
Tidak sampai satu hari, berita kehamilan Kalya akhirnya sampai juga ke telinga Kendra. Tampak pria itu begitu tegang ketika ia memasuki rumah Keanu dan mencari keberadaan si pemilik rumah dengan cara tidak sabaran.
"Selamat siang, Tuan Kendra…"
"Dimana Keanu?"
Kendra yang sepertinya tidak sempat lagi berbasa-basi membalas sapaan dari asisten rumah tangga Keanu, langsung bertanya dimana majikan di rumah itu dengan pandangan yang mengelilingi sekitar rumah.
"Tuan dan Nyonya, ada. Sebentar saya panggilkan,"
Asisten rumah tangga Keanu yang berusia sekitar 50 tahunan itu langsung undur diri dari hadapan Kendra. Mempersilakan pria paruh baya itu untuk duduk sebentar di ruang tamu, sementara ia pergi memberitahukan pada majikannya tentang kedatangan Kendra di sana.
"Mas Kend,"
Tidak berapa lama, Kendra yang resah menunggu Keanu tidak sabaran, langsung bangkit dari tempat duduknya menghampiri Keanu dan juga Rara yang berjalan ke arahnya.
"Nu! Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud kamu tadi bilang kalau Kalya itu hamil?" todong Kendra langsung pada Keanu yang bahkan tidak sempat duduk di kursi rumahnya.
Sejenak, Keanu dan Rara saling melempar tatapan mereka.
"Mas Kend, sebaiknya kita duduk dulu. Sayang, tolong kamu minta Bik Ratmi buatkan minum untuk Mas Kendra," pinta Keanu pada Rara, sambil membimbing Kendra untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.
"Nu, sekarang jelasin, kenapa masalah kayak gini bisa terjadi! Dan dimana Kalya sekarang?" tanya Kendra masih tidak sabaran, begitu dia duduk di sofa.
Keanu tampak bingung menjawab pertanyaan itu. Karena jelas, sejak mengetahui masalah ini, tidak ada yang tahu bagaimana masalah ini bisa terjadi.
"Itu… Kalya ada di kamarnya. Dan soal kehamilannya, kami juga nggak tahu gimana itu bisa terjadi."
"Nggak tahu?! Kenapa kalian bisa nggak tahu?!"
"Karena Kalya nggak bicara apapun! Dari tadi pagi juga kami udah coba tanya ke dia soal siapa laki-laki yang udah berani menghamili dia. Tapi, dia nggak mau jawab sama sekali! Bahkan sekarang dia udah mengurung dirinya di kamar sendiri, dan nggak ngizinin siapa pun buat masuk ke dalam kamarnya." Ujar Keanu juga tampak muram, dengan tarikan napasnya yang begitu panjang.
"Dia nggak ngizinin siapapun buat masuk ke dalam kamarnya?" desis Kendra tidak percaya, kemudian bangkit dari tempatnya.
"Bullshit!"
"Mas! Mau kemana?" tanya Keanu segera menangkap lengan Kendra yang seperti hendak meninggalkannya.
"Menemui Kalya."
"Tapi, Mas, dia pasti nggak bakal ngizinin kita buat--"
"Sekarang itu adalah situasi dimana dia nggak punya hak buat ngizinin kita atau enggak." Sela Kendra tajam, lalu menarik lengannya dari Keanu.
"Kalo dia nggak mau keluar…" Kendra memutar tubuhnya menuju tangga rumah Keanu dan berkata. "Biar aku yang masuk."
***
Rasanya Kalya sudah tidak punya muka lagi menghadapi orang-orang di hadapannya. Perasaan malu dan juga sedih sedang merongrong perasaannya dan membuat dia seperti pengecut dengan terus menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak berani mengangkat wajahnya, meski sejak tadi keluarganya terus saja menatapnya menunggu kata yang akan keluar dari mulutnya.
"Mas tanya sekali lagi sama kamu, Kalya…. Siapa… laki-laki itu?" tanya Kendra tajam, yang duduk berseberangan dengan Kalya dimana sejak tiga puluh menit lalu, Kalya terus membungkam mulutnya.
"Maaf, Mas Kend… Kalya--"
"Berapa kali Mas bilang, kalo Mas nggak butuh permintaan maaf kamu! Dengar, nggak?!"
Brak!
Suara Kendra yang penuh kemarahan serta pukulan tangan besar pria itu di atas meja di hadapan mereka membuat Kalya dan orang-orang yang berkumpul di sana tersentak mendengarnya.
"Mas Kend!" tegur Rara terkejut, yang segera ditahan oleh Keanu untuk tidak ikut campur dengan kemarahan Kendra saat ini.
"Mas tanya lagi, siapa laki-laki yang udah berani menyentuh kamu! Siapa dia yang udah berani merusak masa depan kamu dan membuat kamu hamil seperti ini, Kalya! Siapa?!"
