
Kalya dan Gavin baru saja pulang dari acara pernikahan Ricka. Setelah sebulan yang lalu salah satu kakak kembarnya melaksanakan pernikahan, tiba-tiba saja Ricka datang membawa kabar kalau dia akan menikah dengan seorang pria yang wajahnya saja baru Kalya lihat saat acara pernikahan tadi.
Semua serba mendadak. Bahkan Ricka dengan teganya melangkahi satu kakak kembarnya --Ricky-- yang belum juga mempunyai kekasih pasca patah hatinya ditinggal Hana menikah bersama Ricko.
Dramatis? Itulah yang terjadi antara ketiga keponakan, sekaligus iparnya tersebut.
Jam sudah menunjukkan angka delapan malam, ketika Kalya mulai masuk ke dalam kamar tidurnya bersama Gavin, dan mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Terdengar suara helaan napas panjang Kalya seperti orang kelelahan, ketika pintu kamar tidurnya kembali terbuka dan menampilkan Gavin yang tengah membawa anak mereka di dalam gendongan.
"Loh, kamu belum ganti baju juga? Kok, udah main tiduran aja?" Gavin menegur Kalya, dengan suara khasnya yang lembut terhadap wanita itu.
"Iya, belum Mas." Jawab Kalya, segera bangkit dari rebahannya dan menghampiri Gavin dengan tangan yang terbentang lebar.
"Kamu pasti capek deh, seharian ini bawa Gian terus. Sini! Biar aku aja yang--"
"Nggak usah. Biar aku aja yang urus. Mending, sekarang kamu ganti baju, terus istirahat."
"Loh, tapi--!"
"Udah… Nurut aja sama suami. Kamu ganti baju aja sana!" perintah Gavin tegas, pada Kalya yang tampak sedikit kecewa, ketika Gavin melewatinya begitu saja, dan meletakkan Gian yang tertidur di tengah ranjang besar milik mereka.
"Mas, mending Mas aja deh, yang duluan mandi. Mas pasti capek banget deh, hari ini jagain Gian terus. Biar Gian, aku aja yang gantiin bajunya."
Kalya sudah berjalan menuju lemari kecil yang berisi pakaian Gian dan hendak mengambil baju ganti untuk anak mereka, saat tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Gavin dari arah belakang.
"Udah, nggak usah. Biar aku aja. Nggak papa, kok," ucap Gavin lembut, sembari tersenyum kepada Kalya dan mengusap kedua pipi wanita itu pelan.
"Ya, tapi Mas, masa--"
"Perlu aku yang gantiin baju kamu sekarang? Atau, perlu aku yang mandiin kamu juga? Kamu pengen, aku pegang-pegang badan kamu? Iya? Kalau iya sih, aku--"
"Mas!"
Gavin masih mengoceh panjang, mengutarakan niat mesumnya terhadap Kalya, saat wanita itu merasa jengah dan langsung memelototkan kedua matanya memandang Gavin dengan garang.
"Kamu lupa, aku lagi hamil sekarang?" sengit Kalya sewot, menatap sebal ke arah Gavin yang justru menanggapinya santai dengan menaikkan kedua bahunya sejenak.
"Kalau aku lupa, nggak mungkin aku suruh kamu istirahat seharian ini, kan?" balas Gavin memutar bola matanya malas, lantas bersandar di pintu lemari kecil milik Gian, sembari menggoda Kalya yang tampak jengkel menatapnya.
"Aku cuma lagi iseng-iseng berhadiah doang, kok. Ya, siapa tau aja, pas aku tanya gitu, kamu mau… Kan kamu pernah bilang, kalau masa nifas kamu udah abis, kamu mau ngelakuin itu sama aku kapanpun juga. Iya kan?" Gavin mencolek dagu Kalya genit dan kembali melemparkan kerlingan nakalnya lagi kepada perempuan tersebut. Membuat Kalya mendengus menaikkan sebelah bibirnya jengkel.
