
Semangat hidup Gavin yang kemarin sempat terlihat redup karena berselisih paham dengan istrinya, kini sudah kembali menyala. Dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya, Gavin terlihat seperti sosok Gavin yang baru. Raut wajah dingin dan tegang, sedang tidak bersarang di wajah tampannya saat ini. Membuat aura jantan yang selalu melekat pada dirinya, semakin terasa kental dengan senyuman penuh pesona yang ditebar untuk semua makhluk yang dia temui.
"Selamat pagi, Gavin…" Sapa Anggi yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja mereka, dan melihat Gavin yang tengah sibuk di sana.
"Aduh… Kekasih hati Anggi, kok ceria banget, sih, hari ini? Ada apa?"
Gavin yang tadinya tengah merapikan meja --padahal sudah rapi sejak kemarin dia tinggalkan-- menoleh dan mendapati Anggi sudah menyandar manis di depan meja kerjanya.
Senyum yang sejak tadi bertengger di bibir manis pria tersebut, mendadak berubah masam, begitu dia melihat perempuan itu berada di sana.
Nah, ini dia. Orang yang kemarin sempat menjadi duri dalam hubungannya dan juga Kalya tengah berdiri di hadapannya.
Sambil mendecak dan memasang tampang tidak enak, Gavin membalas. "Bukan urusan lo,"
"Ah, Gavin… kamu kok suka banget sih, ngomong kasar ke aku? Kamu suka yang kasar-kasar, ya…?" goda Anggi genit, terkekeh pelan, melihat Gavin yang mendesis.
"Udah deh, Mbak. Lo nggak usah gangguin gue lagi! Pusing gue lihat kelakuan lo!" ujar Gavin sebal, membuat Anggi memundurkan kepalanya sejenak dan mengernyit.
"Loh, gue bikin lo pusing? Kapan? Perasaan, gue baru datang, deh..." Tanya Anggi heran, melihat Gavin yang membuang napasnya malas.
"Lo pernah kan, kirim sms dengan kata-kata sayang ke gue?" tanya Gavin, yang bukannya merasa malu, malah mendapat anggukan enteng dari Anggi.
"Sering. Kenapa?" jawabnya, lagi-lagi membuat Gavin semakin mendengus kesal.
"Lo, tahu? Gara-gara itu, gue sama istri gue hampir ribut tahu, nggak!" ujar Gavin keras --sedikit banyak-- membuat Anggi terkejut.
"Hah? Ribut? Gara-gara gue?" tunjuknya pada diri sendiri, yang kali ini dibalas Gavin dengan seringai wajah sinis.
"Gara-gara sms lo,"
"Loh, kok bisa? Emang…"
"Dia pikir, gue ada hubungannya sama lo! Berkat jari tangan lo yang ganjen itu, istri gue mikir kalo gue ada main serong di luar sana." Ujar Gavin memberengut, lantas melipat kedua tangannya di dada.
"Mana dia sampai nangis lagi, gara-gara itu," gerutu Gavin kemudian, membuat Anggi, tanpa sadar terbelalak.
"Hah?! Dia nangis? Masa?!" ulang wanita itu, yang bukannya merasa bersalah, malah tertawa terbahak-bahak.
Gavin jadi semakin kesal terhadapnya.
"Ck! Bukannya merasa bersalah, malah ngakak aja, lo…" Gerutu Gavin lagi, kepada Anggi.
"Eh, sory-sory… Gue nggak nyangka aja, kalo istri lo bisa sampai nangis gitu... Bener. Gue pikir, lo cuma bakal diomelin dia doang… Nggak tahunya..." Kata Anggi, mendapat cibiran malas dari Gavin.
"Ya jelaslah bini gue nangis. Dia pikir, cewek gila mana, yang berani-beraninya godain gue? Suaminya tercinta. Gini-gini juga, gue ini kan suami yang sangat dia cintai…" Ujar Gavin, tersenyum mengejek, pada Anggi yang balas mencibirnya.
"Heh, bisa aja lo sompret." Ejek Anggi kemudian.
"Lagi pula ini, ya.. Wajarlah istri gue marah sampai nangis gitu. Coba lo pikir, perempuan mana, yang nggak bakal sakit hatinya, ngeliat ada perempuan lain yang bilang sayang sama suaminya? Hah? Perempuan mana?! Sebel, gue…" Omel Gavin panjang, yang seumur-umur Anggi tahu, tidak pernah sepanjang ini sebelumnya.
"Hm, begitu, ya?"
