Be My Brides

Be My Brides
Episode 6



Sesampainya di rumah Keanu, sang pemilik langsung rumah menyambut kehadiran Kalya dengan ramah. Bahkan Ricka, anak bungsu dari Keanu sendiri pun sampai harus berlari memeluk tubuh Kalya seperti anak kecil. Padahal, usia Ricka ini sama seperti Gavin yang sudah menginjak angka dua puluh dua tahun.



"Tante Kalyaaaa…!" sorak Ricka bahagia, merasakan Kalya yang balas memeluknya dengan sayang.



"Tante…aku kangen banget sama Tante, loh..." Kata Ricka, dibalas tepukan halus oleh Kalya di punggung gadis tersebut.



"Tante juga kangen kamu, Ricka." Ucap Kalya, disusul oleh Rara, ibunya Ricka dan Ricky, yang juga memeluknya.



"Hai, Kalya…selamat datang di rumah kami… bagaimana kabar kamu?" Rara melepas pelukannya dan menatap adik iparnya itu.



"Aku baik, Mbak. Terima kasih, udah terima aku di rumah ini, ya…" ucap Kalya lagi, melihat ke arah Keanu yang tersenyum di belakang Rara.



"Nggak usah sungkan gitu. Mereka bahkan senang banget waktu Mas bilang kamu bakal tinggal di rumah ini. Apalagi si Ricka tuh! Dia sampai bela-belain mandi pagi buat nyambut kamu tahu…" gurau Keanu sontak menuai protes dari putri satu-satunya.



"Ih, Papa! Jangan ngomong gitu dong! Ntar, kalo ada yang dengar 'kan malu…" rajuk Ricka dibalas ejekan lagi oleh Ricky yang baru saja mengeluarkan koper Kalya dari bagasi mobilnya.



"Eh, emang kenapa kalo ada yang dengar? Kayak lo peduli aja…" katanya, malah membuat Ricka mencebikkan bibirnya kesal.



"Udah, ah! Kalian ini, Kalya baru datang udah mau ribut aja… Mending, sekarang kita masuk ke rumah dan ngobrol di dalam." Ajak Rara melerai perdebatan anak-anaknya.



"Oh, ya Tante, aku penasaran nih, apa sih yang buat Tante jadi setuju buat pindah ke rumah ini? Bukannya selama ini Tante kukuh banget ya, buat nggak ninggalin rumah Om Kend?" tanya Ricka menggandeng sebelah lengan Kalya saat mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.



"Memangnya kenapa? Kamu keberatan? Atau, kamu mau Tante balik lagi nih, ke rumahnya Om Kend?" ancam Kalya, seketika membuat wajah Ricka menjadi kusut.



"Ih, Tante, apaan sih?! Nanya gitu aja kok pake ngancam segala, sih?! Aku kan cuma nanya!" protes Ricka memajukan bibirnya beberapa senti.



"Ya, lo juga nanyanya aneh! Udah syukur Tante Kal akhirnya mau pundak ke sini. Ngapain harus ditanya-tanya lagi, sih? Ntar, kalo Tante Kal berubah pikiran, gimana?!" serobot Ricky mengoceh dari arah belakang Kalya yang sejak tadi mengikuti langkah kedua perempuan itu ke dalam rumah.



"Ish! Mas Ricky kok gitu, sih?! Udah dibilang, kau kan cuma mau nanya. Abis, kabar Tante Kal mau pindah ke sini itu mendadak banget! Kemarin malam nelpon, eh, paginya langsung ke mari. Kan dadakan banget…"



"Ya, mungkin Tante Kalya takut berubah pikiran kali. Atau, Tante merasa udah terlalu banyak php-in elu! Makanya, dia mutusin buat pindah ke mari secepatnya! Gimana pun juga 'kan lo tetap keponakannya Tante Kal juga…ya nggak, Tante?"



Tiba-tiba Ricky menyenggol bahu Kalya dengan lengannya. Membuat Kalya kaget sekaligus bingung harus menjawab pertanyaan itu dengan apa, sedangkan kenyataan kalau dia pindah secara mendadak ke rumah Keanu memang benar adanya.



"Eum… Ya! Benar, seperti itulah kira-kira." Kata Kalya akhirnya nyengir kaku.



"Oh, gitu…" Dan Ricka pun membalasnya dengan kepala yang mengangguk. "Terus, gimana sama Gavin? Dia ngomong apa? Dia nggak keberatan sama sekali?"



Pertanyaan Ricka yang tidak diduga oleh Kalya itu kembali membuat Kalya terdiam. Jangankan melihat apakah Gavin keberatan atas kepergian Kalya atau tidak. Karena pada dasarnya, setelah kejadian kemarin malam, Kalya sudah memutuskan untuk pergi tanpa berniat menanyakan pendapat Gavin terlebih dahulu.



