Be My Brides

Be My Brides
Episode 32



Kalya yakin, kalau apa yang dilihatnya saat ini bukanlah sebuah imajinasi, ataupun halusinasi, dimana dia menemukan Ricko tengah berada di dalam sebuah mobil ambulans, bersama dengan Thalita yang terlihat sedang sekarat. 


"Ricko?" 


"Thalita?" 


Bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, Kalya pun langsung menarik lengan Gavin menuju ruang UGD. 


"Ricko!" panggil Kalya segera, pada Ricko yang tampaknya hendak mengikuti petugas dari ruang unit gawat darurat yang hendak membawa Thalita di atas bangkar.


"Tante Kal?" Ricko yang kaget mendapati Kalya dan juga Gavin berada di sana, lantas mendekati keduanya dengan napas yang tersengal. 


"Tante Kal, Tante kenapa di sini? Tante ngapain kemari?" tanya Ricko beruntun, dengan wajah yang sarat akan kepanikan, melihat Kalya dari ujung rambut hingga ujung kaki. 


"Harusnya Tante yang nanya itu sama kamu! Ngapain kamu di sini? Dan itu…! Kenapa dengan Thalita? Kenapa dia--" 


"Maaf, Pak… Bapak yang tadi datang bersama pasien kan?" 


Kalya yang hendak menanyakan beberapa hal sekaligus kepada Ricko, terpaksa menahan semua pertanyaannya di ujung tenggorokan, begitu salah satu petugas rumah sakit, datang menghampiri Ricko dengan tergesa. 


"Iya, benar. Dia teman saya," jawab Ricko mengangguk. 


"Kalau begitu, sebaiknya Bapak ikut kami. Ada beberapa berkas yang harus Bapak urus untuk penanganan pasien." Ujar petugas itu, yang langsung disanggupi oleh Ricko sendiri. 


Tanpa bicara, Ricko lalu mengikuti langkah petugas tersebut masuk ke dalam rumah sakit. Mengurus beberapa berkas seperti data tentang Thalita di bagian resepsionis dan menunggu perempuan tersebut diselamatkan.


Sementara itu, melihat Ricko yang tampaknya begitu panik, tak ayal membuat Kalya semakin merasa penasaran. Tentang apa yang membuat Thalita bisa masuk rumah sakit seperti ini, dan bagaimana ceritanya hingga Ricko yang mengantarkannya ke rumah sakit. 


"Kal, kamu mau kemana?" 


Kalya yang tanpa sadar ingin masuk ke dalam ruang UGD, ditahan Gavin yang melihat gelagat aneh wanita tersebut. 


"I-itu…"


"Kita kesini mau periksa kandungan, ya. Jangan macam-macam!" peringatkan Gavin cepat pada Kalya, yang tampaknya lupa dengan tujuan awal mereka datang ke rumah sakit tersebut. 


"Iya, tapi, Ricko…" 


Gavin yang melihat raut wajah cemas Kalya saat menyebut nama Ricko, semakin mengeratkan pegangannya. 


"Kal, kamu--" 


Gavin yang sepertinya hendak protes, nyaris tersungkur ke depan, ketika Kalya tiba-tiba saja menghempaskan tangannya terlepas dari Gavin dan meninggalkan pria itu di sana. Dia bahkan tidak peduli dengan teriakan Gavin yang menyerukan namanya, kala dia menginjakkan kaki menuju resepsionis, dimana Ricko sedang terlihat sibuk saat ini. 


Dalam keadaan marah yang ditahan, Gavin mengikuti langkah kaki Kalya, yang sudah menarik Ricko untuk duduk di kursi tunggu yang tersedia di sana. 


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Ko? Thalita… Dia kenapa?" tanya Kalya cemas, pada Ricko yang masih tampak begitu khawatir dengan wajahnya yang memucat.


Sambil mengusap wajahnya gusar, Ricko menggelengkan kepalanya samar. 


"Tadi, aku cuma mau nganter tasnya yang ketinggalan di restoran. Tapi, waktu dia bukain pintu apartemennya, keadaan dia udah kayak gitu. Dia… dia…" 


Ricko yang tampak gemetar, mengusap wajahnya lagi. Kali ini, dia menutup mulutnya dengan tangan, dan menatap lantai rumah sakit dengan pandangan yang kalut. 


"Dia kenapa? Lo ribut sama dia?" tanya Gavin terdengar penasaran, meski wajahnya terkesan acuh tak acuh. 


"Tempo hari sih, iya."


