Be My Brides

Be My Brides
Extra Part 03 - Dua Pasangan Yang Sangat Berbeda



Di sebuah kamar yang harusnya menjadi saksi bisu kisah cinta dari sepasang pengantin baru, seorang gadis justru tengah terduduk dengan wajah yang terlihat begitu muram. 


Wajahnya terlihat pucat dan sarat akan lelehan yang sangat luar biasanya dan tidak bisa tertutupi. Pandangannya terlihat sayu, ketika ia melihat ke arah pintu kamar mandi yang terbuka, menampilkan pria yang sudah menjadi suaminya beberapa saat lalu keluar dalam keadaan tubuh yang basah. 


Yah, pria itu baru saja mandi demi membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa keringat yang menempel seharian ini.


"Saya minta maaf," ucap Ricka sedikit gemetar, melihat pria bertubuh jangkung itu melangkah ke arah lemari pakaiannya yang sangat besar di kamar tersebut, tanpa menolehkan sedikitpun kepalanya ke arah Ricka. 


"Untuk apa?"


"Untuk kesalahan saya yang udah berani membawa dokter ke dalam masalah saya." Sahut Ricka menunduk, kala pria yang dia sebut sebagai dokter itu menoleh dan menatap tajam ke arahnya. 


"Apa menurut kamu, kita bisa berpisah sekarang?" tanya pria itu dingin, sontak membuat Ricka mendongak dan menatap pias ke arahnya. 


"Enggak."


"Tapi, kamu kan udah minta maaf," ucap pria itu, memiringkan kepalanya melihat Ricka kembali menunduk dan menggigit bibirnya merasa bersalah. 


"Saya minta maaf, bukan untuk mengakhiri ini semua." Ucap Ricka begitu pelan, menundukkan kepalanya semakin dalam. 


"Jadi? Maksudnya apa?" tanya pria itu lagi datar, melipat kedua tangannya di dada telanjangnya, menatap Ricka yang terus menunduk tanpa menjawab. 


"Kamu mencintai saya?" tanya pria itu tiba-tiba, sontak membuat Ricka mendongak dan menatap kaget ke arahnya. 


"Maksud dokter?"


"Kamu bilang, nggak mau mengakhiri pernikahan ini, sementara kamu udah minta maaf sama saya. Apa itu artinya kamu memang ingin menjalani rumah tangga bersama saya?" tanya pria itu panjang, kali ini bersitatap dengan Ricka yang terdiam beribu bahasa. 


Dengar, Ricka sangat yakin, kalau hati dan perasaannya bukanlah milik pria yang ada di depannya saat ini. Melainkan milik seorang lelaki yang begitu tega membohongi Ricka demi mendapatkan cinta perempuan yang kala itu menjadi teman baik Ricka saat magang. Dan sialnya, setelah berhasil mendapatkan cinta dari perempuan itu, si lelaki malah dengan seenaknya saja menjelek-jelekkan Ricka di belakang, seolah Ricka adalah seorang perempuan yang tidak layak untuk mendapatkan cinta dari seseorang. 


"Enggak. Saya… tidak mencintai dokter sama sekali," jawab Ricka nyaris seperti gumaman, menundukkan kepalanya lagi menghindari tatapan suaminya tersebut. 


Untuk beberapa saat, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya suara dengung mesin pendingin ruangan yang mengitari situasi aneh di antara keduanya.


"Hmph! Bukannya itu namanya egois, ya…?" 


Setelah saling berdiam diri, si pria akhirnya mendengus dan berbalik mengambil sebuah kaos oblong dari dalam lemarinya. 


Sementara itu, Ricka yang secara tidak langsung disebut egois terdiam membeku di tempatnya. 


Iya, dia egois, dan dia memang tahu akan hal tersebut. 


"Saya pikir, kamu itu adalah tipe cewek apa adanya, yang nggak bakal ngelakuin hal rendahan semacam itu untuk mendapatkan seorang laki-laki. Tapi, ternyata, saya salah."


Setelah memakai kaos dan sebuah celana pendek berwarna coklat di tubuhnya, pria tersebut membalikkan tubuhnya lagi menatap Ricka yang masih setia menundukkan wajah. 


"Saya nggak nyangka, cuma karena laki-laki nggak berguna semacam teman kamu itu, kamu rela menjatuhkan harga diri kamu sendiri, bahkan harga diri saya di depan banyak orang. Dan setelah hal bodoh ini terjadi, kamu dengan mudahnya bilang maaf sama saya. Apa kamu pikir ini lucu?" ujar si pria, menyedekapkan kedua tangannya di dada dan tersenyum miring.  "Kok saya nggak bisa ketawa, ya?" sindirnya sinis, semakin membuat Ricka berada dalam dilema yang cukup berat. 


