Be My Brides

Be My Brides
Episode 33



Sekarang, Thalita sudah berada di ruang rawat inap. Karena tidak ada yang menjaganya, Ricko terpaksa menunggu wanita itu di sana. Berharap Thalita segera sadar dan menjelaskan apa yang sebenarnya tengah wanita itu pikirkan hingga bisa jadi seperti ini. 


Ricko yang sejak siang kemarin belum makan, pun merasa kelaparan. Dia berjalan menuju plastik putih yang ada di atas meja, dan mengambil sebungkus nasi yang tadi sempat ia titip melalui petugas kebersihan di sana. Dia takut, jika dia meninggalkan Thalita sendirian, dan wanita itu sadar saat dia tidak ada di sana, perempuan itu akan melakukan sesuatu hal yang lebih buruk lagi daripada ini. 


"Ricko," 


Baru saja Ricko hendak membuka bungkus nasi miliknya, suara serak Thalita sudah terdengar dari arah belakang, dan membuat pria itu terkejut. 


"Tha," 


Ricko yang melihat Thalita berusaha membuka matanya, langsung mendekati wanita tersebut.


"Tha, kamu nggak papa?" tanya Ricko cemas, mengusap rambut Thalita pelan.


"Sebentar, aku panggilkan dokter," ujar Ricko, lantas meninggalkan Thalita sejenak dan berlari menuju meja perawat. 


Tidak berapa lama, dia pun kembali bersama seorang dokter dan satu orang perawat bersamanya. 


"Silakan, Bapak tunggu sebentar," pinta perawat tersebut pada Ricko, untuk memberikan ruang bagi dirinya dan juga dokter yang bertugas, memeriksa keadaan Thalita. 


Dengan harap-harap cemas, Ricko pun mundur, melihat bagaimana cara dokter tersebut memeriksa kondisi Thalita saat ini. 


"Bagaimana keadaannya, dokter? Dia baik-baik aja, kan?" tanya Ricko beruntun, dibalas anggukan kepala dari dokter itu. 


"Keadaannya sudah mulai membaik. Untuk sementara, biarkan dia istirahat beberapa hari, sampai luka di lengannya benar-benar kering. Dan usahakan…" Sejenak, dokter laki-laki tersebut melirik ke arah Thalita. 


"Jangan biarkan dia sendirian. Saya khawatir, dia akan melakukan hal seperti ini lagi tanpa pengawasan. Karena, sepertinya, ini bukan kali pertama dia melakukan hal semacam ini." Nasihat dokter tersebut terdengar datar, yang membuat Ricko semakin cemas dan menganggukkan kepalanya lemas. 


"Iya, dokter. Terima kasih," ucap Ricko mendesah panjang. 


Selanjutnya, dokter tersebut dan perawat yang tadi  mengikutinya, keluar dari ruangan. Menyisakan Ricko yang terdiam, memandang Thalita yang tengah menatap langit-langit kamar dengan datar. 


Pelan, Ricko mendekati wanita tersebut. Dia duduk di kursi samping ranjang Thalita, dan menatap wajah wanita itu lama. 


"Kenapa kamu nolong aku?" tanya Thalita pelan, dengan tatapan yang terus menuju atap kamar, tanpa menoleh sekalipun. 


"Karena kamu terlihat butuh pertolongan."


"Tapi, aku--" 


"Aku nggak mau dikira pembunuh, cuma karena ninggalin kamu yang lagi dalam keadaan sekarat di apartemen kamu. Kamu--" 


"Aku cuma mau lihat wajah kamu." Sela Thalita menolehkan kepalanya pelan, seiring dengan tetes air matanya yang mengalir. 


"...Untuk yang terakhir kalinya." Ucap Thalita tersendat, menatap lekat wajah Ricko yang pias. 


"Tha," 


"Tha…" 


Thalita memejamkan kedua matanya dan bergumam. "Aku selalu merasa tenang, waktu kamu nyebut namaku kayak gitu. Aku merasa disayang, setiap nama Tha keluar dari mulut kamu. Cuma kamu yang nyebut aku kayak gitu. Karena cuma kamu, yang mungkin sayang sama aku." 


Tiba-tiba, suara Thalita terasa tercekat. 


"Maafin aku ya, Ko… Maafin aku, yang udah bikin hidup kamu berantakan." Ucap Thalita tulus, dengan berlinang air mata. 


"Kenapa kamu ngelakuin ini, Tha? Apa yang buat kamu berpikir--" 


"Aku pengen ketemu Papa," sela Thalita lemah, membuat mulut Ricko terbungkam. 


