
Gavin baru tahu, kalau ternyata mencari pekerjaan itu tidak semudah seperti apa yang dipikirkannya selama ini.
Setelah mengantarkan proposal skripsinya kepada dosen pembimbing, tadi Gavin berinisiatif untuk langsung mencari pekerjaan.
Mumpung dia punya sedikit waktu senggang, karena sebentar lagi skripsinya akan selesai, dia ingin mencari pekerjaan terlebih dahulu. Apapun, asalkan halal dan kira-kira cukup untuk menghidupi anak dan istrinya kelak, Gavin akan mencoba. Toh, keluarganya juga tidak menentukan, pekerjaan apa yang harus Gavin miliki agar bisa hidup bersama dengan Kalya.
Tapi, sudah hampir setengah hari ini dia mencari pekerjaan melalui jaringan internet menggunakan laptopnya, tidak ada satu pekerjaan pun yang cocok untuknya. Rata-rata dari perusahaan itu menginginkan Gavin melampirkan ijazahnya jika dia ingin melamar pekerjaan di sana. Itupun belum tentu juga menjamin akan masuk bekerja, mengingat persaingan dalam melamar pekerjaan dengan gaji yang besar di perusahaan itu sangatlah besar.
"Ah…"
Gavin yang merasa sedikit frustrasi pun, menghelakan napas berat.
"Lo lagi nyari kerjaan?"
Gavin yang tadinya sibuk menekan berbagai link yang ada di layar monitornya, menoleh ke samping, tepat ke arah Sandy --teman satu kelas Gavin di kampus-- yang tengah memperhatikan layar laptop Gavin dengan seksama.
"Untuk sekarang sih, kayaknya mahasiswa kayak kita agak susah deh mau masuk ke perusahaan kayak gini." Kata Sandy duduk di samping Gavin, saat membaca nama perusahaan yang kebetulan situsnya sedang dibuka oleh Gavin.
"Maksud lo?" tanya Gavin mengernyit.
"Kenapa lo nyari kerja? Setahu gue, lo kan anak orang kaya, kok udah sibuk nyari kerja aja? Lo kabur, ya?" tuduh Sandy tiba-tiba, membuat Gavin mendengus tidak suka.
"Apaan sih, lo? Kabur, kabur… Emang lo pikir gue tahanan, pake kabur segala!?"
"Ya, kali aja… Setahu gue--"
"Udah, deh! Mending lo pergi sana! Ngapain sih, lo di sini? Males gue ngeladenin orang kepo kayak lo!" hardik Gavin malas, mencoba mengembalikan fokusnya ke arah layar laptopnya.
Tiba-tiba dia menjadi sangat sensitif mendengar ucapan Sandy.
"Eh, lo mau nggak, kerja di tempat gue? Gajinya emang nggak gede sih, tapi untuk anak kuliahan kayak kita, kayaknya bisa deh." Tawar Sandy kemudian, seolah tidak peduli jika Gavin sedang kesal kepadanya.
"Kerjaan apa?" respons Gavin juga, meski terdengar sedikit ketus.
"Mau nggak?"
"Kerja di mana, emang?"
"Di restoran. Jadi waiters. Bosnya baik. Lo bisa minta keringanan sama beliau, biar ngasih shift malam buat lo." Jawab Sandy lagi, seketika membuat Gavin berpikir.
"Ya, itu pun kalo lo mau sih… Kalo enggak mah, nggak papa juga. Toh, gue paham kok, anak orang kaya kayak--"
"Lo kok nyebelin banget sih, jadi orang?!" sungut Gavin langsung, terlihat begitu sebal, hingga membuat Sandy **** bibirnya menahan tawa.
"Emang kalo anak orang kaya itu, nggak boleh nyari kerja? Emang, kalo gue kerja, itu tandanya gue kabur, gitu?" omel Gavin mencibir malas ke arah Sandy. "Sotoy banget jadi orang…"
"Ya… Kali aja, kan? Lo ngambek sama keluarga lo, terus lo sok-sokan mau nyari kerja di luar sana. Secara, banyak kan--"
"Aaah, stop! Stop! Stop! Stop! Stop!" sela Gavin jengkel mengangkat sebelah tangannya ke arah Sandy.
"Gue malas dengerin ocehan lo yang sok tahu itu! Mending, kalo lo emang berniat buat bantuin gue, sekarang anterin gue ke tempat itu!" ajak Gavin sedikit tajam pada Sandy yang serta merta dibalas anggukan ringan oleh lelaki itu.
"Oke, ayo!"
***
Saat ini, Gavin sudah duduk di salah satu kursi di ruangan yang katanya adalah ruangan pemilik restoran yang tadi Sandy bilang.