Seolah mulutnya telah dijahit, Ricka tidak mengucapkan apapun lagi membalas ucapan si lelaki. Dia hanya diam, bahkan saat pria yang tadi berdampingan bersamanya di atas pelaminan, pergi meninggalkan kamar pengantin mereka, dimana Ricka masih berada di sana dengan perasaan sedih luar biasa. 


Dia malu. Sangat malu, sampai dia tidak berani menatap lelaki yang sudah menjadi suaminya tersebut. 


Ah, seandainya saja Ricka bisa berpikir jernih saat itu dan tidak langsung gelap mata mencari cara untuk membalas semua rasa sakit hatinya terhadap orang brengsek yang dikenalnya saat magang, mungkin dia tidak akan melibatkan Bayu seperti ini.


"Jadi, Ricka… Apa yang harus lo lakuin sekarang, hah?" 


***


Jam sudah menunjukkan angka tujuh lewat lima belas menit, saat mata Gavin merasakan silau matahari yang menembus gorden kamar tidurnya yang masih tertutup rapat. 


Pria itu menggeliat sekali, ingin merubah posisi kepalanya, yang sialnya masih merasa nyaman dengan posisinya yang pertama. Membuat pria itu mau tidak mau membuka mata, dan langsung berserobok dengan wajah Kalya yang terlihat begitu pulas. 


Gavin mencerna sedikit posisi tubuhnya yang saat ini tengah berada dalam pelukan hangat sang istri. Perasaan, yang Gavin ingat tadi malam adalah, dia tidur dengan membawa kepala Kalya di lekukan lehernya. Tapi, kenapa sekarang posisinya agak berbalik? Apa Gavin telah melewatkan sesuatu di sini? 


Berpikir sedikit lama, Gavin malah mengalihkan pikirannya mengenai Kalya. Bukannya menebak kenapa dia bisa tidur di dalam pelukan sang istri, pria itu justru terpesona dengan kemilau wajah Kalya yang terpantul dari sinar matahari yang menembus gorden kamar. 


Meski pipi wanita itu tidak tirus seperti dulu, tapi Gavin selalu merasa senang melihatnya. Seperti ada letupan-letupan gairah di dadanya, yang terkadang tidak bisa ditutupi dari wanita tersebut jika sudah berduaan dengan wanita itu. 


"Emang cakep, ibu dari anak gue," ucap Gavin pelan, mengecup sekilas pipi Kalya yang kini terlihat gemuk seperti kue pao. 


"Jadi gemes…" Imbuhnya lagi tersenyum, melihat Kalya yang menggeliat tanda ia mulai terganggu dengan aktifitas Gavin. 


"Engh… Mas," panggil Kalya lirih, dengan suara bangun tidurnya, mencoba membuka melihat Gavin meski pandangannya sedikit silau. 


*Cup!


"Good morning, Mom*!" sapa Gavin riang, tersenyum dengan sangat lebar, setelah berhasil mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibir pucat sang istri. 


"Morning, Dad…" Balas Kalya tersenyum tipis, lalu mengusap sebelah pipi Gavin, sebelum akhirnya memiringkan tubuhnya lagi untuk tidur.


"Masih ngantuk?" tanya Gavin, mengusap rambut Kalya pelan, dan melihat mata perempuan itu sudah tertutup. 


"Sayang?" 


"Hm," 


"Sarapan dulu, yuk! Mama pasti udah selesai masak, deh… Yuk!" ajak Gavin  lembut, kali ini menggoyang-goyangkan lengan Kalya untuk bangun. 


"Engh, aku entar lagi aja, Mas… Mas duluan aja. Kan Mas harus kerja hari ini," kata Kalya, masih menutup matanya dan tampak semakin larut dalam tidurnya. 


"Aku hari ini nggak masuk kerja. Aku--" 


"Mau bolos?"


Tiba-tiba, Kalya membuka kedua matanya lebar, dan menatap sengit ke arah Gavin. 


"Mas mau bolos kerja lagi hari ini? Iya?!" tanya Kalya tajam, kemudian segera duduk dari rebahannya, begitu dia melihat kepala suaminya tersebut mengangguk. 


"Ya, malas aja… Aku pengen di rumah hari ini. Sama kamu dan anak-anak." Sahut Gavin menggedikkan bahu, kini melihat Kalya memelototinya dengan tajam.


