
"Aku… mencintai kamu, Gavin." Ucap Kalya malu, menundukkan wajahnya sedikit menatap Gavin. "Kamu… nggak tahu?"
"Apa?"
Gavin yang merasa ragu dengan pendengarannya, terbengong menatap Kalya yang menunduk.
"Aku cemburu. Bahkan sakit hati, waktu tahu kamu punya perempuan lain di luar sana. Aku--"
"Perempuan lain apa? Jangan mengalihkan pembicaraan, ah!" tegur Gavin tegas, yang sebenarnya sedang berdebar, karena merasa mendengar satu kalimat sakral dari mulut Kalya.
Dengan bibir yang bertekuk sebal, Kalya pun kembali meneteskan air matanya.
Oh, ayolah… Bisa tidak, untuk sekarang mereka tidak menggunakan air mata?
"Anggi. Siapa dia?" tanya Kalya terisak pelan, menatap mata Gavin tajam dengan matanya yang memerah.
"Dia manggil kamu sayang. Apa mungkin, dia pacar kamu?"
"Enggak."
"Terus, kenapa dia manggil kamu sayang?! Dia juga bilang makin cinta sama kamu! Maksudnya, apa?!" bentak Kalya emosi, alih-alih membuat Gavin takut, malah terlihat menahan senyumannya sedikit.
"Dia…"
"Aku akui, kalau aku salah dengan menerima ajakan Kaisar untuk ngobrol di teras rumah. Tapi, bukan berarti kamu boleh cari perempuan lain di luar sana dan ninggalin aku yang lagi hamil anak kamu ini, kan?! Kamu jangan keterlaluan gitulah, Gavin! Aku ini juga punya perasaan. Aku cinta sama kamu! Tapi, belum apa-apa aja, kenapa kamu udah mau ninggalin aku? Aku harus gimana?" isak Kalya keras, terlihat frustrasi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kalau kamu memang nggak benar-benar suka sama aku, jangan buat aku jatuh hati sama kamu, dong! Itu namanya jahat! Egois dan nggak punya perasaan." Ujar Kalya berikutnya.
"Aku tahu, aku ini nggak berharga. Tapi, bukan berarti kamu bisa mempermainkan aku kayak gini. Nggak ada yang mau menerima aku sepenuhnya. Nggak orang tua kandungku, nggak juga suami aku sendiri, semuanya sama! Nggak ada yang benar-benar mau menerima aku seutuhnya." Racau Kalya, lantas membuat hati Gavin yang mendengarnya merasa bersalah.
"Kal--"
"Ya udahlah, Gavin. Kalau memang kamu udah nggak ada rasa sama aku, nggak papa. Aku bakal belajar menerimanya. Aku--"
"Kamu itu kalo udah nangis, nyebelin banget tahu, nggak?" celetuk Gavin kesal, membuat Kalya semakin terisak mendengarnya.
"Gaviiin…!"
"Kan kan, makin jadi tuh, nangisnya…"
"Gavin!"
Gavin hanya tertawa melihat Kalya yang berteriak. Sok kuat, itulah penilaian Gavin terhadap wanita tersebut. Apa coba maksudnya dengan wanita lain? Seperti Gavin punya saja. Dan siapa katanya tadi, Anggi?
Ho, ingatkan Gavin untuk menegur wanita gila itu besok.
"Kalya… Sayang…" Bujuk Gavin manis, lantas memeluk wanita itu dengan lembut.
"Aku mencintai kamu." Bisik Gavin tegas, namun masih terdengar lembut di telinga Kalya.
"...Dari dulu… Sekarang… Nanti…" Ucap Gavin semakin mengeratkan pelukannya kepada Kalya. "Dan mari kita hidup bersama sampai tua."
"Gavin,"
"Aku udah capek, Kal. Aku capek nyari perempuan yang bisa gantikan posisi kamu di hati aku. Tapi, nggak ada satu pun yang sama. Di antara milyaran manusia yang ada, cuma kamu yang bisa…"
"Tapi, Anggi…?"
"Dia cuma perempuan gila. Nggak usah dipikirin."
"Tapi,"
"Udah. Kamu percaya sama aku." Gavin melepaskan pelukannya dari Kalya dan mengusap wajah basah wanita itu dengan lembut.
