Be My Brides

Be My Brides
Episode 23



Dulu, Kalya pernah bermimpi untuk menikah. Dia pernah berkhayal, untuk mendapatkan seorang pria yang sangat mencintainya, yang akan melamarnya dengan cara paling romantis yang pernah Kalya pikirkan. Menyayanginya sepenuh hati, dan selalu membuat jantungnya berdebar indah hanya karena dekat di sisi laki-laki tersebut. 


Seperti Mario, dia adalah cinta pertama Kalya yang tidak terwujud. Pernah hampir berhasil, namun harus gagal, ketika Kalya harus mengambil jalan yang berbeda. 


Meski Kalya sendiri pun tidak tahu, apakah keputusan yang dia ambil itu akan berbuah baik untuk dirinya dan anaknya kelak, atau malah sebaliknya. Yang pasti, saat ini dia ingin menjalani sisa hidupnya yang terasa abu-abu itu dengan melakukan semua hal terbaik yang bisa dilakukannya.


Pelan, Kalya pun mendesah. Saat ini dia tengah menyusun ulang isi lemarinya guna menyortir pakaian yang bisa dia gunakan. Karena sekarang bentuk tubuhnya sudah berubah, dia pun harus menyesuaikan ukuran bajunya yang saat ini. Tidak mungkin dia terus memakai pakaian yang biasa, ketika perutnya perlahan-lahan mulai membesar.  


"Tan--eh, Mbak--eh… Engh…" 


Kalya menolehkan kepalanya ke pintu, ketika dia mendengar seseorang berbicara gagu ke arahnya. 


"Ricka? Kamu ngapain?" tanya Kalya mengerutkan dahinya bingung, melihat Ricka yang berdiri di depan pintu kamarnya seperti orang kebingungan. 


"Engh, itu… Aku…" 


Ricka masuk ke dalam kamar Kalya, dan duduk di tepi ranjang wanita itu, persis di dekat Kalya yang tengah melipat beberapa bajunya di sana. 


"Aku bingung, mau manggil apa," kata Ricka menggaruk kepalanya sedikit dan meringis. "Mau manggil Tante, tapi sebentar lagi bakal jadi ipar. Jadi…" 


"Panggil aja senyaman kamu." Sahut Kalya, mengalihkan fokusnya lagi pada kain yang di tangannya. "Mbak juga boleh."


"Tapi, Tante 'kan adiknya Papa. Jadi--" 


"Kamu udah tahu, kalo aku ini bukan adik Papa kalian. Jadi, nggak usah ragu."


Kalya membalas ucapan Ricka dengan datar. Membuat gadis itu terlihat salah tingkah, hingga suasana di antara mereka pun kembali terasa canggung.


"Kapan tanggal persis nikahnya? Udah tahu?" tanya Ricka pelan, membantu Kalya untuk melipat kainnya yang masih berantakan, kemudian membantunya memasukkan pakaian tersebut ke dalam sebuah kardus. 


"Belum. Mungkin, minggu depan. Mas Kendra bilang, masih banyak yang harus diurus sebelum pernikahan."


"Nikahnya di KUA, kan?" 


"Iya," 


"Resepsinya kapan?" 


Tangan Kalya yang sejak tadi mengepak kardus yang berisi pakaian bekasnya, berhenti sejenak, mendengar pertanyaan tersebut. 


"Nggak ada resepsi. Cuma nikah doang."


"Loh, kenapa?" tanya Ricka lagi, membuat tangan Kalya semakin kaku mendengarnya. 


"Iya, soalnya, nggak perlu ngundang orang.  Cuma keluarga doang." Jawab Kalya kali ini, membuat Ricka terdiam di tempatnya. 


Yah, begitulah usulan dari keluarga mereka kemarin. Ricka bertanya karena memang saat membahas urusan itu, dia tidak ada. Dan alasan kenapa tidak diadakannya resepsi pernikahan, adalah karena orang lain yang mengetahui Kalya itu adalah adik bungsu Kendra. Akan aneh, jika mereka tahu kalau yang menikahi Kalya itu adalah Gavin. Orang yang khalayak luas tahu sebagai keponakan Kalya sendiri.


"Hm, mungkin belum siap ngasih tahu kebenarannya, ya?" gumam Ricka cukup pelan, yang sayangnya masih bisa terdengar jelas oleh Kalya. 


Kalya yang tidak merespons ucapan itu, kembali melanjutkan aktivitasnya menyusun menyusun pakaian. Posisi duduknya yang tengah membelakangi Ricka, membuat Kalya tidak tahu kalau keponakannya yang satu itu tengah menatapnya dengan sorot mata yang sangat menyedihkan. Hampir menangis, andai dia tidak ingat pesan Rara, ibunya, untuk tidak membuat Kalya kembali bersedih. 


"Tante…"


Ricka yang tiba-tiba saja memeluk tubuh Kalya dari belakang, sukses membuat wanita itu terpaku. 


