Be My Brides

Be My Brides
Episode 30



Setelah makan malam, Kalya izin kepada Keanu dan juga Rara untuk mengantar Gavin sampai ke depan pintu rumah mereka. Hari yang sudah semakin malam, ketika Kalya sadar, harus memaksa Gavin untuk segera pulang ke rumah  orang tuanya. 


Meski awalnya pria itu terlihat sangat keberatan atas pengusiran yang dilakukan oleh istrinya, dia pun akhirnya menurut, karena alasan Kalya yang takut Gavin pulang terlalu malam. 


"Kal, kamu ini sebenarnya nyuruh aku pulang cepat karena takut aku kenapa-kenapa di jalan, atau emang karena nggak mau lihat muka aku, sih?" gerutu Gavin pada Kalya, saat dia dan wanita itu sudah sampai di depan teras rumah Keanu. 


Entah kenapa, Gavin merasa kalau Kalya tidak menyayangi dirinya sama sekali. 


"Ya, karena takut kamu kenapa-kenapa di jalanlah… masa karena hal lain?" jawab Kalya seadanya menatap Gavin sedikit aneh. 


"Masa?" 


"Masa?" balas Kalya, kemudian tersenyum sedikit. "Masak itu di dapur. Bukan di teras…" Canda Kalya kemudian, semakin membuat wajah Gavin bertambah masam. 


"Kal, aku serius loh!" 


"Aku dua rius…" Sahut Kalya lagi, sontak membuat Gavin bertambah geram. 


"Kalya…" 


"Iya…" Balas Kalya manis, membuat Gavin menarik napasnya panjang. 


"Bandel, ya?" 


"Enggak."


"Tuh! Jawab," tuding Gavin gemas pada mulut Kalya yang terus tersenyum ke arahnya. 


"Namanya juga punya mulut, harus dijawab dong…" Kata Kalya bangga, membuat Gavin tersenyum penuh makna kepadanya. 


"Oh, ya? Emang itu tugas mulut, ya?" 


"Iya," 


"Oh… Kalo gitu--" 


"Bukan untuk dicium sembarangan, ya!" peringatkan Kalya langsung, seolah tahu arti mimik wajah Gavin menatap dirinya. 


Tiba-tiba, Gavin merasa terpojokkan mendengar kata-kata Kalya. 


"Lah, ketahuan, ya?" gumam Gavin kecewa, diam-diam membuat Kalya tersenyum. 


"Berarti nggak boleh, dong?" tanya Gavin penuh harap, yang hanya dibalas Kalya dengan gelengan kepala lemah. 


Sejenak Kalya dan Gavin hanya saling berdiam diri. Tangan Gavin yang tadinya dia masukkan ke dalam saku celana, beralih menggenggam tangan Kalya. 


"Mulai besok, kamu nggak usah sering-sering datang kemari, ya? Sesekali aja cukup, kok. Nggak perlu tiap hari." Kata Kalya tiba-tiba, seperti sebuah talak yang terselubung, hingga membuat Gavin merasa seperti disambar petir mendengarnya. 


"Apa?!" 


Tangan Gavin yang tadi menggenggam lembut tangan Kalya, tanpa sadar *** tangan wanita itu, hingga membuat Kalya meringis. 


"Kal! Kok jadi gini, sih? Kamu jangan kelewatan gitu, deh! Masa iya, aku nggak boleh ketemu sama kamu lagi?! Memangnya aku salah apa? Kamu ada dendam sama aku? Kok aku nggak boleh ketemu sama kamu? Aku--" 


"Gavin…" 


Ocehan Gavin yang terdengar sangat panjang dan tidak jelas itu, terputus, ketika Kalya menyerukan namanya sedikit keras, dengan sorot kedua mata yang membola. 


"Tangan aku…" Lirik Kalya pada tangannya yang sudah dicengkram kuat oleh Gavin. 


"Sakit." Katanya, sontak membuat Gavin sadar dan langsung mengendorkan pegangannya dari tangan wanita tersebut. 


