Be My Brides

Be My Brides
Extra Part - 01 Gavin dan Kalya



Wajah Gavin sudah terlihat begitu kusut. Sejak pagi, dia terus dipaksa melihat pemandangan yang sangat menyayat hati, dimana istrinya --Kalya-- saat ini sedang berbagi kasih sayang dengan seorang pria. 


Oke, mungkin ini terdengar sedikit berlebihan. Gavin sadar, kalau dia pernah bilang tidak akan cemburu pada pria yang merupakan keluarga Kalya sendiri. Tapi, entah kenapa, melihat Kaisar ada di sana dan terus bermanja kepada Kalya, membuat hatinya terasa panas. Ingin sekali dia menghajar cowok kurang ajar itu dan melipatnya di dalam lemari. Berpura-pura tidak ada kejadian, dan berakhir tenang tanpa melihat wajah tengilnya lagi di sekitar Kalya. 


"Mas Gavin, kamu kenapa?" 


Pertanyaan yang dilontarkan Kalya kepada Gavin, serta sentuhan tangan halus wanita itu di dadanya, menyadarkan Gavin kalau sejak tadi melamun sembari menatap ke arah Kalya. Ah, lebih tepatnya ke arah Kaisar, yang terus menempel kepada Kalya. 


"Engh, enggak. Aku nggak papa, kok…" Sahut Gavin tersenyum masam, melirik sekilas kepada Kaisar yang masih juga ada di samping istrinya. Ingin menendang, tapi takut Kalya tersinggung dengan sikap kasarnya terhadap Kaisar. 


"Nggak papa, tapi kok mukanya kusut gitu? Mas ada masalah?" tanya Kalya lagi lembut, semakin memperhatikan wajah Gavin yang tidak bisa memasang tampang palsu. 


Pria itu lebih memilih membuang pandangannya ke arah lain, daripada berteriak dan berkata. "Iya! Aku ada masalah! Dan itu sama adik kamu!" 


Hah, Gavin tidak bisa membayangkan nasib rumah tangganya nanti, jika sampai dia berkata seperti itu kepada Kalya. 


Gavin jadi ingat, dengan kalimat Kaisar saat mereka bertengkar dulu. 


"Saya akan pastikan, jalan kamu tidak akan mudah."


Dan yah… Sekarang, anak remaja itu sudah membuktikan kalimatnya dengan terus membuat Gavin kesulitan untuk berdekatan dengan Kalya. 


Sejak datang ke rumah orangtua Gavin kemarin sore, Kaisar terus saja menempel dan mengikuti Kalya kemana-mana. Sudah seperti jin yang mengikuti kemana pun tuannya pergi. Ya, kecuali ke kamar mandi, tentunya. 


"Nggak, kok… Aku nggak ada masalah. Cuma lagi agak kepikiran aja sama kerjaan kantor." Dusta Gavin, yang hanya bisa menghelakan napas beratnya. 


Sial! Kenapa juga, Keanu harus mengundang keluarga Kalya untuk datang ke acara pernikahan Ricko dan Hana yang akan dilakukan besok hari? Maksudnya, Keanu boleh mengundang orang tua Kalya. Sangat boleh malah. Tapi, masalahnya, kenapa tuyul yang bernama Kaisar itu harus ikut? Bikin kesal Gavin saja… 


"Hah, klasik sekali alasan Bang Gavin, ya? Sudah seperti cerita di televisi saja…" Ejek Kaisar dengan gaya khas yang menyebalkan, menyeringai, melihat Gavin yang melirik tajam ke arahnya.


"Kamu kenapa bisa ikut kemari? Kamu nggak sekolah besok? Bukannya saya dengar kamu mau tes kelulusan, ya?" sengit Gavin, tanpa tadeng aling-aling, menatap Kaisar yang hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh kepadanya. 


"Saya nggak harus datang ke sekolah setiap hari. Saya ini pintar. Tinggal belajar sedikit, saya pasti lulus." Balas Kaisar sombong, membuat Kalya yang mendengarnya hanya meringis tidak tanggung. 


Dia baru tahu, kalau adiknya ini bisa senarsis itu. 


"Heh, takabur kamu. Giliran nggak lulus, baru nangis…" Ujar Gavin dingin, lagi-lagi hanya dibalas cibiran tidak peduli dari Kaisar. 


"Aku mau ajak Gian bermain di kolam belakang. Apa boleh, Kak?" tanya Kaisar pada Kalya, yang terdengar begitu manis dan manja, meminta persetujuan kakaknya itu untuk membawa keponakan tercinta untuk bermain bersama. 


