
Tangan Gavin bergerak merambat, menyentuh pinggang Kalya hingga ke sampai atas dadanya. Bibirnya terus saja bekerja, mencecap rasa yang dimiliki oleh mulut Kalya di bawahnya. Desahan serta lenguhan bernada sensual, keluar dari sela bibir wanita itu, seiring dengan geraman tertahan yang juga keluar dari tenggorokan Gavin sendiri
Entah apa yang sebenarnya Kalya rasakan saat ini. Tubuhnya bergetar seolah dia benar-benar menginginkan sentuhan yang diberikan Gavin kepadanya. Namun, ada perasaan takut di hatinya, yang tidak bisa dijabarkan seperti apa. Kilasan-kilasan masa lalu dimana Gavin pernah melukainya, kembali muncul, dan mengganggu sistem kerja hati Kalya saat ini. Bagaimana cara tangan besar itu merobek pakaiannya, serta menyentuh seluruh kulitnya secara brutal.
Tangan Gavin sudah meremas lembut dada istrinya yang semakin membesar dari ukurannya dulu, ketika Kalya tiba-tiba saja tersentak dan berteriak dengan nada ketakutan.
"Ga--Gavin!"
Gavin yang terkejut, langsung menjauhkan tangannya dari sana. Ditatapnya lekat wajah Kalya yang sudah sangat merah seperti buah tomat yang matang.
"I--itu… A--aku…"
Kalya yang resah, tampak menggigit bibir bawahnya. Pandangannya terlempar ke segala arah, menghindari kilatan mata penuh gairah yang Gavin berikan kepadanya.
"Aku rasa, aku… Ehm…"
Kalya nampaknya bingung, harus mengatakannya seperti apa. Dia takut menyinggung perasaan Gavin. Tapi, dia juga takut, kalau Gavin melakukan apa yang ada di benak laki-laki itu sekarang. Karena jujur, Kalya belum siap melakukannya lagi.
Sadar dengan tubuh di bawahnya yang gemetar, membuat Gavin langsung bangkit dan duduk menjauhi wanita itu.
Sambil menundukkan kepalanya dalam, Kalya berusaha untuk duduk sendiri, walau akhirnya dibantu Gavin yang ada di sebelahnya.
"Ma--maaf, Gavin… Ka--kayaknya aku…"
"Nggak papa. Jangan takut," seolah mengerti, Gavin menyelak ucapan Kalya dengan lembut. Dia merasakan panas, saat punggung tangannya menyentuh kulit pipi wanita tersebut.
Melihat reaksi tubuh Kalya terhadap sentuhannya barusan, membuat Gavin akhirnya sadar dengan apa yang telah diperbuatnya terhadap wanita di depannya ini.
Sejak ciuman tadi dimulai, Gavin sebenarnya sudah merasa ada yang janggal dari gerakan Kalya saat dia membawanya ke tempat tidur. Ada pun Kalya membalas ciumannya tadi, mungkin karena hormon ibu hamil yang tengah Kalya alami. Selebihnya, mungkin Kalya memang tidak bisa melawan rasa takut terhadap apa yang dirasakan akibat sentuhan yang dilakukannya.
Dan hal ini, berhasil mengingatkan Gavin pada kata-kata ibunya sebelum ini. "Bukan hal mudah buat Kalya menerima orang yang telah menghancurkan masa depannya Gavin. Kamu harus siap menanggung resiko dari perbuatan yang udah pernah kamu lakuin sama dia."
Dan, yah… Sepertinya ini memang sudah menjadi karma Gavin yang memang suka bertindak egois dari dulu.
"Maaf, Gavin. Tapi, kayaknya aku… Aku memang…"
Dengan gelengan kepala yang takut-takut, Kalya pun menundukkan kepalanya lagi lebih dalam. Namun, itu tidak membuat Gavin lengah untuk menilai gelagat perempuan itu yang sekarang.
Meski samar, Gavin bisa melihat betapa sedih dan tersiksanya wanita itu saat memeluk tubuhnya sendiri.
"Kal,"
"Enggak. Aku nggak mau, Gavin… Itu sakit… Aku nggak mau…" Tangis Kalya pecah, menyentuh bagian bawah perutnya perlahan.
"Aku masih bisa rasain sakitnya gimana. Aku pikir, aku bakal mati. Aku nggak mau…" Geleng kepala Kalya lagi semakin kuat, dan semakin menunduk menutupi tangis yang kian menjadi.
