
Langit sudah terlihat mulai gelap, ketika mobil yang dikendarai oleh Ricko masuk ke dalam sebuah basement apartemen mewah yang ada di salah satu sudut kota.
Setelah menimbang beberapa hal dalam hati, akhirnya Ricko memutuskan untuk datang ke tempat tersebut, meski di dalam hatinya masih terdapat keraguan. Menatap sudut bangunan tersebut dengan seksama, sebelum akhirnya turun dan berjalan menuju lift yang ada di tempat itu.
Semula, Ricko tidak yakin, apakah orang yang akan dicarinya masih ada tempat tersebut atau tidak. Karena, masih sangat jelas dalam ingatan Ricko saat dua tahun lalu dia datang ke tempat itu seperti orang gila. Mencari Thalita yang kabur begitu saja seolah ditelan bumi, dan mendapati kalau pemilik tempat itu sudah berganti.
Entah dia yang bodoh atau memang Thalita yang terlalu pintar untuk membohonginya, dia tidak bisa menemukan jejak apapun yang tertinggal mengenai wanita tersebut. Dia hilang, seperti tidak pernah terlahir sebelumnya.
Ting!
Lift yang ditumpangi Ricko tiba di lantai 14, tempat dimana ia tunjuk sebagai tujuannya.
Dengan langkah kaku, Ricko keluar dan berjalan beberapa meter ke depan, menuju sebuah pintu bertuliskan 1402 di depannya.
Sejenak, Ricko terdiam. Kalau misalnya dia mengetuk atau menekan bel yang ada di samping pintu, apakah yang keluar nanti adalah orang dia maksud?
Entahlah… Yang jelas, dalam kebingungan, Ricko pun mulai mengangkat tangannya ke udara.
Pria itu sudah siap akan menekan bel yang ada di pilar pintu, ketika tiba-tiba saja pintu itu terbuka, dan menampilkan sosok orang yang Ricko cari sejauh ini.
"Ricko?"
Thalita yang tampak kaget melihat Ricko ada di depan pintu apartemennya, terdiam di tempat dengan kulit yang setengah terbuka.
"Thalita…" Gumam Ricko tidak percaya.
Beberapa detik mereka saling menatap, sampai akhirnya terdengar sebuah dengusan halus yang keluar dari mulut Ricko, dimana pria itu langsung membuang pandangannya ke arah lain.
"Sumpah, aku ingat banget kalo dua tahun yang lalu, pemilik tempat ini adalah seorang cowok. Tapi, kenapa kamu bisa ada di sini? Apa… Ini rumah saudara kamu?" tanya Ricko setengah tertawa, dimana tawanya itu terdengar seperti sebuah sindiran untuk Thalita.
"Emh, Ricko… Itu…"
Thalita yang bingung harus menjelaskan apa, merasa konyol, ketika Ricko hanya menatapnya seolah menunggu apa yang akan dijadikan Thalita sebagai alasan kali ini.
"Itu… engh, kamu mau masuk dulu?" tawar Thalita pada Ricko, yang dibalas pria itu dengan gerakan alis menungkik satu kali.
"Kamu sendiri?" tanya Ricko tiba-tiba, dijawab anggukan kepala oleh Thalita.
"I-iya,"
"Kalo gitu, enggak." Jawab Ricko tegas, kemudian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Aku kemari untuk membicarakan sesuatu. Di samping apartemen ini ada kafe 'kan? Aku bakal tunggu kamu di situ." Kata Ricko, berbalik, meninggalkan Thalita seorang diri yang membeku di depan pintu apartemennya.
***
Sesuai permintaan Ricko, sekarang Thalita sudah duduk di depan laki-laki itu. Tadi, saat Thalita sampai, Ricko sudah memesankan sebuah minuman yang merupakan kesukaan Thalita selama ini, Americano dingin. Tidak peduli hari sudah malam atau tidak, minuman itu tetap menjadi minuman yang akan Thalita pesan jika berada di kafe tersebut. Dan hebatnya, Ricko masih mengingat hal kecil tersebut.
"Aku nggak bisa berlama-lama sekarang. Aku akan langsung ke intinya aja." Kata Ricko, sesaat setelah Thalita duduk di depannya.
