Be My Brides

Be My Brides
Episode 53



Kalya baru saja selesai membuat puding coklat yang seperti diinginkannya. Dengan sedikit bantuan dari Ricka, dia membuat puding tersebut tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Ya, walaupun membuat itu juga bukanlah sesuatu hal yang sulit, tapi bagi Kalya, kehadiran Ricka sangat membantunya dalam melakukan sesuatu hal.


Sore tadi, Ricky pamit pulang. Katanya, dia masih ada urusan yang harus dia selesaikan di luar. Kata Ricka sih, mungkin urusan soal Hana. Tapi, ya terserah Ricky sajalah. Toh, dia juga sudah sangat dewasa untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk.


"Oh ya, Ka… Tante ada rencana buat kasih kue ini untuk Bu Sarah. Tetangga kami yang rumahnya ada di paling depan komplek ini. Kamu, mau nemani Tante, nggak?" tanya Kalya pada Ricka, yang sekarang tengah membawa satu puding buatan mereka ke atas meja.


Tadi, mereka sempat membuat tiga loyang. Katanya sih, untuk Ricka bawa satu, sebagai oleh-oleh Kalya untuk Rara dan juga Keanu di rumah.


"Eh, kenapa harus ditemani, sih? Mending kuenya aku antar sendiri aja. Takut nanti Tante kecapean… Sini,"


Ricka hendak mengambil puding itu dari tangan Kalya, saat wanita hamil tersebut sudah lebih dulu menjauhkannya dengan kedua sorot mata yang menajam.


"Nggak! Tante mau ikut!"


"Tapi, Tante…"


"Tante pengen ketemu orangnya langsung… Nggak enak kalo main titip-titip, Ka… Bu Sarah itu udah sering nganterin makanan untuk Tante secara langsung loh… Masa iya, Tante balasnya pake acara titip-titipan segala… Kan nggak sopan…"


"Ya, tapikan--"


"Ricka…" Pinta Kalya memelas, berusaha untuk membuat wajahnya terlihat seimut mungkin.


"Ehe… Tante kita, aku Gavin, apa? Cuma dia yang suka kalo muka Tante kayak gitu, tahu…! Kalau aku mah, ogah!" sungut Ricka judes, membuang pandangannya ke arah lain, hingga membuat Kalya tertawa kecil dibuatnya.


Ya iyalah, apa yang dikatakan oleh Ricka itu benar. Memang, tampang Kalya yang mana, bisa membuat Gavin tidak suka?


Ada-ada saja…


"Ya udah, kalau gitu, kamu mau bantuin Tante kan? Kita anterin puding ini dulu buat Bu Sarah. Abis itu, kita makan punya kita deh… Oke?" ujar Kalya semangat, berusaha membujuk Ricka untuk ikut dalam rencananya.


Entah kenapa, malam ini rasanya Kalya ingin sekali bertandang ke rumah tetangga tersebut. Penasaran dengan wajah suaminya Bu Sarah yang katanya baru saja tiba dari Malaysia, menjadi alasan utamanya saat ini. Padahal, kalau sampai Gavin tahu, dia pasti akan salah paham, dan mungkin akan marah.


Tapi, kendati mengurungkan niatnya dengan menyuruh Ricka mengantarkan makanan itu, Kalya tampak bertekad untuk mengantarkan makanan itu sendiri. Entahlah. Pikirnya, kalau nanti Gavin sampai tahu dan marah, bujuk lagi saja. Toh, dia juga hanya sebentar kan?


"Hm, yaudah deh, kalau gitu… Ayo,"


Meski terlihat sedikit keberatan, Ricka pun akhirnya menyanggupi keinginan Kalya yang ingin mengantarkan makanan itu dengan tangannya sendiri.


Setelah membereskan sedikit peralatan dapur, Ricka dan Kalya pun segera bergegas keluar dari dalam rumah. Mereka mengunci pintu sejenak dan berjalan pelan menuju sebuah rumah yang ada di dekat gapura utama perumahan tempat Kalya tinggal.


Samar, Kalya melihat sepeda motor yang ada di depan rumah Bu Sarah sangat mirip dengan sepeda motor suaminya.


"Itu punya Gavin bukan, sih?" gumam Kalya pelan, membuat Ricka yang mendengar ucapannya seketika mengikuti arah pandang Kalya.


"Mana?"


"Itu! Yang ada di depan rumah Bu Sarah!" tunjuk Kalya ke salah satu rumah yang ada di depan sana.


Dan berhubung deretan rumah tersebut tidak terdapat motor lain, --hanya satu rumah saja-- Ricka jadi menduga kalau rumah itulah yang ditunjuk Kalya sebagai rumah Bu Sarah.


Sedikit, Ricka pun ikut menyipitkan matanya. Jujur, dia tahu kalau Gavin sudah menjual mobilnya dan beralih menggunakan sebuah sepeda motor. Tapi, dia tidak tahu, motor seperti apa yang digunakan sepupunya itu untuk bekerja.


"Tante yakin, itu punya Gavin? Ntar, cuma mirip lagi…" Tanya Ricka memastikan, menoleh pada Kalya yang sudah mengerutkan dahinya sedikit.


"Enggak. Itu nomor platnya sama, kok… Itu punya Gavin!" yakin Kalya, setelah memastikan pandangannya dengan jarak mereka yang kian menipis ke arah rumah tersebut.


"Dia ngapain, ya?" gumam Kalya lagi, akhirnya sedikit mempercepat langkah kakinya menuju rumah Bu Sarah.


