Be My Brides

Be My Brides
Episode 38



Tengah malam, Kalya yang tadinya sudah terlelap, terbangun dari tidurnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia merasa tubuhnya sangat dingin dan juga resah. Seperti ada yang hilang, yang membuatnya terganggu seperti ini.


Merasa tempat di sebelahnya kosong, Kalya pun bangkit dari rebahannya. Pandangannya keliling, mengitari kamar yang tampak begitu terang benderang seperti sesaat sebelum dia tertidur tadi.


"Gavin mana?" bisiknya heran, melihat keadaan kamar yang terasa begitu sepi. 


"Apa dia nggak masuk kamar, ya?" pikir Kalya, lantas turun dari atas ranjangnya.


Dengan sedikit susah payah, Kalya pun keluar dari kamar tidurnya. Tatapannya terpaku, pada sosok Gavin yang ternyata sudah tertidur di atas sebuah sofa panjang yang ada di ruang tamu. Sedangkan di depannya, ada televisi yang masih menyala menayangkan sebuah acara. 


Kalya mendekat. Dimatikannya televisi tersebut, sebelum ia mendudukkan dirinya di dekat kepala Gavin tengah meringkuk saat ini.


"Gavin, bangun." Ucap Kalya pelan, menyentuh sebelah lengan pria itu yang terlipat di atas dada.


"Gavin," panggil Kalya lagi, menggoyangkan lengan tersebut sedikit kuat.


"Gavin…" Panggil Kalya lagi, melihat Gavin yang melenguh dalam tidurnya.


"Hm," gumam pria itu belum sepenuhnya sadar, merubah posisi tidurnya menjadi telentang.


Ukuran sofa yang tidak cukup besar, membuat kaki Gavin harus menggantung di lengan sofa, dimana satu tangan Gavin terlipat di dada, dan satunya lagi menggantung di udara. Sementara kepala pria itu sudah berpindah di atas pangkuan Kalya, begitu melihat Gavin yang merubah posisi tidurnya.


Melihat Gavin yang tertidur lelap seperti ini membuat hati Kalya mendadak dirundung perasaan bersalah. 


Tadi, sebelum tidur, mereka sempat terlibat pertengkaran sedikit. Ya, lebih tepatnya, sih, Kalya yang marah-marah kepada Gavin. Padahal, pria itu sudah bersusah payah bekerja dari pagi hingga malam, hanya untuk memenuhi tanggung jawabnya kepada Kalya dan juga anak mereka. Tapi Kalya, malah dengan seenaknya saja mencari perkara.


"Gavin," ucap Kalya pelan, menyentuh sebelah pipi Gavin yang terlena.


Sebenarnya, Kalya tidak tega, jika harus membiarkan Gavin tidur di ruang tengah seperti ini, sementara dia malah enak-enakan tidur di atas ranjang besar yang empuk. 


Tapi, membangunkan Gavin yang di saat terlelap, bukanlah sebuah ide yang bagus. Pria itu pasti sedang lelah dan butuh istirahat yang banyak malam ini.


"Kal,"


Kalya yang tadinya terus menatap wajah Gavin dengan setengah melamun, tidak menyadari kalau ternyata kedua mata Gavin sudah terbuka dan memandangnya. 


"Gavin?"


Kalya yang juga balas menatap Gavin, akhirnya saling tatap dengan pria itu sementara waktu. Sampai akhirnya Gavin mengerjap, kemudian bangkit dari rebahannya.


"Kal, kamu terbangun?" tanya Gavin menyentuh bahu Kalya yang mengangguk.


"Kenapa? Kamu nggak bisa tidur lagi? Apa kamu nggak merasa nyaman? Apa yang buat kamu nggak bisa tidur?" tanya Gavin beruntun, menatap cemas kepada Kalya.


Biasanya, wanita itu tidak bisa tidur karena memang sulit untuk mendapatkan posisi baring yang nyaman. Maklum saja, saat perut Kalya bertambah besar, semakin kecil peluang bagi perempuan itu untuk mencari posisi yang nyaman. Dia mudah pegal dan kegerahan jika berada dalam satu posisi untuk waktu yang cukup lama. 


"Aku nggak nyaman. Karena kamu nggak ada." Jawab Kalya pelan, menatap sayu Gavin yang terdiam.


"Kenapa kamu nggak masuk kamar? Kamu masih marah sama aku?" tanya Kalya lagi, pada Gavin yang malah menautkan kedua alisnya tidak mengerti.


"Loh? Bukannya kamu yang marah sama aku? Aku kira, kamu nggak mau ketemu aku malam ini." Jawab Gavin, gantian melihat Kalya yang mengerutkan alisnya dengan samar.


"Kalo aku emang nggak mau ketemu kamu, kenapa pintunya nggak aku kunci? Aneh kamu..." balas Kalya sedikit sengit, menatap tajam Gavin yang terheran.


"Loh, pintunya nggak kamu kunci?" tanyanya lagi bingung, kali ini dibalas dengusan sinis oleh wanita itu.


