Be My Brides

Be My Brides
Extra Part 05 - Dua Hati



Jam tujuh malam lewat beberapa menit, Ricka sampai ke apartemen tempat dirinya dan Bayu tinggal sekarang. Setelah pernikahan, mereka hanya tinggal selama tiga hari di rumah orang tua Bayu. Kemudian, mereka pindah ke sebuah apartemen yang cukup mewah di tengah kota, dimana apartemen tersebut ternyata sudah lama Bayu siapkan untuk tempat tinggalnya bersama Sang Istri kelak saat dia menikah. 


"Dari mana?" 


Ricka baru akan masuk ke dalam kamar tidurnya bersama Bayu, berhenti saat mendengar suara berat khas pria itu tiba-tiba saja terdengar dari arah dapur. 


Ricka yang sedikit kaget --karena mengira Bayu sedang tidak ada di rumah-- langsung berpaling, menoleh ke arah belakang. 


Tampak pria itu sedang memakai sebuah apron berwarna biru yang biasa Ricka pakai jika sedang mencuci piring di dapur, tengah mengerjakan sesuatu di sana. 


"Mas Bayu lagi apa?" tanya Ricka basa-basi, mendekati Bayu, yang kali ini tengah menyiapkan sesuatu di atas meja. Sepertinya, itu daging beku yang baru diambil dari dalam lemari pendingin. 


Bukannya menjawab, Bayu justru melirik Ricka sejenak. 


"Dari mana?" tanyanya ulang, menggunakan nada bicara yang datar. 


Dan seolah tahu, kalau pertanyaan Bayu barusan belum dia jawab, Ricka pun meringis pelan dan mengusap tengkuknya sedikit. 


"Dari rumah Om Kend. Nganterin tas pesanan Gavin dari Kak Mona." Sahut Ricka kikuk, memperhatikan gerakan luwes Bayu dalam hal mengolah makanan. 


"Oh…," angguk pria itu sekedarnya, kemudian melanjutkan kegiatannya, tanpa merasa terganggu dengan kehadiran Ricka di sana. 


Memang, setelah menikah, Ricka dan Bayu sempat melakukan sebuah kesepakatan kecil soal mengurus rumah.


Ricka yang memang tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah saat masih bersama orang tuanya dulu, hanya mendapat tugas mencuci piring, membersihkan rumah seperti menyapu dan membersihkan perabot. Sisanya, seperti memasak, mengepel dan berbagai hal berat lainnya, akan dilakukan oleh Bayu. Sedangkan mencuci, mereka lebih memilih menggunakan jasa laundry untuk yang satu itu. 


Meskipun mereka menikah tanpa cinta, tapi mereka terlihat cukup kompak untuk mengatur kegiatan mereka di rumah. Termasuk mengganti panggilan kaku Ricka terhadap Bayu, yang semula selalu memanggilnya dengan sebutan dokter. 


"Kamu udah makan?" tanya Bayu yang fokus dengan bahan-bahan makanannya, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ricka. 


"Udah," sahut Ricka singkat, yang entah kenapa, melihat tangan Batu berhenti beberapa saat. 


"Oh," gumam pria itu begitu pelan, lalu melanjutkan aktifitasnya memotong daging yang tadi sudah dibersihkan di wastafel. 


Tidak ada lagi percakapan di antara keduanya. Ricka hanya menatap wajah datar Bayu, yang entah mengapa terlihat begitu dingin saat ini. Yah, meskipun Bayu itu memang tipe manusia yang minim ekspresi, Ricka yakin, kalau raut wajahnya kali ini menandakan kalau dia sedang tidak menyukai sesuatu. Ricka tahu itu, karena dia sudah memperhatikan sifat Bayu selama dua minggu. 


Tapi, apa? 


"Kamu ngapain masih di situ? Bukannya kamu bilang, kamu udah makan?" tanya Bayu terdengar sinis, seperti mengusir Ricka yang masih berdiri di dapur bersamanya. 


Dengan gelagapan, Ricka pun menjawab, "E--eh, iya… Maaf… Saya ganggu, ya?" 


Kalau sudah gugup, Ricka pasti kembali menggunakan bahasa kakunya yang seperti itu. 


Lalu, tiba-tiba, Bayu terdengar mendesah berat. 