"Oh, ya… Selamat kalau begitu, karena keisengan bapak selama ini telah mendapatkan hadiah janin dalam perut saya. Bagaimana perasaan Anda? Apakah menyenangkan, hm?" balas Kalya dengan gaya yang sama, mencolek dagu Gavin yang terdiam dan menatap ke arah perut berisi istrinya.
"Emh…,"
"Aku aja belum sempat diet pasca melahirkan anak pertama, kamu udah main langsung menghamili aku aja untuk anak kedua. Benar-benar keterlaluan kamu itu…" Gerutu Kalya sebal memandang Gavin dengan kedua sorot matanya yang sinis.
"Lah, sayang… Kenapa ngomel, sih? Nggak boleh gitu, tau… Anak itu rezeki. Kehadirannya nggak boleh dipersalahkan, karena itu kehendak Tuhan. Jadi--"
"Iya, tau… Kata-kata Mas itu, ya emang selalu gitu. Anak itu pembawa rezeki. Banyak anak, banyak rezeki. Nah, biar rezeki kita banyak, kita juga harus punya anak yang banyak. Mas mau bilang gitu, kan? Iya, kan?!" sengit Kalya mengomel, mendesak Gavin yang malah mengulum senyum menatapnya.
"Kebaca, ya?"
"Iya!"
***
Malam sudah semakin larut. Tapi Kalya masih tetap setia dengan kedua matanya yang terjaga, sambil terus menatap langit-langit kamarnya yang terlihat gelap.
"Kok belum tidur?"
Suara berat Gavin terdengar dari arah samping Kalya. Terlihat pria itu membuka matanya kembali, setelah beberapa jam yang lalu sudah tertidur, bersama dengan Gian yang saat ini mengisi ruang di antara dirinya dan juga Gavin.
"Belum ngantuk." Jawab Kalya, memiringkan tubuhnya, menghadap Gian dan juga Gavin.
"Kok belum ngantuk? Udah jam berapa ini?" tanya Gavin heran, berusaha melihat jam weaker yang ada di atas nakas di samping dirinya.
"Udah mau subuh loh, Kal. Kok belum tidur juga sih? Mau aku tidurin?" tawar Gavin masih dengan suara beratnya, membuat Kalya mendecak dan hendak memukul suaminya tersebut, andai tidak ada Gian di antara mereka.
"Ih, Mas! Bisa nggak, jangan ngomong kayak gitu?! Lagi ngantuk juga, masih aja ngomong kayak gitu…! Gimana, sih?!" omel Kalya tertahan, yang hanya dibalas Gavin dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
"Ya abis, ini udah malem banget, tapi kamu belum tidur juga. Emang nggak ngantuk?" tanya Gavin, memandang Kalya dengan kedua sorot matanya yang sayu.
"Ngantuk, sih… Cuma nggak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Nggak tau! Mungkin, karena seharian ini aku kebanyakan istirahat, makanya aku nggak bisa tidur sekarang, ya?" gumam Kalya lebih pada dirinya sendiri, yang juga merasa heran.
Mengantuk. Tapi, matanya tidak bisa diajak kerjasama untuk tidur.
"Oh, gitu…" Desah Gavin sesaat, kemudian mengusap kedua matanya beberapa kali, sebelum akhirnya bangkit dari rebahannya.
"Loh, Mas mau kemana?" tanya Kalya bingung, melihat Gavin turun dari ranjang mereka dan mulai mengangkat Gian.
Gavin tidak menjawab. Dia justru meletakkan Gian di dalam box bayinya yang memang sengaja diletak tidak jauh dari ranjang orang tuanya.
Lalu, setelah menyelimuti bayi gempal itu dengan sebuah selimut tipis, Gavin beranjak kembali ke atas ranjang dan merapatkan tubuhnya kepada Kalya.
"Sini!" panggil Gavin, menyuruh Kalya untuk meletakkan kepalanya di atas lengan Gavin yang terulur. Menjadikannya sebuah bantal, maksud Gavin.
"Ngapain, sih? Mas tidur ajalah…" Tolak mulut Kalya, tapi malah menggeser tubuhnya seperti apa yang Gavin minta.