"Bo--" 


"Ngapain kamu bawa-bawa anak saya ke kolam? Mau kamu tenggelamin, ya?" tuduh Gavin sekonyong-konyong, tidak bisa menutupi kekesalannya pada Kaisar, yang menurutnya sangat kurang ajar. 


Sikap tidak sopan seperti apa itu, yang mengabaikan ucapan kakak iparnya begitu saja? Memangnya Gavin itu bukan orang tua, apa? 


"Mas Gavin! Ih…" Kalya yang tidak terima atas tuduhan Gavin TERHADAP Kaisar yang telah melibatkan Gian, langsung mencubit perut Gavin dan melotot ke arahnya. 


"Iya, deh… Terus aja, kamu bela adik kamu. Main aja terus sama dia… Nggak usah pedulikan aku lagi," kata Gavin tiba-tiba, menekuk wajahnya muram, lantas meninggalkan Kaisar bersama dengan Kalya di ruang tengah. 


Kedua saudara itu sempat saling lempar tatapan satu sama lain, melihat Gavin yang masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan cara yang sedikit kencang. 


"Eh! Kalya, Gavin kenapa?" tanya Nia, yang muncul dari arah dapur, saat mendengar suara hempasan pintu kamar Gavin yang cukup keras. 


Wanita itu berjalan menghampiri Kalya dan juga Kaisar, bersama dengan Bu Sarah yang memang sedang berkunjung ke rumah Kendra. 


"Ehm… Nggak tahu, Ma… Kayaknya, sih--" 


"Ngambek." Sela Kaisar enteng, setengah tersenyum, ketika Kalya menyenggol lengannya sedikit. 


"Ngambek? Gara-gara?" kernyit Nia sedikit terkejut. 


"Engh… Itu… Karena--" 


"Jangan bilang, ini gara-gara kamu, Kaisar?" tuding Bu Sarah langsung, bertolak pinggang, menatap anak laki-lakinya yang kini tampak kaget mendengar tuduhan tersebut. 


"Eh? Kenapa jadi aku yang salah? Kan--" 


"Kan Mama udah pernah bilang, kalau ada Bang Gavin, kamu itu jangan terlalu dekat sama Kakak kamu. Ini pasti kamu terus nempelin Kakak kamu terus, deh. Iya kan?" 


"Ih, enggak! Aku--" 


"Jangan bohong! Kamu pikir, Mama nggak lihat, dari kemarin kamu terus dempetin Kakak kamu terus, hm?!" omel Bu Sarah tidak tanggung, memarahi Kaisar di depan Kalya dan juga Nia. Tidak peduli jika anaknya itu malu atau tidak. Toh, bagi mereka, hubungan kedua keluarga itu sudah lebih daripada sebatas hubungan besan semata. 


"Yah… Namanya juga rindu, Ma… Sudah lama kan, Kaisar tidak bertemu dengan Kak Kalya… Jadi, wajarlah, kalau Kaisar deket sama Kakak terus…" Keluh Kaisar, berpura-pura menjadi korban yang lemah, dengan menungkikkan bibirnya ke arah bawah. 


Berpura-pura sedih, ceritanya. 


"Hah! Kamu ini--" 


"Ah, sudahlah, Mbak… Jangan marahin Kaisar terus… Kasihan… Toh, apa yang dibilangnya itu, kan emang benar…" Lerai Nia halus, menyentuh lengan Bu Sarah, dan meminta wanita itu untuk berhenti. 


"Ya, tapi Nia… Ini anak pasti sengaja, deh. Mbak yakin, dia emang cuma mau cari gara-gara aja sama Gavin." Kata Bu Sarah, menatap sengit Kaisar yang sudah melebarkan kedua matanya tidak terima. 


"Ih! Mama sok tahu! Yakin dari mana coba?" 


"Yakin, karena Mama yang udah melahirkan dan merawat kamu! Jelas kalau Mama tahu semua karakter anak Mama dengan baik. Jadi, kamu nggak bisa mengelak lagi. Dengar?" sembur Bu Sarah geram, sukses membuat Kaisar terdiam dan menunduk tidak bisa berkutik. 


Sementara Kalya dan Nia, hanya bisa menggeleng mendengar Bu Sarah yang mengomeli anak laki-lakinya tersebut. Memang, Kalya pun punya firasat yang sama dengan semua ulah Kaisar yang sedikit berlebihan jika ada Gavin di sekitar mereka. 