"Entah itu jadi Tante ataupun jadi ipar, kamu harus tahu, kalo aku sayang banget sama kamu." Ucap Ricka dengan suara yang bergetar, hingga membuat Kalya yang mendengarnya kembali bersedih. 


"Jangan takut sendirian. Karena aku, Papa, Mama, si kembar rese atau Om dan Tante pasti nggak akan biarin kamu sedih lagi. Jadi… jangan lupain itu, ya?" ucap Ricka lagi, pelan-pelan membasahi bahu Kalya dengan air matanya. 


"Ricka,"


"Mama bilang aku nggak boleh bikin kamu sedih. Tapi, pura-pura aja kamu nggak sedih abis dengar omongan aku ini, ya…? Aku takut dimarahi Mama, soalnya…" Lirih Ricka lagi serak, membuat Kalya pun semakin tak kuasa menahan tangisnya. 


"Berpikirlah, mungkin ini cara Tuhan menjadikan kamu anggota keluarga kami yang sebenarnya. Dari yang semula nggak ada hubungan darah sama sekali, menjadi ada hubungan darah melalui anak yang kamu kandung dengan Gavin. Meskipun caranya salah… Tapi, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya." Nasihat Ricka pelan, semakin membuat Kalya tergugu. 


Selama ini, dia selalu berpikir kenapa Tuhan menggariskan semua hal buruk ini kepadanya? Apa Tuhan lupa, kalau Kalya belum pernah semenderita ini sebelumnya? Lalu, kenapa Tuhan harus memberinya cobaan sedemikian rupa dalam satu waktu? Apa Tuhan kesal pada Kalya yang tidak pernah bersyukur sebelum ini? 


Kalya yang bersedih, menundukkan kepalanya dalam. Sekarang, dia tahu, kenapa Tuhan melakukan hal ini kepadanya. Bukan karena kesal atau membenci, Tuhan hanya menegurnya sebentar, dan memberikannya imbalan yang cukup besar. 


"Tante…" Panggil Ricka masih serak, membuat Kalya yang tadinya segugukan, menghentikan tangisnya mendengar. 


"Hm?" 


"Ngomong-ngomong…" Gantung Ricka pada Kalya, hingga wanita itu sedikit penasaran mendengarnya. 


"Tante nggak mau balas pelukan aku?" 


***


Gavin masih duduk di depan laptopnya, saat jam yang ada di layar monitor itu menunjukkan angka sembilan malam.


Sejak kemarin, Gavin tidak keluar dari kamarnya. Dia terus belajar dan belajar, demi menyelesaikan skripsinya dengan cepat. Dia hanya keluar untuk sebatas makan dan mandi. Istirahat pun hanya sekedarnya, karena pesan Kalya yang mengatakan untuk tidak sakit hanya karena urusan tugas kuliah. 


"Gavin, kamu udah tidur?" 


Suara ketukan di pintu kamar Gavin, serta suara panggilan Nia dari arah luar, membuat Gavin menolehkan kepalanya sebentar. 


"Belum, Ma… Masuk aja," ujar Gavin setengah berteriak pada Nia yang langsung membuka pintu kamarnya. 


"Kamu masih belajar?" tanya Nia, menghampiri Gavin dengan membawa sebuah nampan berisikan makanan di atasnya. 


"Iya, Ma… Lagi nyari tambahan teori. Tanggung…" Jawab Gavin serius, dengan pandangan yang tidak lepas dari layar monitor serta buku yang ada di depannya. 


"Kamu ngebet banget mau nikah sama Kalya, ya? Mama lihat, kamu semangat banget…" Tanya Nia lagi, melirik Gavin serta layar monitor anaknya itu secara bergantian. 


"Ingat loh, Gavin… Kamu itu bukan robot. Mesin pabrik aja sesekali harus diistirahatkan, biar nggak error. Lah, kamu yang cuma manusia ini, apa kabar kalo terus dipaksakan begini?" ujar Nia, mencebikkan bibirnya sekilas.


"Kawin enggak, masuk rumah sakit, iya…" 


"Mama…"


Nia memberengutkan wajahnya, ketika Gavin menoleh dan menatap ke arahnya.


Terlihat ada lingkaran hitam samar yang mengelilingi ke dua bola mata anaknya. Rasa lelah pasti sudah Gavin rasakan sejak semalam.


"Kamu belum makan, kan?" tanya Nia, bukan hanya sekedar menerka. Dia tahu, karena memang sejak tadi, Gavin belum ada keluar kamarnya hanya untuk makan malam bersama. 


"Bentar, tanggung." Jawab Gavin hendak berbalik melihat layar monitornya lagi, ketika Nia mendecak. 


"Besok juga masuk kategori bentar, kalo kamu ngomongnya tengah malam nanti." Sindir Nia tajam, lantas memutar posisi laptop Gavin membelakangi arah mereka. 


"Makan. Mama bakal keluar, kalo udah mastiin kamu kenyang malam ini."


