
"Lepas! Lepasin gue!"
Ricky yang terus meronta akhirnya lepas dari dekapan saudara kembarnya. Saat ini, mereka sudah berada di ruang makan, dimana jaraknya sudah cukup jauh dari ruang tamu, dimana kedua orangtua serta keluarga Gavin berbicara.
"Sialan!" maki Ricky masih terlihat kesal, sambil menepuk, membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan.
"Gila emang si Gavin. Gue nggak nyangka, dia bisa berbuat kayak gitu sama Tante Kal! Dan lebih parahnya, dia udah tahu kalo Tante Kal bukan anak dari Oma dan Opa. Tapi, kenapa dia nggak mau cerita sama kita?" tanya Ricko seperti bergumam dan merenung di meja makan.
"Itu karena emang dianya aja yang brengsek! Anj--akh!" Ricky yang sepertinya lebih frustrasi hendak bergerak lagi menuju ruang tengah, dimana Ricko dan Ricka langsung kompak untuk menahannya.
"Tenang, bego! Lo bisa nggak, nggak usah meledak-ledak kayak gini?! Emang ada gunanya, apa?!" hardik Ricka marah, lantas menghempaskan tubuhnya duduk di salah satu kursi di meja makan.
"Kita juga kaget sama apa yang Gavin lakuin terhadap Tante Kal. Tapi, ngebunuh dia juga nggak ada gunanya! Terlebih, kita harus ingat, kalo anak yang ada di dalam perut Tante Kal itu butuh seorang ayah!"
"Dan Ricko udah setuju buat jadi ayah dari anaknya Tante Kal!" serang Ricky langsung sinis, dan membuat Ricka mendecak tanda kesal.
"Bakal gue abisin itu anak."
"Ricky, lo bisa tenang, nggak?"
Ricky yang tadi sudah bersiap hendak meninggalkan meja makan lagi, kembali terdiam mendengar suara Ricko yang menegur dirinya. Terlebih, wajah dingin pria itu, menyiratkan ancaman, dimana dia akan lebih dulu dihajar oleh kembarannya tersebut, kalau dia masih bersikap emosional seperti itu.
"Lo nggak dengar tadi Papa nyuruh kita buat pergi dari sana?" tanya Ricko tajam, melirik Ricky sedikit dan membuat lelaki itu merasa disudutkan.
"Iya, gue dengar. Tapi…" Ricky mengerang frustrasi dan mengusap rambutnya kasar. "Lo nggak ngerti gimana perasaan gue, sih! Gue--"
"Gue ngerti! Gue paham sama perasaan lo!" ujar Ricko segera.
"Gue juga." Timpal Ricka kemudian.
Sejenak, Ricko terlihat menarik napasnya panjang dan membuangnya.
"Kita ngerti, dan kita paham sama apa yang lo rasakan sekarang ini. Karena kita juga ngerasain hal yang sama. Kita juga kaget, kecewa dan juga marah sama apa yang udah Gavin lakuin sama Tante Kalya. Tapi, bukan berarti lo bisa bertindak gegabah kayak gini! Bukannya menyelesaikan masalah, lo mungkin bakal bikin masalah bertambah runyam." Ujar Ricko menatap Ricky yang terdiam dengan tajam.
"Kita harus tenang. Kita kasih dia kesempatan buat menyelesaikan masalah yang udah dia buat. Lagipula, di sana udah ada Papa dan juga Om Kendra. Orang yang lebih berhak menghukum Gavin atas semua perbuatannya." Sambung Ricko lagi, lambat laun, membuat Ricky tenang dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan Ricka.
"Gue… ngerasa bersalah." Gumam pria itu lesu, menundukkan wajahnya dalam.
"Untuk semua hal yang udah terjadi, gue ngerasa menyesal." Ucapnya lagi terdengar begitu lirih.
"Kenapa lo nyesal? Ini 'kan bukan salah lo?" tanya Ricka pelan, menyentuh tangan Ricky yang saling bertautan di atas meja.
"Ini salahnya Gavin. Jadi, udah seharusnya dia yang bertanggung jawab." Tambah Ricka lagi, mencoba menenangkan hati kakaknya.
"Tapi--"
"Ricka benar, Ky…. Lo nggak usah ngerasa bersalah kayak gitu. Kalo emang ada yang harus dipersalahkan, itu ya tindakan Gavin." Timpal Ricko terhadap ucapan Ricky, dan membuat pria itu kembali terdiam.
