Be My Brides

Be My Brides
Episode 58



Jam sudah menunjukkan angka lima sore hari dan Kalya sudah menunggu kepulangan Kendra di kamarnya. Ada hal yang ingin Kalya tanyakan pada ayah mertua yang dulu berperan sebagai kakaknya tersebut. Sesuatu yang penting, serta wajib Kalya ketahui untuk menilai situasi juga perasaannya saat ini.


Sejak siang, Kalya menunggu dengan perasaan yang resah. Meski dia sudah mencoba menutupi isi hatinya di balik senyum palsu ataupun wajah tidak peduli, tetap saja, batinnya tersiksa. Selama bertahun-tahun, kenapa baru sekarang dia tahu kalau kenyataan dirinya masih memiliki kedua orang tua? Apa itu tidak berlebihan?


Kalya meremas kedua tangannya, sambil melihat ke arah jam yang menempel di dinding. Sebentar lagi. Sebentar lagi, Kendra pasti akan pulang ke rumah.


"Selamat sore, Ma…"


"Eh, Papa udah pulang?"


*Deg*!


Tubuh Kalya langsung menegang, saat samar, dia mendengar suara Nia dan Kendra yang berbincang dari arah luar kamarnya. Kalya yang memang sengaja tidak menutup pintu kamarnya rapat, bisa mendengar langkah kaki pria itu masuk ke dalam rumah.


Dengan sigap, Kalya berdiri, kemudian berjalan keluar, menghampiri Kendra yang saat ini tengah memeluk pinggang Nia di ruang makan.


"Pa,"


Kendra dan Nia yang tadinya membelakangi Kalya, terkejut dan memutar posisi tubuh mereka.


Gerakan kikuk, langsung mereka perlihatkan, ketika Kalya berdiri menatap mereka dengan sorot mata datar, yang lebih terfokus ke arah Kendra.


"E--eh, Kal…" Sapa Kendra agak tergagap, mencoba tersenyum pada Kalya di depannya.


"Kalya… Pengen bicara sesuatu sama Papa. Bisa?" pinta Kalya tiba-tiba, tidak ada ekspresi, seperti makhluk hidup yang tidak punya perasaan.


"Bicara sesuatu? Apa?" kernyit Kendra serius, melihat Kalya menundukkan kepalanya sejenak.


"Ada… Sesuatu… Yang mungkin cukup penting," jawab Kalya setengah bergumam, masih menundukkan kepalanya dalam, tanpa melihat reaksi Kendra dan Nia sama sekali.


Untuk beberapa saat, Kendra terdiam. Dia mengerutkan sedikit alisnya, melihat sikap lesu Kalya yang sangat jauh dari biasanya. Dan kalau sudah begini, itu artinya apa yang ingin Kalya bahas, memang sesuatu yang sangat penting.


"Ya udah, kalau gitu, kita ke ruang kerja Papa. Kamu bisa ke atas kan?" tanya Kendra, melihat sekilas ke arah perut Kalya yang kini sudah memasuki usia sembilan bulan.


Dengan perlahan, tanpa menjawab, Kalya hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Kendra untuk naik ke ruang kerja Kendra yang memang ada di lantai dua rumah tersebut.


"Mas, Kalya kenapa?" bisik Nia pada Kendra, saat melihat punggung menantunya menjauh dari mereka.


Sambil memasang wajah agak penasaran juga, Kendra menggeleng. "Nggak tahu."


"Ya udah, kalau gitu, Mas cepat temui dia, gih! Kayaknya emang lagi ada masalah deh, sama itu anak." Ujar Nia, menyenggol lengan Kendra sedikit, yang justru terdiam di tempatnya.


Entah kenapa, Kendra merasa tidak enak di hatinya, melihat kondisi Kalya yang seperti ini. Sejak bertemu dengan kedua orang tuanya, Kalya jadi lebih banyak murung dan melamun. Membuatnya dan keluarganya yang lain semakin cemas, memikirkan apa yang bisa membuat Kalya kembali menjadi adik mereka yang ceria.