"Lah, terus sekarang, kenapa dia jadi gitu?" tanya Gavin lagi yang duduk di sebelah Kalya, dengan tangan yang terlipat di dada. 


"Gue nggak tahu. Setelah kedatangannya dua hari yang lalu dan marah-marah, dia kelihatan nggak ada kabar sama sekali. Jadi, terpaksa gue datang ke apartemennya cuma buat nganterin tasnya yang ketinggalan di restoran gue. Tapi, apa yang gue lihat… dia malah--"


"Dia sengaja? Mau ngejebak lo, mungkin?" terka Gavin sembarang, dengan gaya masa bodohnya, dimana langsung membuat Kalya dan Ricko menatap tajam ke arahnya. 


"Jebakan dia bakal berubah jadi maut, kalo gue sampai nggak datang ke tempat dia, tadi. And by the way, asal lo tahu, kalo gue sendiri yang punya inisiatif buat anterin tas dia hari ini." Ujar Ricko tegas, seakan tidak terima dengan ucapan Gavin yang mengatakan kalau Thalita memang sengaja untuk menjebaknya. 


"Oh, yaudah, kalo gitu, kenapa sekarang lo nggak coba buat hubungi keluarganya aja? Lo kan udah nganterin dia kesini," saran Gavin masih terlihat tidak begitu peduli, kali ini mendapat gelengan kepala lemah dari Ricko yang membalasnya. 


"Hubungan keluarga mereka nggak begitu baik. Gue aja nggak yakin, kalo nyokapnya bakal panik pas dengar anaknya masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri." Gumam Ricko lesu, kembali menatap lantai rumah sakit dengan sayu. 


"Bokapnya? Kalo nggak ada nyokap, pasti--" 


"Bokapnya udah meninggal." Sela Ricko menjawab, semakin terlihat muram. "Jauh sebelum gue kenal sama Thalita… " Bokapnya udah meninggal." Sambungnya, sontak membuat tidak hanya Gavin, tapi Kalya juga mengerutkan kedua alisnya bingung. 


"Loh, jadi, waktu acara pertunangan kalian itu… Ayah--" 


"Itu ayah tirinya." Jawab Ricko lagi, melirik Kalya dengan sedih. 


"Dia bahkan lebih buruk dari apa yang pernah ibunya lakuin sama Thalita." Adu Ricko kemudian. 


"Lebih buruk? Maksud lo? Bukannya perlakuan mereka sama Thalita waktu pertunangan lo itu udah cukup mencerminkan keluarga yang bahagia? Gimana bisa--" 


"Ibunya sama sekali nggak peduli sama kebahagiaan Thalita! Bagi dia, pernikahan Thalita penting itu, karena akan ada yang bakal gantiin dia buat nanggung kehidupan Thalita. Baginya, Thalita itu cuma beban! Dan itu yang lo bilang sebagai keluarga yang bahagia?!" cecar Ricko langsung, penuh emosi pada Gavin yang sontak menutup mulutnya rapat-rapat. 


"Hidup Thalita nggak semudah yang lo pikirin. Gue sakit hati sama perlakuan dia yang ninggalin gue gitu aja. Tapi, gue nggak benci. Demi Tuhan, gue nggak pernah benci sama dia. Dan dia nggak pantas mati cuma karena hal ini!" bentak Ricko kuat, pada Gavin yang mendadak kehilangan suaranya. 


"Ricko, udah! Jangan berisik! Nggak enak…! Udah ya…" 


Kalya yang sedikitnya mendengar tentang kehidupan Thalita, entah kenapa merasa ikut bersedih. Maksudnya, dia tidak menyangka kalau kehidupan Thalita tidak semudah yang dia pikirkan selama ini. Mungkin Thalita masih memiliki orangtua. Meskipun yang satunya hanyalah ayah tiri, tapi itu tidak menjamin kebahagiaan untuk perempuan tersebut. Justru dia terdengar jauh lebih menyedihkan ketimbang Kalya yang hanya anak angkat, namun mendapatkan cinta yang begitu berlimpah. 


"Thalita mencoba bunuh diri, Tante. Dan itu terlalu kejam buat dia…" Keluh Ricko pelan, dengan suaranya yang bergetar, begitu Kalya merengkuh bahunya dan meletakkan kepalanya yang lelah di atas bahu wanita tersebut. 


"Dia nggak pantas mati begitu aja. Hidupnya terlalu sia-sia cuma untuk dia lewati begitu aja, Tante. Dia nggak boleh mati secepat itu…" Ujar Ricko lagi, mulai meracau, seiring dengan usapan lembut tangan Kalya di punggungnya. 