Untuk sekarang, perasaan Gavin sudah penuh dengan rasa penyesalan. Andai dulu dia bisa sadar dan lebih mengerti dengan posisi Kalya sebagai seorang gadis perawan, hal buruk ini tentu tidak akan terjadi kepada mereka berdua.
Kini, dia hanya bisa melihat Kalya yang ketakutan akibat ulah Gavin yang terlalu arogan. Egois dan juga berpikiran pendek.
Walau dulu Gavin melakukan hal itu saat Kalya sudah menginjak usia jauh lebih dewasa, tidak bisa dipungkiri kalau malam itu adalah pengalaman Kalya yang pertama. Dan sialnya, Gavin sudah memberikan kesan buruk serta menyeramkan bagi Kalya soal hubungan suami istri yang sebenarnya. Memaksanya, menyakitinya dan juga melukainya.
Gavin paham akan ketakutan Kalya soal ini. Karena malam itu, Gavin juga sadar sekasar apa dia memperlakukan Kalya yang jauh lebih lemah daripada dirinya.
"Maaf, Kal… Aku… Aku nggak tahu, kalau hal ini berdampak sangat buruk buat kamu. Aku…"
"Aku selalu berusaha menahan diri, biar nggak ada satu orang pun yang tahu soal kondisiku. Tapi… Tapi, aku sakit. Aku sakit berhari-hari, Gavin. Aku hampir nggak bisa jalan. Aku pikir, aku lumpuh! Aku juga…"
Gavin yang sudah tidak bisa mendengar tangisan serta ratapan Kalya tentang perilakunya, hanya bisa menarik wanita itu dan memeluknya dengan erat. Diusapnya rambut Kalya pelan, dan mengecup puncak kepala wanita itu berulang-ulang, berharap itu mampu menenangkan Kalya yang tentang kejadian waktu itu. Meski dia tahu, Kalya sudah larut dalam kesakitan yang Gavin buat, dan mungkin akan sulit untuk membawanya keluar kembali melihat isi hati Gavin yang sebenarnya.
"Maaf, Kal… Aku benar-benar minta maaf. Aku nggak berniat melukai kamu. Benar… Aku cuma…"
Gavin yang sadar bahwa semua ucapannya hanya bisa dianggap sebagai pembelaan, memutuskan untuk menutup mulutnya kembali.
Kenyataan kalau saat itu dia benar-benar gelap mata hingga berani menyeret Kalya untuk tidur dengannya, membuat Gavin tidak bisa berkata-kata. Fakta bahwa saat itu dia benar-benar menikmati percintaannya --ralat, berhubungan-- dengan wanita itu, membuatnya hanya bisa diam seribu bahasa. Dia tidak ingin menuding dirinya sendiri sebagai pria munafik, seandainya dia berusaha mengeluarkan alasan lain cuma untuk membuat Kalya berhenti menyalahkan dirinya yang telah berani memperkosa Kalya.
Sebenarnya, memang dia yang bersalah.
"Maaf, Kal… Maaf…" Ucap Gavin terpatah-patah, mendekap kepala Kalya dan mengusapnya. Dia pun sedih, saat wanita itu menangis begini. Apalagi, karena ulahnya yang membuat Kalya bisa depresi seperti ini.
"Kamu jahat, Gavin…. Benar-benar jahat… Kamu nggak mikirin aku. Kamu pikir, aku apa?" isak Kalya mencengkram lengan Gavin yang memeluknya dengan kuat.
"Iya, aku jahat, Kal… Aku memang jahat. Maaf, ya…" Bisik Gavin bergetar, kemudian memejamkan kedua matanya rapat.
Pria itu berharap, Kalya segera tenang dari tangisannya saat ini. Karena selain itu menyakiti hati Gavin, pikiran dan tangisan Kalya mungkin juga bisa sampai ke dalam kandungannya dan berdampak buruk bagi kesehatan anak mereka.
Gavin tidak ingin, penyesalannya semakin bertambah berat, karena sesuatu yang buruk, ikut terjadi pada anaknya yang tengah di kandung Kalya.
***
Pagi hari, Gavin yang sudah selesai membereskan rumah dan mandi, segera menghampiri Kalya yang tengah sibuk menyiapkan makanan di dapur.
Dengan sikap seolah tidak terjadi apapun kemarin --karena dia memang tidak ingin mengungkit masalah itu dan membuat Kalya kembali bersedih-- Gavin pun duduk di salah satu kursi makan, di mana di atas mejanya sudah terhidang beberapa jenis masakan.