Dengan ditemani oleh Sandy, Gavin menunggu si pemilik restoran tersebut untuk datang.
"Ibu Lita itu baik. Cantik lagi. Gue yakin, lo pasti bakal betah kalo kerja di restoran ini." Bisik Sandy tiba-tiba pada Gavin, yang hanya dibalas anggukan masa bodoh oleh laki-laki itu.
Terserah, mau baik kek, cantik kek, Gavin tidak peduli. Karena, tujuan utama dia datang ke restoran itu hanyalah demi mencari sebuah pekerjaan.
"Selamat siang," sebuah sapaan ramah dari arah pintu ruangan yang terbuka, mengalihkan perhatian Gavin dan juga Sandy.
Keduanya menoleh, dan melihat siluet wanita cantik bertubuh tinggi yang tengah berjalan luwes ke arah mereka.
"Eh, selamat siang, Bu…" Balas Sandy mengangguk sopan dan tersenyum pada wanita itu yang dibalas anggukan kecil darinya.
"Ada apa, Sandy? Katanya kamu bawa orang buat gantiin Dimas, ya?" tanya wanita yang dipanggil 'Bu' oleh Sandy tadi, sambil duduk di kursi putar yang ada di hadapan Sandy dan juga Gavin.
Kini, jarak mereka hanya dipisahkan oleh sebuah meja persegi panjang yang ada di antara keduanya.
"Iya, Bu… Ini dia orangnya. Namanya Gavin. Dia teman kuliah saya," tunjuk Sandy menengadahkan tangannya ke arah Gavin, hingga lelaki itu pun langsung mengangguk dan tersenyum tipis pada si pemilik restoran tersebut.
"Selamat siang, Bu… Nama saya Gavin. Saya berniat melamar pekerjaan di restoran ini sebagai waiters." Ujar Gavin tegas, menatap wanita tersebut dengan serius.
Sementara itu, wanita yang ada di depannya hanya terdiam memandang Gavin tidak berkedip.
"Oke, Sandy, kamu bisa keluar sekarang. Biar saya yang bicara sama teman kamu ini sebentar." Ujar wanita itu tersenyum manis pada Gavin, hanya dibalas datar oleh laki-laki tersebut.
"Baik, Bu. Kalo gitu, saya keluar dulu." Pamit Sandy, lantas menyenggol lengan Gavin sebentar, sebagai isyarat kalau dia akan menunggu laki-laki itu di luar.
Sepeninggal Sandy, wanita yang merupakan pemilik restoran itu langsung bangkit, dan duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Sandy.
"Apa ke kabar, Gavin?" sapa wanita itu ramah pada Gavin, yang justru membuat Gavin menoleh dengan kerutan alis samar di dahinya.
"Dari tadi aku curiga, kamu ini pura-pura nggak ingat aku atau gimana? Tapi, makin ke sini aku yakin, kalo kamu udah nggak ngenalin aku sama sekali." Kata perempuan itu pada Gavin, yang saat ini sudah memiringkan kepalanya berpikir.
"Maaf, Anda…"
"Aku Thalita. Kamu lupa?" tanya wanita itu lagi, sontak membuat Gavin sedikit kaget.
"Thalita tunangannya…"
"Mantan." Sambung Thalita tegas, kemudian tersenyum.
"Aku mantan tunangan Ricko. Kamu ingat?" tanya wanita itu lagi, tak ayal, langsung membuat Gavin mendengus.
Sungguh, Gavin tidak menyangka akan bertemu dengan Thalita di tempat itu.
"Kenapa lo ninggalin Ricko?"
"Apa?"
"Gue tanya, kenapa lo ninggalin Ricko, waktu pernikahan kalian udah dekat?" tanya Gavin sengit pada Thalita, dimana dia sudah menghilangkan kesopanannya, semenjak ingat siapa wanita yang ada di hadapannya ini.
"Karena dia terlalu baik…" Jawab Thalita gantung, kemudian mencebikkan bibirnya sedikit. "Mungkin?"
"Mungkin?!" dengus Gavin lagi, lebih tidak percaya.
Thalita yang tidak merespons raut wajah kaget Gavin, kembali tersenyum dan terfokus kepada laki-laki tersebut.
"Udahlah, itu juga udah berlalu. Sekarang, lupain Ricko dan kita mulai bicara tentang masalah ini." Kata Thalita, lantas bersikap sok anggun dengan duduk bersandar, dan memangku sebelah pahanya ke atas pahanya yang lain.