"Iya! Makanya, lo jangan usil gitu! Kasihan sama cewek atau istri dari laki-laki yang lo jahilin, kalau sampai mereka tahu." Omel Gavin lagi, menatap wajah Anggi yang tadinya merah karena menahan tawa, berubah menjadi sedikit datar, dengan reaksi wajah yang tidak terbaca.
Wanita itu, bukannya menjawab semua ocehan Gavin terhadapnya, malah terdiam dengan pandangan kosong yang entah lari ke arah mana.
"Gue pengen ketemu sama istri lo." Ucap Anggi tiba-tiba, menoleh ke arah Gavin.
"Buat apa? Buat cari gara-gara lagi?"
"Bukan…" Geleng kepala Anggi pelan, lantas membuang pandangan sayu lagi ke arah lain.
"Gue penasaran, sama perempuan yang berhasil dapetin hati lo." Ucap Anggi pelan. "Perempuan beruntung itu… Wujudnya kayak apa?"
"Cantik... Dan juga lemah lembut." Terang Gavin cepat, menatap datar pada Anggi.
Sejenak, Anggi menipiskan bibirnya dan mengangguk.
"Dia lagi hamil, ya?" gumam wanita itu bertanya, direspons anggukan kepala dari Gavin, tanpa berniat menjawabnya pakai kata-kata.
"Dia pasti lagi bahagia banget, deh…" Lirih Anggi lagi, menyentuh perutnya, yang seketika membuat Gavin merasa heran dengan wanita tersebut.
Catat, kalau Anggi itu merupakan cewek pengganggu yang mudah marah, genit dan aktif seperti manusia kelebihan gula. Tapi, sepanjang Gavin mengenal dia, belum pernah sekalipun Gavin melihat Anggi yang terlihat rapuh seperti ini.
"Jangan sok cari perhatian, deh… Gue nggak tertarik." Celetuk Gavin mencibir, pada Anggi yang hanya tersenyum tipis kepadanya.
"Gue tahu, kok. Meskipun gue rolling-rolling di depan lo, ataupun nari sambil telanjang, lo juga nggak bakal peduli sama gue. Jangan itu, emang, selain bini lo, ada lagi gitu, cewek yang lo peduliin?" sinis Anggi menyipit, melihat Gavin yang mengangguk menjawabnya.
"Ada,"
"Siapa?"
"Anak perempuan gue."
"Eh, setan!" maki Anggi geram, melihat wajah polos Gavin yang berbicara.
"Ya, kali… Gavin… Gavin…" Ujar Anggi pusing, menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Lah, kenapa? Emang salah, kalo gue ngomong gitu?" tanya Gavin heran, menatap Anggi yang tersenyum pedih mendengarnya.
"Lo juga pasti bakal kayak gitu. Waktu lo nikah nanti, lo pasti bakal lebih peduli sama suami dan anak lo aja. Itupun… kalo lo bener-bener cinta sama keluarga lo, ya? Kalau nggak, sih…" Gavin hanya mengedikkan bahunya sekali, melirik Anggi yang lagi-lagi terdiam menatapnya.
Beberapa detik, Anggi menundukkan kepalanya dalam. Terlihat tangannya halus terangkat, menyentuh perutnya yang cukup rata.
"Gue bener-bener cinta, kok… Gue bener-bener sayang… Tapi, dia…"
Samar, Gavin melihat ada bayangan air mata yang mulai menyelimuti kedua sudut mata wanita itu. Membuatnya terlihat sedih, sebelum akhirnya Anggi sadar, dan mengetuk meja di depannya beberapa kali.
"Ah… Gue kenapa, sih? Sinting banget…" Keluh Anggi aneh, menarik napas panjang dan memalingkan tubuhnya sedikit untuk mengusap matanya.
"Oh, ya… Bilangin sama bini lo, ya… Gue minta maaf. Gue beneran nggak bermaksud buat ngerebut lo dari dia, kok. Gue cuma iseng aja. Karena gue tahu, lo nggak bakal berpaling meski gue goda sebagaimana pun juga." Ucap Anggi ngenyir, sudah bersikap santai seperti biasa.
Alis Gavin turun setengah, menatap curiga pada Anggi yang malah nyengir melihatnya.
"Ya… Kalo masalah cara gue sms sih, gue kayaknya nggak bisa… Udah kebiasaan." Kata Anggi kemudian, mengalihkan fokus Gavin, hingga terlihat jengkel kembali.
"Lah?"
Sambil tertawa kecil, Anggi pun berjalan mundur.
