
Pagi ini, Kalya tengah sibuk berbelanja di tukang sayur keliling yang selalu singgah di komplek perumahan tempat mereka tinggal saat ini.
Bersama ibu-ibu setempat, Kalya tampak kebingungan memilih sayur apa yang akan dimasaknya untuk malam ini dan besok pagi.
"Jadi, Neng Kalya udah periksa lagi ke dokter kandungan? Kapan katanya anaknya bakal lahir?" tanya salah satu ibu di sana, pada Kalya, ketika melihat perut perempuan itu yang terlihat semakin besar.
"Udah, Bu. Ya, mungkin satu bulanan lagilah. Soalnya, ini baru juga masuk bulan ke delapan," jawab Kalya tersenyum.
"Hasil USG bilang apa? Anaknya cewek apa cowok?" tanya ibu-ibu lain yang tampaknya memang sedikit penasaran.
"Kalo soal itu, kami sengaja nggak tanya, Bu. Mau lihat nanti pas lahiran aja. Cewek-cowok, yang mana pun, yang penting sehat." Sahut Kalya lagi, segera mendapat kata "Aamiin," dari ibu-ibu yang lainnya.
"Ngomong-omong, perutnya kelihatan lebih besar, ya? Saya kira tadi udah masuk bulannya, loh. Atau, jangan-jangan, anak Neng Kalya emang kembar?" kata satu ibu yang lain, pada ibu-ibu lainnya, hingga membuat perut Kalya yang memang sudah lebih membesar menjadi pusat perhatian.
"Doakan aja yang terbaik ya, Bu. Kalau memang itu rezekinya, saya bersyukur…" Ucap Kalya kemudian, lagi-lagi mendapat senyum ramah dari para ibu tersebut.
"Iya, semoga sehat-sehat terus ya, Neng Kalya… Saya juga penasaran, pengen lihat anaknya Neng Kalya pas lahir nanti. Pasti cakep, deh…" Ujar satu ibu lagi, pada Kalya yang hanya tersenyum mendengarnya.
"Bu Sari ini gimana, sih? Ya, jelas dong, anaknya nanti cakep… Lihat aja ibu sama bapaknya, cantik dan juga ganteng. Otomatis anaknya juga pasti baguslah, tampangnya, ya nggak, Mbak Kalya?" tanya Bu Tuti minta persetujuan Kalya, dimana wanita itu tampak mengerutkan alisnya samar.
"Ah, Bu Tuti, bisa aja… Saya nggak ngerasa begitu, kok…" Sahut Kalya merendah, yang memang pada dasarnya tidak menganggap dirinya sebagai wanita yang pantas dipuji.
"Ah, Mbak Kalya nggak usah malu. Emang kenyataan Mbak Kalya ini cantik dan Mas Gavin itu ganteng, kok… Jadi, pasti mikir gitulah…" Timpal Bu Tuti lagi sumbringah, hanya mampu membuat Kalya mendesahkan napasnya panjang.
"Aduh, Bu Tuti… Bu Tuti ini yang gimana? Bikin Kalya nggak nyaman aja…" Tegur Bu Rina --orang yang rumahnya tepat di sebelah rumah Kalya-- pada Bu Tuti setelah melihat gelagat Kalya yang tidak nyaman. "Semua bayi yang baru dilahirkan itu udah pasti cakep. Buktinya, siapapun yang ngelihat bayi yang baru lahir, pasti ngerasa tersentuh hatinya. Ya, karena emang begitu kodratnya dibuat sama Tuhan… Dia nggak mau, malaikat kecil yang diciptakannya terlihat jelek sewaktu lahir… Jadi, nggak ada istilah bayi lahir cakep karena orangtuanya cakep, dan nggak ada istilahnya bayi jelek, karena orangtuanya jelek." Kata Bu Rina bijak, diam-diam membuat Bu Tuti mencibir mendengarnya.
"Halah… Bu Rina sirik aja sih, sama apa yang saya bilang... Sebel, deh!" keluh Bu Tuti menggerutu, membuat Bu Rina dan yang lainnya menggeleng.
"Selamat pagi, Ibu-Ibu semua... Lagi ngomongin apa, nih? Kayaknya seru bener… Kasih tahu, dong…"
Bu Sarah, yang sepertinya baru saja keluar dari rumahnya, menginterupsi perdebatan antara Bu Tuti dan Bu Rina. Beliau yang datang dengan rona wajah girang, langsung meraih perhatian ibu-ibu di sana.
"Eh, Bu Sarah baru datang?" sambut Bu Sari ramah, tersenyum pada Bu Sarah, yang saat ini sudah berdiri di samping Kalya.