Semua orang yang ada di ruangan itu terlihat mengkerut mendengar suara teriakan Kendra. Saking kerasnya pria itu membentak Kalya, Rara sampai beringsut mendekati Keanu dan memeluk pria tersebut, dengan Ricka yang juga mundur memeluk Ricky di sampingnya.
Tidak ada yang berani bergerak untuk membela Kalya di saat Kendra sedang marah seperti ini.
"Kamu nggak dengar pertanyaan Mas?" tanya Kendra memelankan suaranya menekan Kalya dengan pertanyaannya.
"Kalya?"
Suara Kendra yang terdengar begitu mengintimidasi, membuat Kalya semakin menundukkan wajahnya dalam dan meremat kedua tangannya resah.
"Kalya…"
Panggilan bersuara rendah yang Kendra ucapkan, sarat akan kemarahan. Dan itu membuat Kalya semakin takut dengan air mata yang menetes di atas pangkuannya.
Masih membekas di pikirannya bagaimana Keanu memukulnya tadi pagi. Sekali, namun terasa sampai menembus ulu hati. Kalya tahu, kalau dia pantas mati. Mengecewakan kakaknya sama saja dengan mengingkari semua kemudahan yang ia dapatkan selama hidupnya.
"Hah… rupanya, kamu emang nggak mau jawab, ya?"
Desah napas Kendra yang terdengar panjang, membuat Kalya menutup matanya rapat. Tidak berani membuka mata dan melihat betapa besar kekecewaan Kendra terhadapnya. Lebih baik jika Kendra memukulnya saja seperti yang dilakukan Keanu pagi tadi. Tidak apa. Beban hati Kalya pasti tidak akan seberat ini. Apalagi, Kendra itu adalah kakak kesayangan Kalya sejak kecil.
Ah... bicara soal kakak, Kalya tidak yakin, apakah sekarang Kendra masih tetap menganggapnya sebagai adik?
"Kalya…"
Kalya tersentak kaget, saat dilihatnya Kendra sudah berjongkok di hadapannya dengan kedua tangan yang menggenggam erat kedua tangan Kalya.
"M-Mas…"
"Kalya, kamu tahu kalau Mas kecewa dengar berita kehamilan kamu ini 'kan?" tanya Kendra menatap mata Kalya sedih, yang semakin menambah beban kesedihan di hati wanita itu.
Dengan kembali menundukkan kepalanya semakin dalam, dia pun mengangguk pelan.
"Kal, ini bukan waktunya kamu untuk keras kepala! Kamu harus kasih tahu siapa nama laki-laki itu! Masalah ini nggak bisa dibiarkan gitu aja! Dia harus bertanggung jawab atas kehamilan kamu, Kalya!" ujar Keanu merasa jenuh dan geram dengan bungkamnya Kalya menutupi pria yang telah menodainya.
"Apa... ini ada hubungannya dengan kamu nolak Mario kemarin?" terka Keanu curiga, lantas menarik perhatian Kalya yang langsung mengangkat wajahnya kaget.
"Apa Mario tahu sesuatu tentang kehamilan kamu ini? Atau… dia yang bertanggung jawab atas--"
"Enggak! Enggak Mas! Mas Mario nggak ada hubungannya sama masalah ini! Jangan sangkut pautkan Mas Mario dalam malasah aku, Mas… jangan!" seru Kalya panik menggelengkan kepalanya keras.
"Kalo gitu, kasih tahu siapa laki-laki itu, Kalya! Jangan buat kamu semua semakin--"
Kemarahan Keanu terhenti saat Kendra mengangkat sebelah tangannya dan menoleh ke arahnya tajam.
"Kal…" Kendra menyentuh kedua tangan Kalya lembut dan menatap mata basah wanita itu.
"Kamu tahu kalau sekarang Mas kecewa sama kamu. Apa kamu mau bikin Mas semakin tambah kecewa lagi sama kamu?" tanya Kendra pelan, yang dibalas Kalya dengan isakan tangis pilu serta gelengan kepala yang kuat.
"Kalo gitu…, kamu mau kan, kasih tahu Mas siapa laki-laki itu?" bujuk Kendra lembut, membuat Kalya semakin menangis.
Wanita itu menundukkan kepalanya lagi. Dia terus menggeleng sambil terisak-isak sendiri.
"Kal…"
"Aku nggak bisa kasih tahu, Mas… aku nggak mungkin bisa kasih tahu…"
Suara Kalya terdengar serak dengan tangannya yang gemetar di genggaman Kendra.
"Kenapa? Kenapa Mas nggak boleh tahu?" tanya Kendra bingung, terus memperhatikan wajah Kalya yang sangat merah.
"Apa… ini alasan kamu pergi dari rumah Mas? Apa… ini semua ada hubungannya sama laki-laki itu?" selidik Kendra pelan, sempat membuat Kalya terdiam sejenak.