"Aku dengar, tadi siang kamu datang ke rumah. Kamu bicara apa sama Tante Kalya?" tanya Ricko langsung, tepat menatap mata Thalita, yang baru beralih kepadanya.
"Ya?"
"Kata Gavin, kamu sempat marah-marah sama Tante Kalya. Kenapa? Apa Tante Kalya ada salah sama kamu?" tanya Ricko datar, tapi, dengan sorot mata yang terkesan dingin.
"Ah, itu…"
Thalita menggigit bibirnya ragu, dan membuang pandangannya ke arah lain.
Apa yang harus Thalita katakan sekarang pada Ricko? Apa wajar, jika dia bilang, dia marah pada Kalya karena pengakuan Gavin yang mengatakan telah memperistri wanita tersebut? Apa Ricko tidak akan curiga atas perilakunya yang demikian?
"Ehm, itu…"
"Kamu marah, karena ternyata Tante Kalya menikah sama Gavin?" terka Ricko tiba-tiba, sontak membuat Thalita kaget dan mendongak menatapnya.
"Kok…?"
Ricko yang melihat wajah tegang Thalita menyorot dirinya, hanya bisa tertawa kering. Dari ekspresinya ini, dia sudah bisa menebak kalau apa yang dituduhkannya terhadap Thalita memang benar adanya.
"Kamu cemburu, karena Gavin nggak pernah membalas perasaan kamu? Kamu marah, karena udah suka sama dia selama bertahun-tahun, tapi ternyata dia nikahnya sama orang lain? Kamu nggak terima, Gavin memperistri perempuan lain selain kamu?" tuding Ricko lagi, menautkan kedua tangannya di atas meja, menatap Thalita yang menelan ludahnya susah payah.
"Sejak dulu… sampai sekarang, kamu masih berharap sama dia 'kan?" tanya Ricko lagi, kali ini membuat Thalita meringis mendengarnya.
"Ricko, kamu ini ngomong apa, sih? Aku nggak ngerti. Aku--"
"Masa sih, kamu nggak ngerti?" sela Ricko tangkas, lalu mengusap dagunya sedikit. "Aku aja ngerti, kalo kamu naksir Gavin jauh sebelum kamu terima aku sebagai pacar kamu. Iya kan? Masa kamu nggak ngerti juga?"
"Ricko, kamu--"
"Kamu memanfaatkan hubungan kita cuma untuk mendekati Gavin." Pungkas Ricko, terdengar begitu datar, hingga Thalita merasa kalau yang di depannya ini bukanlah mantan tunangannya.
"Andai aja aku tahu lebih dulu, kalo kamu suka sama Gavin dan cuma mau memanfaatkan aku untuk dekat sama dia, demi Tuhan, aku nggak akan dengan tololnya meminta kamu untuk jadi pacar aku. Apalagi untuk mengajak kamu bertunangan… Itu nggak akan aku lakuin."
"Jadi… maksud kamu, kamu menyesal?" selidik Thalita kemudian, menyipitkan matanya sedikit.
"Kamu menyesal pacaran sama aku? Kamu nyesal punya tunangan kayak aku?" cecar Thalita kencang, terlihat tidak terima dengan ucapan Ricko terhadapnya.
"Iya,"
"Ricko!"
"Gavin itu udah menikah. Jadi, jangan pernah ganggu dia ataupun istrinya lagi." Ujar Ricko membuang napas panjang, kemudian berdiri dari tempatnya.
"Aku cuma mau ngomong itu. Jadi, kalau kamu memang seorang manusia yang punya akal pikiran, sebaiknya kamu cerna kata-kata aku dengan baik." Kata Ricko lagi, lantas hendak berbalik meninggalkan Thalita.
"Ah ya, satu hal lagi…" Ricko yang sudah memutar tubuhnya beberapa derajat, kembali menoleh pada Thalita yang terpaku.
"Cuma mau bilang, kalau-kalau kamu berniat untuk cari gara-gara setelah ini." Ucap Ricko, melirik Thalita sekilas, kemudian tersenyum.