"Ngapain dia keberatan? Emang dia siapanya Tante Kalya? Suami? Bukan 'kan?" sahut Ricky sinis, kemudian menarik lengan Kalya hingga terlepas dari pegangan Ricka.



"Udah, ah! Daripada bahas hal yang nggak berbobot sama lo, mending gue antar Tante Kalya langsung ke kamarnya. Biar dia istirahat. Soalnya, ngomong sama lo 'kan harus pake tenaga yang besar." Ujar Ricky, menaikkan alisnya tanda mengejek.



Tanpa menunggu Ricka membuka mulut mengajukan protes, Ricky langsung membawa Kalya semakin masuk ke dalam rumah. Dan saat melewati ruang tamu dimana kedua orangtuanya sudah duduk di sana, dia pun mengajukan diri untuk langsung mengantar Kalya ke kamar yang akan Kalya pakai di rumah itu.



Sementara Kalya, hanya bisa diam, mengikuti kemana arah tangan Ricky membawanya.



***



"Mulai sekarang, Tante nggak perlu mikirin apa yang nggak perlu Tante pikirin. Yang terpenting sekarang, Tante harus menikmati hidup Tante sebagaimana Tante menikmatinya selama ini."



Kalya menoleh ke arah samping, tempat dimana saat ini Ricky duduk mengendarai mobilnya.



Mulai hari ini, Kalya akan berangkat pergi dan pulang kerja bersama dengan keponakannya yang satu itu. Selain karena memang mereka sudah tinggal di rumah yang sama, Ricky yang juga bekerja sebagai manajer administrasi di perusahaan Kendra, membuat mereka mempunyai alasan kuat untuk pergi bersama.



Tapi, anehnya, entah apa yang diocehkan Ricky sebelumnya, tiba-tiba cowok itu berbicara serius pada Kalya yang sejak tadi setengah melamun.



"Kamu ngomong apa, Ricky?" tanya Kalya menajamkan telinganya pada Ricky yang tampak mendengus mendengarnya.



Mobil yang dikendarai Ricky, berhenti di lampu merah tidak jauh dari kantor mereka berada. Alih-alih berdiam diri dan menghitung waktu mundur lampu lalu lintas, Ricky menoleh ke samping tepat pada Kalya yang menunggu jawabannya.



"Badan Tante memang udah pindah ke rumah kami. Tapi, pikiran dan hati Tante belum. Iya 'kan?" terka Ricky tajam, membuat Kalya mengerjakan kedua matanya bingung.



"Maksud kamu? Tante nggak ngerti!"



"Nggak ngerti? Masa?" Ricky menaikkan sebelah alisnya, dan membuang pandangannya ke arah depan. "Emang ada gitu, orang yang nggak ngerti isi hatinya sendiri?" iseng, Ricky mengusap dagunya sedikit. "Itu bego atau gimana, ya?"



"Ricky! Kamu kok ngomongnya gitu?! Ngina Tante, ya?!" seru Kalya marah, menuding Ricky tidak sopan.



"Enggak! Aku nggak ngina Tante! Aku cuma ngejek orang yang nggak ngerti sama isi hatinya sendiri, kok! Bukan Tante! Cuma, kalo Tantenya sendiri ngerasa… aku bisa apa, dong?" bantah Ricky, kemudian menyeringai kecil di ujung kalimatnya.



Terlihat Kalya menundukkan wajahnya sedikit. Sebenarnya, dia paham dengan ucapan Ricky sejak awal. Hanya saja, dia takut mengakui kalau hatinya sebenarnya berat meninggalkan rumah Kendra yang sudah beberapa tahun ini ia tinggali. Apalagi jika mengingat masalahnya dengan Gavin, membuat Kalya semakin ingin menolak pendapat hatinya saat ini.



"Udah! Kamu jangan banyak omong! Udah lampu hijau, tuh!" tunjuk Kalya memukul sedikit lengan Ricky yang ia tahu sejak tadi memperhatikannya, dan diam-diam tersenyum melihatnya.



"Tante, aku cuma punya satu saran untuk Tante. Kiranya Tante Kal mau dengar, aku bakal bilang."



Sambil menginjak pedal gas di kaki kanannya, Ricky melirik sekilas pada Kalya yang masih setia berdiam diri di tempatnya.



"Usia kita udah bukan usia anak-anak lagi. Tante udah dewasa, bahkan jauh lebih dewasa daripada aku, untuk menyelesaikan masalah Tante. Dan aku tahu, Tante juga mengerti kalau…"



Sekali lagi, Ricky melirik ke arah Kalya, yang kali ini menoleh ke arahnya dengan alis yang mengerut.