"Dia nggak boleh mati, tanpa mengucapkan kata maaf sebelum itu…" 


Tanpa terasa, Ricko sudah mulai meneteskan satu butir air matanya. Meski kecewa dan sakit hati atas perbuatan Thalita di masa lalu, dia tidak bisa membenci wanita itu. Dia tidak bisa membohongi waktunya yang sudah sekian tahun ia lewati bersama Thalita. Mengetahui baik buruknya kehidupan perempuan itu, juga alasannya menepis kenyataan kalau ternyata Thalita tidak pernah mencintainya selama ini. Jauh daripada itu… Untuk orang yang pernah menjadi kekasihnya, dia menyayangi Thalita . 


"Sory, bukannya gue nggak simpatik terhadap kesedihan lo ya, Ko. Tapi…" 


Gavin, yang sejak tadi hanya diam melihat pemandangan menyakitkan yang dilakukan oleh istrinya dan juga Ricko, memutuskan untuk angkat bicara. 


Dengan tatapan mata tajam, serta kepalan tangan yang kuat, dia mencengkram sebelah tangan Ricko yang ada di lengan Kalya dan menghempaskannya secara kasar. 


"Tapi gue dan Kalya, masih ada urusan lain."


Setelah selesai mengecek kondisi kandungannya, Kalya dan juga Gavin memutuskan untuk segera pulang ke rumah Keanu. Sejak Gavin menyeret Kalya meninggalkan Ricko dari ruang UGD tadi, suasana di antara mereka pun berubah menjadi sangat dingin. Tidak ada percakapan, dan tidak ada mimik wajah teduh yang bisa Kalya lihat dari sosok Gavin saat ini. 


Tampak pria itu edang marah kepada Kalya.


"Gavin, kamu…"


Kalya yang tadinya hendak bicara, membungkam mulutnya kembali, ketika melihat betapa menyeramkannya wajah Gavin saat  meliriknya. Sudut alisnya menungkik, dengan rahang yang terlihat mengeras.


"Nggak jadi…" Gumam Kalya menyerah, lantas membuang pandangannya ke luar jendela. 


Memang begitulah Gavin sejak dulu. Kalau sudah marah, akan sulit untuk diajak bicara. Jadi, sebaiknya untuk sekarang, Kalya diam dan menunggu emosi pria itu mereda terlebih dahulu. 


Akhirnya, sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju rumah, tidak ada dari mereka pun yang membuka mulutnya. Keduanya hanya diam, dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai tiba saatnya, mobil yang dikendarai Gavin pun masuk ke dalam pekarangan rumah Keanu. Dan berhenti di sana. 


Gavin yang sudah memarkirkan mobilnya sejajar dengan sebuah mobil hitam di rumah Keanu, langsung keluar dari tempatnya dan membukakan pintu untuk Kalya. 


Meski masih terlihat menyerahkan, Gavin tetap berusaha bersikap istimewa pada Kalya, walau hatinya  tahu, sikapnya ini tidak akan dianggap manis oleh wanita tersebut. 


"Makasih ya, Gavin, untuk hari ini," ucap Kalya berusaha tidak memprovokasi emosi Gavin, yang pikirnya sedang marah dengan sesuatu hal. 


Mungkin, ini ada kaitannya dengan Kalya yang tadi lebih memilih untuk mendengar cerita Ricko terlebih dahulu sebelum mengecek kandungannya? Entahlah… 


"Hm," sahut Gavin terlihat acuh tak acuh, dimana itu, membuat keduanya saling diam satu sama lain. 


Bingung ingin mengatakan apa di situasi yang canggung seperti itu, Kalya pun berusaha mencari kalimat yang paling halus untuk menyuruh Gavin pulang ke rumahnya. 


"Eum, ya udah, kalau gitu kamu--" 


"Tante Kal," 


Kalya yang sedang cemas melihat mimik wajah Gavin yang kian menajam, mengalihkan perhatiannya, begitu mendengar suara Ricky yang menyerukan namanya. 


Di sana, dari teras rumah, tampak Ricky tengah berjalan menghampirinya dengan pakaian kerja yang masih melekat. 


Sepertinya anak itu baru saja pulang dari kantornya. 


"Tante, baru pulang?" tanya Ricky lembut pada Kalya, sembari tersenyum. 


"Iya, Tante baru pulang. Tadi, Tante abis periksa kandungan di rumah sakit." Sahut Kalya, juga tersenyum pada Ricky yang dibalas anggukan kepala oleh pria tersebut. 


"Iya. Tadi, udah dibilang sama Mama." Katanya. 