Entah sejak kapan, perempuan itu menjadi sosok wanita yang munafik. Suka sekali menolak di bibir, tapi tubuhnya selalu melakukan yang sebaliknya. Gavin kan, jadi suka…
"Nah, sekarang pejamin mata kamu dan tidur. Ini udah malam. Nggak baik, ibu hamil tidurnya larut banget." Pinta Gavin lembut, dengan nada suaranya yang masih serak, sembari menepuk punggung Kalya dengan pelan.
"Ih, Mas… Kok punggung aku ditepuk-tepuk, sih? Emang aku anak kecil, apa?" protes Kalya yang memang terdengar seperti anak kecil.
"Lah, terus, kamu mau ditepuk apanya? Pantatnya? Boleh…"
"Mas!"
Gavin tertawa kecil dengan matanya yang tertutup mengantuk, saat mendengar istrinya itu terpekik.
"Shuuut! Jangan teriak. Ntar, Gian bangun lagi. Kan nggak enak…" Bisik Gavin membuka matanya yang sayu dan mulai menatap wajah wanita itu lekat.
"Nggak enak apanya, sih?! Mesum kamu, ya!" omel Kalya sebal, kembali melihat Gavin memejamkan matanya lagi.
"Mesumin istri itu nggak dosa, kok… Ngapain takut?" ucap Gavin lemah, menarik kepala Kalya ke arah lehernya.
Tangan Gavin kembali mengusap punggung Kalya dengan lembut, sambil menepuknya sesekali. Gerakan tangan yang terkadang berhenti beberapa saat itu, membuat Kalya mendongak, dan menatap wajah Gavin yang tertidur.
Sepertinya, pria itu memang sedang mengantuk berat. Tapi, kenapa dia harus memaksakan diri untuk menidurkan Kalya?
Perlahan, Kalya melepaskan dekapan tangan Gavin dari tubuhnya. Dia menjauh sejenak, dan merubah posisi dengan memeluk kepala Gavin di dadanya. Tangannya juga bergerak mengusap rambut serta punggung pria itu. Menikmati setiap detiknya Gavin yang semakin larut dalam tidurnya.
Kasihan suaminya itu. Setelah melahirkan Gian dulu, Gavin yang selalu kerepotan mengurusnya. Bangun tengah malam hanya sekedar untuk menggantikan popok Gian yang basah ataupun membangunkan Kalya memberikan Gian ASI. Tidak peduli kalau paginya Gavin harus bekerja ataupun tidak. Gavin sangat menikmati perannya sebagai seorang ayah dan juga suami. Karena itulah, rasanya Kalya tidak keberatan saat tahu dirinya hamil di usia Gian yang masih menginjak lima bulan.
Kalau dipikir-pikir, takdir Kalya begitu aneh. Dia terdampar di sebuah keluarga yang mengangkatnya sebagai seorang anak. Mempunyai beberapa keponakan lucu, dimana salah satunya justru membuat Kalya jatuh cinta seperti ini. Menjadikannya istri dan merubah status Kalya yang tadinya seorang anak, menjadi seorang menantu.
Yah, mungkin benar apa kata orang-orang di luar sana. Kalau jodoh kita adalah dia yang memang memang berada di dekat kita. Dimana, saat waktunya sudah tepat, kita akan merasakan apa yang disebut dengan cinta.
Entahlah! Kalya tidak berani memikirkan perasaan yang lebih jauh lagi daripada ini. Malu. Dia sudah cukup tua untuk memikirkan hal-hal dan kata cinta layaknya seorang remaja. Meskipun kelakuannya terkadang bisa lebih kekanak-kanakan daripada Gavin, tapi tetap saja dia tidak bisa membantah usia yang terbentang antara mereka.
"Tapi, yang namanya jodoh, mah… Mana ada lihat umur," batin Kalya tersenyum, kemudian ikut memejamkan kedua matanya memeluk Gavin.
"Satu yang aku minta malam ini. Semoga aja… Jodoh kita sangat panjang."
***