"Mending kamu mandi sekarang. Saya mau ajak kamu nginap di rumah Mama malam ini." Beritahu Bayu, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari kesibukan yang tengah dia geluti saat ini.


"Eng… I--iya… Sa--saya mandi dulu."


Ricka hendak buru-buru kabur ke dalam kamar tidur mereka, saat tiba-tiba saja, suara berat Bayu, kembali terdengar. 


"Udah saya bilang, jangan kaku kayak gitu." Ujarnya cukup kencang, membuat Ricka menoleh ke arahnya. 


"Aneh, kalau istri bicara kaku sama suaminya. Apalagi di depan mertua. Saya nggak mau ada yang curiga melihat saya." Kata Bayu cuek, masih sibuk dengan masakannya di atas kompor tanpa sekalipun menoleh ke arah Ricka. 


"Hah?" 


Dan sekalinya Ricka terbengong, barulah Bayu menoleh dengan sorot matanya yang sedikit tajam. 


"Mandi." Ucapnya datar, sontak membuat Ricka merasa kaget dan langsung berlari ke kamar mandi. 


Sepertinya Bayu tahu, kalau ucapannya tadi memang didengar jelas oleh Ricka. Hanya saja, gadis itu sedikit heran, makanya dia tengong dan membuatnya seolah tidak mendengar apa yang baru saja Bayu perintahkan kepadanya. 


***


Sebenarnya, Ricka sudah cukup lelah malam ini. Setelah tadi di rumah Kendra dia kebanyakan makan hati, karena ulah Kaisar yang terus menggoda dan menyumpahi pernikahannya, kini dia harus berhadapan lagi dengan Bayu dan segala sifat yang tidak begitu dipahami Ricka sebelumnya. 


Hubungannya dengan Bayu memang tidak begitu dekat. Meski sudah tinggal bersama selama lebih kurang dua minggu, dan tidur di satu ranjang bersama tanpa pembatas, bukan berarti Ricka paham dengan semua gelagat dan tingkah laku pria itu terhadapnya. Paling hanya beberapa saja. Dan itu tentu bukan semuanya. 


Bayu memang tidak jahat. Dia bukan tipe pria kasar yang suka membentak Ricka kalau sedang marah. Justru, sampai detik ini, Ricka belum pernah dengar pria itu menggunakan nada tinggi terhadapnya. Biasanya, pria itu hanya memasang tampang dingin tak tersentuh --yang sangat mirip dengan wajah datarnya-- jika sedang merasa tidak enak akan sesuatu. Jadi, Ricka tidak tahu, apakah Bayu itu sedang marah, atau memang hanya tidak mood terhadapnya. 


Entahlah! Ricka jadi pusing memikirkannya. 


Ricka mengguyur tubuhnya dari atas rambut, hingga ujung kaki, sebagai bilasan terakhir.


Malam ini, Ricka memutuskan untuk keramas, demi menghilangkan semua penat yang dia rasakan. Tidak peduli kalau mungkin nanti Bayu akan melotot lagi kepadanya karena keramas di malam hari seperti ini, Ricka tetap ingin keramas. 


Setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk, Ricka cepat-cepat memakai baju yang sudah dia siapkan saat dari kamar tadi. Kalau misalnya dulu dia bisa dengan santainya mengenakan handuk keluar dari kamar mandi, tapi tidak untuk saat ini. 


Ricka harus sadar, kalau sekarang, dia sudah tidak sendiri lagi. Kamar itu, bukan hanya kamarnya pribadi. Itu kamarnya berdua bersama Bayu, yang mungkin saja, Bayu ada di kamar saat Ricka selesai mandi. Bagaimana pun, dia masih sangat canggung, jika sampai Bayu melihat tubuhnya yang tidak indah itu hanya berbalut handuk kecil sebatas paha. 


"Eh? Mas Bayu?!" 


Ricka terkejut setengah mati, saat ia baru keluar dari kamar mandi, Bayu sudah berdiri tegak di hadapannya. 


Dengan memasang tampang datar tidak tersentuh, lagi-lagi Bayu menatap Ricka dengan tajam. 


"Ada telepon. Dari Kaisar," 


"Hah?" 