"Kita udah nggak ada apa-apa lagi. Kamu cuma mantan tunangan aku. Hubungan kita udah selesai sejak dua tahun yang lalu. Dan jangan mengharapkan apapun lagi dari sesuatu yang sudah hancur. Dan jangan harap ada kata balikan dalam hal ini. Karena aku…" Ricko menatap kedua mata Thalita yang terpaku.
"Sama sekali nggak berminat."
***
Kalya sudah mengurung dirinya di dalam kamar sejak tiga jam yang lalu. Kini, perutnya sudah terasa lapar. Dia yang tadinya ingin egois untuk tidak makan sama sekali, memutuskan untuk keluar, saat dia sadar kalau dia tidak boleh ikut menghukum anaknya yang tidak bersalah.
Dengan gerakan menyeret, Kalya pun turun dari atas ranjangnya. Dia merapikan sedikit rambutnya yang berantakan, dan berjalan menuju pintu kamarnya yang masih terkunci.
Sejenak, dia merenung. Tadi, sampai sekitar satu jam yang lalu, dia terus mendengar suara Gavin memanggil namanya dari arah luar. Memintanya untuk membukakan pintu, dimana Kalya tidak mengabulkannya sama sekali.
Kalya masih kesal. Dia tersinggung atas ucapan Thalita terhadapnya.
Sebenarnya, bukan salah Thalita juga sih, berbicara seperti itu. Melainkan salah Kalya sendiri yang memilih untuk menikah dengan Gavin hanya karena dirinya yang sedang mengandung anak dari laki-laki tersebut.
Kalau boleh jujur, Kalya sebenarnya tidak berhak untuk marah. Maksudnya, ini kan kesalahan dirinya dan juga Gavin. Dan kalau pun ada orang yang harus dipersalahkan, itu adalah mereka berdua. Bukan Thalita, ataupun orang lain. Jadi, kenapa dia harus bersikap sombong seolah dirinya tidak bersalah?
Ah, andai saja waktu itu Kalya tidak terlalu naif untuk meminta pertanggung jawaban dari Gavin, atau seandainya saja Gavin tidak melakukan hal bodoh terhadap hubungannya dan juga Kalya, mungkin semua hal konyol ini tidak akan pernah terjadi dalam hidup mereka.
Memang, orang normal mana yang bisa jatuh cinta dengan adik dari ayahnya sendiri? Ya, meskipun hanya adik angkat, tapi tetap saja, porsi kasih sayang yang seharusnya mereka jalin bukan berakhir seperti ini.
Jadi, sebenarnya Kalya tengah merajuk kepada siapa?
"Ya ampun…"
Sambil mengusap wajahnya gusar, Kalya membuka kunci pintu kamarnya. Dia sudah menyiapkan telinga serta jawaban-jawaban atas pertanyaan yang mungkin akan Rara atau yang lain berikan kepadanya nanti. Menyiapkan mentalnya, andai saja pertanyaan itu akan membuat emosinya kembali terpantik.
"Kal,"
Kalya yang baru saja keluar dari kamarnya, terkejut melihat Gavin masih berdiri di samping dinding kamarnya. Terlalu fokus dengan pikiran, ternyata membuat wanita itu tidak menyadari keberadaan Gavin di sana.
Kalya mengerjap, saat laki-laki itu mendekat, mendorong kedua bahunya masuk ke dalam kamar dan kembali menutup pintu kamar tersebut dari dalam.
"Gavin,"
Gavin yang wajahnya terlihat lelah, tidak menjawab panggilan Kalya, dan malah membimbing wanita itu untuk duduk di atas ranjang.
"Gavin…"
Entah kenapa, ada perasaan bersalah di hati Kalya, melihat Gavin yang menatap sendu kepadanya. Mungkin, dia lelah karena sejak tadi menunggu dirinya untuk bersedia membukakan pintu. Hanya karena pikiran egois Kalya, dia jadi membuat Gavin semakin susah.
"Gavin, aku--"
Ucapan Kalya terputus, ketika Gavin memeluk tubuhnya, dan mengusap rambut belakang Kalya dengan sayang.
"Kamu udah nggak marah, kan?" bisik Gavin sedikit serak, yang menandakan kalau tenggorokan pria itu mungkin sudah agak sakit karena terus memanggil nama Kalya sejak tadi.
"Hm," dengan gerakan kepala yang halus, Kalya pun menganggukkan kepalanya.