"Kalya…"
"Mas, aku mohon… sekali ini… Mas boleh anggap aku anak yang nggak tahu diri. Mas boleh pukul aku, kalau Mas mau. Mas boleh maki aku sampai Mas puas. Dan Mas juga boleh…" Kalya tersedak dengan tangisanya dan menundukkan wajahnya kembali. "Usir aku, kalau Mas merasa benci. Tapi…"
Kali ini, Kalya mengangkat wajahnya lagi menatap Kendra berani.
"Jangan pernah tanya soal laki-laki itu sama aku. Karena aku nggak akan pernah bisa menjawabnya." Kata Kalya membuat semua orang yang ada di sana saling melempar tatapan tidak mengerti.
"Maksud kamu… Apa kamu diperkosa orang yang nggak dikenal, Kalya? Apa kamu…"
Seolah tidak ingin mendengar kelanjutan pertanyaan dari Rara, Kalya kembali menundukkan kepalanya. Tangannya ia raih dari genggaman Kendra untuk menutupi wajahnya yang merah. Sedangkan Kendra sendiri, merasa semakin hancur melihat sikap Kalya yang demikian.
"Mas!"
"Om!"
Kendra yang jatuh terduduk di atas lantai, sontak membuat Keanu dan ketiga anaknya yang ada di sana berseru panik memanggil namanya.
"Om Kend! Om nggak papa?"
Ricko yang sejak tadi hanya diam menyaksikan Kendra yang bertanya pada Kalya, kini mendekati pria itu dan membantunya untuk berdiri.
"Om,"
"Kamu tanya apa aku baik-baik aja?" Kendra yang lengannya sudah dipegang oleh Ricko melirik pria itu dan tersenyum penuh kesedihan.
"Gimana aku bisa baik-baik aja, waktu aku tahu adikku hamil di luar nikah?" lirih Kendra pada Ricko menatap lelaki itu dengan pandangan yang lemah.
Sementara Ricko, dia yang paham dengan perasaan pamannya saat ini, hanya diam dan membantu lelaki itu untuk duduk di sofa. Disandarkannya Kendra di sofa panjang tersebut dengan kepala pria paruh baya itu yang menengadah ke atas.
Tiba-tiba, di sela mata Kendra yang terpejam, setetes air matanya jatuh dan membuat semua yang menyaksikan itu semakin membeku menatap satu sama lain.
"Mas…"
Rara yang merasa baru pertama kali ini melihat kakak iparnya menangis, langsung menoleh pada Keanu yang juga tengah terdiam seperti tidak tahu harus melakukan apalagi.
Pria yang lebih muda dua tahun dari Kendra itu pun menoleh pada Kalya yang saat ini juga masih menangis tersedu menutupi wajahnya. Perasaannya gamang saat ia berpikir apa yang harus diperbuat saat ini.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" keluh Kendra dengan posisi yang sama, mengusap matanya yang terpejam.
"Gimana dengan masa depan Kalya selanjutnya? Soal anaknya… dan kehidupan mereka setelah ini… apa yang harus kita lakukan?"
Kendra menegakkan kembali kepalanya. Dia menatap lurus pada meja di hadapannya seperti orang yang tidak bernyawa.
Terlihat, semua hanya diam menundukkan pandangan mereka. Karena jujur, mereka juga tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Terlebih, Kalya yang tampaknya begitu rapat menyimpan nama laki-laki itu, membuat semuanya tidak tahu harus mengambil jalan apa untuk perempuan itu selanjutnya.
"Aku ngerasa jadi kakak yang nggak berguna. Kakak yang bodoh, yang nggak tahu kalau adiknya--"
"Mas Kend…"
Kendra memejamkan matanya sejenak, mendengar Kalya menyebutkan namanya.
"Sekarang, gimana aku harus menghadapi dunia ini? Adik yang aku jaga selama ini--"
"Om nggak usah khawatir, soal itu…" Sela Ricko tiba-tiba, membuat semua mata tertuju padanya.
"Kalau emang Om kayak gini karena frustrasi memikirkan masa depan Tante Kal dan anaknya, biar aku yang tanggung jawab."
"Apa?!"
"Apa?"
"Ricko!"
Semua orang yang kaget mendengar ucapan Ricko langsung terpekik memanggil dirinya.
"Ricko! Kamu ini--"
"Aku nggak mau lihat keluarga ini sedih karena masalah Tante Kalya yang hamil. Mama, Papa dan Om Kend pasti sedih banget dan terpukul karena masalah ini. Ditambah Tante Kal sendiri… aku nggak tega biarin dia menanggung ini sendirian. Jadi, biar aku yang tanggung jawab."
"Tapi, Ricko! Kalya itu Tante kamu! Kalian--"
Rara yang tampak tidak setuju, langsung diam, ketika tangannya disentuh oleh Keanu.
"Kamu… serius sama ucapan kamu, Ricko?"
"Mas…!"
Keanu melirik Rara sekilas, menandakan kalau wanita itu harus diam sekarang.
Kemudian, dengan tatapan mata yang sangat serius, dia kembali menatap Ricko dan bertanya.
"Soal menikahi Kalya… apa kamu serius?"
Bersambung