"Ya udah, deh… Kalau gitu, aku ke atas dulu ya," pamit Kendra pada Nia, mengusap kepala istrinya itu sejenak.


Lalu, kaki panjang Kendra mulai menaiki satu per satu anak tangga. Dia berhenti sesaat, untuk menarik napas dalam-dalam, ketika sampai ke depan pintu ruang kerjanya, dimana Kalya sudah ada di dalam.


Dan begitu pintu itu ia buka, hal pertama yang dilihatnya adalah Kalya yang sedang meremas jemarinya satu sama lain.


"Kamu udah makan siang kan, Kal?" sapa Kendra pertama kali, menginjak kan kakinya di ruang kerja, mengalihkan perhatian Kalya yang sejak tadi hanya terfokus pada pikirannya sendiri.


"U--udah, Pa… Bareng Mama, tadi," jawab Kalya kaku, mengikuti gerakan Kendra yang duduk di atas sofa yang berseberangan dengannya lewat tatapannya.


"Jadi… Kamu mau bicara apa tadi?" tanya Kendra pelan, mulai menatap Kalya serius.


"Ehm, itu… Kalya…"


Entah ini hanya perasaan Kendra saja, atau memang jelas sekali, kalau tubuh Kalya sedang bergetar saat ini.


"Itu… Soal… Ayah dan Ibu--ehm, maksud aku… Soal--"


"Bu Sarah dan Pak Malik?" terka Kendra, memperhatikan Kalya yang mendadak pias, menoleh ke arahnya.


Sedikit samar, Kalya menganggukkan kepalanya. "Mereka bilang, mereka orang tuaku. Tapi… Aku…"


"Kamu percaya?" sambung Kendra lagi menebak, kali ini membuat Kalya menundukkan kepalanya dalam.


Sambil terisak pelan, Kalya pun kembali mengangguk.


"Aku benci dan nggak mau mengakuinya. Tapi… Hatiku bicara lain… Aku…  Aku percaya. Tapi, aku--"


Kalya sudah terdengar meracau dalam tangisannya. Dia terisak, dengan air mata yang sudah mengalir deras di kedua pipinya. Kerutan dahi wanita itu penuh beban, serta raut wajah kesakitan itu, membuat Kendra tidak tega mendengar kata yang keluar dari mulut adik bungsunya yang manis. Meski kenyataan Kalya itu sudah menjadi menantunya, tetap saja, ada tempat di hati Kendra untuk Kalya sebagai adik.


"Kal…" Perlahan, Kendra berpindah. Dia kini sudah duduk di samping Kalya dan merangkul bahu wanita itu lembut. Disandarkannya kepala Kalya di bahunya, dan membuarkan anak itu menangis hingga puas.


"Maaf, Papa nggak pernah mengatakan hal ini sama kamu. Ini semua kesalahan Papa. Sebagai anak pertama, sudah tugas Papa untuk menceritakan semua hal ini sama kamu. Seperti apa yang sudah orangtua kita amanatkan sama Papa tentang kedua orang tua kamu, Papa memilih bungkam untuk menutupi semuanya dari kamu. Jadi, maafkan Papa, Kalya… Papa bersalah." Ucap Kendra lirih, memeluk kepala Kalya dan mengusapnya secara perlahan.


"Papa egois. Papa belum siap, untuk melihat kamu menangis seperti ini. Papa nggak sanggup, karena janji Papa yang selalu ingin membuat kamu bahagia. Papa bodoh, Kalya… Papa bodoh," ujar Kendra lagi, setengah menangis, hingga membuat Kalya pun semakin terisak.


