. Karena gue… Anggi jadi kehilangan bayinya." Kata Andi, kali ini benar-benar membuat Gavin terkejut. 


"Maksud lo…? Mbak Anggi keguguran, Mas?" tanya Gavin terpekik, kemudian menutup mulutnya, kala mereka menjadi perhatian beberapa detik dari sekitar. 


Andi tidak menjawab. Dia hanya termenung, menggenggam kedua tangannya satu sama lain, dengan pikiran yang sudah terbang entah kemana. 


Seketika, Gavin merasa prihatin dengan seniornya ini. Bodoh, tapi Gavin juga pernah melakukan hal demikian terhadap Kalya. Tapi, untungnya bayi mereka baik-baik saja, dan membuat dia berhasil memikat hati wanita itu, untuk dapat membalas cinta yang Gavin berikan kepadanya.


Ah, mendengar cerita Andi, membuat Gavin merasa sedih dan merindukan Kalya saat ini. Kira-kira, apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu sekarang, ya? 


"Vin…!" 


Gavin yang tadinya tengah termenung, langsung tersadar, saat Andi menyenggol lengannya sedikit keras. 


"Ya?" 


"Handphone lo bunyi," 


"Ha?" 


Andi yang merasa heran dengan Gavin, hanya menunjuk ke arah celana bahan Gavin, dimana saat ini ponselnya tengah berdering.


Sadar dengan apa yang dimaksud oleh Andi, sontak membuat Gavin langsung meraih ponsel di saku celananya, dan menjawab panggilan tersebut. 


"Halo?" 


"Halo, apa benar ini Gavin?" sapa suara di seberang telepon tersebut terdengar cukup berat. 


Sejenak, Gavin menjauhkan ponselnya. Ditatapnya layar ponsel pintar miliknya, yang menampilkan sebuah deretan nomor yang tidak dikenal. 


"Iya, benar. Ini siapa?" tanya Gavin, setelah mendekatkan kembali ponsel itu di telinganya. 


"Ini saya… Malik." Jawab orang tersebut, membuat tubuh Gavin sedikit menegang. 


Gavin masih ingat, kalau Malik itu adalah nama ayah mertuanya. 


"Ya… Kenapa--" 


"Kamu ada waktu? Saya… mau bicara sesuatu sama kamu."


Bersambung