"Aku udah capek. Aku rasa, aku udah nggak punya hak apapun lagi untuk hidup di dunia ini. Aku--" 


"Kamu bukan Tuhan ataupun dewa, Thalita. Jadi, berhenti bicara omong kosong!" peringatkan Ricko setengah emosi, pada Thalita yang menggelengkan kepalanya lemah. 


"Kamu laki-laki yang baik, Ricko. Sangat baik. Aku harap--" 


"Kalau aku memang laki-laki yang baik, kenapa kamu ninggalin aku, Tha? Kenapa? Kamu--" 


"Karena aku nggak berani merusak hidup kamu yang nyaris sempurna, Ricko! Aku nggak bisa!" seru Thalita bergetar, dengan wajah yang semakin memucat.


"Aku mencintai Gavin, karena aku merasa sifat Gavin yang kasar, kelak bisa melindungi aku dari orang yang mau jahatin aku. Aku cuma mau--" 


"Tapi, Gavin udah menikah. Dan sebentar lagi, dia juga bakal punya anak." Ingatkan Ricko lagi, pada Thalita yang menganggukkan kepalanya lemah. 


"Aku tahu…" Lirih wanita itu bergetar. "Karena itu, aku berhenti." Sambungnya lagi, nyaris tak terdengar. 


Air mata kembali mengalir di kedua sudut mata Thalita, saat bibirnya yang putih, kembali bergetar. 


"Aku pernah coba untuk mencintai kamu dan terima semua hal yang terjadi dalam hidup aku dengan lapang dada. Tapi, itu semua nggak mudah. Aku nggak bisa melakukannya. Kamu terlalu baik. Dan itu membuat hatiku semakin takut, jika harus merusak kehidupan kamu yang damai. Aku…"


Thalita yang sudah tidak kuat menahan bebannya seorang diri, menangis tersedu. Wajahnya yang pucat, perlahan berubah menjadi merah, bersamaan dengan napasnya yang perlahan-lahan mulai tidak beraturan.


"Tha,"


Ricko yang tidak tega melihat Thalita begitu tersiksa, berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh wanita itu dengan sedikit berbaring. 


Diusapnya lembut puncak kepala Thalita dan membiarkan mantan kekasihnya itu untuk menangis sepuasnya. 


Tidak apa-apa. Untuk kali ini, Ricko benar-benar ingin menjadi tempat sandaran bagi Thalita, meskipun hanya sementara.


"Aku sakit, Ko. Aku merasa, aku sakit…" Adu Thalita sesegukan, mengangkat tangannya ke arah kepala. 


"Di sini… Aku rasa, aku sakit di sini, Ko… Aku sakit… Otakku, pikiranku… Semua yang ada di sini sakit. Aku nggak tahu harus berbuat apa! Aku--" 


Ricko merasa Thalita sudah mulai meracau dalam pelukannya. Dia tahu, kalau sebelum ini, Thalita banyak mengalami tekanan batin yang terlihat dari beberapa tingkah wanita itu yang sedikit aneh. Seperti halnya menjadi orang yang sangat egois, serta pengendalian emosi yang terkadang terbilang sangat buruk.


Tapi, jauh dari itu semua, Ricko tidak menyangka, kalau luka yang Thalita pendam, jauh lebih banyak dan bisa membuatnya hampir mati seperti ini. 


"Thalita, udah ya, Tha… Jangan nangis lagi… Udah…" Bujuk Ricko lembut, mendekap bahu Thalita yang bergetar, saat wanita itu semakin meraung dalam pelukannya. 


"Kamu nggak sakit, Tha. Kamu sehat. Kamu baik-baik aja… Kamu cuma lagi terluka, oke?" bujuk Ricko lagi, merasa terenyuh dengan Thalita getaran tubuh Thalita yang terasa begitu menyedihkan. 


Tubuhnya seolah tahu, kalau saat ini dia tidak punya sandaran apapun. Merasa dingin, dan tidak punya tangan untuk membantu menegakkannya. 


Lama Thalita menangis dalam dekapan Ricko, hingga akhirnya menyisakan isakan-isakan halus yang keluar dari mulutnya. 


"Ko," panggil Thalita dengan serak. 


"Hm," 


"Kamu… mau jadi teman aku kan?" tanya Thalita bergetar, membuat Ricko menghentikan belaiannya di kepala perempuan itu.


"Aku tahu, aku ini perempuan yang nggak tahu diri. Tapi, cuma kamu yang aku punya. Aku…" Thalita menelan ludahnya susah payah, meremas lengan Ricko yang memeluk kepalanya.