"Aku minta maaf." Ucap keduanya tiba-tiba serempak, hingga membuat Gavin melepaskan pelukannya.
"Apa?" Gavin yang merasa sedikit tidak percaya atas hal kecil tersebut, menatap Kalya lekat dengan bibir yang menahan senyum.
Sementara itu, Kalya sendiri yang merasa heran dengan reaksi Gavin yang menurutnya agak berlebihan, hanya diam memandang dirinya.
"Kamu… tadi minta maaf?" tanya Kalya, seolah dia tidak mengatakan hal tersebut tadi.
"Hah?" bengong Gavin mengerjap, namun tetap dengan bibir yang tersenyum.
"Tadi, kamu minta maaf kan? Kok sekarang bengong?" tanya Kalya lagi, sedikit terlihat cemberut, membuat Gavin memiringkan kepalanya tidak percaya.
"Memang kamu…" Gavin yang melihat kedua mata Kalya melebar, segera menghentikan ucapannya.
Oke, sepertinya tugas pertama Gavin sebagai seorang suami, harus dilakukannya saat ini. Mengalah.
"Iya, aku tadi minta maaf. Soal si Tha--"
Gavin yang melihat wajah Kalya berubah masam, meralat ucapannya untuk tidak menyebut nama perempuan tersebut.
"Mantannya si Ricko. Itu… kita nggak usah pedulikan omongannya dia, ya? Dia itu cuma sirik. Dia--"
"Dia bilang aku nggak punya malu. Dia bilang--"
"Dia yang nggak punya otak. Kamu nggak usah mikirin omongan nggak bermutunya dia. Oke?" ucap Gavin, mengusap puncak kepala Kalya dengan pelan.
"Tapi, kok aku agak curiga ya, sama hubungan kamu dan dia?" tanya Kalya lagi, menatap Gavin yang justru terlihat bingung mendengarnya.
"Maksud kamu?"
"Itu… Kalo nggak salah dengar tadi, kamu dan dia sempat ngomong kalo kamu berusaha buat dia cemburu. Maksudnya itu…"
Dahi Kalya terlihat mengerut, ketika Gavin membuang pandangannya ke arah lain, seolah dia tengah memikirkan sesuatu hal.
"Gavin,"
Gavin yang sepertinya benar-benar lupa dengan isi pertengkarannya dengan Thalita, jadi sedikit salah tingkah mendengar panggilan Kalya.
"Ah, itu… Sebenarnya aku…"
Kalya menunggu Gavin melanjutkan ucapannya. Entah kenapa, perasaannya sedikit tidak enak, melihat gelagat Gavin yang seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
"Gavin, kamu nggak mau jujur?" tanya Kalya menatap Gavin dalam, serta binar mata polos penuh pengharapan, yang membuat Gavin semakin susah untuk berkilah.
"Nggak! Bukan gitu, aku cuma…"
"Gavin,"
Dan akhirnya, pertahanan Gavin pun berantakan. Dia yang tadi ingin menyembunyikan hal bodoh ini agar tidak menyakiti perasaan Kalya ataupun orang lain, harus dibongkar, mengingat Kalya memang sudah berhak tahu segala sesuatunya tentang Gavin.
"Itu… sebenarnya, aku juga baru tahu hal ini kemarin. Nggak sengaja aku ketemu sama perempuan itu pas mau nyari-nyari kerja. Dan setelah ngobrol nggak berbobot sedikit, dia bilang, kalau alasan dia lari dari pertunangannya dan Ricko itu adalah aku. Jadi…"
"Maksudnya, dia suka sama kamu?!" sela Kalya terkejut, langsung menggelengkan kepalanya kuat. "Enggak! Enggak! Maksud aku… Dia cinta sama kamu?!" pekik wanita itu meralat ucapannya.
"Iya, katanya sih… gitu," angguk Gavin cemas, melihat Kalya menarik napas panjang dan membuangnya dengan kesal.
Terlihat perempuan itu sangat marah dengan kenyataan yang dia dengar.
"Terus?! Kamu bilang apa?! Kamu balas apa omongannya dia?! Kenapa dia sampai bisa bilang kalo kamu berusaha buat dia cemburu, hah?! Kenapa?" bentak Kalya mengomel, menopangkan kedua tangannya di pinggang, dan menunjuk-nunjuk dada Gavin dengan murka.