"Lo kok nyebelin banget sih, Mbak?! Bikin kesel gue aja…" Rungut Gavin pada Anggi, yang lagi-lagi hanya dibalas gidikan bahu acuh tak acuh oleh perempuan itu.
"Halah, kesel-kesel, tapi ngangenin 'kan?"
"Nggak, najis!"
"Hm… Gavin mah, gitu… Manis banget, sih… Bikin gemes, deh... Pengen nyium..." Ujar Anggi manja, yang hanya dibalas dengusan sebal oleh Gavin.
Anggi yang terus berlagak sok seksi untuk mengejek Gavin, tidak sengaja menabrak tubuh seseorang yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
"Oops, sory…"
Sambil berbalik, Anggi melihat siapa yang orang sudah ditabraknya.
"Eh, elo?"
Anggi yang tadinya sedang terlihat bahagia karena merasa habis bercanda dengan Gavin, terlihat datar lagi, mengamati orang yang ada di depannya.
Sementara Andi, yang sejak tadi sudah melihat interaksi Anggi yang terus saja menebar pesona genitnya kepada laki-laki lain, hanya terdiam menatap datar wanita tersebut.
Lalu, tidak berapa mereka saling menatap, Andi pun menarik seringai sinis di bibirnya.
"Gue tahu kok, kalau body belakang lo itu emang montok. Tapi… Bisa nggak, lo nggak usah nabrak badan gue pake badan lo itu? Kecuali…"
Anggi yang merasa tidak enak dengan tatapan mata Andi yang seolah menghinanya, hanya bisa menghentak kok kuat, dan mengibaskan rambutnya kasar hingga menampar wajah laki-laki tersebut.
"Sory, gue nggak tertarik sama lo." Hardik Anggi tajam, penuh kebencian, pada Andi yang langsung terdiam menatap kepergiannya.
Sambil menarik napas panjang, Andi mengikuti arah kepergian Anggi yang meninggalkanya.
"Shit!"
***
Kisah makan malam romantis, dimulai dari saat ini juga. Itulah yang terlihat dari gerak-gerik Gavin dan juga Kalya yang sekarang tengah sibuk menyiapkan makan malam bersama untuk mereka.
Sejak pulang kerja tadi, Gavin sudah mulai mengganggu istrinya beraktifitas. Bukannya membantu, Gavin malah kebanyakan mengganggu Kalya, hingga makanan yang seharusnya sudah terhidang di atas meja sejak tadi, jadi belum selesai juga sampai detik ini.
"Gavin, bisa minggir bentar, nggak? Dari tadi tuh, kamu ngalangin aku terus, tahu…" Gerutu Kalya masam, pada Gavin yang terus berada di dekatnya.
"Gavin…"
"Apa sih, Kal…? Aku kan nggak menghalangin. Aku cuma berdiri di belakang badan kamu aja nih…" Sungut Gavin tidak terima, yang sudah jelas itu disebut dengan mengganggu.
"Kalo kamu nggak geser sekarang juga, aku nggak bakal mau kamu pegang waktu tidur nanti, ya. Mau?" ancam Kalya, mengecilkan api kompornya sedikit, dan berputar menatap laki-laki itu tajam.
Dengan wajah yang sedikit tidak terima, Gavin menghelakan napasnya yang berat.
"Aku kan cuma pengen dekat sama kamu. Masa nggak boleh, sih?" lirih Gavin sok sedih, membuat Kalya jadi sedikit kasihan padanya.
"Kamu kok manja?"
"Emang sama istri sendiri nggak boleh manja?" sengit Gavin, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kalya.
"Gavin, aku lagi masak."
"Aku lagi kangen."
"Gavin…"
Gavin hanya tersenyum melihat tampang Kalya yang salah tingkah menatapnya.
Baru saja kemarin dia menyatakan cinta, dan melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Kali ini, Kalya sudah terlihat seperti gadis perawan yang bertemu dengan kakak kelasnya yang sangat tampan. Polos dan juga menggemaskan.
"Gavin, aku lapar loh… Kamu tega, biarin aku sama anak kamu kelaparan… " Rajuk Kalya pura-pura sedih, membuat Gavin jadi merasa semakin ingin mencubitnya.
Tadi, pura-pura galak, sekarang berlagak sedih. Dasar wanita hamil. Pikir Gavin dalam hati.
"Iya, aku juga lapar…" Ucap Gavin pelan mendekatkan kepalanya di sebelah Kalya. "Pengen makan kamu."
"Gavin!"