"Aku nggak punya teman, Ko. Nggak ada yang mau berteman sama orang egois dan nggak waras kayak aku. Kamu--" 


"Tha, dengar aku…"


"Kamu nggak gila! Aku yakin, kamu waras seratus persen! Kamu sehat! Kamu cuma lagi sakit hati aja. Dan itu nggak berarti kamu akan menderita selamanya. Pasti ada masanya, kamu--" 


"Kapan?" sela Thalita kembali menangis, dengan suara yang hampir terdengar habis. 


"Kapan aku bisa bahagia, Ko? Kapan?! Sejak kepergian Papa, aku nggak pernah merasakan kebahagiaan lagi. Mama cuma menganggap aku sebagai beban! Semua yang aku lakukan salah! Aku nggak berguna! Kata Mama, aku nggak berharga! Mama nggak sayang aku. Sedangkan suami Mama dan anak-anaknya, memperlakukan aku kayak boneka! Mereka memanfaatkan aku. Mereka--" 


"Thalita…!" 


Tubuh Thalita tiba-tiba merosot. Dia terkulai dengan kedua mata yang menatap sayu langit-langit kamar. Sepertinya, kondisi tubuhnya kian memburuk dengan emosi yang menggelegar dalam diri wanita itu. 


"Aku akan panggil dokter." Ujar Ricko cemas, hendak meninggalkan Thalita di ruangannya. 


Namun, saat Ricko hendak berbalik, tangan Thalita sudah menahannya lemas, dan membuat Ricko berhenti. 


"Nggak usah. Aku nggak papa." Lirih Thalita seperti bergumam, membuat hati Ricko kembali terenyuh.


Masih dalam balutan emosi yang tidak stabil, Ricko lantas memeluk Thalita dan berbisik di telinga wanita tersebut. 


"Aku mau jadi teman kamu."


***


Nia sedang menyiapkan makan malam untuk keluarganya, ketika Gavin tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah, dengan menghempaskan pintu depan mereka dengan sangat kencang. 


Saking kerasnya, dentuman pintu tersebut terdengar nyaring sampai ke dapur. 


"Gavin?" sontak Nia terkejut, mengintip dari arah dapur, Gavin yang sudah masuk ke dalam kamarnya. 


"Bi, Gavin kenapa?" tanya Nia pada salah satu asisten rumah tangga mereka, Bik Ratmi, yang tampaknya juga baru datang dari arah depan. 


Sambil menggeleng, Bi Ratmi pun menjawab. "Nggak tahu, Nya. Tadi juga, pas turun dari mobil, muka Den Gavin udah ditekuk kayak gitu."  Jelas Bik Ratmi, juga merasa heran dengan sikap majikan mudanya, Gavin. 


"Oh, ya udah. Kalau gitu, tolong Bibi berdua selesaikan masakannya. Saya mau temui Gavin dulu di kamarnya." Ujar Nia pada dua asisten rumah tangganya, yang dibalas anggukan oleh mereka berdua. 


Cepat Nia berjalan ke arah kamar Gavin yang tidak jauh dari dapur. Sambil menarik napas panjang, wanita paruh baya itu membuka pintu kamar anaknya yang ternyata tidak terkunci. 


"Gavin," panggil Nia pelan, melihat Gavin yang sedang membelakanginya dengan dua tangan bertolak pinggang. 


"Gavin, kamu kenapa?" 


Gavin yang tampaknya sedang emosi, hanya melirik ke arah ibunya sejenak, sebelum akhirnya kembali berpaling. 


"Ngapain Mama ke mari?" tanyanya tidak bersahabat, pada Nia yang justru mengerutkan dahinya bingung. 


"Ini kamar anak Mama. Masa Mama udah nggak boleh masuk ke mari?" tanya Nia dalam, memperhatikan punggung Gavin yang naik turun dengan begitu kentara. 


Sementara itu, Gavin yang tidak menjawab, hanya membuang pandangannya ke arah lain. 


"Kamu kenapa? Kok pulang-pulang, muka kamu ditekuk gitu? Kamu marah?" tanya Nia lagi, mendekati Gavin, yang kali ini membuang napasnya kasar. 


"Nggak," sahutnya berbohong. 


"Enggak?" beo Nia curiga, kemudian berpikir sejenak. 


"Oh, kalau gitu, gimana keadaan Kalya dan kandungannya? Apa mereka baik-baik aja?" tanya Nia memperhatikan wajah Gavin lebih seksama lagi. 


Entah kenapa, dia merasa kalau kemarahan Gavin kali ini pasti ada sangkut pautnya dengan Kalya. 


Dan saat dia melihat muka anaknya itu mencebik, dia yakin kalau tebakannya barusan adalah benar. 


"Sehat." 


"Terus?" pancing Nia, membuat Gavin melirik tajam ke arahnya. 