"Nggak akan ada hal yang bisa membenarkan sikap Gavin, meski cinta sekalipun. Karena cinta, nggak akan pernah merusak kebahagian yang dicintainya." Imbuh pria itu lagi, kali ini membuat tak hanya Ricky, melainkan Ricka pun menghelakan napas panjang.
"Gue harap, mereka dapat jalan keluar yang terbaik." Harap Ricka pelan, yang kemudian diangguki kepala oleh dua orang saudaranya yang lain.
"Menurut lo… dia bakal direstuin, nggak?"
***
"Mama nggak setuju!"
Suara Nia yang menggema memenuhi ruangan, sontak membuat semua orang yang ada di sana terdiam memandang ke arahnya. Raut wajah terkejut, tergambar jelas di wajah Keanu, Rara dan juga Gavin. Sementara Kendra, terlihat tidak berekspresi sama sekali.
"Apapun ceritanya… Mama nggak akan setuju kamu menikahi Kalya!"
"Tapi, Ma…"
"Pokoknya Mama nggak setuju!" teriak Nia frustrasi, kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dia terisak keras, seolah menumpahkan segala rasa kecewanya.
"Pa…"
Merasa butuh pertolongan dari ayahnya, Gavin terlihat mengiba di depan Kendra.
Namun, seperti tidak peduli, Kendra malah mendekati Kalya yang diam-diam sudah kembali menangis, dan memeluk pundak adiknya itu sambil mengusap kepalanya pelan.
"Kamu nggak usah khawatir. Gimana pun juga, Mas akan usahakan supaya anak kamu punya ayah waktu lahir nanti." Lirih Kendra mencoba menghibur Kalya, meski kenyataannya, di sudut mata Kendra sendiri air matanya siap untuk meluncur.
"Papa…"
Gavin yang tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut ayahnya, mendelik gusar.
"Papa, kenapa Papa--"
"Diam kamu!" bentak Kendra tiba-tiba, membuat Gavin kembali terdiam.
"Kamu udah menghancurkan masa depan adik Papa. Dan sekarang, dengan mudahnya kamu bilang mau menikahinya?! Kamu punya otak nggak!?" teriak Kendra lagi, kali ini menyentakkan semua orang di sana.
Ingin Keanu maju dan menenangkan kakaknya tersebut. Tapi, jika mengingat apa yang Kendra katakan pada Gavin ada benarnya.
"Dan kamu Nia,"
Semua orang langsung menatap ke arah Nia, ketika Kendra menyebut nama wanita itu. Terlihat urat tegang, tercetak di wajah masing-masing orang, menunggu apa kiranya yang akan Kendra ucapkan pada istrinya tersebut.
"Kamu nggak perlu khawatir, karena aku juga nggak mau adikku menikah sama anak kamu yang kurang ajar itu! Laki-laki nggak bertanggung jawab kayak dia, nggak pantas untuk Kalya."
"Papa!"
Lagi-lagi Kendra membentak Gavin hingga terdiam.
"Mau menjadikan Kalya sebagai istri kamu, kamu bilang?" Kendra pun mendengus sinis. "Punya apa kamu, sampai berani bicara kayak gitu? Kerja aja belum…"
"Tapi, Pa… Gavin,"
"Kamu pikir, adik saya ini nggak berharga, hah? Sampai kamu bisa berbuat seenaknya gitu sama dia. Kamu pikir dia itu apa?!"
Semua orang kembali tersentak, mendengar suara teriakan Kendra. Saking kerasnya, dia berhasil membuat Ricko, Ricky serta Ricka yang tadinya hanya duduk di dapur, berlari mendekat dan bersembunyi di balik pilar ruang tengah.
"Om Kend kenapa?" bisik mereka satu sama lain, ketika melihat Kendra sudah berdiri bertolak pinggang di hadapan Gavin.
"Kok perasaan gue nggak enak, ya?" tambah Ricky yang memang merasa was-was melihat kejadian tersebut.
Terlihat di sana, Kendra tengah beradu pandang dengan putranya. Raut wajah kecewa dan kebencian, terpancar di kedua mata pria paruh baya tersebut. Mungkin, dia masih tidak menyangka, kalau orang yang beberapa hari ini dikutuk karena telah berani menghamili adiknya adalah anak kandungnya sendiri.