"Kamu mau cari kerja? Buat apa? Bukannya kamu anak orang kaya? Kalo nggak salah, Papa kamu pemilik perusahaan--"
"Bukan urusan lo." Sahut Gavin cepat dan kesal, lantas bersiap hendak pergi meninggalkan Thalita.
"Gavin! Mau kemana kamu?!" tanya Thalita terlihat sedikit panik, menangkap satu tangan Gavin di sampingnya.
"Kita belum selesai bicara."
"Tapi, gue udah." Sahut pria itu dingin, hendak menarik tangannya lagi, saat Thalita semakin mengeratkan genggamannya.
"Kamu benar-benar keterlaluan. Dari dulu sampai sekarang, kamu nggak pernah sekali pun ingat aku. Apa kamu nggak ngerasa kamu itu keterlaluan?" sengit Thalita tajam, pada Gavin yang hanya meliriknya dengan sinis.
"Apa menurut lo, itu penting?"
"Jelas penting! Aku suka kamu dari waktu kamu masih SMA. Tapi, kamu nggak pernah sekalipun melirik ke arahku, bahkan sampai aku bertunangan sama Ricko sekalipun, kamu enggak peduli!"
"Emang gue nggak peduli." Sambar Gavin cepat, langsung menghempaskan tangan Thalita kasar.
Jujur, Gavin sangat terkejut dengan apa yang baru saja Thalita ungkapkan kepadanya.
Menyukai Gavin? Hah! Yang benar saja…
"Asal lo tahu, bukan cuma lo. Bahkan gue juga nggak bakal peduli sama cewek mana pun, karena gue udah punya pilihan hati gue sendiri." Ujar Gavin tegas pada wajah Thalita yang mulai terlihat pias.
"Jadi, daripada lo membodohi diri lo terus menerus kayak gini, gue nasehatin, biar lo belajar membuka pikiran lo mulai sekarang."
"Tapi, Gavin…!"
"Udah! Gue nggak mau bahas ini lagi sama lo." Sergah Gavin, membuat kedua mata Thalita memerah.
"Kalo gue jahat, terus lo apa? Induknya iblis?" sindir lelaki itu, lantas mengusap dagunya pelan. "Lo bilang gue nggak menghargai perasaan lo? Sekarang gue tanya, apa lo merasa udah menghargai perasaan Ricko? Perasaan saudara-saudara Ricko dan bahkan perasaan keluarganya?" selidik Gavin lagi, memandang tajam pada Thalita yang terdiam.
"Ricko itu saudara gue. Dia abang gue! Dan jangan lo pikir, lo udah hebat dengan menghancurkan perasaannya dia, cuma karena lo suka sama gue!" bentak Gavin selanjutnya, kemudian mendesis pelan. "Bego' lo…"
"Gavin!" panggil wanita itu keras, berdiri di depan Gavin yang hendak meninggalkannya lagi.
"Kamu butuh pekerjaan? Aku bisa jadikan kamu karyawan di sini. Aku bakal kasih kamu gaji yang besar. Jadi, jangan pergi." Cegat Thalita serius, menatap Gavin yang lagi-lagi tersenyum sinis mendengarnya.
"Sory, gue emang butuh pekerjaan. Tapi, bukan berarti gue mau kerja sama orang yang mungkin bisa jadi bumerang buat gue sendiri. Jadi… terima kasih," ucap Gavin penuh sindiran pada Thalita, melewati tubuh wanita itu yang mematung.
"Oh, ya satu hal lagi." Ucap Gavin menoleh pada Thalita yang memandangnya dengan sorot mata kekecewaan.
"Minggu depan gue mau nikah." Ucap Gavin, kali ini membuat mata Thalita membelalak lebar tidak percaya.
"Apa…"
"Bukan niat ngundang, sih… Cuma…" Gavin tersenyum singkat pada Thalita yang sudah mulai meneteskan air matanya.
"Ngasih info doang." Sambung pria itu, kemudian benar-benar pergi meninggalkan Thalita di ruangannya.
Dalam hati, meski terlihat kesal, Gavin pun bergumam. "Ricko harus berterima kasih soal ini."
***
Malam harinya, setelah lelah mencari pekerjaan ke sana ke mari, bukannya pulang ke rumah, Gavin justru datang ke rumah Keanu.
Untuk apa? Tentu saja untuk menemui Kalya, sebelum dia pulang ke rumahnya.
Seperti biasa, Gavin yang hendak menuju kamar Kalya, tidak melewati pintu depan kediaman Keanu. Dia justru terlihat seperti maling, dengan mengambil tangga yang selalu ia sembunyikan di balik rerumputan yang ada di bawah lantai kamar Kalya.