"Kalau kabur, nggak akan membuat Tante mendapatkan jawabannya."



***



Kalya turun dari mobil yang dikendarai oleh Ricky. Pikirannya masih sedikit kacau, ketika keponakannya yang satu itu datang sedikit berlari menghampirinya dari arah belakang.



"Tante Kal! Tunggu, kali…"



Ricky menarik lengan Kalya hingga wanita itu berhenti. Kalya menoleh dan menatap malas pada Ricky yang mengusap tengkuknya tidak enak.



"Sebelumnya sory, kalo Tante ngerasa aku terlalu ikut campur sama masalah Tante. Tapi, aku memang punya perasaan kuat yang bilang kalau sebenarnya Tante itu lagi kabur. Cuma ya…"



Ricky semakin terlihat salah tingkah, ketika Kalya menyipitkan matanya kesal.



"Sory, deh! Nggak jadi…" cengir Ricky, membuat Kalya memutar bola matanya bosan.




"Apalagi sih, Ricky…"



Cup!



Geraman Kalya berhenti seketika, saat orang yang selama ini ia anggap sebagai keponakannya itu langsung menyambar pipi Kalya dengan kecupannya. Membuat Kalya terdiam dan menatap sengit pada Ricky yang justru meringis.



"Aku cuma mau bilang, nanti malam aku nggak bisa pulang bareng sama Tante, karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jadi… aku minta maaf!"



Seperti anak kecil, Ricky menangkupkan kedua tangannya di dada, dan menatap Kalya penuh sesal.



"Lah, emang kalo nggak bisa pulang bareng kenapa? Kok takut gitu? Nggak papa, kali…" Kata Kalya, membuat mata Ricky sedikit berbinar.



"Tante nggak marah? Nggak kesal?" tanya pria itu dibalas gelengan kepala oleh Kalya.



"Kalo emang nggak bisa, ya mau gimana lagi? Nggak mungkin dipaksain, kan? Lagian, aku bisa pulang bareng Mas Nunu, nanti." tambah Kalya, kali ini dibalas senyuman oleh Ricky.



"Aneh, kamu ini..."



"Ya udah, kalo gitu… Aku senang kalo Tante nggak marah. Eum, tapi… boleh cium lagi, nggak?" Kata Ricky tiba-tiba menggoda Kalya, hingga gadis itu berkacak pinggang sebal.



"Kamu ini…!"



Belum sempat Kalya mengomel, Ricky sudah lebih dulu kabur meninggalkan Kalya. Dia berlari masuk ke dalam gedung, dan menghilang ke dalam sebuah yang kebetulan sedang terbuka saat itu.



"Dasar usil!" gerutu Kalya yang melihat kelakuan Ricky masih persis seperti usianya anak-anak.



Dengan menggelengkan kepala sedikit, Kalya pun ikut masuk ke dalam gedung perkantoran tersebut. Karena suasana masih terlalu pagi, tidak banyak orang yang berlalu-lalang di kantor itu. Hanya segelintir, hingga membuat Kalya masuk ke dalam lift seorang diri.



Pintu lift masih akan tertutup, ketika sebuah tangan menahan pintu itu untuk tetap terbuka. Wajah Gavin yang terlihat begitu keras, muncul dari arah luar dan menatap Kalya seolah ingin menelan wanita itu bulat-bulat.



Tanpa berbicara, Gavin masuk dan berdiri di samping Kalya. Membuat Kalya yang merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, jadi bingung apakah harus keluar dari dalam lift, atau tetap seolah-olah tidak ada Gavin di sana.



"Mau kemana?"



Suara dingin Gavin serta tangan pria itu yang menahan lengan Kalya, sukses membuat langkah Kalya yang tadinya ingin kabur, berhenti sejenak. Tubuhnya kaku, seiring dengan tatapannya yang bertabrakan dengan Gavin melalui dinding lift yang terbuat dari metal tersebut.



"Lepas!" pinta Kalya yang tidak diindahkan sama sekali oleh Gavin. Malah cowok itu dengan enaknya menekan tombol delapan pada dinding lift dan membuat pintu lift itu bergerak menutup.



"Tunggu!"



Kalya yang tadinya gemetar setengah mati karena harus berdua dengan Gavin di dalam lift, kembali merasa lega, saat Indy, teman dekat Kalya datang dan mencegah pintu lift agar tidak tertutup.