"Atau, jangan-jangan, dia kemari karena emang cuma mau cari kamu lagi?! Atau, waktu kejadian peluk-pelukan itu, sebenarnya kalian berdua itu bohong? Kalo aku nggak datang, mungkin aja kalian masih terus peluk-pelukan di depan rumah! Iya kan? Gitu 'kan?!" sambung Kalya lagi marah-marah, dengan wajahnya yang merah persis banteng yang siap akan menanduk.
Sedang daripada itu, bukannya merasa tersudut ataupun bersalah, Gavin malah tersenyum memandang istrinya yang sedang mengamuk.
Sambil tertawa, dia menangkup kedua pipi Kalya, dan malah mencium bibir wanita gemas, hingga Kalya sendiri pun terkejut dibuatnya.
"Hm, Gavin!"
Kalya yang kaget, berusaha menjauhkan wajahnya dari Gavin.
"Kamu cemburu. Dan entah kenapa aku malah senang dengarnya." Ungkap Gavin, kemudian mencium bibir Kalya kembali.
Tidak tanggung-tanggung, Gavin mendekap kepala wanita itu dengan pelukannya agar tautan bibir mereka tidak terlepas.
Satu menit hampir berlalu, saat tiba-tiba saja pintu kamar Kalya terdengar seperti didobrak dari arah luar.
Brak!
"Tante Kal, kata Mama--AAARGH, MAMAAAA!!!"
Ricka yang tiba-tiba saja muncul dari arah luar kamar, setelah membuka pintu secara kasar, langsung menjerit histeris melihat pemandangan yang ada di depannya. Membuat Gavin dan Kalya seketika terkejut, melepaskan diri mereka masing-masing, dengan Kalya yang langsung menjauh dari arah Gavin.
"Heh, Gavin! Ngapain sih, lo di sini?! Bikin kaget gue aja!" sembur Ricka marah, mengusap dadanya yang berdebar.
Hampir saja jantungnya copot karena melihat hal tidak senonoh seperti tadi.
"Apa? Gue bikin lo kaget?" sengit Gavin mengernyit, mendengus tidak percaya.
Hell, ya! Tolong ingatkan Gavin, kalau yang membuat Gavin dan Kalya terkejut itu adalah sepupunya yang satu itu. Mendobrak pintu kamar orang sembarangan dan berteriak histeris seperti baru saja ditegur oleh setan, adalah kelakuan perempuan sembrono tersebut. Lantas, kenapa dia harus menuduh Gavin?
"Ri-Ricka… Ke-kenapa kamu kemari? A-ada apa?" tanya Kalya tergagap, menahan malu melihat Ricka.
"Ah, itu. Mama tadi nyuruh aku manggil Tante buat makan. Oh, ya… Sama Gavin juga. Hehe…"
Seperti baru ingat kalau tadi ibunya juga menyuruh Ricka untuk mengajak Gavin makan, Ricka malah tersenyum cengengesan pada lelaki itu, dimana tawa renyahnya tersebut hanya dibalas dengusan dongkol oleh Gavin sendiri.
"Duluan sana!" usir Gavin kesal, pada Ricka yang hanya tersenyum tak berdosa membalasnya.
"Yaudah deh, Tante… kalo gitu, aku duluan, ya…" Pamit Ricka pada Kalya yang hanya menundukkan wajah merahnya.
"Iya," gumamnya terdengar begitu halus dan serak.
Kemudian, sepeninggal Ricka. Suasana hening terjadi di antara Kalya dan juga Gavin. Rasanya, Kalya sudah sangat malu untuk melihat wajah laki-laki itu sekarang. Meski dia tahu, kalau hal itu pasti tidak berlaku bagi Gavin, tapi dia masih merasa canggung dengan hal semacam itu.
"Kal, kamu--"
"Gavin!" panggil Kalya langsung menyela ucapan Gavin, dengan pandangan yang tertuju entah kemana.
Sambil meletakkan kedua tangannya di pipi, Kalya bangkit dari ranjangnya dan berjalan menjauhi Gavin.
"Ayo, kita makan."
Bersambung