"Ini, kami tadi lagi ngomongin soal kandungannya Neng Kalya, Bu." Jawab Bu Sari, membuat Bu Sarah menoleh ke arah Kalya.
"Soal kandungan Kalya? Emang kandungannya kenapa?" tanya Bu Sarah, memperhatikan perut Kalya dengan seksama, kemudian bertanya pelan.
"Kandungan kamu baik-baik aja, kan? Kamu juga sehat-sehat aja, kan?" tanya Bu Sarah lembut, menyentuh bahu Kalya sekilas.
"Iya, Bu. Saya dan kandungan saya sehat, kok…" Sahut Kalya mengangguk, dan berkata dengan lembut.
"Kalya sehat kok, Bu Sarah. Yang jadi pembahasan Ibu-Ibu ini itu, soal anak Kalya yang bakal lahir nanti. Cakep atau enggak. Begitu…" Beritahu Bu Rina, yang membuat Bu Sarah tersenyum mendengarnya.
"Oh, begitu…" Desah Bu Sarah, menganggukkan kepalanya paham.
"Yah, apapun itu, yang terpenting sekarang kan, Kalya dan anaknya nanti sehat. Soal urusan cakep atau enggaknya, itu belakangan. Karena bagi setiap orangtua, anaknyalah yang paling cantik dan ganteng di dunia ini. Jadi, itu bukanlah sesuatu yang bisa diperdebatkan. Benar, nggak?" tanya Bu Sarah menatap Kalya, yang segera mendapat anggukan setuju dari perempuan tersebut.
"Iya, Bu...Benar…" Jawab Kalya tersenyum.
Sejenak, ibu-ibu itu kembali fokus pada kegiatan mereka memilih sayuran. Beberapa dari mereka sudah ada yang selesai, ketika Bu Tuti kembali berbicara.
"Oh ya, Bu Sarah. Si Kaisar kapan rencananya balik ke Malaysia? Bukannya kata Bu Sarah, suami Bu Sarah sendirian ya di sana?" tanya wanita itu, ingin tahu, pada Bu Sarah yang tengah memasukkan beberapa potong ikan berwarna merah ke dalam sebuah kantung plastik.
"Iya, suami saya sendirian. Soal Kaisar, mungkin baru pulang minggu depan, Bu. Soalnya dia kan libur sekolahnya dua minggu." Jawab Bu Sarah.
"Loh, kok lama bener? Emang, Bu Sarah nggak takut?" tanya Bu Tuti lagi, membuat Bu Sarah mengernyitkan sedikit alisnya bingung.
"Takut? Takut kenapa?"
"Ya, takut aja… Soalnya kan, suami Bu Sarah sendirian di sana. Kalau nggak ada yang jagain, bisa-bisa diganggu orang loh. Apalagi, suami Bu Sarah katanya pengusaha, ya?"
"Iya."
"Nah, hati-hati loh, Bu. Bisa-bisa, suami Bu Sarah direbut orang. Kayak suaminya Bu Ratna, tuh! Kelamaan ditinggal istri, jadi cari perempuan lain."
"Hush! Bu Tuti nih, ngomong apa, sih? Nggak baik ah, ngomongin suami Bu Sarah begitu…" Tegur Bu Rina risi, pada Bu Tuti yang memang terkenal sebagai biangnya tukang gosip.
"Eh, memangnya kenapa? Saya ini kan cuma mau kasih tahu Bu Sarah aja! Soalnya, kebanyakan laki-laki itu, kalau udah lama ditinggal istri, artinya udah lama nggak dilayani, toh? Nah, kalau sudah seperti itu, nggak heran, kalau nanti dia bakal cari perempuan lain, yang bisa melayaninya dengan haik. Termasuk urusan ranjang, Bu Rina… Jadi, saya nggak salah!" Jelas Bu Tuti panjang lebar.
"Bener nggak, Kang?!" gebraknya kemudian, pada tukang sayur yang sejak tadi hanya mendengar pembicaraan mereka dalam diam.
"Lah, kok jadi tanya saya? Emang saya suaminya ibu-ibu semua, apa?" balas tukang sayur tersebut heran, dan malah membuat Bu Tuti semakin sewot membalasnya.
"Eleh, nggak usah sok nggak tahu! Kita juga udah pada tahu kan ibu-ibu, kalau kalian, para suami, kalau nggak dapat servis baik di rumah, pasti bakal cari perempuan lagi di luar sana. Iya 'kan? Ngaku aja deh…" Tuntut Bu Tuti, pada tukang sayur tersebut, dan justru membuat pria itu tertawa.