"Kalya…"



"Indy,"



Dengan napas tersengal, gadis itu masuk tanpa melihat perubahan wajah Gavin yang seolah ingin membakarnya hidup-hidup. Bahkan, dengan rasa tidak bersalahnya, Indy berdiri di samping Kalya dan mendorong Gavin mundur beberapa langkah hingga pegangannya di lengan Kalya terlepas. Entah sengaja atau tidak, Gavin menganggap kalau Indy itu memang salah satu jenis perempuan yang sangat bodoh.



"Eh, Kal! Tadi gue nggak sengaja lihat lo datang ke kantor sama Pak Ricky, ya? Kok tumben? Lo udah nggak bareng Pak Kendra lagi?" Indy menyerocos melihat Kalya yang seolah tidak ada kejadian apapun sebelum ini.



"Iya, mulai sekarang, gue bakal pulang dan pergi sama Pak Ricky." Jawab Kalya.



"Loh, kok gitu? Bukannya lo tinggalnya sama Pak Kendra, ya?"



"Iya, tapi, sekarang udah enggak. Karena, sejak kemarin, gue udah pindah dan tinggal di rumah Pak Keanu. Jadi, ya, gue pulang sama pergi kantor bisa sama Ricky, deh." Jelas Kalya, seketika membuat Indy memandang takjub ke arahnya.



"Woaaaah! Enak banget hidup lo, Kal! Beruntung banget sih lo, dikelilingi sama cowok-cowok cakep! Kemarin Pak Kendra. Sekarang, tinggal di rumah Pak Keanu! Woaaah…" Indy menggelengkan kepalanya tidak percaya.



"Apalagi sekarang, lo bilang, bakal pulang dan pergi bareng sama Pak Ricky. Wah, gue benar-benar iri sama lo, Kal! Ditambah, gue denger kalo Pak Ricky itu punya saudara kembar yang nggak kalah mapannya sama beliau…" Lagi-lagi kepala Indy menggeleng dengan takjubnya. Sepertinya, dia kehabisan kata-kata lagi, untuk sekedar mengungkapkan rasa kagumnya saat ini.



"Dewi keberuntungan emang lagi mihak sama lo, Kal..." imbuh Indy terbengong.



"Ah, biasa aja kali! Lo jangan berlebihan gitu! Lo lupa, kalau mereka itu keponakan gue?" tandas Kalya, membuat raut wajah Indy yang tadinya berbinar takjub, jadi murung tidak semangat.



"Eh? Iya, ya… lo benar. Sayangnya, mereka cuma keponakan lo doang, ya? Coba aja bukan…" desah Indy, hanya dibalas lirikan singkat oleh Kalya.



Diam-diam, Kalya merasa tidak nyaman dengan keberadaan Gavin yang masih berdiri di sekitarnya. Ditambah dengan ucapan Indy tentang Ricky dan juga Ricko, entah kenapa Kalya merasa punggungnya seperti tengah disiram dengan air es.



"Benar juga sih, kalo dipikir-pikir. Mana ada, ya… Tante sama keponakan sendiri." Ucap Indy tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya lucu. Membuat Kalya hanya bisa meringis melihat temannya itu berkomentar.



"Kalo sempat hal itu terjadi, beh! Harus dipertanyakan tuh, isi otak tante sama keponakannya! Ya 'nggak Kal?! Gila itu, namanya!"



Kalya kaget saat Indy menyenggol lengannya. Dia menoleh kaku dan melihat wajah Indy yang semangat tersenyum menaikkan alisnya berulang kali.



"I-iya… Lo bener… Gila itu, mah…" jawab Kalya menelan ludahnya susah payah.



"Iya, ya… Indy benar… Itu gila namanya!" batin Kalya menambahi.



Sementara itu, Gavin yang sejak tadi hanya diam mendengar percakapan dua perempuan di depannya, memejamkan matanya kesal. Sekuat tenaga dia menahan tangannya untuk tidak menyentuh Indy dan menyakiti perempuan cerewet itu. Hanya saja, apa yang Indy katakan sejak tadi tak ubah seperti bensin yang terus-menerus menyiram percikan api emosi Gavin. Hingga, saat pintu lift terbuka di lantai tempat divisi mereka berada, Gavin yang sudah tidak tahan lagi, langsung keluar dan menyenggol bahu Indy dengan sengaja.



"Waduh! Apaan sih tuh anak songong? Berondong gila!" maki Indy yang hampir terjungkal ke depan akibat dorongan dari bahu Gavin.



Tapi, alih-alih menoleh dan membalas, Gavin hanya diam dan mengabaikan dua perempuan itu di dalam lift.



Indy menoleh. Matanya melihat pada Kalya yang juga tengah menatap punggung Gavin yang terlihat sedang kesal itu.



"Itu orang kenapa, sih? Aneh…"




*****