
Cowok berkulit putih dan bertubuh tinggi itu, sudah berdiri di depan pagar rumah Kalya sejak beberapa menit yang lalu.
Di sana, di teras rumah Kalya, terlihat kalau wanita itu tengah duduk sambil bercerita dengan seorang pria. Kemarin, saat dia baru tiba di kediaman ibunya, dia sempat berpapasan dengan seorang pria yang disebut-sebut sebagai suami Kalya, Gavin.
Tapi, Kaisar yakin, kalau laki-laki yang saat ini tengah bercengkrama dengan Kalya di teras rumah itu, bukanlah Gavin, orang yang dilihatnya bersama Kalya kemarin. Melainkan, seornag pria asing yang terlihat sedikit aneh dan mencurigakan, dari gelagatnya yang terus menatap Kalya diam-diam.
Pelan, tanpa sadar atau memang tanpa kesopanan terlebih dahulu, Kaisar pun mendorong sedikit pagar rumah Kalya yang memang sejak tadi tidak tertutup rapat. Samar, didengarnya kalau Kalya dan pria itu tengah tertawa bersama, sebelum akhirnya terlihat sangat serius kembali.
"Mulai sekarang, kamu bisa panggil aku Mas, dan bisa cerita apapun sama aku, seperti aku ini Kakak kamu. Kamu bisa anggap aku ini sebagai saudara dari pihak mempelai wanita. Atau, lebih enaknya anggap aku sebagai kakak kamu. Kakak yang artinya saudara buat kamu sendiri. Gimana?"
Mendengar kalimat tersebut, alis Kaisar menungkik sedikit. Keluarga dari mempelai wanita dan kalimat sebagai saudara sendiri, bukankah bisa diartikan sebagai keluarga yang sebenarnya? Saudara seayah, ataupun saudara seibu? Tapi, kenapa laki-laki itu bisa berkata demikian?
"Iya, aku--"
"Memangnya kamu siapa?" tanya Kaisar tanpa sadar, membuat Kalya dan juga pria asing tersebut tampak kaget melihat kehadirannya di sana.
Sambil melempar tatapan heran satu sama lain, terdengar Kalya dan laki-laki aneh itu bergumam.
"Sejak kapan dia di sana?"
Sadar dengan apa yang telah dia lakukan, dan raut wajah bingung Kalya melihat dirinya, tak ayal langsung membuat Kaisar sedikit salah tingkah. Dia menoleh ke kiri dan kanan secara gugup, sebelum akhirnya melangkah lebih maju dan mengulurkan tangannya sopan.
"Hai, saya… Kaisar. Saya anaknya Bu Sarah, yang tinggal di rumah paling ujung. Salam kenal!" ujar Kaisar ramah pada Kalya, meski terlihat betul kalau dia sedang gugup saat ini.
"Oh? Anaknya Bu Sarah?"
Kalya yang tadinya duduk, kini berdiri dan menyambut uluran tangan Kaisar sebentar.
"Salam kenal. Saya Kalya." Balas Kalya, kemudian mengerutkan alisnya sedikit.
"Saya baru ini ngelihat kamu. Kamu, anaknya yang lagi liburan sekolah itu, ya?" tanya Kalya basa-basi, dibalas anggukan kepala semangat dari Kaisar.
"Iya. Sekolah saya lagi libur. Jadi, saya datang ke mari buat cari kegiatan."
"Maksudnya, kegiatan untuk mengganggu orang lain, begitu?"
Kaisar yang tadinya hanya terfokus pada Kalya dan kekagumannya melihat wanita itu berada di dekatnya, langsung menoleh, saat Mario berdiri dan berbicara dengan nada sarkastik terhadapnya.
"Maaf, Bapak ini siapa, ya? Bukan suaminya Kak Kalya, kan?" tanya Kaisar sengit, melirik Mario dengan tatapan tidak suka.
Sementara itu, Mario dan Kalya yang merasa bingung dengan cara bicara anak di depan meraka ini, saling melirik sekilas, sebelum akhirnya mendesah.