"Hari ini kamu masak apa? Kok aromanya harum banget?" tanya Gavin girang, tiba-tiba saja mengagetkan Kalya yang tengah membelakanginya sejak tadi.
"Eh, Gavin…" Serunya terperanjat sedikit, kemudian meletakkan satu piring sayur tumis yang baru saja diangkatnya dari penggorengan.
Lalu, dia meletakkan piring itu, bersisian dengan ikan nila goreng sambal yang juga baru dimasaknya.
"Wah, kayaknya enak, nih…" Puji Gavin santai, menatap satu per satu masakan istrinya dengan pandar mata orang yang kelaparan. Dia seperti tidak sabar, menanti Kalya yang saat ini tengah membuatkan sarapan untuknya di atas piring.
Dan saat Kalya sudah meletakkan piring itu ke hadapan Gavin, dengan sigap pria itu mengambil piring tersebut, dan menyantap makanan di atasnya dengan lahap.
"Wah, masakan kamu enak banget, Sayang. Hebat deh, kamu…" Puji Gavin lagi terlihat senang, sembari terus menyantap makanan yang diberikan Kalya dengan perasaan suka cita.
Gavin tidak menyadari, kalau sejak Kalya terkejut tadi, wanita itu terus saja memperhatikannya dalam diam.
Melihat sikap Gavin yang begitu ceria pagi ini, membuat Kalya kembali dirundung perasaan bersalah dalam hatinya. Entah apa yang dia mau sebenarnya dari laki-laki itu. Apa yang menjadi keinginan sesungguhnya, dia pun tidak tahu. Yang jelas, saat dia ingat kejadian kemarin ketika Gavin hendak menyentuhnya, dia terlihat begitu ketakutan seperti orang bodoh. Menangis seperti orang konyol, dan memaki Gavin atas apa yang sudah lama terjadi di antara mereka.
"Gavin,"
"Ya?"
"Soal kemarin… Aku minta maaf." Ucapnya pelan, lantas menundukkan kepalanya.
"Harusnya, aku nggak boleh bersikap gitu sama kamu. Harusnya, aku bisa melayani kamu dengan baik. Sebagai istri, aku--"
"Nggak usah dibahas." Kata Gavin, menyelak ucapan Kalya.
Pandangan laki-laki itu yang tadinya terlihat begitu cerah, mendadak redup, seiring tatapannya yang sayu.
"Harusnya, aku yang minta maaf sama kamu. Soal malam itu…" Gavin pun ikut menunduk dan membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering.
"Aku…"
"Aku harusnya bisa melupakan hal itu." Sela Kalya balik, membuat Gavin menoleh ke arahnya.
"Sebelum aku mutusin buat nerima lamaran kamu, harusnya aku belajar untuk menerima kamu dan mempersiapkan diri aku untuk kamu. Aku seharusnya sadar, sebagai laki-laki, atau lebih tepatnya, sebagai suami, kamu berhak minta hal itu dari aku. Tapi, aku? Malah dengan bodohnya merasa takut dan nangis kayak orang tolol kemarin."
Suara Kalya, tiba-tiba tercekat, bersamaan dengan air matanya yang kembali menggenang. Sungguh, seumur-umur, baru ini dia merasa hidupnya sangat melow seperti ini.
"Aku munafik banget, kan?" lirih Kalya serak, melirik singkat pada Gavin, sebelum akhirnya menundukkan kepalanya lagi menahan malu.
Sementara itu, Gavin yang merasa Kalya terlalu menyalahkan diri atas apa yang sebenarnya menjadi salah Gavin, hanya terdiam mencerna ulang setiap kejadian yang sudah mereka lewati.
"Kal,"
Pelan, Gavin pindah duduk ke sebelah Kalya yang ada di seberangnya.
"Di sini, aku yang salah. Kamu udah baik banget, bisa nerima aku yang brengsek ini. Jadi, kamu berhenti nyalahin diri kamu sendiri, karena itu bisa menyakiti anak kita juga,"
"Tapi, Gavin--"
"Shttt…! Udah, ya…" Bujuk Gavin lagi, menyentuh bibir Kalya dengan telunjuknya, kemudian mengusap sisa lelehan air mata wanita itu.
"Kita akan jalani semuanya pelan-pelan. Waktu kita masih banyak, kok. Jadi, aku mau, kamu nggak memaksakan diri kamu lagi kayak gini. Oke?"
Gavin menatap mata Kalya yang berkabut, serta bibir wanita itu yang bergetar sedih.