"Kal, jujur deh… Kamu masih marah sama aku, ya? Atau, karena kejadian tadi--" 


"Gavin…" 


Gavin yang tadinya ingin kembali protes atas perkataan Kalya, langsung menutup mulutnya lagi, ketika mendengar istrinya itu menghelakan napas panjang. 


"Kamu ini ngomong apa, sih? Aku minta kamu jangan sering-sering kemari itu, bukan karena aku masih marah sama kamu. Tapi, karena aku mau, kamu lebih menikmati waktu kamu lagi sama Mba--ehm, maksud aku, Mama… Aku nggak mau, cuma karena kamu keseringan kemari, Mama dan Papa jadi merasa kesepian di rumah." Jelas Kalya, menarik napasnya lagi, dan kembali membuangnya. 


"Mereka pasti merasa kehilangan kamu, karena waktu kamu udah jadi semakin sedikit buat ketemu mereka. Gimana pun juga… Kamu ini kan anak satu-satunya mereka." Ucap Kalya menatap Gavin yang seperti memikirkan kalimat wanita tersebut. 


"Toh, kalo kamu udah kerja nanti, kita juga bakal tinggal bareng kan? Jadi, kenapa kamu harus buat mereka kesepian sekarang? Kan kasihan, Gavin…" Lanjut Kalya lagi, kali ini membuat Gavin tersenyum. 


"Kalya, Sayang…" Panggil Gavin manis, lantas merangkul bahu Kalya pelan. "Kalau urusan itu, kamu nggak usah pikirin. Aku yakin kok, kalau Mama sama Papa pasti nggak keberatan aku ke sini buat nemuin kamu."


"Tapi--"


"Kamu nggak usah khawatir. Aku jamin, tetap melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang anak terhadap mereka. Jadi, kamu nggak usah cemas. Oke?" kata Gavin lagi, menjawil ujung hidung Kalya sedikit. 


"Lagian, aku nggak yakin kok, Papa mau aku di rumah. Mungkin aja, Papa itu sebenarnya lebih senang kalau aku lagi nggak ada di rumah."  


"Hah? Maksud kamu?" 


"Ya… Maksud aku, siapa tahu, Papa emang nggak merasa kesepian di rumah karena lagi berenang-senang bareng Mama waktu aku nggak ada. Bisa jadi kan?" jawab Gavin enteng, sambil melirik Kalya dengan sorot jenaka hingga membuat wanita itu merasa aneh melihatnya. 


"Heh! Kamu ini ngomong apa, sih?! Jangan ngomong sembarangan soal orang tua! Nggak sopan, tahu!" tegur Kalya masam, dimana Gavin langsung tertawa mendengarnya. 


"Lah, ngomong sembarangan gimana, sih? Aku ngomong yang sebenarnya loh, Kal… Papa itu pasti lagi menikmati waktu berduanya doang sama Mama."


"Sok tahu, kamu! Mana mungkin Papa kayak gitu! Aku--" 


"Aku ini anaknya. Dan lebih dari itu, aku ini laki-laki, Kalya… Jadi, aku tahu." Sahut Gavin cepat menyela ucapan Kalya hingga terdiam. 


"Untuk orang yang kami cintai. Seperti aku mencintai kamu, waktu yang paling aku suka adalah waktu berduaan sama kamu. Jadi, aku yakin, kalau pun sekarang aku ada di rumah, aku juga bakal dicuekin sama mereka." Kata Gavin lagi, tersenyum dan mengusap puncak kepala Kalya dengan sayang. 


"Ya, tapi kan tetap aja--" 


Kalya yang sedang bergumam memikirkan ucapan Gavin, refleks mengatupkan mulutnya, ketika pria itu mengambil kesempatan dengan memegang kedua pipi Kalya dan mencium bibirnya dalam. 


Saat tangan Kalya ingin mendorong tubuh Gavin, dengan sigap pria itu menahan tangan Kalya di dadanya.