"Hhh… Gavin juga… Udah jadi bapak-bapak, masih aja tukang ngambek. Kayak anak-anak… Bikin malu," keluh Nia pelan, memijat keningnya sekilas, dan melenguhkan napas panjang. 


"Em, Ma… Soal Mas Gavin, biar Kalya aja yang nemuin dia. Kalya yang bujuk. Gimana pun, ini kan salah Kalya…" Ujar Kalya meringis tidak enak, menatap Nia yang merupakan ibu mertuanya. 


Sambil tersenyum tipis, Nia berkata. "Ya, emang selain kamu, ada yang bisa bujuk dia, gitu?" 


***


Saat pintu kamar tidurnya terbuka, hal yang pertama Kalya lihat ada pemandangan yang membuat hatinya terasa hangat. Di atas ranjang, Gavin tengah bermain bersama Gian yang ternyata sudah terbangun dari acara tidur siangnya. 


"Lagi apa?" tanya Kalya basa-basi, menutup pintu kamarnya kembali, menguncinya, dan berjalan ke arah ranjang tidurnya. 


"Lagi sibuk." Balas Gavin datar dan juga dingin, tanpa sekalipun menoleh ke arah Kalya. 


"Em… Saking sibuknya, sampai nggak bisa menoleh sebentar, ya?" tanya Kalya menutupi senyumnya, dari Gavin yang terdiam mendengar sindirannya. 


"Gian lagi apa? Papa lagi sibuk, loh… Gian nggak boleh ganggu…" Ucap Kalya pada Gian, menghampiri anaknya itu, ketika bayi mungil tersebut merangkak menaiki dada Gavin yang tengah berbaring. 


"Jangan diambil!" sergah Gavin menahan tangan Kalya yang akan mengambil Gian dari atas badan Gavin. 


"Biarin aja."


"Tapi, kamu kan lagi sibuk?" 


"Aku sibuk sama Gian. Bukan sama yang lain." Kata Gavin masih dengan nada datar, namun kali ini melirik Kalya sekilas. 


"Oh… Berarti… Aku orang lain?" lirih Kalya pelan, menundukkan wajahnya dalam, dan menautkan kedua tangannya di depan perut. 


Sejenak, Gavin tidak bersuara. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi wanita itu, dan membawa Gian bermain di sisi yang dihadapkannya.


Kalya merasa kesal karena Gavin mengabaikannya begitu saja. Dia mencebik ingin menggigit pria itu karena saking geramnya. Memang beginilah tingkah laku Gavin yang sebenarnya. Jarang merajuk. Tapi, sekalinya kesal, dia bisa bersikap sangat menyebalkan seperti ini. 


"Mas Gavin…"


Kalya yang menyenggol lengan Gavin dengan ujung jari telunjuknya kembali menggeram pelan, ketika pria itu mengacuhkan panggilannya. 


"Mas Gavin," panggil Kalya lagi, semakin kesal, karena Gavin malah tertawa bersama Gian, seolah dirinya tidak ada di sana. 


"Mas… Ih!" 


Kalya yang sudah tidak tahan lagi, langsung naik ke atas tempat tidur, dan menjatuhkan setengah tubuhnya ke atas badan Gavin, tepat saat pria itu telentang.


"Kalau kamu mau nyuruh aku turun, dengan senang hati, aku akan terus nempel di badan kamu kayak gini."


"Kalya…"


"Hei, Gian… Mau main bareng Mama dan Papa, ya? Iya? Iya? Iya?" goda Kalya pada Gian, yang saat ini tengah menggapai-gapaikan tangannya ke wajah Kalya.


"Kita nggak lagi main bareng kamu. Jadi, kamu nggak usah ge-er. Minggir sana!" usir Gavin pada Kalya dengan ketus, namun tidak berusaha mendorong tubuh istrinya tersebut untuk menjauh. 


"Adudududu… Anak Mama… Manisnya kalau lagi ketawa… Iya kan, Sayang? Gian anak manis, kan? Iya kan? Iya kan? Iya kan?" 


Seolah tidak mendengar pengusiran yang dilakukan Gavin atas dirinya, Kalya malah mengambil Gian, dan mengangkat bayi itu ke udara. 


Bedanya, dia tidak berdiri atau pun duduk. Dia hanya membalikkan tubuhnya untuk tetap bersandar di tubuh Gavin yang saat ini sudah menampung dua tubuh manusia di atasnya. Ya, meskipun kenyataan sebenarnya adalah hanya setengah badan Kalya saya yang ada di dadanya, dengan posisi mengangkat Gian. 