"Oke…" Angguk Kalya pelan, lantas membuat Gavin langsung memeluk tubuhnya dan mengusap punggungnya lembut.
"Makasih, Gavin… Udah mau mengerti aku," ucap Kalya terbata, entah mengapa membuat hati Gavin seolah tercubit mendengarnya.
Sambil meringis, Gavin pun bergumam dalam hati. "Harusnya aku, Kal… Harusnya aku yang bilang makasih, karena kamu mau terima aku yang kayak gini…"
***
Setelah sarapan, dan selesai membicarakan masalah yang ada, Kalya pun mengantarkan Gavin yang akan bekerja sampai ke teras rumah. Kini, perasaannya sudah jauh lebih tenang, ketimbang saat menyimpan masalah itu sendiri di hatinya.
"Ya udah deh, Sayang. Kalau gitu, aku berangkat ya…" Kata Gavin mengecup sebelah pipi Kalya yang mengangguk.
"Iya, hati-hatinya. Ingat, jangan ngebut di jalan. Ada anak dan istri yang nunggu di rumah." Pesan Kalya, dibalas Gavin dengan senyuman.
"Iya… Udah kayak rambu-rambu aja, kamu." Kekeh Gavin, melepaskan tangan Kalya dan melambai.
Tapi, baru saja Gavun hendak berpaling meninggalkan wanita itu, tiba-tiba saja, seseorang yang tidak dikenal Gavin datang dan bertamu ke rumah mereka.
"Selamat pagi, Kak Kalya…" Sapa tamu itu ramah, pada Kalya yang langsung menyambutnya berbinar.
"Eh, Kaisar… Selamat pagi…" Balasnya.
Dia Kaisar. Orang yang baru Kalya kenal kemarin, tapi rasanya sudah cukup akrab dengan anak itu.
"Eh, Bang Gavin, selamat pagi... Mau berangkat kerja, Bang?" tanya Kaisar sok kenal dan sok dekat dengan Gavin yang --sejak kedatangannya di sana-- sudah menatap tajam ke arahnya.
"Iya, selamat pagi," jawab Gavin datar, memperhatikan wajah cowok di depannya secara lekat. Seperti pernah lihat, batin Gavin.
"Oh, Gavin… Aku baru ingat!"
Kalya yang tiba-tiba saja berseru di dekat Gavin, langsung membuat pria itu menoleh.
"Aku lupa mengenalkannya sama kamu. Ini Kaisar. Dia ini anaknya Bu Sarah. Kamu tahu Bu Sarah, kan? Orang yang waktu pindahnya barengan sama kita. Tahu, kan?" tanya Kalya melihat dahi Gavin yang berkerut seolah berpikir.
"Bu Sarah yang rumahnya di pojokan itu?" tunjuk Gavin ke arah rumah Bu Sarah, lantas terpaku menatap wajah Kalya yang melihatnya.
Entah kenapa, Gavin baru sadar, kalau saat melihat Kaisar tadi, dia merasa seperti tengah melihat Kalya saat remaja dulu. Mereka terlihat mirip. Meski Gavin tidak tahu kemiripannya ada di mana, tapi yang jelas, Gavin seperti tengah melihat Kalya dalam wujud seorang laki-laki. Dia tahu, karena dia sering menatap Kalya sejak dulu.
"Gavin!"
"Eh, ya?"
Gavin yang kaget karena Kalya menepuk tangannya sedikit, mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Kamu kenapa?" tanya Kalya heran, melihat Gavin yang seperti orang kebingungan.
"Ehm, eng-nggak papa, kok. Aku nggak papa." Ujar Gavin kedip beberapa kali, kemudian kembali terfokus pada Kaisar.
"Kamu bilang, kamu anak Bu Sarah?" tanya Gavin lagi, dibalas anggukan kepala oleh anak itu.
"Emang Bu Sarah punya anak? Bukannya waktu pindahan, beliau cuma sendiri, ya?"
"Punya! Bu Sarah punya anak, kok. Suami juga punya!" sahut Kaisar tegas, membuat Gavin mengerutkan sedikit dahinya heran.
"Mama punya dua anak dan satu suami. Selama ini kami tinggal di luar negeri. Mama kemari duluan, karena memang saya belum libur dari sekolah. Sedangkan Papa, Bang Gavin juga bakal ketemu dia, kok bentar lagi. Jadi, tenang aja…" Sambung Kaisar panjang dan berapi-api, kali ini membuat Gavin memundurkan kepalanya heran.