"Tapi, Ma…"


"Shk!" Nia mengangkat jari telunjuknya ke udara, menginterupsi bantahan Gavin untuk tidak bersuara. 


"Cuma anak kecil yang makan aja harus dibujuk, Gavin!" kata Nia tegas, sontak membuat Gavin memberengut dan menggembungkan kedua pipinya sebal. 


"Iya, Gavin makan. Tapi, abis itu, Mama nggak boleh ganggu Gavin ngerjain skripsi lagi!" pinta anak lelaki itu pada ibunya, yang langsung dibalas anggukan kepala pasti oleh Nia. 


Gavin membawa nampan makanan yang Nia bawakan ke atas ranjang. Pelan-pelan, dia mulai menyantap makan malamnya itu satu per satu. Tanpa sadar, ternyata dia  begitu lapar dan menyantapnya begitu lahap. 


Melihat itu, tanpa sadar tangan Nia terangkat. Diusapnya pelan kepala Gavin, hingga membuat lelaki itu berhenti mengunyah, dan mengangkat pandangannya melihat Sang Ibu. 


"Perasaan… Mama baru ngelahirin kamu kemarin. Tapi, kenapa kamu udah mau jadi milik orang lain aja, sih?" ucap Nia dengan seutas senyum lirih, hingga Gavin yang melihatnya membeku. 


"Mama nungguin kamu itu lama banget. Beberapa tahun setelah menikah sama Papa kamu, baru Mama bisa memiliki kamu di perut Mama. Tapi, kenapa baru sebentar, kamu udah mau ninggalin Mama?" ucap Nia lagi, kali ini dengan kedua matanya yang berkabut.


"Mama masih pengen menikmati waktu Mama menjadi seorang Ibu buat kamu. Mama masih pengen ngelihat kamu manja kayak dulu. Dan Mama masih pengen memperlakukan kamu seperti anak kecil. Mama…" 


"Ma,"


Gavin yang melihat Nia tiba-tiba menangis, menghentikan makan malamnya.


Diletakkannya kembali piring nasinya ke atas nampan yang ada di tempat tidur, dan memeluk bahu ibunya itu pelan. 


"Maafin Gavin ya, Ma… Udah buat Mama kecewa. Gavin menyesal harus buat Mama menangis kayak gini. Gavin bersalah, Ma…" Ucap Gavin mengusap bahu Nia, yang sekarang menempelkan wajahnya ke dada Gavin yang cukup lebar. 


"Mama benar. Harusnya sekarang Gavin masih harus menjadi anak Mama yang manja kayak biasanya. Tapi, Gavin malah mau jadi suami orang. Gavin benar-benar keterlaluan ya, Ma?" bisik Gavin lagi pada Nia yang menganggukkan kepalanya berulang kali. 


"Baru sadar, kalo kamu emang keterlaluan? Dasar bandel!" gerutu Nia menangis, memukul sebelah paha Gavin, hingga lelaki itu tertawa sejenak. 


"Iya, Gavin bandel." Kekeh Gavin sekilas. 


"Tapi, Mama nggak boleh lupa. Meskipun kelak Gavin ini jadi seorang ayah, kakek atau buyut sekalipun, Gavin bakal tetap jadi seorang anak buat Mama. Sampai kapan pun, Gavin bakal jadi anak Mama yang selalu sayang sama Mama dan Papa. Jadi, Mama nggak perlu khawatir. Mama nggak akan pernah kehilangan cinta dari Gavin, meskipun Gavin menikah dan punya anak nanti."


Gavin semakin memeluk punggung Nia, ketika mendengar suara wanita paruh baya itu kian terdengar serak di telinganya. Mungkin perasaan ibunya itu semakin kacau setelah menghadapi masalah yang sudah Gavin buat. 


"Maafin Gavin ya, Ma… Bener-bener maafin Gavin…" Ucap Gavin lirih, mengusap bahu Nia yang semakin menangis dengan penuh kasih sayang. 


Sementara itu, di luar kamar, orang yang sejak tadi menguping pembicaraan Gavin dan Nia pun, perlahan-lahan mulai menjauh. 


Kendra yang tadinya ingin mencari keberadaan istrinya yang ternyata ada di kamar Gavin, tidak sengaja mendengar pembicaraan itu dan pergi. 


Dia merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Pikirnya, mungkin saja Gavin akan mengatakan hal egois seputar kegingannya menikahi Kalya, seperti yang selalu ia katakan pada Kendra, meski sudah melihat ibunya menangis seperti itu. 


Tapi, mendengar hal yang Gavin katakan pada Nia barusan, membuat Kendra perlahan-lahan mulai merubah cara pandangnya yang sinis terhadap anak laki-laki itu. Ada perasaan yakin, dan percaya kalau mungkin keputusannya menikahkan Kalya dengan anak itu, bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan hal yang tepat, menuju kebahagiaan yang sebenarnya bagi mereka semua. 


"Yah… Kayaknya aku memang harus mikirin hal itu mulai sekarang." 


Bersambung...