"Kenapa sih? Kok--" 


"Mas! Yang hamil itu aku loh…! Tapi, kok yang malas-malasan itu malah kamu? Gimana, sih?!" tanya Kalya keras, menuding dada Gavin yang bingung menatapnya. 


Sebentar… Perasaan beberapa detik yang lalu, perempuan itu tampak sangat mengantuk. Tapi, kenapa sekarang matanya terlihat lebih segar? Malah terlihat sedang kesal. 


"Lah, emangnya kenapa sih, Kal? Suka-suka aku dong, mau kerja apa enggak. Kan yang jadi bos di perusahaan, aku. Terus, masalahnya dimana?" tanya Gavin balik, dengan nada dan gaya bicara santai, hingga membuat Kalya semakin terlihat kesal, lalu menipiskan bibirnya geram. 


"Terus, sementang Mas itu bos di perusahaan Papa, Mas mau bersikap seenaknya aja, gitu? Mas mau malas-malasan, dan kasih contoh buruk buat bawahan Mas di kantor, gitu? Mas nggak malu, sebagai seorang yang berwenang, malah suka bersikap sewenang-wenang gitu? Udah berapa kali Mas bolos seenaknya dari kantor untuk alasan yang nggak jelas gini?! Mas nggak takut nanti Papa marah, terus mecat Mas gitu aja dari perusahaan? Terus, kalo Mas dipecat, aku sama anak-anak gimana?! Aku--"


"Eh, tunggu deh! Tunggu!" 


Kalya masih mengoceh panjang lebar dengan semangatnya yang berapi-api, ketika Gavin mengangkat tangannya ke udara dan menyuruh perempuan hamil itu untuk diam sejenak. 


"Kamu ini ngomel-ngomel terus karena aku malas kerja, atau karena takut aku dipecat Papa terus  jatuh miskin, sih?" tanya Gavin aneh, mengerutkan sedikit menatap Kalya. 


"Dua-duanya…" Sahut Kalya berlagak polos, sambil menganggukkan kepala pelan. "Malas itu pangkal miskin loh, Mas… Emang Mas mau, bikin aku sama anak-anak hidup susah, karena Mas malas kerja? Aku kan…"


Gavin memutar bola matanya malas. Sepertinya benar, apa yang dikatakan oleh Ricky kemarin --yang kebetulan berbincang dengannya di acara pernikahan Ricka-- kalau dia sempat merasa curiga dengan tingkah laku Kalya yang mendadak matre dalam beberapa pembicaraan. Dan sekarang, kecurigaan sepupunya itu benar, meski Gavin dengan berat hati mengakui hal tersebut. 


"Mas! Mas dengar aku ngomong nggak, sih? Aku ini lagi khawatir, loh… Kan--" 


"Iya, iya, iya… Aku ngerti! Nggak usah kamu mendramatisir keadaan lagi juga, aku udah paham kok, maksud terselubung kamu itu apa…" Timpal Gavin cepat, lantas berdiri dari posisi duduknya. 


"Dan asal kamu tau aja ya, kalau perusahaan yang aku pimpin sekarang itu, bukanlah perusahaan abal-abal yang gampang jatuh gitu aja. Banyak orang-orang profesional yang bekerja di perusahaan itu. Termasuk Ricky. Jadi, mau aku nggak datang beberapa kali juga, itu perusahaan nggak bakal langsung bangkrut, tau! Jadi, kamu nggak perlu takut. Dengar?" tegas Gavin sedikit sombong, melirik ke arah mata bening Kalya yang mengerjap seperti anak kecil yang tengah mengagumi sesuatu. 


Aneh… Entah kenapa, setelah mengatakan hal itu, Gavin malah melihat pandar mata kebahagiaan di wajah Kalya. Seperti rasa lega dan syukur, yang terlihat dari bening wanita yang tengah mengandung anak keduanya tersebut. Padahal, tanpa dijelaskan sekalipun juga, Kalya harusnya sudah tahu, kalau perusahaan keluarga Kendra itu bukanlah sebuah perusahaan yang akan mudah goyah begitu saja, hanya karena atasannya yang sering bermalas-malasan. Tapi, kenapa rasanya kali ini Kalya sedikit berlebihan? Apa ini karena faktor kehamilannya, ya? Pikir Gavin. 


"Emh… Sayang! Kamu kok ngomongnya kayak gitu, sih? Kayak aku ini perempuan matre aja, ngomongin harta. Aku kan--" 


"Emang kamu lagi matre. Emang kamu nggak sadar?" sambar Gavin lagi tersenyum, kali ini membuat kedua mata Kalya melebar dengan sempurna. 