Dia pikir, mungkinkah ini ada hubungannya dengan Kaisar? Secara, yang dia tahu, Gavin itu sangat sensitif dengan Kaisar. Apalagi kalau sudah menyangkut dirinya. Mereka bahkan sampai bertengkar karena masalah tersebut.


"Kalya… Dia anak saya."


"Permi--"


Kalya menginterupsi Ricka yang sepertinya ingin mengucapkan salam. Dia mengisyaratkan pada perempuan itu untuk tutup mulut, karena merasa mendengar sesuatu yang sedikit aneh dari pembicaraan Bu Sarah dengan Gavin.


"Dia anak yang telah saya lahirkan dua puluh delapan tahun yang lalu. Anak yang lahir pada pukul 8 malam dan suasana hujan yang begitu deras di luar. Saya masih begitu ingat suasana rumah sakit waktu itu. Betapa merdu suara tangisan Kalya yang saat itu harus saya tinggal pada Kakek dan Nenek kamu."


"Dia anak yang saya lahirkan dua puluh delapan tahun yang lalu."


Tanpa sengaja, tubuh Kalya sedikit limbung ke belakang. Dia menoleh ke arah Ricka yang tampaknya juga terkejut dengan apa yang mereka dengar.


"Waktu itu, saya nggak berani melihatnya. Begitu lahir, Pak Kenan sudah mengambil Kalya dari saya. Itu bukan salah beliau, karena memang saya yang meminta. Saya nggak sanggup dan takut berubah pikiran, andai saya menyentuh tubuh kecil Kalya saat itu. Saya takut goyah, dan tidak ingin menyerahkan dia kepada siapa pun. Saya nggak mau bodoh, dengan…"


Kalya dan Ricka kembali mengintip sedikit ke dalam rumah. Terlihat di sana Kaisar sedang memberi minum pada Bu Sarah seraya menenangkannya.


Sementara itu, Kalya yang tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu, terduduk di salah satu kursi yang ada di teras rumah. Posisinya setengah menghadap ke dalam rumah, dan membuatnya bisa terlihat, andai orang-orang itu menyadari kehadiran Kalya di sana.


"Maaf, karena Ibu udah lancang dengan datang dan mencoba untuk mendekati Kalya lagi." Ucap Bu Sarah serak, lalu menyentuh tangan Pak Malik yang tengah berada di atas bahunya."


"Kami tahu, kalau mungkin kamu dan keluarga kamu pasti marah karena kedatangan kami ke sini. Tapi, kami ini adalah keluarga kandung Kalya…"


Ricka menggelengkan kepalanya keras. Tidak. Dia tidak percaya dengan semua omong kosong ini. Mereka hanya membual. Mereka hanya orang jahat yang ingin melukai perasaan Kalya. Tidak! Dia tidak akan percaya.


"Kami ingin melihat dia, meski dia tidak mengenali kami. Kami--" 


"Keluarga Kalya? Apa maksudnya?!"


Ricka yang tidak tahan, akhirnya pun berdiri. Dia menatap bingung orang-orang yang saat ini sudah menatap takut ke arahnya dan juga Kalya. Terlebih Gavin. Dia terlihat sedikit panik, ketika irisnya bertemu dengan Kalya yang sudah menangis di atas kursi teras rumah.


"Keluarga Kalya…? Apa maksud kalian?" tekan Ricka dengan napasnya memburu, menekan anggota tubuhnya yang gemetar untuk tidak gegabah dan malah melemparkan sesuatu ke arah orang-orang tersebut.


"Kal…"


"KELUARGA KALYA APA MAKSUDNYA?!"


Gavin yang sudah berdiri hendak menghampiri istrinya, tersentak ketika Ricka dengan emosi yang meluap langsung mendorong Gavin untuk kembali menjauh dari Kalya.


"Ka! Lo--"


"Lo apa-apaan sih, Vin?! Lo gila, ya?! Bukannya pulang, malah di sini! Ngapain sih, lo?! Lo nggak punya otak, hah?! Apa maksudnya?!" cecar Ricka marah, pada Gavin yang bingung harus menjelaskan apa pada dua perempuan di depannya.


Gabin sadar, kalau ini terdengar sangat mengejutkan. Begitu jugaklah yang ditaskana siang tadi saat mendengar Kendra dan Keanu berbicara. Dia merasa, dunianya berputar dengan arah yang tidak seharusnya. Kenapa? Kenapa? Dan kenapa?


"Kal… Sayang…"


Gavin yang terlihat frustrasi, langsung berjongkok di dekat kaki Kalya yang duduk dan menggenggam tangan wanita itu erat.


"Kal… Aku tahu ini mengejutkan. Tapi, kamu--"


Gavin yang sedang berusaha memilih kaya untuk menjelaskan keadaannya kepada Kalya, terpaksa tutup mulut, saat wanita itu langsung berhambur memeluk lehernya, dan emyembunyikan wajahnya di lekuk leher Gavin.


"Aku nggak mau dengar, Gavin… Aku mau pulang," bisik Kalya serak, membasahi leher Gavin, yang seketika membuat pria itu sadar, kalau keadaan istrinya sedang tidak baik-baik saja.


Tidak berusaha menjelaskan lagi, Gavin pun langsung memeluk tubuh perempuan itu.


"Kami permisi dulu,"


Bingung harus mengatakan apa juga, Gavin pun langsung mengangkat tubuh besar Kalya dan pamit, setelah sebelumnya memberikan kunci motornya kepada Ricka.


"Bawa motor gue."


***