"Bukan. Saya memang bukan suaminya Kalya. Tapi, saya ini Kakaknya." Kata Mario, lantas megulurkan tangannya ke arah Kaisar.
"Kenalkan, nama saya Mario." Ujar Mario pada Kaisar, berniat berkenalan, yang malah dibalas lebih sengit lagi oleh cowok tersebut.
Dengan alis yang naik sebelah dan pandangan yang menyusuri penampilan Mario dari atas hingga bawah, Kaisar berhasil menunjukkan pada dua orang di hadpaannya kalau dia bukanlah tipe anak yang mudah dibohongi.
"Nggak mirip. Bapak ini hanya mengaku-ngaku saja sebagai abangnya Kak Kalya, ya? Bapak ini siapa? Penipu? Atau pencuri?" tuduh Kaisar tajam, tidak peduli dia baru saja mengenal orang di depannya atau tidak. Dia bahkan tidak mau tahu, kalau misalnya nanti Mario tersinggung mendengar ucapannya atau tidak. Yang penting, saat ini, dia hanya fokus terhadap dugaannya terhadap Mario.
"Ehm, maaf, Kaisar…" Tegur Kalya merasa tidak enak, melihat Mario yang melirik ke arahnya.
"Senang bertemu dengan kamu. Tapi, kamu ada urusan apa ya, kemari? Apa ada yang bisa Ka-Kakak bantu?" tanya Kalya hati-hati --sedikit tergagap sih, sebenarnya-- pada Kaisar, yang sontak menoleh ke arahnya.
"Oh, sebenarnya nggak ada. Malah, tadi Mama suruh saya ke mari, karena Mama bilang Kak Kalya sendirian di rumah. Mungkin, Kak Kalya merasa kesepian? Kakak mau saya temani?" tanya Kaisar peduli, yang entah mengapa justru membuat Kalya merasa heran sendiri.
"E--enggak. Ka--Kakak nggak papa. Kakak udah biasa sendiri, kok. Jadi, kamu nggak perlu temani Kakak." Jawab Kalya kaku, melihat Kaisar menganggukkan kepalanya pelan.
Meski cowok itu terlihat tersenyum, tapi Kalya merasa melihat kekecewaan di raut wajah anak remaja tersebut.
"Ya udah, kalau Kakak nggak mau saya temani. Tapi…"
Kaisar yang tadinya terlihat agak murung, tiba-tiba saja menoleh ke arah Mario, dan membuat pria itu tersentak menatapnya.
"Bapak ini nggak boleh lama-lama di sini. Bang Gavin kan lagi nggak ada. Jadi, nggak bagus kalau Kak Kalya lama-lama sama laki-laki lain di rumah. Bisa timbul fitnah." Ketus Kaisar begitu tajam, sontak membuat Kalya dan Mario saling melirik satu sama lain.
"Ehm, i--iya… Ini juga saya mau pulang." Kata Mario tergagap, kemudian melihat Kaisar yang melotot kepadanya.
"Biasa aja ngelihatnya! Lebay banget…" Cetus pria itu pada Kaisar, yang malah dibalas cibiran angkuh oleh cowok tersebut.
"Ya udah, Kak Kalya. Kalau gitu, saya pamit dulu. Kalau ada apa-apa, Kak Kalya nggak perlu sungkan buat datang. Rumah kami pasti selalu terbuka untuk Kakak." Ujar Kaisar lembut, sembari tersenyum pada Kalya, hingga menampilkan ginsulnya yang terlihat manis ketika dia tersenyum.
"Iya, makasih, ya…" Balas Kalya ramah, menganggukkan kepala ketika Kaisar undur diri.
Sempat cowok itu melirik sinis ke arah Mario sekali, dan membuat oria itu mendengus tidak percaya kepadanya.
Seumur-umur, baru ini ada anak yang jauh lebih muda darinya bisa bersikap songong seperti ini terhadapnya. Ya, selain Gavin tentunya.