Seperti belum mengerti dengan situasi yang ada, Ricka mengerjapkan kedua matanya bingung, kala Bayu sudah meraih sebelah tangan Ricka dan meletakkan ponsel pintar wanita itu di tangannya. 


Kemudian, tanpa bicara sepatah katapun lagi, Bayu pergi begitu saja meninggalkan kamar tidur mereka. Menyisakan Ricka yang terbengong sendiri, menatap layar ponselnya yang menunjukkan log panggilan masuk, bertuliskan nama Kaisar. 


"Mas Bayu, angkat telepon si Kai?" 


***


Sementara itu, di rumah Kendra, Kaisar yang katanya akan menginap di rumah tersebut, memasang tampang yang masam. Dia kesal, dengan seseorang yang tadi menjawab panggilan Kaisar kepada Ricka. 


"Suami? Hah!" 


Kaisar mendengus sebal dan menyandarkan bahunya di sofa. Matanya menyipit dongkol, mengingat nada bicara orang yang mengaku sebagai suami Ricka di telepon barusan. 


"Kamu kenapa?" 


Di tengah kekesalannya yang tidak mendasar, Kaisar menoleh ke arah Gavin yang kini sudah berdiri di depannya. Tatap mata pria itu seolah terganggu dengan kehadiran Kaisar di rumahnya. 


Eh, tapi… Itu bukan seolah lagi. Gavin memang mengatakan kalau dia terganggu melihat wajah adik iparnya tersebut. Mungkin, dia iri karena Kaisar jauh lebih tampan darinya? Pikir Kaisar membesarkan hati. 


"Apa?" ketus Kaisar tidak bersahabat, kepada Gavin hingga membuat pria dewasa tersebut menggeram melihatnya. 


"Oh, ya? Kalau begitu, Bang Gavin juga lembu dong? Kan Bang Gavin nikah sama Kakaknya lembu… Iya kan?" balas Kaisar enteng, tak serta merta langsung membuat Gavin ingin membantingnya saat itu juga. 


"Kamu ini kenapa, sih? Ada masalah?" tanya Gavin lagi, berusaha tenang dan dewasa menghadapi cowok satu itu. Dia menguatkan batinnya, kalau Kaisar itu masih belum dewasa. Yah… Kaisar masih anak-anak yang perlu bimbingan. 


"Kalau iya, memang kenapa? Mau kasih solusi?" ketus Kaisar lagi, benar-benar membuat Gavin harus ekstra bersabar.


"Kamu itu udah tujuh belas tahun. Tapi, sopan santun kamu minim sekali, ternyata. Heran… Perempuan mana yang mau sama kamu setelah ini." Decak Gavin kesal, lantas hendak meninggalkan Kaisar begitu saja di ruang tamu. Dia takut, anak itu terus memantik emosinya dan membuat Gavin harus berkelahi dengannya. 


"Eh, Bang Gavin!" panggil Kaisar tiba-tiba, tatkala dia melihat Gavin berpaling meninggalkannya. 


"Apa?!" sembur Gavin emosi, karena sudah terlanjur jengkel terhadap Kaisar. 


"Ih, galak sekali… Saya jadi takut…" Kata Kaisar, seperti mengejek wajah merah Gavin yang terlihat marah.


"Bang… Duduk dulu sini. Ada yang mau saya tanyakan sama Bang Gavin," pinta Kaisar lembut, lebih ramah dari sifat menjengkelkannya tadi terhadap Gavin, dan membuat abang iparnya itu mengernyit curiga. 


"Mau nanya apa kamu?" tanya Gavin jelas tidak ramah, memandang Kaisar penuh waspada. 


"Duduk dululah… Kita bicara baik-baik. Sekalian, saya mau curhat sama Bang Gavin," kata Kaisar lagi, lebih aneh membimbing lengan Gavin untuk duduk di sebelahnya. 


"Jadi gini… Saya itu tadi lagi kesal sama orang. Saya ada suka sama perempuan. Tapi, dia kayaknya udah punya pasangan. Jadi…"


Kaisar masih bingung menyusun kalimatnya seperti apa. Dia takut, Gavin curiga, dan malah balik memarahinya seperti kejadian tadi sore. 


"Jadi?" pancing Gavin mengernyit, melihat Kaisar yang seperti bingung ingin mengatakan apa. 