"Bentar… Untuk bekal aku malam ini." Bisik Gavin pelan, membuat Kalya mengerang. 


"Ehm, tapi…" 


Kalya yang ingin protes, terpaksa menutup mulutnya kembali, dengan suara yang tenggelam dalam pagutan bibir suaminya. 


Dalam desakan asmara yang mulai membara, Gavin mendorong sedikit tubuh Kalya ke balik pilar bangunan yang ada di teras rumah Keanu. Berharap tidak ada yang melihat apa yang sedang mereka lakukan di luar rumah seperti ini.


Namun, alih-alih menyembunyikan diri mereka dari pandangan orang, tanpa mereka sadari, sepasang mata sudah memperhatikan mereka sejak mereka keluar dari rumah Keanu tadi. 


Melihat interaksi intim keduanya yang berakhir dengan cumbuan mesra, membuat kedua tangan orang tersebut terkepal dengan sangat kuat. 


"Kalau kamu memang manusia yang punya akal pikiran, kamu pasti akan mencerna kata-kataku dengan baik."


"Gavin udah bahagia sama Tante Kalya. Jadi aku harap, kamu berhenti bertindak konyol dengan melukai perasaan orang yang nggak punya salah sama kamu."


"Tapi, aku cinta sama Gavin!" 


"Tapi, Gavin nggak! Dia udah nikah sama Tante Kalya! Dia cinta sama Tante Kalya!" 


"Nggak! Itu pasti bohong! Kamu pasti bilang gitu, karena kamu nggak mau aku berpaling sama Gavin, kan? Iya kan? Kamu masih berharap sama aku?!" 


Mengingat kilas balik percakapannya dengan Ricko saat di kafe tadi, membuat Thalita meneteskan air mata frustrasinya. 


Dengan tangan yang mencengkram kemudinya erat, Thalita mengingat kembali bagaimana cara Ricko saat memandang dirinya. 


"Kalau kamu bicara kayak gitu sekitar dua tahun yang lalu, maka jawabannya iya. Tapi, untuk sekarang…" Ricko menggelengkan kepalanya lemah dan tersenyum penuh cemooh. 


"Brengsek…" Gumam Thalita geram, semakin mencengkram kemudian begitu kuat.


"Brengsek! Ricko, brengsek! Kurang ajar! Sialan! Bajingan! Aaaargg!"  Thalita yang marah, langsung memukul kemudinya dengan cara membabi buta. 


Sejak tadi, dia bingung untuk melampiaskan emosinya seperti apa. Terlalu banyak beban, membuat Thalita menangis, menundukkan kepalanya di atas kemudi mobilnya. 


"Satu hal lagi yang harus kamu tahu. Gavin, nggak akan pernah meninggalkan Tante Kalya. Terlebih, sekarang…" 


Perlahan, Thalita menaikkan pandangannya ke arah Gavin yang tengah tertawa bersama Kalya, sambil menyentuh perut wanita itu lembut. 


"Tante Kal lagi hamil."


"Ch! Hamil…?" 


Mata Thalita terlihat begitu merah, menatap Gavin dan juga Kalya di ujung sana. Emosinya sudah berada di ambang batas, ketika bibirnya terkatup dan bergetar seolah tidak bisa berkata-kata lagi untuk melukiskan kekecewaannya. 


Dalam balutan emosi yang sangat kental, Thalita langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera memacu kendaraannya meninggalkan kediaman Keanu dengan kecepatan yang sangat tinggi. 


***


Jam sudah menunjukkan angka sembilan malam, ketika Ricko datang ke restorannya kembali dengan wajahnya yang sangat kusut. Membuat para karyawannya yang ada di sana memandang aneh ke arahnya, sambil melempar lirikan bingung satu sama lain. 


"Eh, bos kenapa tuh? Kok balik?" tanya salah satu dari mereka, menunjuk pintu ruangan Ricko yang sudah tertutup rapat dengan dagunya. 