"Heran ya, tuh anak. Siapa pun yang bakal jadi kakak iparnya, pasti bakalan sial…" Kata Mario, melihat punggung Kaisar yang kian menjauh dan semakin menjauh.
Setelah itu, setelah menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, Mario kembali menoleh ke arah Kalya yang juga tengah memperhatikan Kaisar dari jauh.
"Ya udah deh, Kal. Kalau gitu, aku ke kantor dulu, ya. Soalnya, tadi aku izin telat cuma sekitar satu jam. Nggak enak kalau terlalu lama." Pamit Mario pada Kalya, yang langsung diangguki setuju oleh wanita tersebut.
"Ya udah deh, Mas. Hati-hati, ya…" Ucap Kalya melambai sekilas, pada Mario yang juga langsung berjalan keluar dari pekarangan rumahnya.
Dia berjalan sampai ke ujung perumahan, dan masuk ke dalam mobilnya yang ternyata dia parkirkan di sana saat datang ke rumah Kalya tadi.
Setelah melihat Mario pergi, Kalya pun kembali memutarkan tubuhnya. Dia ingin masuk ke dalam rumah, saat tanpa sengaja, ucapan Kaisar, terlintas kembali di benaknya.
"Bang Gavin kan lagi nggak ada. Jadi, nggak bagus kalau Kak Kalya lama-lama sama laki-laki lain di rumah."
"Emang, dia kenal Gavin?"
***
Hari sudah sore, ketika Kalya hendak menyiapkan makan malam untuknya dan juga Gavin. Dia sudah bersiap hendak turun ke dapur, saat tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya dari arah luar.
"Permisi, Kak Kalya…!" panggil suara itu kencang, yang terdengar seperti suara seorang laki-laki.
"Kak Kalya! Kakak di rumah 'kan? Permisi…!" panggil suara itu lagi, pada Kalya yang tampak agak tertatih-tatih menghampirinya.
"Kak Kal--"
"Iya, sebentar!" seru Kalya menyela, sambil memuka pintu rumahnya, yang langsung di sambut oleh Kaisar di sana.
"...Ya…" Senyum Kaisar mengembang, melihat Kalya yang sudah membukakan pintu untuknya.
"Eh, Kaisar, ada apa?" tanya Kalya ramah, pada Kaisar yang masih saja tersenyum lebar ke arahnya.
"Ini, ada sayur asam dari Mama. Katanya, biar Kak Kalya nggak perlu repot masak malam ini." Kata Kaisar senang, memamerkan semangkuk besar sayur di tangannya yang masih mengepulkan asap panas.
"Ya ampun, Kai… Nggak perlu repot-repot, loh… Kakak bisa masak sendiri, kok… Kakak jadi nggak enak sama Bu Sarah," ucap Kalya segan pada Kaisar, tapi menerima juga pemberian makanan dari keluarga tersebut.
Kebetulan, dia juga sangat ingin makan sayur asam malam ini.
"Terima kasih, ya…" Ucapnya pelan, pada Kaisar yang mengangguk membalasnya.
"Ya udah, kalau gitu, saya pamit dulu, ya. Semoga sayurnya enak. Tapi, biasanya sih, memang enak. Jadi, selamat menikmati…" Ujar Kaisar mundur, melambaikan tangannya pada Kalya, dimana Kalya pun sedikit kesulitan untuk membalasnya.
Entah kenapa, meski pun baru bertemu tadi, Kalya merasa sudah cukup dekat dengan Kaisar. Walaupun sifar anak itu terbilang aneh, tapi Kalya merasa nyaman saat berbicara dengannya. Seolah-olah, Kalya ini tengah berbicara dengan adiknya sendiri, menurut Kalya. Atau, memang beginilah rasanya, jika dia mempunyai seorang adik?