"Saya mau minta saran. Menurut Bang Gavin… Gimana ya, caranya biar cewek yang kita suka itu, bisa balik suka sama kita? Kayaknya… Saya benar-benar udah jatuh cinta deh, sama dia." Kata Kaisar lempang, yang entah kenapa lagi, semakin membuat Gavin mengernyitkan dahinya heran. 


"Kenapa kamu nanya sama saya? Memangnya kamu naksir sama saya?" 


"Emangnya Bang Gavin itu cewek?" timpal Kaisar segera, melihat Gavin sudah menaikkan sebelah alisnya. 


"Saya nanya Bang Gavin itu, karena Abang adalah contoh nyata laki-laki yang berhasil membuat perempuan yang disuka, bisa balik cinta sama Bang Gavin. Jadi ya, apa salahnya berkonsultasi sama Bang Gavin yang lebih berpengalaman ini? Ya kan?" bujuk Kaisar manis, berpura-pura memuji Gavin di depan lelaki itu. 


Tapi, alih-alih merasa tersentuh dengan wajah sok imut yang Kaisar tunjukkan, Gavin malah mendengus masa bodoh melihatnya. 


"Ricko juga tipe orang yang penuh dengan pesona. Jadi, kenapa kamu tidak tanya dia saja?" 


Gavin yang sebenarnya masih jengkel dan dendam terhadap tingkah laku menyebalkan adik iparnya itu, lebih memilih bersikap sombong dengan cara bangkit meninggalkan Kaisar yang terpelongo. 


"Eh, Bang Gavin!" 


Namun, belum juga Gavin sempat meninggalkan anak remaja setengah ingusan itu di ruang tamu, lagi-lagi Kaisar sudah lebih dulu sigap dengan cara berdiri dari duduknya dan meraih lengan Gavin yang hendak meninggalkannya. 


"Jangan pegang-pegang! Kamu bukan istri saya!" ujar Gavin sarkastik, menatap tajam tangan Kaisar yang masih menempel di lengannya. Menyadarkan cowok itu, kalau dia harus segera menjauhkan tangannya yang menyebalkan itu dari Gavin, sebelum kakak iparnya tersebut semakin kumat dan tidak mau membantunya. 


"Woah… Saya baru tahu, kalau ternyata Bang Gavin ini tipe suami anti maling, ya? Eh! Maksudnya, anti pelakor, kalau kata orang sini. Dipegang orang yang bukan istrinya saja, bisa sangat galak. Wah… Wah… Wah… Kak Kalya pasti benar-benar beruntung mendapatkan Bang Gavin,"


Entah itu merupakan sebuah pujian yang tulus, atau memang hanya sekedar jilatan semata, Gavin tidak bisa percaya sepenuhnya. Dia tahu, kalau tabiat adik iparnya ini sangat jauh berbeda dengan Kalya yang selalu tulus dalam menghadapi segala hal. 


"Jangan banyak omong kamu! Saya tidak butuh pujian dari kamu," ketus Gavin lagi, membuat Kaisar hanya bisa menarik kedua sudut bibirnya pedih. 


Tolong digarisbawahi, kalau diamnya Kaisar saat ini, bukanlah karena dia takut terhadap Gavin. Tapi, karena dia memang sedang tidak ingin mencari masalah dan membuat Gavin mengabaikannya seperti tadi. Ingat, kalau Gavin sudah hampir masuk perangkapnya saat ini. 


"Janganlah begitu, Bang Gavin… Saya kan cuma ingin berkeluh kesah saja sama Bang Gavin. Bagaimana pun juga, Bang Gavin ini kan tetap abang ipar saya. Tentu saya merasa lebih nyaman kalau cerita sama Bang Gavin, daripada sama yang lainnya." Bujuk Kaisar begitu baik, kembali menarik lengan Gavin untuk duduk di atas sofa, berdampingan dengannya. 


"Kamu ini masih muda. Tapi, kayaknya sifat penipu kamu udah mulai bertunas dan berkembang sangat pesat. Saya jadi heran melihat kamu." Kata Gavin sinis, sontak saja, membuat Kaisar terpelongo heran mendengarnya. 


"Hah? Maksud Bang Gavin?" 