"Terus, kalau memang anak dan istri kamu itu keadaannya sehat, kenapa muka kamu cemberut gitu? Kamu nggak senang, mereka baik-baik aja? Kamu marah, kalau ternyata mereka nggak kenapa-kenapa?" terka Nia, semakin memancing Gavin yang terlihat tidak terima dengan ucapan ibunya. 


"Mama ini kenapa, sih?! Ya, enggaklah! Mana mungkin Gavin nggak suka, kalau mereka sehat! Gavin cuma--" 


Gavin yang melihat tampang penasaran Nia, menghentikan ucapannya. Dia berpikir, apakah logis, jika dia mengatakan pada ibunya alasan sebenarnya dia terlihat marah? 


"Kamu… nggak mau cerita?" tanya Nia sebenarnya berharap, kalau Gavin akan membuka mulutnya tentang masalah ini. 


"Itu… Gavin…"


Gavin yang tadinya sempat bimbang, akhirnya membuang napas berat.


"Ini soal Kalya, Ma…" Beritahu Gavin lemas, duduk di ranjangnya dengan tangan yang saling genggam satu sama lain.


"Kalya? Emang, kenapa dengan dia?" tanya Nia, juga duduk di samping Gavin, dan bersiap untuk mendengar curahan hati anaknya tersebut. 


Sambil meremas jarinya resah, Gavin menatap lantai kamarnya datar. 


"Kayaknya… Kalya nggak mencintai Gavin deh, Ma. Gavin merasa kalau dia--" 


"Kamu baru tahu?" sela Nia cepat, terdengar agak terkejut, membuat Gavin menoleh ke arahnya. 


"Jadi, kamu marah-marah gini, cuma karena Kalya nggak mencintai kamu? Mama pikir, kamu udah tahu…" Ujar Nia mengernyit, melihat Gavin yang menatapnya tidak berkedip. 


"Maksud Mama?" tanyanya tidak mengerti. 


"Ya, maksud Mama, seharusnya kan kamu udah paham soal resiko itu sebelumnya. Jadi, kenapa baru sadarnya sekarang?" kata Nia, lagi-lagi membuat Gavin terheran. 


Sesaat, Nia menggelengkan kepalanya sebentar, dan membuang napas panjang.


"Kamu ingat, gimana caranya kamu bisa nikah sama Kalya?" tanya Nia lagi, seketika menyadarkan Gavin atas perbuatannya. 


"Bukan hal mudah, bagi seorang perempuan menerima laki-laki yang sudah menghancurkan masa depannya, Gavin! Butuh hati yang kuat untuk menerima semuanya. Apalagi, Kalya terlanjur mengandung anak dari kamu. Jadi, apa yang bisa dia lakukan, selain menerima kamu sebagai suaminya. Apa kamu nggak mikirin perasaan dia?" cecar Nia sedikit marah, melihat Gavin yang semakin menundukkan kepalanya dalam. 


"Kamu jangan egois gitu, Gavin. Mama lihat, kok, gimana Kalya udah berusaha untuk menganggap kamu sebagai suaminya. Tapi, ya mungkin susah aja, karena dia udah jadi Tante kamu selama bertahun-tahun." Ujar Nia, lantas menarik napas panjangnya sekali. 


"Semua butuh proses. Merubah kebiasaan dan pandangan hidup itu, nggak semudah membalikkan telapak tangan. Dan kalau kamu memang benar-benar mencintai Kalya, kamu nggak akan berpikir untuk menuntut dia kayak gini." Tandas Nia, melihat Gavin yang perlahan-lahan menoleh ke arahnya. 


"Mama nggak berniat memojokkan kamu, Gavin. Mama cuma mau kamu sadar, kalau ini adalah konsekuensi dari semua perbuatan kamu terhadap dia. Kamu bisa mengambil jalan mudah untuk mendapatkan raganya. Tapi, enggak untuk hatinya, yang udah kamu hancurkan lebih dulu." Sambung Nia, mengusap bahu Gavin, yang terlihat lesu setelah mendengar kata-katanya. 


"Sekarang kamu udah menjadi seorang suami. Sudah seharusnya kamu memahami apa yang istri kamu rasakan saat ini. Karena kalau bukan kamu, nggak akan ada lagi tempat bagi Kalya untuk bersandar. Jadi, jangan egois." Tekan Nia, membuat Gavin terdiam tak bersuara. 


Sebenarnya, dia merasa kasihan juga dengan anaknya itu. Sudah menjadi seorang suami, tapi belum mendapatkan cinta selayaknya seorang lelaki. 


"Kalau kamu memang ingin Kalya mencintai kamu…" Pelan, Nia merengkuh bahu Gavin dan mengusapnya. 


"Kamu bisa memulainya dengan cara yang lembut."


Bersambung