"Ya… Apa boleh buat Ibu-Ibu… Namanya juga laki-laki punya kebutuhan. Dan kalau ada yang mau, kenapa enggak…?" balasnya lempang, seketika membuat ibu-ibu lain yang mendengarnya menjadi bersorak.
"Woooo!" seru mereka bersamaan.
"Mata keranjang!" hardik salah seorang ibu, sambil menghempaskan seikat sayuran ke atas gerobak.
Sementara itu, Bu Sarah, bukannya merasa cemas, dia malah terlihat tenang dengan seutas senyum yang terukir di kedua sudut bibirnya. Dia sangat percaya dengan apa yang dilakukan suaminya di luar sana. Dia yakin, kalau suaminya adalah salah satu tipe pria setia yang beruntung dia dapatkan. Baginya, hal seperti ini mungkin tidak akan terjadi lagi di usia mereka yang sudah terbilang tidak muda. Dan kalau pun suaminya itu memang ingin mendua, kenapa dia tidak melakukannya saja saat mereka masih muda dulu? Bukankah sesuatu hal konyol, jika suaminya mengulah di saat mereka sedang mempunyai misi penting seperti ini?
Tapi, beda dengan Bu Sarah, berbeda juga dengan Kalya.
Allih-alih merasa tenang dan ikur tertawa seperti yang dilakukan oleh Bu Sarah, Kalya malah terlihat sedikit murung, setelah mendengar ucapan Bu Tuti barusan. Entah kenapa, perasaannya tidak enak, mendengar ucapan Bu Tuti serta jawaban tukang sayur itu pada mereka.
"Laki-laki itu, kalau nggak merasa puas, dia bakal cari perempuan lain di luar sana…"
"Apa Gavin mulai cari perempuan lain, ya?"
***
Hari Minggu ini, rasanya menjadi hari Minggu yang cukup menyenangkan bagi Gavin. Sejak kemarin, terlihat Kalya bersikap sangat manis padanya. Mencium pipinya lebih dulu, bersikap mesra, tidak mudah tersinggung, membuat Gavin merasa hidupnya hampir sempurna.
Setelah membantu membersihkan rumah, dengan perasaan girang, Gavin mencuci motornya di teras rumah. Meski tadi Kalya sudah mencoba melarangnya dengan yang manja dan sangat menggemaskan, tidak menyurutkan keinginan Gavin untuk membersihkan sepeda motornya. Karena, dia berniat untuk mengajak istrinya itu berjalan-jalan sore dengan menggunakan motornya yang bersih.
Gavin tampak sangat serius menggosok kendaraan roda duanya tersebut, ketika seorang datang dan menyapanya dari arah luar pagar.
"Pagi, Mas Gavin… Lagi sibuk, ya?" tegur orang tersebut, mengalihkan perhatian Gavin dari sepeda motornya.
"Eh, Bu Tuti… Pagi Bu… Nggak juga nih, cuma nyuci motor, kok…" Balas Gavin tersenyum ramah, kembali membersihkan roda belakang kendaraannya.
"Wiih, bisa sekalian nih! Motor saya juga lagi kotor tuh, Mas! Boleh, nggak?" goda Bu Tuti lagi, membuat Gavin tertawa mendengarnya.
"Wah, boleh, boleh… Antar aja ke sini, Bu… Biar saja cuciin sekalian," balas Gavin, yang mereka berdua tahu, kalau itu hanyalah sekedar candaan saja.
"Oh, ya, Mas… Mbak Kalya mana? Kok nggak kelihatan?" tanya Bu Tuti kemudian, setelah tawa mereka berdua mereda.
"Istri saya ada di dalam. Ibu ada perlu sama dia? Mau saya panggil?"
Gavin sudah berdiri, hendak memanggil Kalya di dalam rumah mereka, saat tiba-tiba saja Bu Tuti terdengar berseru.
"Eh, nggak usah Mas! Nggak perlu! Saya lagi nggak ada urusan sama Mbak Kalya, kok… Tenang aja…" Sergah Bu Tuti santai, dibalas anggukan kepala oleh Gavin.
"Oh, ya udah…"
Kemudian, Gavin pun kembali jongkok, dan mencuci bagian bawah motornya.
"Mas Gavin, Mas kenal Kaisar, nggak?" tanya Bu Tuti pada Gavin, membuat pria itu menoleh sekilas dan mengangguk.
"Kenal."
"Dekat?"
"Enggak, sih. Cuma sekedar kenal doang…"
"Ah, masa, sih? Kayaknya Mbak Kalya kenal dekat loh, Mas sama Kaisar. Masa Mas Gavin cuma kenal, doang…" Kata Bu Tuti, seketika membuat Gavin menghentikan aktivitasnya.