"Kamu mau nipu saya?" sengit Gavin langsung, melotot ke arah Kaisar mengerjapkan matanya sok polos. 


"Hah?! Ni--nipu?" beo cowok itu, seolah tergagap. "Nipu bagaimana? Saya ini baik loh, Bang Gavin…"


Sejenak, Gavin tidak merespons lagi tingkah laku Kaisar. Dia hanya mendesahkan napas panjang, dan menggelengkan kepalanya bosan. 


Tidak akrab dengan saudara Gavin yang lain? Hah! Lawakan macam apa itu? Gavin bahkan sangat tahu, kalau Kaisar itu sebenarnya sudah cukup akrab dengan kedua sepupu Gavin yang bernama Ricko dan Ricky itu. Bahkan sebelum anak remaja itu pindah ke negara ini, mereka sudah terlihat seperti kakak beradik. Dan keakraban mereka sudah sampai pada tahap dimana mereka suka menjelek-jelekan Gavin di belakang. 


"Lupakan! Apa yang mau kamu dengar dari saya?" tanya Gavin malas, pada Kaisar yang terlihat menahan senyum mendengarnya. 


"Jadi, begini… Saya kan sudah bilang, kalau saya ada naksir sama seseorang. Kayaknya sih, saya udah jatuh cinta. Cuma… Saya bingung, mau dapatkan hati dia itu bagaimana, sementara… dia sudah ada yang punya." Cerita Kaisar panjang, terdengar sedikit sedih di ujung kalimatnya. 


"Sudah punya pacar, maksud kamu?" 


"Suami," 


"Hah?!" 


"Eh, maksud saya…!"


Gavin yang sudah curiga dengan gelagat yang ditunjukkan Kaisar, langsung menggeram dan membentak anak laki-laki itu. 


"Siapa perempuan itu? Jangan bilang Ricka lagi?" tuding Gavin emosi, lalu membuat Kaisar tersedak ludahnya sendiri. 


"Engh… Itu…"


"Sudah saya bilang berapa kali! Jangan mengganggu Ricka! Dia sudah menikah! Bandel banget sih, kamu dibilangin!" omel Gavin keras, menunjuk-nunjuk dahi Kaisar seperti anak kecil. 


"Ya namanya juga cinta, Bang! Memangnya apa yang salah?" kilah Kaisar memberengut, melihat Gavin yang mendengus. 


"Cinta… Cinta… Tahu apa kamu soal cinta, hah?! Kamu itu masih kecil! Dan Ricka itu sudah dewasa!" 


"Ya terus, kenapa kalau Kak Ricka sudah dewasa? Toh, Bang Gavin juga bisa mendapatkan Kak Kalya, meski usia kalian terpaut delapan tahun." Rungut Kaisar lagi, masih keras kepala. 


"Itu beda cerita, hei! Saya mengejar Kalya itu, karena saya tahu, Kalya tidak punya kekasih apalagi suami! Beda sama kamu! Otak kamu itu masih ada di tempat, tidak sih?!" geram Gavin frustrasi, ingin menjambak rambut Kaisar yang telah membuatnya begitu emosi. 


"Memang, apa urusannya dengan otak?! Bukannya cinta itu dirasakan oleh hati, ya? Bukan otak?" tantang Kaisar lagi tetap ngeyel. 


Gavin yang merasa mungkin akan menghajar Kaisar jika tetap berada di samping anak itu, lantas berdiri dan bersungut-bersungut. 


"Pokoknya saya tidak mau tahu! Kamu jangan macam-macam! Jangan bikin malu dan jangan ganggu rumah tangga orang! Paham kamu!" ultimatum Gavin begitu keras, pada Kaisar yang masih cemberut, sebelum akhirnya meninggalkan anak itu di ruang tamu. 


"Dasar anak kecil!" gerutu Gavin pelan, namun terdengar jelas oleh Kaisar. 


Dengan memasang tampang masam, Kaisar kembali ingat dengan kata-kata dan cara bicara suami Ricka saat dia menghubungi perempuan itu tadi. Seolah Kaisar itu adalah seorang perebut istri orang, suami Ricka menggunakan nada yang sangat ketus kepadanya. 


Sambil mendengus pelan, dia pun bergumam. "Dia juga kekanak-kanakan, kok. Bukan cuma aku." 


***