Lalu, Gavin pun tertawa. Diciumnya sekali kening dan bibir wanita itu, sebelum benar-benar melepaskannya.
"Ya udah, gih! Selesaikan masaknya. Aku siapin peralatannya dulu." Ujar Gavin, lantas mulai membantu Kalya untuk menata meja makan mereka.
Tidak berapa lama, masakan terakhir Kalya pun selesai. Pasangan suami istri itu sudah siap akan menyantap hidangan yang ada, ketika pintu rumah mereka tiba-tiba diketuk oleh seseorang.
"Siapa?" tanya Kalya menatap Gavin yang juga tengah melihatnya dengan gidikan bahu sekilas.
"Kamu tunggu sini. Biar aku yang bukain pintu." Ujar Gavin bangkit, seraya berjalan ke arah pintu rumahnya yang masih diketuk.
"Ya, sabar…" Seru Gavin, lantas membuka daun pintu berwarna coklat tersebut.
"Hai, Gavin…"
Pintu baru saja terbuka. Dan Gavin sudah langsung terkejut melihat dua orang yang ada di hadapannya.
"Mama? Papa?"
Nia dan Kendra yang menjadi tamu mereka malam ini hanya tersenyum melihat tampang kaget anaknya itu, yang sudah mencium sebelah tangan mereka bergantian.
"Silakan masuk, Ma...Pa…" Ucap Gavin pada kedua orangtuanya, yang hanya dibalas anggukan kepala oleh keduanya.
"Woah… Hebat kamu ya, Gavin… Selama lebih dari tiga minggu pindah dari rumah, belum ada satu kali pun kamu bawa istri kamu datang nemuin Papa dan Mama… Benar-benar keterlaluan!" omel Nia penuh sindiran, pada Gavin sembari berjalan masuk ke dalam rumah anak laki-lakinya tersebut.
"Engh, maaf, Ma… Gavin…"
"Mama, Papa…!"
Kalya yang melihat kedua orang tua Gavin masuk, sontak berdiri dan berjalan menghampiri keduanya.
"Papa… Mama…" Seru Kalya terlihat senang, menyambut kedua orang tua tersebut, sembari mencium punggung tangan mereka secara bergantian.
"Kalya sayang… Apa kabar kamu, hm? Mama kangen…" Ujar Nia bahagia, memeluk serta mencium kedua pipi Kalya yang terlihat seperti kue pao.
"Kalya baik, Ma… Kalya sehat… Mama sendiri gimana? Kalya juga kangen sama Mama…" Balas Kalya terlihat seperti ingin menangis, melihat Nia dan Kendra yang datang mengunjunginya.
Terlepas dari mereka itu sebenarnya adalah mertua dan menantu, sebelum ini, hubungan mereka memang sudah terlihat begitu dekat. Nia yang sudah dianggap seperti kakak sendiri oleh Kalya setelah menikah dengan Kendra.
"Mama juga sehat…" Jawab Nia, mengusap pipi Kalya dengan lembut.
Setelah itu, Kalya beralih pada Kandra yang sejak tadi mengusap kepalanya.
"Papa…" Sapanya pada pria paruh baya itu, yang langsung memeluknya sayang.
"Hai, adiknya Papa…" Kata Kendra terdengar sedikit aneh,tapi cukup membuat Kalya tersenyum mendengarnya.
"Hai, Papa…" Balas Kalya memejamkan matanya merasakan kehangatan pelukan Kendra.
Meski bibir mereka tidak berucap, tapi mereka seakan tahu jawaban atas pertanyaan yang hendak mereka katakan satu sama lain. Karena mereka sudah mengenal, sejak Kalya masih bayi.
"Kamu udah makan?" tanya Kendra, melepas pelukannya pada Kalya dan mengusap bahu wanita itu layaknya seorang ayah.
"Ini, baru mau makan." Jawab Kalya menunjuk ke arah meja makannya. "Papa dan Mama udah makan? Mau makan bareng?" tawar Kalya pada pasangan tersebut, yang langsung diangguki oleh keduanya.
"Boleh," jawab Nia.
Kemudian, duduklah Kalya, Gavin dan kedua orangtuanya mengitari meja makan. Kalya tampak menyiapkan makanan untuk Gavin, sedangkan Nia, terlihat sibuk menyiapkan makanan untuk suaminya, Kendra.
"Oh ya, Kal… Gimana keadaan kandungan kamu sekarang? Sehat-sehat aja, kan?" tanya Nia membuka pembicaraan di tengah acara makan malam mereka saat ini.