"Pa… Gavin mohon… Gavin akan berusaha buat bahagiakan Kalya, Pa… Gavin nggak bakal kecewakan Papa lagi…" pinta Gavin memelas, yang hanya dibalas dengus sepele oleh Kendra.
"Pa…"
"Tapi, gimana ya? Papa udah terlanjur kecewa sama kamu." Balas pria itu, sontak membuat Gavin merasa frustrasi.
"Gavin mencintai Kalya, Pa…" ungkap anak itu, menundukkan kepalanya, tidak melihat raut wajah terkejut tiap wajah orang di sana.
Tanpa Gavin sadari, baik Kendra, Keanu maupun Rara, langsung melempar tatapan satu sama lain. Begitu juga tiga sepupu Gavin lainnya yang masih bersembunyi di balik tembok ruang tamu rumah mereka.
"Dia udah gila, ya?" bisik Ricka yang langsung mendapat timpalan dari Ricky.
"Gila dia udah akut!"
"Dasar nggak tahu malu…"
Ricko hanya bisa diam, melihat Ricka dan Ricky bergantian yang seperti kompak memaki Gavin.
"Lo berdua bisa diam, nggak? Gue kemari buat dengerin pembicaraan mereka. Bukan ocehan lo berdua, tahu!" tegur Ricko pada dua saudaranya yang lain, dimana kali ini omelannya hanya dibalas cibiran dari keduanya.
"Bisa aja yang lebih tua…" gumam Ricka kemudian.
Selanjutnya, Ricko tidak ambil pusing lagi dengan ocehan Ricka dan Ricky. Tampak ketiganya sudah kembali fokus melihat reaksi Kendra yang membeku beberapa saat yang lalu.
"Mencintai Kalya, kamu bilang?" gumam pria itu, seperti mendengar kalimat yang sama sebelumnya.
Greb!
"Kamu pikir, kamu pantas ngomong kayak gitu, hah?!"
"Mas Kend!"
"Om Kendra!"
Semua orang terlihat panik, begitu Kendra yang tanpa aba-aba langsung menyerang Gavin dengan menarik kerah baju anaknya itu tinggi-tinggi. Urat di tangannya yang mulai terlihat tua, begitu menandakan kalau pria itu sedang dilanda kemarahan saat ini.
"Kamu pikir, orang kayak kamu pantas ngomong cinta, setelah buat Kalya kayak gini, hah?! Kamu pikir pantas?!" bentak Kendra begitu emosian, menahan orang-orang yang mencoba melawannya.
"Mas Kend, tenang…. Jangan kayak gini, Mas…" tahan Keanu yang dibantu Ricky melepaskan tangan Kendra dari anaknya.
"Iya, Om… Om jangan gitu, ntar Om sakit jantung loh, Om…. Orang yang tadinya sehat, bisa aja terserang jantung kalo emosinya kelebihan begini…" Bujuk Ricka juga yang kali ini dibantu Ricko untuk menjauhkan Gavin dari cengkraman ayahnya.
Sementara itu, di belakang mereka, ada Nia, Rara dan juga Kalya yang terlihat panik dengan situasi yang ada.
"Mas Kend, udah dong, Mas! Gavin itu anak kamu! Kamu mau ngapain dia, sih?!" teriak Nia bingung harus bertindak apa saat ini.
"Mas Kendra!"
Kendra pun akhirnya melepaskan cengkramannya dari leher Gavin dengan cara menyentak. Dia menarik napas panjang berulang kali mencoba menenangkan perasaannya. Setelah itu, dia menatap tajam pada Gavin yang saat ini sudah diseret jauh-jauh oleh Ricka dan juga Ricko.
"Baik… kamu dengar ini Gavin…" ujar Kendra masih dengan napas tersengal.
"Papa nggak akan menikahkan Kalya sama kamu!"
"Papa…!"
"Diam!"
Wajah Kendra terlihat merah, saat ia menolehkan wajahnya dengan cepat ke arah Rara, istri dari Keanu.
"Ra…" panggil Kendra pelan, namun membuat Rara terperanjat kaget mendengarnya.
"I-iya, Mas?"
"Kamu… keberatan kalo Ricko menikahi Kalya?" tanya Kendra, sontak membuat semua orang di sana membelalakkan kedua matanya.
"Papa…!"
Mengabaikan seruan Gavin, Kendra terlihat memelas kepada Rara.
"Kamu…nggak keberatan Ricko menikahi Kalya kan?"
Bersambung