"Kamu nggak tahu, apa emang nggak mau tahu?" sengit Kalya lagi, menyipitkan kedua matanya curiga.


Entah kenapa, tiba-tiba saja Gavin melihat kedua mata istrinya itu berembun.


"Kalya sayang…" Panggil Gavin lembut, meraih bahu Kalya pelan dan memeluknya.


"Aku benar-benar nggak tahu, kalau pintunya nggak dikunci. Kalau aku tahu, tanpa kamu suruh pun, aku pasti bakalan masuk, kok. Kan itu kamar kita berdua," jelas Gavin, membujuk Kalya yang sepertinya hendak menangis.


"Aku beneran nggak ada niat buat jauhin, ataupun nyakitin kamu. Aku benar-benar nggak tahu, kalau pintunya nggak kamu kunci. Aku pikir, kamu masih marah sama aku, dan nggak mau ngelihat muka aku. Itu aja, kok… Aku cuma nggak mau bikin kamu kesal. Aku cuma--"


"Tapi, kamu bikin aku kesal, tahu…" sungut Kalya tersendat, dengan air mata yang mulai mengucur.


"Isht… ini apaan, sih! Air mata nyebelin!" rutuk Kalya mengusap air matanya dongkol, sambil terisak-isak halus.


"Kal…"


Kalya terus mengusap air matanya secara bergantian. Tidak tahu penyebabnya apa, air matanya justru mengalir semakin deras.


Sungguh, dia tidak mengerti kenapa dirinya bisa jadi seperti ini. Apapun yang dikatakan Gavin, salah sedikit saja, dia bisa berubah menjadi Kalya yang sangat menyebalkan. Cengeng dan jadi tukang merajuk. Padahal, sebelum menikah, apapun yang dikatakan ataupun dilakukan oleh Gavin, tidak ada artinya sama sekali bagi Kalya.


"Udah, dong… Kamu jangan nangis lagi… Kasihan nanti anak kita di dalam perut kamu, jadi ikutan sedih." Bujuk Gavin pada Kalya, sambil terus mengusap-usap bahu wanita itu dengan lembut.


"Udah, ya… Udah, ya…"


"Ini semua gara-gara kamu yang nyebelin tahu, nggak! Kalo aja kamu nggak ngomong sembarangan, dan buat aku jadi sedih, aku kan nggak akan nangis gini!" sungut Kalya, tapi masih berusaha menghentikan tangisannya meskipun kesulitan. 


Entah kenapa, mengingat betapa lelahnya wajah Gavin tadi sewaktu tertidur, membuat hati Kalya semakin terenyuh dan menangis dalam pelukan laki-laki tersebut. 


Menyebalkan? Iya, ini benar-benar menyebalkan!


"Kal… Katanya, kalau ibunya dongkol sama ayahnya, bisa jadi, pas anaknya udah lahir nanti dan gede, bakal jadi teman berantem ayahnya, loh… Kamu mau, lihat aku sama anak kita berantem terus?" tanya Gavin berusaha bersikap halus, yang lagi-lagi justru membuat Kalya merentak marah.


"Kamu ini gimana, sih?! Mau nakut-nakutin aku, ya! Iya?! Kamu nggak mau didik anak kita dengan bagus? Kamu--"


"Hah?"


Gavin hanya tadinya terus menatap Kalya lekat dan tajam, tersenyum tipis melihat hidung bangir Kalya yang bergerak. 


Semburat rona merah tergambar di wajah istrinya itu, meski kenyataan Gavin belum menyentuhnya sama sekali.


"Gavin, aku minta maaf ya?" ucap Kalya lirih, menundukkan kepalanya sedikit dalam.


"Kamu pasti capek menghadapi sikap aku yang kayak gini." Kata Kalya lagi, kemudian menarik napasnya panjang. 


"Tapi, percaya deh, aku sama sekali nggak niat buat kamu kesusahan kayak gini. Aku sendiri aja bingung, kenapa aku bisa bersikap menyebalkan kayak gini ke kamu. Seharusnya, aku kan sadar diri untuk nggak ngerepotin kamu lebih jauh. Tapi aku--"


Tanpa diinginkan, Kalya kembali meneteskan air matanya yang menyebalkan. Dia terisak, berusaha menghindari tatapan Gavin kepadanya. Dia malu, menunjukkan sisi anehnya di depan pria itu. Pikirnya, bisa jadi nanti Gavin illfeel terhadapnya dan meninggalkannya esok hari.


"Kal,"


Kalya yang tengah sibuk mengusap matanya menggunakan lengan baju, terhenti saat Gavin meraih dagu Kalya dan mendekatkan bibir mereka.


Untuk beberapa saat, Kalya hanya terdiam membiarkan Gavin mengulum bibirnya mesra. Sebenarnya, ada perasaan tidak suka di hati Kalya setiap melihat pria itu menyentuhnya. Jantungnya selalu berdebar tidak terima, kala Gavin ingin menunjukkan gelagat asmara kepadanya. Membuatnya ingin menolak, kemudian berlari jauh meninggalkan laki-laki tersebut dan menghilang.