"Mas, lihat deh! Kalau diperhatikan baik-baik, senyum Gian itu mirip banget sama kamu, loh… Dulu, waktu kamu masih bayi, juga ketawanya kayak gini… Bikin gemes tahu, nggak…!" ujar Kalya, sesekali mencium wajah Gian yang terus saja tertawa karena ibunya yang menimangnya ke udara. 


"Enggak, kok… Dia lebih mirip kamu. Senyumnya juga kayak kamu, bukan aku…" Balas Gavin, menyentuh wajah Gian yang tengah tengkurap menatapnya.


Kalya menoleh. Ditatapnya wajah Gavin dengan sengit, sebelum akhirnya mendengus. "Emang, kamu pernah lihat aku waktu bayi? Bukannya aku yang jagain kamu waktu masih kecil, ya?" gerutu Kalya pelan, yang sanggup membuat wajah Gavin memerah. 


"Nggak usah bahas itu, bisa nggak? Aku berasa aneh dengarnya," ujar Gavin cemberut, melirik Kalya setengah kesal. 


"Duh, sory deh, Mas… Gitu aja marah… Maaf, deh…" Ucap Kalya memajukan bibirnya dan menunjukkan mimik wajah sok imut dengan Gavin. 


Tapi, Gavin yang memang dasarnya memang sedang merajuk, tetap terlihat marah dan semakin mengusir Kalya. 


"Minggir kamu, ah! Ngelendotan kayak gitu kayak nggak punya tulang aja. Nggak malu tuh, dilihatin sama Gian?" sengit Gavin sewot pada Kalya, yang lagi-lagi hanya keluar dari mulutnya saja.


"Oh, jadi maksud Mas, aku nggak boleh lagi nih, nyelendotan sama Mas? Iya? Biar tahu aja…" Balas Kalya melirik Gavin iseng, dan membuat pria itu menelan ludahnya susah payah. 


"Emang, kalau udah tau, kamu mau apa?" debat Gavin waspada. 


"Ya, ngapain lagi? Nyari sandaran lainlah… Masa--"


"Oh, gitu? Jangan harap ya, Kalya, ya…! Sebelum itu terjadi, aku bakal kurung kamu di dalam kamar. Nggak boleh keluar sama sekali dan nggak boleh--"


"Dikurungnya berdua sama kamu, nggak? Kalau enggak, aku nggak ikhlas ya, Gavin…" Timpal Kalya cemberut, kemudian menahan tawanya, melihat wajah Gavin yang terbengong.


"Kamu--"


Ucapan Gavin terputus, ketika Kalya dengan sigap menggeser tubuhnya dan mengecup bibir Gavin sejenak. 


"Kal,"


"Gimana rasanya, kalau kamu ngoceh, terus dibungkam sama ciuman? Enak, nggak?" tanya Kalya menyeringai iseng, melihat tampang Gavin yang kaku. 


Jujur, selama pernikahan, hal yang paling Kalya suka dari Gavin itu adalah sikap malu-malu Gavin yang terkadang terlihat sangat polos di mata Kalya. Dia suka, dan senang dengan tingkah menggemaskan suaminya itu, jika Kalya sudah mulai menggodanya lebih dulu. 


"Kamu ini…"


Kalya mengulum senyumnya, melihat wajah Gavin yang menggeram. Kalya tebak, Gavin pasti sedang berpikir sekarang, bagaimana caranya membalas perlakuan Kalya barusan, sementara ada Gian di antara mereka. 


"Kenapa? Mau macam-macam? Nanti aja, ya? Tunggu Gian bobok," kata Kalya mengerling, menatap Gavin yang kini tengah mendengus sebal mendengarnya. 


Apa? Gavin ingin menolak? Tentu saja tidak! Dia hanya kesal, karena Kalya selalu bisa menebak isi pikirannya dengan baik. 


"Apa sih, yang nggak kamu tahu, soal aku?" gemas Gavin menatap tajam istrinya yang saat ini tengah mendudukkan Gian di atas perutnya. 


Kalya hanya tersenyum sekilas.


"Nggak semua, kok." Kata Kalya. 


Tampak wanita itu melirik ke arah Gavin sejenak. "Ada beberapa hal dalam diri kamu, yang masih belum aku mengerti." Ucap Kalya, sontak membuat Gavin terdiam sesaat. 