"Sampai kapan pun, hatiku ada di genggaman kamu." Ucap Gavin menatap Kalya serius, membuat Kalya semakin deg-degan melihatnya.
"Makasih,"
"Hm?"
Sedikit malu-malu, Kalya mendekatkan wajahnya kepada Gavin dan mencium bibir pria itu begitu lembut.
"Hatiku juga ada di tangan kamu. Maka dari itu, jangan dihancurkan, ya?" pinta Kalya rendah, sungguh membuat adrenalin Gavin bergerak drastis.
Ini dia! Ini dia, pernyataan yang Gavin harapkan selama ini dari Kalya. Selama belasan tahun, momen inilah yang paling Gavin impikan dari wanita tersebut. Mendapatkan kata cinta, serta penyerahan hati seutuhnya untuk Gavin.
"Rasanya aku mau mati, karena nggak ingin menggantikan momen sempurna ini dengan kejadian apapun."
"Gavin,"
Gavin yang tampaknya sangat berbahagia itu langsung menangkup kedua pipi Kalya dan melumat bibir wanita itu kuat-kuat.
Seperti kembang api, hatinya sedang meledak-meledak saat mendengar pernyataan cinta Kalya kepadanya. Mengecupi semua sudut wajah wanita itu adalah hal yang paling Gavin inginkan saat ini.
"Gavin…!"
Kalya yang merasa sesak napas atas kelakuan pria itu, langsung memukul dada Gavin geram, dan melihat pria itu tertawa.
"Aku bahagia, Sayang… Bahagia banget…" Ucap Gavin menempelkan dahinya dengan Kalya yang juga merasakan hal sama seperti yang dirasakan oleh Gavin saat ini.
"Gavin,"
"Hm?"
"Lihat aku,"
Gavin yang tadinya menutup mata, memandang wajah Kalya yang memerah.
Tidak berapa lama, Gavin menutup matanya lagi, sewaktu Kalya maju dan gantian menciumi bibir Gavin.
Bukan hanya mencium saja sih, tapi Kalya sudah berani melingkarkan tangannya di leher Gavin dengan gerakan bibir yang menggesek setiap inchi mulut Gavin. Bahkan Kalya juga terlihat sudah berani memasukkan lidahnya ke dalam mulut Gavin, hingga pria itu terkejut melihatnya.
"Kal!"
Gavin yang merasa dadanya bergemuruh, segera menarik diri dan menjauhkan tubuh perempuan itu darinya.
"Kenapa?"
Terlihat raut wajah malu sekaligus kecewa Kalya, saat menerima penolakan Gavin atas dirinya.
"Kamu…"
Dengan menggigit bibir bawahnya gugup, Gavin mencoba membuang pandangannya ke arah lain.
"Jangan mancing-mancing! Aku… Aku takut kelepasan!" peringatkan Gavin kikuk, karena hasrat yang telah dibangkitkan Kalya barusan.
"Kalau kelepasan, ya udah… Ayo," ucap Kalya halus, begitu samar, yang sontak membuat kedua matanya membola.
"Kal,"
"Aku udah siap, Gavin… Aku… mau jadi istri kamu yang seutuhnya. Istri… Yang benar-benar istri untuk kamu… Melayani kebutuhan fisik… Dan juga biologis kamu. Aku--"
"Kamu nggak takut? Aku nggak mau kalau kamu terpaksa loh, Kal… Aku bisa tahan kalau kamu--"
"Gatel banget nggak, sih, kalau aku bilang aku mau?"
Dengan gerakan cepat, Kalya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Gavin, aku… mau kamu," ucap wanita itu dengan wajahnya yang sangat merah --sampai ke telinga-- melihat Gavin yang tercengang mendengarnya.
"Kal, kamu…"
"Gavin, aku--akh!"
Kalya yang tidak menyangka kalau Gavin akan langsung menyerangnya seperti ini, langsung terpekik, ketika pria itu membopongnya ke dalam kamar.
"Gavin!"
"Mumpung kamu mau, ayo!"