"Papa…"


Tangis Kalya yang penuh beban itu kini tumpah ruah, dengan tangannya yang memeluk pinggang Kendra. Dia menangis di dada kakak sekaligus ayah mertuanya itu. Orang yang sudah merawat dia sejak lahir, selalu menyayangi dan juga melindunginya. Pengorbanan Kendra sudah cukup besar untuk Kalya. Jadi, tidak tahu diri namanya, jika Kalya harus membenci Kendra hanya karena dia tidak ingin Kalya terluka dengan pembahasan mengenai orang tuanya.


"Selama ini, aku berpikir, untuk nggak mau ketemu sama mereka apapun yang terjadi. Dan kalau pun aku harus ketemu, aku yakin, kalau aku pasti akan langsung membenci mereka. Tapi…" Kalya terisak sekali, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. "Kenapa aku nggak bisa? Aku udah berusaha. Dan malah aku semakin sakit, Pa…. Aku sakit…! Gimana ini, Pa? Gimana?"


Kalya semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Kendra. Dia menangis sehabis-habisnya di dada pria itu, dengan usapan lembut Kendra di bahunya.


"Dengarkan Papa, Nak. Kamu harus tahu sesuatu soal orang tua kamu."


"Dengar, dan jangan menyela."


***


Sudah dua minggu ini Kalya selalu murung di kamar. Setelah mendengar penjelasan yang sebenarnya dari mulut Kendra, tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut Kalya mengenai bahasan tersebut. Dia hanya diam, seperti merenung, tanpa mau membahas apapun lagi lebih lanjut.


"Kalya,"


Di tengah lamunan Kalya yang sore ini tengah mengusap perutnya, dia terkejut mendengar suara Gavin yang lembut menyebut namanya. Dia menoleh dan tersenyum sangat manis menyambut kepulangan suaminya itu ke rumah.


"Sayang," panggil Kalya setengah manja, pada Gavin, dan langsung menghampiri pria itu untuk dia peluk.


Selalu seperti ini. Kalya selalu terlihat baik-baik saja, jika sudah bertemu dengan Gavin. Padahal, tanpa diberitahu juga, Gavin tahu kalau istrinya itu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dia sadar, kalau Kalya hanya sedang berusaha mengalihkan perasaannya.


"Hei, kamu udah mandi?" tanya Gavin lembut, mengusap kepala Kalya, dan membimbingnya untuk duduk di tepi ranjang.


"Udah, kenapa? Aku bau, ya?" tanya Kalya cemberut, mengadahkan kepalanya menatap Gavin.


"Eum…"


Sambil bergumam tidak jelas, Gavin menunduk mengecup bibir wanita itu sejenak.


"Aku pikir tadi sih, iya. Tapi, setelah aku cium, rupanya enggak…" Geleng Gavin tertawa, melihat Kalya mengerucutkan bibirnya sebal.


"Kamu kok, makin lama makin mesum aja, sih? Kesel aku…" Rungut Kalya masih memberengut, melihat Gavin yang justru mengerling kepadanya.


Dengan tangan yang mulai nakal melingkari tubuh istrinya, Gavin berkata, "Kok mesum, sih? Aku kan cuma cium istri aku doang… Kalo mesum itu, kayak gini,"


Tanpa diduga, Gavin menurunkan tangannya, menyelipkan jari jemarinya ke bawah bokong berisi Kalya, dan meremasnya sensual, hingga membuat wanita itu langsung terpekik karena kaget.


"Gavin!" seru Kalya dengan wajah memerah.


"Nakal!" sungutnya, kemudian mencubit dada Gavin, dan membuat pria itu melotot garang melihatnya.


"Ih! Kamu main cubit-cubit dada aku, ya! Mau aku balas?" ancam Gavin usil, sontak membuat Kalya merengek dengan sebal.


"Gaaviiin...ih!"


Pria itu pun hanya tertawa. Dibawanya Kalya ke dalam pelukannya, sambil mengusap rambut wanita itu pelan.