"Nggak tahu. Ada yang ketinggalan kali, ya?" jawab yang lain, merasa bingung sendiri, dimana sisanya hanya bisa menggelengkan kepala mereka tidak mengerti. 


Sementara itu, di sudut bangunan, Hana--salah satu waitress yang bekerja di restoran Ricko--terus saja menatap pintu ruangan Ricko dalam diam. 


Sejak melihat atasannya tadi masuk ke dalam restoran dengan wajah yang masam, perasaan Hana menjadi tidak enak. Seperti perasaan sedih, yang dia sendiri pun tidak tahu penyebab pastinya apa. 


Sedang daripada itu, orang yang menjadi bahan pikiran Hana sendiri, hanya duduk terdiam di sofa yang ada di ruang kerjanya. 


Setelah mengunci pintu ruangannya tadi, Ricko terlihat berusaha mencari kesibukan dengan menyelesaikan tugas yang ia tinggalkan siang tadi. Tapi, perasaannya yang kacau tampaknya tidak mengizinkan dia untuk terfokus pada hal tersebut, dan membuat pria itu akhirnya memilih untuk pindah menuju sofa yang ada di ruangannya. 


"Tapi, aku cinta Gavin!" 


"Aku cinta dia! Ini nggak adil! Kalau dia menikah, terus gimana sama perasaan aku?" 


"Ch! Gimana perasaan lo apanya? Dasar cewek gila!" gumam Ricko tanpa sadar, berdecih sinis, menahan sakit yang ada di hatinya.


Gila! Seumur hidup, baru kali ini Ricko merasa malu menjadi seorang laki-laki. Setelah bersusah payah untuk menjadi seorang pemuda tangguh, dia malah jatuh karena permainan seorang wanita tidak punya perasaan seperti Thalita dan membuatnya terlihat seperti seorang pecundang sekarang. 


Memalukan? Tentu saja! Ini bahkan terkesan lebih konyol, daripada mendengar dirinya yang selalu rebutan pakaian dalam dengan saudara kembarnya sendiri. 


Sambil menarik napas panjang, Ricko pun menyandarkan tubuhnya di badan sofa. 


Sekarang, apa yang harus pria itu lakukan selanjutnya? Hatinya sudah sakit dan luluh lantak karena permainan yang Thalita buat untuknya. Begitu mengesankan, hingga membuat Ricko cemas, akan stok wanita yang punya hati di luar sana. 


Tok tok tok! 


Lama Ricko termenung dalam ruangannya, sampai suara pintu yang diketuk oleh seseorang dari arah luar, dia abaikan begitu saja. 


Tok tok tok! 


Suara ketukan kedua pun terdengar. Namun Ricko, masih tidak ingin bergerak, karena terlalu malas untuk menghadapi dunia saat ini. 


Tok tok tok! 


Dan saat ketukan kesekian diberikan, mau tidak mau, Ricko pun akhirnya bangkit dan berjalan membuka pintu ruangannya. 


"Ada apa?" tanya Ricko malas, melihat Hana yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya. 


"Ehm, ma-maaf, Pak, mengganggu. Saya mau tanya, apa… Pak Ricko sedang membutuhkan sesuatu?" tanya Hana kaku, melihat Ricko yang menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti. 


"Ehm, ma-maksud saya… Nggak biasanya Pak Ricko balik lagi ke restoran di jam seperti ini. Jadi, kami pikir, Pak Ricko lagi butuh sesuatu. Makanya, saya bertanya," Jelas Hana memberi alasan, merasa gugup karena Ricko yang terus menatapnya intens. 


"Oh, saya nggak butuh apa-apa."


"Ehm… Tapi, Pak, ini…" Hana yang melihat Ricko hendak masuk ke dalam ruangannya kembali, berusaha untuk menahan lelaki tersebut. 