***
Udara yang memenuhi kamar Gavin dan juga Kalya terasa cukup panas. Selama hampir dua jam ini, sepasang suami istri itu terus bergelut dalam pusaran gairah cinta yang membara. Desah napas yang hangat serta hawa keringat yang menguar dari dua tubuh itu, langsung menambah kesan erotis dalam balutan malam mereka yang panjang. Saking nikmatnya, mereka sampai lupa, kalau mereka belum mengisi makanan ke dalam perut masing-masing.
"Gavin," panggil Kalya serak, mengusap lengan Gavin yang saat ini tengah berada di antara perut dan dada Kalya.
"Hm,"
"Kamu… Beneran, nggak ada hubungan apa pun sama perempuan yang bernama Anggi itu?" tanya Kalya, pada Gavin yang memejamkan matanya lelah di samping Kalya.
"Enggak,"
"Bener?"
"Iya,"
"Buktinya?"
Gavin yang sayup-sayup terdengar seperti orang yang hendak tertidur, mengangkat kepalanya yang tadi berada di atas leher istrinya.
"Buktinya, apa?" tanya Kalya tersenyum tipis, pada Gavin yang memandangnya.
"Aku baru tahu, kalau kamu sejatuh cinta ini sama aku," kata Gavin tiba-tiba parau, santai, dan gaya mengantuk, mengedipkan mata beratnya beberapa kali kepada Kalya.
"Eh, emang apa urusannya? Aku kan cuma nanya, apa bukti kamu nggak ada hubungan apapun sama perempuan itu? Kok kamu malah ngomong gitu, sih? Kamu mau ngelak?" tuduh Kalya sengit, menatap Gavin curiga.
"Kamu jangan coba-coba buat bohong ya, Gavin! Aku baca sendiri kok, kalau dia--"
Tuduhan-tuduhan bernada sinis yang hendak Kalya lontarkan pada Gavin, mendadak berhenti, tatkala pria itu kembali menenggelamkan bibir Kalya yang sudah bengkak dalam pagutan bibirnya.
Sekali lagi, untuk hitungan beberapa detik, hanya suara decapan sensual yang terdengar menggema dalam ruangan tersebut.
"Ehm, aku mungkin bisa ngelakuin ini lagi sama kamu, kalo nggak ingat kamu lagi hamil anak kita sekarang." Geram Gavin menggigit bibirnya gemas, menatap Kalya yang hanya tersenyum menatapnya.
Dari sorot matanya, Kalya bisa tahu, kalau Gavin pasti tengah menginginkan dirinya lagi.
"Nanti, ya… Setelah anak kita lahir dan masa nifas aku selesai, kita lakuin berapa kali pun kamu mau. Oke?" kata Kalya bersemu, melihat tatapan menggoda Gavin yang memainkan alisnya menatap Kalya.
"Bener?" tanya pria itu, sontak membuat Kalya tersipu, dan menarik leher Gavin untuk dipeluknya.
Seolah ingat dengan apa yang mereka bahas sebelum ini, membuat wajah Kalya kembali terlihat murung.
"Aku kepikiran. Kamu bilang nggak ada apa-apa, tapi dia berani manggil sayang sama kamu. Gimana, sih?" gumam Kalya pelan, namun terdengar jelas di telinga Gavin karena posisi wajah wanita itu yang ada di dalam lekuk lehernya.
Sebegitu takutnyakah Kalya pada Gavin yang mungkin akan berpaling?
"Kalau itu, kamu nggak usah khawatir. Aku jamin, aku nggak ada hubungan apa pun sama dia, ataupun perempuan lain di luar sana." Ucap Gavin lembut, mengusap punggung Kalya halus.
"Dia itu memang kebiasaan. Jangankan sama aku, sama cowok lain atau perempuan lain juga, dia kayak gitu. Agak miring anaknya..." Keluh Gavin kemudian, melepaskan pelukannya dari Kalya.
"Tapi, aku janji, demi menghargai kamu dan perasaan kita, besok aku bakal memperingatkan dia untuk berhenti berbuat kayak gitu lagi sama aku. Oke?" ucap Gavin berjanji, pada Kalya sambil mengacungkan satu kelingkingnya pada wanita tersebut.
Meski terlihat sedikit tidak percaya, Kalya pun akhirnya mengaitkan jari kelingkingnya dengan Gavin, dan membuat pria itu terlihat senang karenanya.