"Ah, apaan, sih?" gumam Kalya mendesah panjang, saat melihat Kaisar yang sudah keluar dari halaman rumahnya. "Kal… Kal…"
Dengan perasaan yang sudah bercampur aduk, Kalya pun masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu rumahnya kembali. Dia tidak menguncinya, karena tadi, Gavin menghubunginya untuk bilang dia akan pulang lebih cepat hari ini.
Sambil membawa sayur pemberian Bu Sarah, Kalya kembali ke dapur dan meletakkan sayuran itu di meja.
Kali ini, dia hanya perlu menyiapkan nasi dan sedikit ikan untuk teman makan mereka malam ini. Setelah itu, dia akan mandi dan menyambut kepulangan Gavin dengan tubuh wangi.
"Kal, aku pulang… "
Kalya baru saja masuk ke dalam kamar tidur, saat mendengar suara seruan Gavin yang menggema di segala penjuru rumah.
Kalya yang tadinya sudah siap akan membuka bajunya untuk mandi, terpaksa urung, dan keluar lagi dari dalam kamar tidurnya.
"Gavin, sudah pulang?" sapa Kalya tersenyum, menghampiri Gavin yang tengah berjalan ke arahnya.
"Udah." Sahut Gavin, lantas memeluk pinggang Kalya dengan sebelah tangan dan mengecup sebelah pipi wanita itu cukup mesra.
"Gimana keadaan kamu hari ini? Baik-baik aja, kan? Anak Papa juga, lagi baik-baik aja 'kan? Nggak nakal di perut Mama?" tanya Gavin pada Kalya, kemudian merundukkan sedikit tubuhnya agar bisa sejajar dengan perut Kalya yang sudah membesar.
"Baik. Kita berdua sehat, kok. Dia nggak nakal hari ini." Jawab Kalya, sambil mengusap rambut Gavin yang tengah menunduk mencium perutnya.
"Syukur deh, kalau gitu. Aku jadi lega." Ucap Gavin tersenyum, lantas menegakkan tubuhnya kembali.
"Oh, ya kamu udah mandi?" tanya Gavin pada Kalya, berjalan ke kamar tidur mereka sambil membuka kancing kemeja yang tengah dikenakannya.
"Belum."
"Kenapa?"
"Nggak papa."
"Loh, kok nggak papa?"
"Ya, nggak papa aja… Soalnya, aku tadi rencananya mau masak dulu baru mandi. Kamu sih, terlalu cepat pulang. Jadi, aku belum sempat mandi, deh…" Jawab Kalya, mendekati suaminya itu dan membantu melepas sisa kancing kemeja yang masih dikenakan Gavin.
"Kenapa? Aku bau, ya?" tanya Kalya lirih, melihat Gavin dengan kedua sudut matanya.
"Enggak. Kamu wangi, kok."
"Nggak usah bohong… Kamu pasti--"
Kalya yang memang sudah diketahui Gavin gampang tersinggung dan juga merajuk, langsung dicium oleh pria itu tanpa aba-aba sebelumnya.
Tangan Gavin yang memang memiliki sedikit otot, tampak lebih gagah saat memeluk pinggang istrinya itu dengan mesra. Dia menekan dan mengulum bibir wanita itu posesif, seolah bibir Kalya adalah hal yang paling dia rindukan selama ini.
"Ehm, Gav--hm…"
Entah ini dorongan dari mana, Kalya yang tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, malah melingkarkan kedua tangannya di leher Gavin. Dia menarik tengguk pria itu dalam, dan memejamkan matanya menikmati sentuhan Gavin di mulutnya.
Meski dia merasa kalau saat ini wajahnya sudah memerah, entah kenapa dia enggan melepaskan pelukan laki-laki itu darinya.
Pun, saat Gavin sudah membimbingnya ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuh mereka dengan lembut di sana, Kalya tetap tidak bisa melepaskan ciuman pria itu darinya.
Seperti kehausan, keduanya tidak sadar, kalau apa yang mereka lakukan saat ini, mungkin akan membuat salah satu dari mereka akan menyesal nantinya.
"G--Gavin…"
Bersambung