"Ih, Mas! Aku nggak matre, ya! Kamu itu--hoeek!" 


Omelan Kalya terputus lagi kali ini, bukan karena Gavin yang menyela ucapannya. Tapi, karena rasa mual yang tiba-tiba menyerang, dan membuat Kalya harus merebahkan tubuhnya kembali ke atas ranjang. 


"Kal, kamu nggak papa?" tanya Gavin cemas, kembali duduk di sebelah Kalya dan mengusap dahi wanita itu dengan sayang. 


"Aku barusan mau muntah… Menurut kamu, itu baik-baik aja?" ketus Kalya lemas, masih menutup matanya, tidak melihat Gavin yang tersenyum masam mendengar hal tersebut. 


"Iya, sory deh… Aku salah nanya," ucap Gavin mendesah pelan, melihat wajah Kalya yang masih tertekuk memejamkan mata. 


Sejenak, tidak ada yang berbicara di antara mereka. Gavin masih sibuk mengusap kening Kalya, sembari menuangkan sedikit minyak telon milik Gian ke dekat hidung Kalya. Agar perasaan Kalya bisa lebih baik, maksud Gavin. 


"Emh, Mas…"


Setelah merasa sedikit ringan, Kalya tiba-tiba membuka kedua matanya pelan. 


"Kayaknya… Aku ngidam lagi deh, Mas… Gimana, nih?" tanya Kalya manja, pada Gavin yang sudah langsung menatap aneh kepadanya. 


"Ya, udah… Namanya juga ibu hamil. Wajarlah kalo ngidam…" Kata Gavin tenang.


"Emang, kamu ngidam apa?" tanyanya kemudian, yang entah kenapa, membuat Kalya tersenyum dan langsung memeluk perut Gavin di sebelahnya. 


"Itu, Mas… Kemarin, waktu acara nikahannya Ricka, aku nggak sengaja tuh, lihat tas yang dijadiin mahar sama suaminya Ricka. Bagus banget loh, Mas… mewah gitu, kelihatannya…" Ujar Kalya semangat, tidak lupa dengan binar-binar bahagianya, ketika dia bercerita kepada Gavin. 


"Terus?" 


Nah, kalau sudah begini, Kalya pun segera memasang aksi sok manisnya pada Sang Suami. Dia menggunakan jurus manjanya, sambil mengusap-usap dada Gavin, yang diyakini akan berhasil. 


"Mau satu…" Pintanya memelas, mengerjapkan matanya beberapa kali, berharap wajah datar Gavin bisa berubah lunak, dan segera mengabulkan keinginannya. 


Untuk beberapa saat, Gavin tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia hanya diam, sambil menatap takjub dengan perubahan sikap Kalya yang menurutnya jauh drastis. Meski ini merupakan faktor kehamilan Kalya yang kedua, tapi ini sangat berbanding terbalik dengan sifat Kalya saat sedang mengandung Gian dulu.


Matre dan juga pandai menggoda. 


"Oke," sahut Gavin kemudian, setelah menghelakan napas panjang, dimana Kalya langsung bersorak girang mendengarnya. 


"Yes! Makasih, Sayaaaang!" 


"Kal, suara kamu--" 


"Hoeeeee--!" 


Gavin yang tadinya ingin memperingatkan Kalya untuk segera memelankan suara teriakannya agar tidak mengganggu Gian yang masih tertidur, terdiam seketika saat mendengar suara anaknya yang menggelegar. 


"Oops…! Maaf, Mas…" Ucap Kalya malu, melirik Gavin yang lagi-lagi hanya bisa mendesah pasrah di tempatnya. 


Gavin hendak bangkit menghampiri Gian yang menangis, tatkala tangannya langsung ditahan oleh Kalya hingga dia terduduk lagi di tempatnya. 


"Kal--!" 


Cup! 


"Makasih, Mas… Makin cinta deh, sama Mas Gavin…" Kata Kalya tersenyum, setelah berhasil mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Gavin yang terdiam gemas menatapnya. 


Berpikir apa yang harus dilakukannya pada perempuan itu, Gavin justru memajukan wajahnya secepat kilat dan mencium bibir Kalya yang penuh untuk beberapa saat. 


"Masih kurang." Kata Gavin tersenyum mengejek, kemudian bangkit untuk menghampiri Gian dan meninggalkan Kalya yang memasang tampang cengo di tempatnya. 


Sembari berpikir, Kalya pun jadi menggumamkan sesuatu. "Kurang? Emang mau apa lagi?" 


***