"Oh, ya, gimana keadaan…" Ricky yang bingung ingin menyebut anak Kalya sebagai keponakan atau adik sepupu, memilih untuk melirik wanita itu sejenak. 


Dan seolah tahu, dengan arti tatapan pria itu, Kalya pun hanya tersenyum tipis, dan berkata. "Terserah. Senyaman kamu aja, nyebutnya apa." Ucap Kalya, sontak membuat Ricky merasa senang. 


"Oke, kalo gitu, aku panggil adik aja, deh… Adik bayinya Mas Ricky…" Sahut Ricky bahagia, menyentuh perut Kalya yang sudah terlihat sedikit membuncit. 


"Jadi, gimana keadaannya, Tante? Sehat 'kan?" tanya Ricky sudah fokus kepada Kalya, dimana tangannya masih terus mengusap lembut perut wanita tersebut. 


Tanpa sadar untuk kesekian kalinya, emosi Gavin kembali berkobar. Dalam satu hari ini, sudah ada dua laki-laki yang berani menyentuh Kalya di depan kedua mata Gavin. Seolah tidak menganggap Gavin itu sebagai suami Kalya, membuat emosi pria itu kian menggelegar tanpa arah.


"Heh!" tegur Gavin tiba-tiba, membentak Ricky secara kasar, hingga Kalya dan pria itu --yang tadinya tengah berbincang-- terkejut mendengarnya. Bahkan Kalya sampai mundur beberapa langkah mendengar teriakan dari suaminya tersebut. 


"Bisa nggak, lo jangan pegang-pegang istri gue?" desis Gavin kemudian, melotot penuh kemarahan pada Ricky yang malah membalas enteng tatapan kedua mata tajamnya. 


"Enggak. Kenapa?" balas pria itu cuek, membuat emosi Gavin semakin membara.


"Lo--"


"Lo ngapain sih, masih di sini? Pulang sana! Bikin penuh pandangan orang aja…" usir Ricky santai, pada Gavin yang sudah terlihat seperti banteng yang hendak menyeruduk mangsanya. 


"Apa?! Lo--" 


"Lo udah nganterin Tante Kal pulang dengan selamat. Dan gue ucapin terima kasih untuk itu. Jadi, sekarang, lo bisa pulang ke rumah lo."


"Ricky! Lo itu, ya…!" 


"Gue dengar besok lo mau seminar proposal, ya? Udah berlatih? Jangan sampai gagal karena hal kecil, loh… Ntar, bukannya bisa tinggal bareng sama Tante Kal, Om Kend malah nyuruh lo--" seolah sengaja ingin memanas-manasi Gavin, Ricky tampak menggerakkan tangannya dramatis ke arah leher. 


"Maksud lo?" tanya Gavin was-was menatap tidak senang pada gaya Ricky yang seakan memotong lehernya sendiri. 


"Jangan bilang--" 


"Cerai," 


"Ricky!" 


"Heh!" 


Dan tawa Ricky pun meluncur deras dari mulutnya mendengar nada gusar yang keluar dari mulut Kalya dan juga Gavin. Sempat pasangan suami istri itu saling melirik satu sama lain, sebelum akhirnya Kalya mencubit perut Ricky dan menyuruh laki-laki itu untuk berhenti. 


"Kamu mau lihat kepala sama leher kamu bercerai? Kalau mau, Tante bisa kok, biki--" 


"Ih, apaan sih, Tante! Serem amat…" sergah Ricky spontan, menyentuh lehernya takut. 


"Makanya, kalo nggak mau, jangan ngomong macam-macam! Bikin kesal aja!" omel Kalya jengkel, yang membuat Ricky mengulum senyumnya diam-diam. 


"Iya deh, yang nggak mau cerai…" Goda Ricky kemudian, semakin membuat Kalya melotot kesal kepadanya. 


"Ricky!" 


Ricky yang merasa tidak bersalah sama sekali, kembali merengkuh bahu Kalya dan mengusapnya dengan pelan. Dan itu, malah membuat Gavin yang melihatnya, semakin bertambah berang. 


"Ric--" 


"Udah, lo pulang sana! Gue sama Tante Kal mau masuk dulu. Ingat, lo harus fokus untuk lulus dan cepat cari kerja, kalau mau bawa Tante Kal keluar dari rumah ini. Jadi, untuk sementara…" 


Bukannya takut dengan sorot mata Gavin yang kian menajam, Ricky pun semakin melingkarkan lengannya di leher Kalya. 


"Tante Kal gue sandra dulu."


Bersambung