Pelan-pelan, Gavin pun memanjat dinding luar kamar Kalya, dan mengetuk kaca jendelanya halus.
"Kal, bukain! Ini aku, Gavin." Panggil Gavin setengah berbisik pada seseorang yang ada di kamar Kalya, sembari melirik ke arah jendela kamar yang terbuka, diketahui sebagai kamarnya Ricka.
Dan begitu jendela kamar tersebut terbuka, tanpa ragu-ragu lagi, Gavin pun langsung melompat ke dalam kamar, dan menghembuskan napas lega.
"Ah, akhirnya sampai…"
Gavin terdiam, ketika dia melihat Kalya yang duduk di atas ranjangnya dengan posisi menatap tajam ke arahnya.
Dalam hati, dia berpikir. Kalau Kalya saja sedang duduk manis di ujung sana, lantas siapa yang membukakan jendela untuk Gavin?
"Perasaan, Om Kend nyuruh lo buat cari kerjaan yang halal deh, tapi kenapa lo malah jadi maling gini?"
Gavin menelan ludahnya susah payah, ketika mendengar suara Ricko yang berasal dari arah belakangnya.
Dan dengan gerakan kaku, dia pun menoleh pada kakak sepupunya itu sambil memamerkan senyum tidak berdosa.
"Eh, Ko! Lo ngapain di sini?" tanya Gavin berusaha terlihat masa bodoh, ketika Ricko membalas pertanyaannya dengan sebuah dengusan kasar.
"Ini rumah bokap gue. Jadi, wajar kalo gue ada di sini." Sengit Ricko, yang kemudian dibalas dukungan dari Ricky yang tiba-tiba saja ikut muncul dari arah luar kamar Kalya.
"Yang nggak wajar itu elo!" sungut cowok itu judes, sambil membawa sebuah nampan berisikan makanan untuk Kalya.
"Ngapain lo malam-malam gini masuk ke kamar cewek? Nggak sopan banget lo! Mana lewat jendela lagi… Mau mesum lo, ya?" tuduh cowok itu sembarangan, dimana langsung membuat kedua mata Gavin terbelalak lebar.
"Eh, apaan lo! Sembarangan aja kalo ngomong! Ya enggak lah!" sambar Gavin langsung tidak terima, memasang wajahnya yang masam.
"Gue mau ketemu sama calon istri gue. Lah, lo berdua itu yang aneh! Ngapain lo masuk-masuk sembarangan ke kamar cewek? Mau macam-macam lo, ya?!" tuduh Gavin balik, yang kali ini membuat dua saudara kembar itu mencibir ke arahnya.
"Eh, asal lo tahu, ya… Bagi kita berdua itu, Tante Kal bukan cewek. Tapi, perempuan yang harus dihormati. Emang lo, yang menganggap Tante lo sendiri itu sebagai cewek?" olok Ricky tajam, sontak membuat Gavin terdiam.
"Gavin, kamu ngapain sih kemari? Ini kan udah malam… Pake manjat-manjat tembok segala lagi… Kamu mau jadi cicak?" tanya Kalya pada Gavin, yang entah kenapa membuat pria itu semakin merasa dipojokkan oleh ketiganya.
"Kal, kamu apa-apaan sih? Aku kan kemari pengen lihat kamu. Masa nggak boleh?" kata Gavin memberengutkan wajahnya sebal. Persis seperti anak kecil, yang ditegur ibunya hanya karena ketahuan bermain kotor.
"Bukan nggak boleh. Tapi, lo kan emang lagi disuruh fokus belajar. Bukannya fokus jengukin Kalya. Lo mau, gue laporan sama Om Kendra?" ancam Ricky lagi, kali ini dibalas dengusan kesal oleh Gavin.
"Apaan sih, lo! Rese banget!" sungut Gavin mendekati Kalya, dan meraih nampan makanan yang tadi diberikan Ricky kepadanya.
"Kamu belum makan?" tanya Gavin pada Kalya lembut, yang dibalas gelengan kepala oleh wanita itu.
"Kalo gitu, aku suapin, ya?" tawar Gavin lagi, sontak membuat Ricky mengomel dengan kesal.
"Heh! Tante Kalya itu sehat wal'afiat tahu! Bukan pesakitan yang nggak bisa makan sendiri! Ngapain lo suapin? Goblok lo, ya?!" sembur cowok itu, membuat Gavin sangat kesal dan ingin menghajarnya, andai tidak ada Kalya di antara mereka.
"Gue sering heran dan bertanya-tanya, kenapa cowok mapan kayak lo masih aja jomblo sampai detik ini. Tapi, setelah gue ngelihat tabiat lo hari ini," Gavin menggelengkan kepalanya sejenak dan mencibir. "Kayaknya gue tahu deh alasannya apa."