Dia menoleh pada wanita yang jelas lebih tua sedikit dari ibunya tersebut dengan alis yang mengerut samar.
"Maksud Ibu apa?" tanya Gabin heran, melihat Bu Tuti yang sudah menarik napasnya sedikit panjang.
"Ya, saya heran aja, kalau misalnya Mas Gavin emang beneran nggak kenal dekat sama Kaisar, masa Mbak Kalya bisa hampir tiap hari ngundang Kaisar main ke rumah kalian?" keluh Bu Tuti, mencebik, seolah benar-benar heran hingga membuat Gavin agak terkejut mendengarnya.
"Apa? Istri saya mengundang Kaisar datang ke rumah kami setiap hari?" ulang pria itu tidak percaya, melihat Bu Tuti menganggukkan kepalanya.
Untuk sejenak, Gavin berpikir. Mungkinkah Bu Tuti ini sedang ingin memfitnah Kalya?
"Nggak mungkin, Bu. Istri saya nggak mungkin ngundang laki-laki lain ke rumah, kalau saya lagi nggak ada. Dia itu--"
"Buktinya Kaisar datang setiap hari. Kalau nggak percaya, tanya aja sama Kaisar sendiri. Atau, kalau memang Mbak Kalya itu orangnya jujur, tanya sama dia aja, deh… Itupun, kalau dia mau ngomong…" Sela Bu Tuti panjang, mencebikkan bibirnya lagi, melihat Gavin yang terpaku.
"Saya ini bukan bermaksud untuk merusak rumah tangga Mas Gavin, ya. Cuma, saya nggak tega aja, lihat Mas Gavin yang udah capek kerja siang malam demi istri dan anak yang mau lahir, eh, istri Mas Gavin malah…"
Bu Tuti menaikkan sebelah alisnya merasa tidak bersalah, ketika dilihatnya tatapan tajam Gavin menyasar ke arahnya.
"Kaisar itu datang setuap Mas Gavin udah berangkat kerja. Dan baru pulang, pas mau sore. Menurut Mas Gavin, mereka--"
"Udah deh, Bu Tuti. Nggak usah menghasut saya kayak gitu… Saya nggak akan terpengaruh. Saya percaya kok, sama Kalya." Sela Gavin tegas, mencoba untuk bersikap ramah lagi pada Bu Tuti, meski hatinya sedang sangat dongkol saat ini.
Tampak wanita yang tidak puas dengan jawaban Gavin itu mendecak. "Terserah Mas Gavin, deh. Saya mah, cuma mau kasih tahu, doang! Bukan maksud menghasut. Jadi, ya--"
"Terima kasih, atas pemberitahuannya ya, Bu Tuti. Saya akan sangat berterima kasih lagi, kalau Bu Tuti mau tutup mata dan telinga dari perihal rumah tangga kami." Sela Gavin tegas, dengan senyum formal di bibirnya.
Sambil tersenyum kecut, Bu Tuti pun mulai memperhatikan Gavin dari ujung rambut, hingga ke ujung kaki.
"Sayang… Kelihatannya aja pinter. Tapi, mau dibego-begoin sama istri." Gumam wanita itu, cukup terdengar jelas oleh Gavin, hingga tangan pria itu terkepal saking kesalnya.
"Yaudah, deh, Mas Gavin. Yang penting saya udah kasih tahu. Urusan percaya enggaknya, ya urusan Mas Gavin sendiri. Permisi," ujar Bu Tuti ketus, lantas meninggalkan Gavin yang masih terpaku di tempatnya.
Jujur, dia sedang emosi saat ini. Kalau menyangkut soal Kalya, dia tidak pernah menganggapnya remeh. Dia percaya pada wanita itu. Dia tahu, kalau Kalya bukankah tipe orang yang suka bertingkah. Tapi, entah kenapa ucapan Bu Tuti barusan, terdengar cukup meyakinkan.
"Kalau nggak percaya, tanya aja sama Kaisarnya sendiri."
Bertanya pada Kaisar? Yang benar saja! Memangnya, anak menyebalkan itu bisa dipercaya?
"Atau, kalau memang istri Mas Gavin orang yang jujur, tanya aja sama dia. Itu juga, kalau dia mau ngomong…"
Lalu, Gavin pun hampir terlihat kalut, saat dia memutar tubuhnya dan langsung mendapati Kalya yang ternyata sudah berdiri di depan pintu rumah mereka.
Sambil menatapnya dengan pandar mata yang polos, Kalya bertanya. "Kamu kenapa?"
Bersambung