"Sehat, Ma. Kemarin, Kalya dan Gavin baru dari dokter buat periksa kandungan."
"Oh, ya? Syukurlah, kalau gitu…" Desah Nia dan juga Kendra.
Lalu, keluarga itu pun melanjutkan makan malam mereka. Selama itu, diam-diam Kendra dan Nia memperhatikan tingkah laku Kalya dan juga Gavin. Tampak keduanya kian mesra, dengan sesekali Gavin memberikan suapan nasinya ke dalam mulut Kalya. Padahal, Kalya sendiri pun ada makanan di depannya.
Nia jadi iri melihat hal tersebut.
"Kamu juga mau?" bisik Kendra tiba-tiba, pada Nia yang sontak membuat wanita itu terkejut.
"Mas…!"
"Nggak usah iri… Sini Mas suapin," goda Kendra pada Nia, yang sketika langsung mendapat perhatian penuh dari Gavin dan juga Kalya.
"Cie… Mama… yang udah puber kedua… Papa kayaknya jatuh cinta untuk kedua kalinya tuh, sama Mama!" ejek Gavin, membuat wajah Nia memerah.
"Hus! Kamu ini, ngomong apa, sih?! Nggak sopan!" tegur Nia merajuk, melihat Gavin yang tertawa.
"Ini lagi, Mas apa-apaan, sih?! Nggak jelas banget! Malu tahu, udah tua…" Gerutu Nia, mencubit pinggang Kendra sekilas, dan membuat pria itu bergerak merasa geli.
"Loh, nggak jelas apa? Muka kamu tuh, jelas kelihatan pengennya… Makanya aku tawarin. Gimana, sih?"
"Maaaas…!" tegur Nia gusar, mendelik suaminya dengan sebal.
Heran, akhir-akhir ini kelakuan Kendra semakin menyebalkan saja. Tidak ingat umur, seolah mereka itu adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah kemarin. Sok mesra, padahal mereka akan memiliki seorang cucu sebentar lagi.
Sementara itu, alih-alih merasa bersalah karena telah membuat istrinya terlihat kesal, Kendra justru terlihat tertawa lepas bersama Gavin dan juga Kalya. Tampaknya mereka kompak untuk membuat Nia terlihat malu saat ini.
Ah… Nia jadi ingat dengan kegiatan makan malam mereka, saat Kalya masih menjadi adik iparnya.
"Ah, udah ah! Jangan ketawa-ketawa pas lagi makan. Ntar keselek baru tahu…" Lerai Kalya berdehem, membuat Gavin dan Kendra pun menghentikan tawa mereka.
Setelah itu, mereka pun akhirnya membahas sesuatu yang lebih ringan. Soal kandungan Kalya, dan soal keinginan Kendra yang meminta Gavin memikirkan tawaran Kendra untuk anak itu bekerja di perusahaan mereka.
"Pokoknya, Papa minta, kamu udah pikirin lagi masalah ini. Nggak mesti sekarang. Tapi Papa minta, kamu udah bisa ancang-ancang sekarang. Toh, kamu juga pasti bakal belajar juga waktu masuk ke perusahaan kita." Pesan Kendra pada Gavin, saat anaknya itu bersama Kalya mengantar dirinya dan juga Nia ke depan rumah.
"Iya deh, Pa… Nanti bakal Gavin pikirin lagi. Soalnya, Gavin kan juga masih baru di perusahaan tempat Gavin kerja ini. Belum juga dua bulan…" Kata Gavin tersenyum tipis, pada Kendra yang hanya dibalas anggukan kepala lagi oleh ayahnya tersebut.
"Iya, Papa ngerti, kok…" Jawabnya, lantas segera berpamitan pada anak dan menantunya.
"Kalau gitu, Papa dan Mama pulang dulu, ya? Ntar, kalau ada apa-apa, atau kira-kira Kalya udah mau melahirkan, kalian segera hubungi Papa dan Mama. Jangan sombong! Ngerti?" nasehat Kendra tegas, pada Gavin yang kali ini membuat anak itu meringis malu.
"Paham, Pa…"
"Ya udah,"
Gavin baru saja membuka pintu rumahnya dengan lebar, saat tiba-tiba saja seorang wanita yang dia kenal bernama Bu Sarah sudah berada di depan pintu rumah mereka.
Sambil tersenyum ramah, wanita itu mengangkat kedua tangannya yang sedang memegang sebuah mangkuk.
"Selamat malam, Gavin… Ibu--"
"Anda ini… Mbak Sarah, ya?"
Bersambung