"Eh, apaan maksud lo?! Lo mau ngata--"
"Ricky…!"
Ricky yang tadinya ingin membalas ucapan Gavin, menelan semua umpatannya, ketika Ricko dan Kalya menegurnya secara bersamaan.
"Udah malam. Jangan ribut." Kata Kalya menambahi, kali ini membuat Gavin tersenyum penuh kemenangan melawan Ricky.
"Setan lo, emang!"
"Ricky…!"
Lagi-lagi, Ricky mencebik. Dia kesal karena merasa Kalya sudah mulai pilih kasih antara dirinya dan juga Gavin. Mentang-mentang mau jadi suami, pikir Ricky sebal.
"Udah deh, Ky. Daripada lo ribut-ribut nggak jelas gini sama Gavin, mending lo keluar sama gue. Biarin aja mereka berdua. Toh, gimana pun juga Gavin bakal jadi suaminya Tante Kal." Ajak Ricko pada Ricky, yang kemudian membuat wajah Ricky semakin tertekuk.
Akhirnya, mau tidak mau, di bawah tatapan penuh ejekan Gavin, Ricky pun diseret oleh kakak kembarnya itu keluar dari kamar Kalya.
"Oi, Ko!" panggil Gavin tiba-tiba, pada Ricko yang hendak menutup pintu kamar Kalya dari luar.
"Thanks, ya… Gue harap… Lo dapat jodoh yang lebih baik dari sebelumnya." Ucap Gavin tersenyum, pada Ricko yang menatapnya dengan sorot mata kebingungan.
Sambil tersenyum tidak mengerti, Ricko pun membalas ucapan Gavin seperti ini.
"Walaupun gue nggak paham, maksud ucapanmu… Tapi, thanks, udah doain gue." Ucap Ricko, lalu benar-benar menutup pintu Kalya hingga rapat.
Sejenak, Kalya menatap wajah Gavin yang masih tersenyum melihat pintu kamarnya yang tertutup.
"Kamu tumben ngomong gitu sama Ricko. Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Kalya curiga, pada Gavin hang malah mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Biasanya kamu ngomongnya nyolot dan juga kasar sama mereka. Nah, sekarang tumben kamu ngomongnya baik dan manis gitu. Ada apa? Kamu bikin masalah lagi, ya?" tuduh Kalya berikutnya, sontak membuat kedua mata Gavin kembali terbelalak.
"Emang, kalo aku ngomong manis, itu artinya aku ada bikin masalah gitu?" rungut Gavin, memasang tampang masam.
"Ya… Biasanya sih, gitu… Aku kenal kamu 'kan bukan satu atau dua tahun. Tapi--"
"Kalya sayang… Udah deh, kamu nggak usah ngomelin aku kayak gitu. Aku kan bukan anak kecil lagi. Aku ini calon ayah dari anak kamu, loh. Jadi, aku tahu, apa yang aku lakuin sebenarnya. Oke?"
Gavin merangkul bahu Kalya mesra, dan menjawil hidung bangirnya pelan.
"Hm, terserah kamu deh…" Keluh Kalya akhirnya tidak bisa apa-apa.
Untuk sejenak, Gavin menatap Kalya lekat. Meski terlihat wanita itu sedikit salah tingkah karena dipandang sedemikian rapat, Gavin tetap tidak merubah arah pandangannya. Hingga sampai detik berikutnya, Gavin sudah memajukan wajahnya mendekati bibir Kalya.
"Gavin, kamu--"
Suara Kalya yang kaku melihat Gavin semakin mendekat, terputus dengan suara ponsel Gavin yang berdering begitu keras di saku celana laki-laki. Membuat baik Gavin ataupun Kalya terkejut, hingga wanita itu mendorong Gavin dengan jengkel.
"Kamu mau ngapain, sih?! Hape kamu bunyi tuh!" tuding Kalya dengan wajah merahnya, mengomeli Gavin yang tersenyum menatapnya.
Tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya, Gavin pun mengangkat panggilan itu dengan nada suara yang riang.
"Halo?"
"Bukannya Papa udah bilang, kamu nggak usah temuin Kalya dulu, sebelum kalian menikah? Kamu nggak dengar?!"
Suara omelan Kendra yang begitu galak di seberang sana, sontak menyadarkan Gavin dari rona kasmarannya.
Brengsek! Ini pasti ulah Ricky yang melaporkan kedatangan Gavin pada ayahnya.
"Eh, Pa-Papa? I-itu… Ga-Gavin cuma--"
"Pulang!"
Bersambung…