Saat seperti ini, Gavin jadi ingat, dengan apa yang ayahnya katakan kemarin, ketika Kalya pingsan sehabis berbicara dengan Kendra tempo hari. Dia semakin bertekad untuk membuat wanita itu merasa apa yang dinamakan dengan bahagia. Meski sulit, Gavin akan terus mencobanya. Demi anak mereka, Kalya dan juga dirinya.


Pikirnya, kalau mungkin Kalya tidak sanggup untuk menjadikannya tempat sebagai penampung duka, maka Gavin siap menjadi tempat bagi Kalya untuk mendapatkan kesenangan. Tidak apa, tidak apa kalau Kalya belum siap menjadikan Gavin satu-satunya orang untuk dia bersandar. Karena dia juga mengerti, seberat apa pertimbangan Kalya untuk melawan sakitnya saat bertemu Gavin. Mungkin, Kalya merasa sedikit malu atau semacamnya, untuk mengungkapkan tentang perasaannya terhadap keluarga Kalya yang sebenarnya. Dan demi apapun, Gavin tidak akan memaksakan wanita itu untuk melakukan apa yang membuat Kalya sendiri merasa tidak nyaman.


"Aduh!"


Kalya yang tiba-tiba saja tersentak dalam dekapan Gavin, sontak membuat pria itu terkejut dan melepaskan pelukannya.


"Kenapa?" tanya pria itu cemas, melihat wajah Kalya yang meringis seperti menahan sakit.


"Ehe, nggak… Nggak papa, kok… Aku…"


Sambil menelan ludahnya sesekali, Kalya melanjutkan ucapannya. "Perut aku kontraksi lagi. Jadi, aku agak kaget." Katanya, tersenyum tipis, sambil mengusap perutnya pelan.


"Gimana keadaan anak kita? Masih baik-baik aja? Belum ada tanda-tanda?" tanya Gavin menundukkan sedikit kepalanya, memperhatikan wajah Kalya yang memucat.


"Sebenarnya sih, udah mulai sering sakit. Cuma, sejauh ini aku bisa tahan, kok." Jawab wanita itu, meringis lagi, kemudian mencoba tersenyum kembali.


"Aku nggak papa."


"Kamu kelihatan sakit. Dan kamu bilang nggak papa? Kamu mau kita ke rumah sakit?" tawar Gavin cemas, dibalas Kalya lagi dengan seutas senyum terpaksa, serta gelengan kepala yang tegas.


"Kata Mama, ini reaksi normal. Nggak perlu lebay kayak gitu. Kalau memang waktunya lahir juga, bakal lahir. Emang, dia mau kemana lagi?" ujar Kalya menyengir, kemudian mendesis lagi, saat perutnya, kembali terasa nyeri.


"Mules…"


"Kal, kamu benar nggak papa?" tanya Gavin semakin khawatir pada Kalya, yang berulang kali mencoba membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering.


Sedikit memaksakan senyum, Kalya pun lagi-lagi mengangguk. "Nggak papa. Hari ini, kayaknya sakitnya lumayan sering. Mungkin, sebentar lagi dia…"


Untuk kesekian kalinya Kalya merintih. Keringat dingin mulai mengucur di dahinya, seiring dia yang mencoba untuk mengatur napasnya sebaik mungkin.


"Sayang, aku rasa, kamu nggak baik-baik aja, deh… Kayaknya, kamu…"


Entah kenapa, tiba-tiba saja pandangan Gavin nyasar ke arah kaki Kalya dimana ada rembesan air yang mengalir pelan di antara kedua paha wanita tersebut, membuat kedua mata Gavin seketika membola.


"Kal… Kamu…"


"Gavin… Perut aku… Perut aku sakit… Aku…"


Seolah darahnya akan berhenti detik itu juga, Gavin segera tersadar, dan langsung membawa Kalya ke dalam gendongannya.


"Iya, kita ke rumah sakit sekarang."


 


Bersambung