"Ngomong-ngomong… Aku sama Anggi itu, cantikan mana, sih? Kok aku penasaran..." Tanya Kalya terdengar cukup kekanak-kanakan pada Gavin, yang langsung dibalas semangat oleh laki-laki itu.
"Ya, kamulah! Masa dia!" jawabnya.
"Bener?"
"Iya…"
"Kenapa?" tanya Kalya cemberut, semakin membuat Gavin tambah gemas terhadapnya.
"Ya, cantik aja. Di mata aku, kamu, dari ujung rambut hingga ujung kaki, terlihat begitu cantik. Bahkan bukan cuma luarnya aja. Dalam-dalamnya juga cantik. Aku suka." Jawab Gavin senang, menggesekkan sedikit hidungnya ke hidung Kalya.
"Ih! Masa dalam-dalamnya juga, sih?! Maksud kamu, ginjal sama paru-paru aku juga cantik, gitu?! Emang kamu pernah lihat?!" sengit Kalya sebal, yang malah membuat Gavin mencubit dagu perempuan itu geram.
Ada-ada saja memang perlakuan wanita itu untuk membuat Gavin gemas melihatnya.
"Jangan pura-pura nggak tahu, deh! Kalo aku kelepasan, baru kamu tahu rasa!" ujar pria itu memajukan bibirnya untuk mengecup bibir Kalya sekali.
Ah… Entah kenapa, Gavin merasa hidupnya sudah sangat sempurna saat ini.
Kalya, yang mendengar kalimat itu, bukannya takut, malah semakin menggoda Gavin dengan memasang wajah seksi pada pria tersebut.
Sambil menggigit dan menjilat sudut bibirnya, Kalya pun berbicara dengan nada suara yang mendesah. "Oh, ya? Kok aku takut, sih?"
"Kalya…!"
Seketika wanita itu terpekik, kala tangan hangat Gavin langsung terselip di bawah kedua ketiak Kalya dan menyerangnya di bagian itu. Membuat Kalya yang terkejut, langsung tertawa keras, hingga selimut yang tadi dipakaikan Gavin untuk menutupi tubuh polos mereka berdua, menjadi berubah bentuk.
"Gavin!"
Kalya yang malu, melihat Gavin tengah menatap intens pada dadanya, langsung terpekik sebal dan menarik selimut itu hingga menutupi wajahnya.
Sementara itu, Gavin yang merasa Kalya itu sangat lucu, hanya tertawa dan menatap gumpalan selimut dimana ada Kalya yang tengah bersembunyi di dalamnya.
"Kal, aku udah pernah bilang, belum, kalau kamu itu seksi?" tanya Gavin, membuat selimut yang tadi menutupi wajah Kalya, turun sedikit dan menampilkan tatapan sengit wanita itu kepadanya.
"Menghina banget, sih?! Bongsor gini dibilang seksi! Jahat, kamu!" rutuk Kalya, hendak menutupi wajahnya lagi dengan selimut, yang kali ini segera ditahan oleh Gavin.
"Eh, jangan salah, loh… Setiap cowok itu, punya penilaian masing-masing perihal kata seksi. Termasuk aku." Kata Gavin, membuat Kalya berpikir sejenak.
"Bagi aku, kamu senyum ada udah kelihatan seksi banget. Apalagi, kalau kamu goyangin pantat kamu yang besar ini. Uh…" Tepuk Gavin gemas pada bokong Kalya, yang sontak membuat Kalya terpekik dengan suara teriakan tertahan.
"Gavin! Kamu, tuh…!"
Dan untuk kesekian kalinya, omelan Kalya tenggelam dalam pagutan mesra bibir Gavin yang melahapnya. Tampak pria itu mengecup bibir Kalya lembut, dan mendapat balasan hangat dari Sang Istri.
"Hm, Gavin… Katanya cuma sekali… Aku 'kan lagi hamil…" Peringatkan Kalya serak, seperti orang yang tengah menahan hasratnya sekuat tenaga.
Sambil mengatur napasnya yang tersengal, Gavin kembali menatap mata Kalya dengan tatapan yang sudah tersulut oleh kabut gairah.
"Satu kali lagi… mau 'kan?"
Bersambung