"Maksud… Soal tadi?" tanyanya. 


"Ya… Mungkin," senyum Kalya selanjutnya. 


Tidak perlu diperjelas pun, Gavin paham dengan arti ucapan perempuan itu kepadanya. Dan, ya! Gavin juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri mengenai hal tersebut. 


"Aku kayak anak-anak, kan?" gumam Gavin lirih, yang jatuhnya terdengar seperti orang yang tengah merenung.


"Padahal kemarin-kemarin, aku bilang nggak akan cemburu dengan laki-laki yang merupakan keluarga kamu. Tapi, nyatanya apa? Aku malah cemburu sama Kaisar."


Gavin mengangkat sebelah tangannya, menyentuh puncak kepala Kalya. Dan saat wanita itu menoleh, dia tersenyum kecut. 


"Nggak pegang ucapan banget kan, suami kamu ini?"


"Mas,"


Kalya yang tidak suka melihat raut wajah gundah Gavin, segera bangkit, membawa Gian duduk di atas pangkuannya. 


"Tujuan aku nyusul kamu ke kamar ini, bukan untuk dengar kamu ngeluh. Tapi, untuk meminta maaf sama kamu." Kata Kalya, melihat Gavin yang juga mulai mendudukkan setengah tubuhnya bersandar. 


"Minta maaf? Buat apa? Kamu kan nggak salah," balas Gavin, yang entah kenapa, malah membuat wajah Kalya cemberut. 


"Kan! Kamu ngeledek, deh!" rungut wanita itu, mencubit perut Gavin pelan. 


"Udah jelas-jelas aku salah, karena lupa kalau aku ini punya suami yang cemburuan, masih aja biarin Kaisar dekat-dekat aku. Aku kan--"


"Kamu ngeledek aku?" sambar Gavin datar, melihat Kalya yang mengulum bibirnya tidak enak. 


"Hehe… Bukan gitu, Mas… Aku--"


"Kalau tujuan kamu masuk ke dalam kamar ini cuma buat nyindir-nyindir aku, mending kamu keluar aja, deh!  Aku--"


Kalau sejak tadi ucapan Kalya harus terputus akibat ocehan Gavin yang tengah merajuk, maka lain halnya dengan yang satu ini. Ungkapan kekesalan Gavin terhadap istrinya itu, kini harus terpaksa dia redam, ketika perempuan itu--dengan seenak jidatnya saja-- mencium bibir Gavin. 


Dia memberikan jarak sedikit pada wajah mereka, untuk melihat wajah Gavin yang terdiam. 


"Suami aku, makin lama makin bawel. Aku jadi makin gemes…" Bisik Kalya terdengar begitu seksi di telinga Gavin, hingga membuat dia menelan ludahnya beberapa kali. 


"Aku lagi ngambek loh… Kamu--"


"Nggak usah pura-pura lagi. Dari jakun kamu juga, aku udah tau kok, kalau kamu pengen dicium lagi. Iya kan?" terka Kalya pelan, masih dengan gaya yang sama, dan membuat Gavin menjadi sedikit salah tingkah. 


Shit! Tidak bisakah Gavin bersikap jual mahal sedikit? Ini semua demi harga diri! Harga diri! 


"Kamu ini, ya!"


"Kenapa?" tantang Kalya lagi, semakin mendekatkan wajahnya ke arah Gavin, dan membuat wajah mereka hampir menempel, andai tidak ada Gian di antara keduanya. 


Sambil mencari celah, Gavin yang berencana menerkam Kalya detik itu juga, langsung tersadar dengan keberadaan buah hati mereka, Gian. 


Bocah yang kini memasuki usia enam bulan itu, terdengar seperti tengah bergumam. Air liurnya menetes membanjiri lengan Kalya yang saat ini tengah memegang tubuhnya. 


"Kenapa, Mas? Kamu--"


"Tidurin Gian dulu, gih… Baru kita bicara." Kata Gavin pada Kalya, lalu beranjak dari atas tempat tidur dan berlalu memasuki kamar mandi.


Menyisakan Kalya yang masih berpikir sejenak dengan ucapan suaminya tersebut, dan melirik Gian yang sepertinya masih sibuk sendiri dengan kegiatan bergumamnya. 


"Bicara, apa bicara...?" sengit Kalya paham dengan situasi Gavin barusan, dan melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. 


Sambil menarik napas panjang, Kalya bergumam kepada Gian. "Lihat deh, Bang… Papa aneh kan?"


***