"Ngapain gue ketemu sama bokap lo?" gumam Gavin aneh, seketika dibalas sikutan pelan dari Kalya.
Dengan tatapan mata tajam dan gerakan bibir yang rapat, Kalya menyuruh suaminya itu untuk menjaga adab saat berbicara.
"Oh ya, Kai… Kamu ada perlu apa, ya?" tanya Kalya lembut, pada Kaisar yang kini sudah menatapnya dengan senyuman.
"Ini, Kak. Kemarin, aku buat puding. Cuma, karena jadinya kemalaman, baru bisa aku kasih sekarang." Kata Kaisar, menyerahkan satu piring puding kepada Kalya. "Nih!"
"Wah, makasih ya, Kai… Kamu baik banget, deh," ucap Kalya senang, pada Kaisar yang juga terlihat mengangguk membalasnya.
"Kelihatannya enak, kamu pinter masak, ya?" tanya Kalya, melihat penampilan puding pemberian Kaisar yang katanya buatan tangan dari pria itu sendiri.
"Ya, cuma bikin-bikin kue, bisa… Belajar-belajar dikit. Soalnya, aku punya niat mau buka toko kue pas tamat sekolah nanti." Kata Kaisar, seketika membuat Kalya dan cowok itu merasa dunia milik mereka berdua.
"Oh, ya? Emang kamu nggak ada niat kuliah? Kok baru tamat sekolah, udah mau bikin usaha?" tanya Kalya heran dengan alis yang sedikit berkerut.
"Kuliah juga sih, Kak. Cuma sambilan aja. Kan belum tentu juga, begitu buka langsung sukses, tokonya."
"Ya, tapikan, namanya juga kuliah, kamu harusnya fokus belajar. Sayang, loh, kalo kamu nggak lanjut kuliah…" Kata Kalya peduli, lantas membuat Kaisar kembali tersenyum senang.
"Iya, Kak. Nanti aku pikirin lagi, nasihat Kakak. Tapi, yang jelas--"
"Ehem!"
Suara deheman Gavin yang terdengar keras, menginterupsi percakapan akrab antara istrinya dan juga Kaisar.
Terlihat wajah pria itu sudah tertekuk tidak senang, ketika Kalya menoleh dan menaikkan kedua alisnya pada pria tersebut.
Dengan sedikit kesal, dia menarik lengan Kalya sedikit menjauh dari Kaisar dan berbisik sengit kepada wanita tersebut.
"Aku mau pergi kerja. Kamu nggak mau ngusir anak itu dari sini?" bisik Gavin, kental sekali dengan nada sinis, pada Kalya yang justru menatapnya dengan sorot mata bertanya.
"Diusir? Kok--"
"Ini udah siang loh, Bang Gavin. Bang Gavin nggak takut telat masuk kantor?"
Belum selesai Kalya bertanya, Kaisar sudah lebih dulu menyelak, menginterupsi kegiatan dua orang di depannya. Entah kenapa, dia sedikit tersinggung mendengar bisikan Gavin yang nyatanya cukup bisa didengar dari jarak satu meter di belakang mereka.
Dengan perasaan sedikit tidak enak, Kalya menyikut lagi perut Gavin yang terasa sedikit keras itu, dan berjalan menghampiri Kaisar kembali.
"Terima kasih atas makanannya. Sekarang, kamu udah bisa pulang. Sana!" usir Gavin kasar, kembali membuat Kalya memukul perutnya geram.
"Gavin…!" tegur wanita itu sebal, merasa tidak enak dengan Kaisar yang balas menatap Gavin tak kalah tajam.
"Kalau mau pergi, ya pergi aja! Nggak usah khawatir. Saya bukan tipe orang brengsek yang suka manfaatin keadaan, kok! Saya ini, biarpun masih remaja, tapi saya masih bisa berpikir panjang." Kata Kaisar santai, yang entah kenapa membuat Gavin merasa tersentil mendengarnya.
Lewat tatapan matanya yang melihat Kaisar, bisa dilihat jelas raut wajah penuh sindiran tengah diberikan oleh laki-laki tersebut kepadanya.
Sambil melirik Kalya sekilas, Gavin yang sadar kalau tidak ada gunanya dia melawan anak ini sekarang, memutuskan untuk pamit.
"Aku pergi," katanya, kemudian berlalu, setelah mengucap salam kepada Kalya membahasnya.
Apapun itu, satu hal yang Gavin dapatkan di pertemuannya dengan Kaisar. Bahwa dia, sangat tidak menyukai anak itu.
Bersambung.