Tapi…


Pelan, Kalya memejamkan kedua matanya sesaat. Setetes air matanya kembali jatuh saat Gavin melepaskan ciuman mereka dan mendekap kepala Kalya di dadanya.


"Aku lebih suka kamu repotin kayak gini. Karena dengan begitu, aku tahu kalau kamu membutuhkan aku."


***


Gavin masih setia menatap Kalya yang tertidur pulas dalam pelukannya. Tatapannya terus tertuju pada wajah cantik yang menengadah di atas dadanya tersebut. Seperti membiarkan Gavin untuk menatap keindahan itu dengan sempurna dan menyimpannya baik-baik di dalam ingatannya.


"Kamu harus ingat Gavin, bukan hal mudah bagi seorang perempuan untuk menerima laki-laki yang sudah menghancurkan masa depannya. Dan kalaupun Kalya menerima kamu sekarang, itu hanya karena dia butuh kamu sebagai ayah dari anak yang dikandungnya."


Kata-kata Nia tempo hari, kembali melintas dalam pikiran Gavin begitu saja dan membuat pria itu mendesahkan napas panjang.


Sepertinya, usaha Gavin benar-benar akan terasa sangat sulit, mengingat bagaimana reaksi tubuh Kalya terhadap kehadiran Gavin selama ini. 


Bukan Gavin tidak tahu, kalau tubuh Kalya selalu gemetar, setiap Gavin datang menunjukkan tatapan cinta kepadanya. Seperti ada raut wajah takut, setiap Gavin menatapnya dalam seperti tadi. Mungkin, Kalya tidak berani, kalau Gavin akan kembali menyakitinya seperti dulu.


"Mungkin aku bakal sulit untuk mencintai kamu, Gavin. Tapi, demi anak kita, aku mau belajar." Isak Kalya tadi, saat dirinya dan Gavin sudah pindah ke dalam kamar tidur.


Pelan, Gavin pun menyentuh rambut Kalya dan mengusapnya dengan pelan.


"Selama kamu nggak benci aku, aku bisa bertahan. Untuk kamu, dan untuk anak kita." Bisik Gavin setengah bergumam, melayangkan pandangannya ke arah langit-langit kamar.


Jam sudah menunjukkan angka tiga dini hari. Tapi, Gavin, masih saja terjaga dengan suasana hatinya yang gundah gulana.


Jujur, Gavin tidak ingin menjadi orang yang munafik. Dia ingin dicintai dengan benar oleh Kalya. Mendapatkan perasaan wanita itu karena memang Kalya yang mau mencintainya. Bukan karena bentuk kewajiban wanita itu karena sudah menjadi istri Gavin, dan membuatnya terpaksa harus menunjukkan rasa cintanya yang terasa palsu.


"Gavin…"


Gavin yang menatap lurus ke atas, mengerjapkan matanya sedikit saat mendengar Kalya melenguh dalam tidurnya.


Sambil menggerakan tubuhnya perlahan, kedua mata Kalya terbuka, dan berserobok dengan Gavin yang juga tengah menatapnya.


"Kamu kok nggak tidur? Kamu nggak capek?" tanya Kalya serak, mengeratkan pelukannya di perut Gavin. Kepalanya menyelinap di antara lengan Gavin, dan membuatnya bisa menghirup aroma ketiak pria yang sedang memeluknya tersebut.


Kendati menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Kalya, Gavin malah terlihat fokus dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu sekarang.


"Kal, kamu ngapain?" tanya Gavin bingung, dengan Kalya yang tidak kunjung mengangkat wajahnya dari kapitan lengan Gavin.


"Kal,"


"Hm?"


"Kamu ngapain di ketek aku? Bau, Kal…" Ujar Gavin merasa sedikit segan, dengan Kalya yang mencium aroma tubuhnya seperti itu.


"Emang kamu nggak mandi tadi?" tanya Kalya, dengan suara yang sedikit samar.


"Mandi, sih… Cuma--"


"Kamu pake parfum, ya? Kok wangi?" sela Kalya dengan suara terendap di balik lengan dan ketiak Gavin.


"Hah?"


"Ganjen banget sih, kamu… mau tidur aja pake parfum. Mau kemana, sih?" tanya Kalya seperti gumaman, dimana suaranya sudah tenggelam menjadi sangat samar di pendengaran Gavin.


"Kal," panggil Gavin pelan, pada Kalya yang tampaknya sudah tertidur lagi dalam pelukan Gavin.


Sepertinya, perempuan itu sudah mendapat posisi nyamannya lagi kali ini.


"Selamat tidur, ya… mimpi yang indah…" Ucap Gavin tersenyum, menggeser anak rambut Kalya sedikit dan memperbaiki selimut yang digunakan oleh mereka berdua.


Dalam hati, Gavin berharap, semoga besok, menjadi awal yang baik bagi hubungan rumah tangga dirinya dan juga Kalya.


Bersambung