Sambil menautkan kedua tangannya resah, Hana kembali berkata. "Sebentar lagi, restoran tutup. Apa…" 


Dan seolah paham dengan apa yang sebenarnya hendak Hana katakan, Ricko pun menarik napas panjang, kemudian mengangguk. 


"Kalian bisa pulang setelah beres-beres. Nggak ada lembur. Jadi, tutup restoran, kalo emang udah waktunya untuk tutup." Perintah Ricko, kali ini membuat Hana kembali menganggukkan kepalanya patuh. 


"Baik, Pak…" Jawab perempuan itu sedikit tersenyum tipis. 


"Oh ya, Hana!" 


Hana yang tadinya ingin segera berbalik, menghentikan tubuhnya kaku, saat Ricko memanggil namanya. 


Entah kenapa, hatinya selalu merasa senang, dengan cara Ricko saat menyebutkan namanya. 


"Y-ya, Pak?" tanya Hana gugup, menutupi debaran hatinya yang memang selalu terkesan kampungan bila ada di samping Ricko.  


"Tolong nanti kamu suruh Iqbal untuk bawa satu botol bir yang ada di bar ke ruangan saya." Perintah Ricko pada Hana, yang seketika membuat gadis itu terpaku di tempatnya. 


"Bir?" tanya Hana terbengong, dibalas wajah datar oleh Ricko. 


"Iya. Kenapa?" tanya pria itu dingin, membuat Hana terbatuk sedikit dan mengangguk. 


"E-engh… Ba-baik, Pak… Sa-saya akan suruh Mas Iqbal buat antar bir ke ruangan Pak Ricko." Ucap Hana tergagap, mencoba untuk bersikap biasa menanggapinya. Meski sebenarnya ia resah, kenapa malam-malam begini Ricko ingin diantarkan sebotol bir ke ruangannya. 


"Saya permisi," ucap Hana lantas mengundurkan diri dari hadapan Ricko. 


Setelah itu, Ricko kembali masuk ke dalam ruangannya. Tak lupa, dia mengunci ruangannya kembali dan duduk di sofa yang tadi ia tinggalkan. 


Dalam keheningan, dia berpikir. Kenapa tadi dia meminta sebotol bir pada Hana? Untuk apa? Untuk merusak otaknya? Batin Ricko merasa bodoh sendiri. 


Yah, sepertinya permasalahan yang Ricko hadapi saat ini benar-benar telah menyita kewarasannya. Menekan kesabarannya dan membuat jalan pikirannya sedikit pendek. Entahlah… Ricko juga merasa lelah memikirkannya.


"Ayolah… Masa cuma karena perempuan kayak Thalita doang lo jadi bego gini?!" rutuk Ricko, tersenyum sinis pada dirinya sendiri. 


Ricko baru saja akan memejamkan matanya di atas sofa, ketika tiba-tiba saja pintu ruangannya diketuk oleh seseorang dengan cara yang sangat kasar. Begitu tidak sabaran, hingga Ricko sendiri merasa kaget mendengarnya. 


"Ricko! Kamu ada di dalam? Buka pintunya!" 


Suara yang cukup Ricko kenal, terdengar begitu nyaring memanggil nama Ricko dari arah luar. Membuat si pemilik ruangan itu resah, dan akhirnya membuka pintu tersebut dengan tergesa. 


"Thalita?! Kamu--" 


Ricko masih terlihat akan marah, saat tiba-tiba saja Thalita maju dan menerjang tubuh Ricko dengan bibirnya yang langsung menyergap mulut laki-laki tersebut tanpa aba-aba sebelumnya. 


"Thalita! Kamu--" 


Prang! 


Kemarahan yang baru akan Ricko lontarkan pada wanita itu setelah membebaskan tubuhnya, kembali terputus, ketika suara pecahan kaca yang begitu nyaring mengalihkan perhatian dua orang tersebut.


Dengan kedua tangannya yang gemetar, Hana terlihat menutup mulutnya di depan ruangan Ricko saat ini. 


"Ma-maaf, Pak…" 


Bersambung