Be My Brides

Be My Brides
Episode 26



Sepasang mata berbulu lentik itu terus saja menatap ke arah rumah yang ada di depannya. Sejak setengah jam yang lalu, dia terus menunggu di dalam mobilnya yang ada di luar pagar rumah tersebut. Berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk turun dan masuk ke dalam rumah itu, guna menghadapi apa yang seharusnya dia hadapi sejak dua tahun yang lalu. 


"Oke, Thalita… Lo pasti bisa!" gumam Thalita mengepalkan tangannya, dan memberi semangat pada dirinya sendiri. 


Thalita yang sudah merasa yakin pun, langsung keluar dari dalam mobil merahnya yang mewah. Berjalan lenggak-lenggok dengan gaya anggun, menuju pos satpam yang sedang berjaga di dekat pagar kediaman Keanu. 


"Permisi…, selamat siang…" Sapa Thalita sopan pada satpam di rumah Keanu, namun tidak mengurangi kadar sikap agung yang dia punya. 


"Iya, selamat siang…" balas Pak Dony, satpam yang sudah bekerja beberapa tahun di rumah Keanu itu, melihat siapa orang yang datang ke rumah majikannya. 


Dan saat dia merasa mengenali wajah perempuan di depannya, seketika itu pula,  Pak Dony terlihat membeku di tempatnya. 


"Loh, Mba--" 


"Ricko-nya ada?" tanpa menunggu respons terkejut Pak Dony yang mengenali wajahnya, Thalita pun membuka kaca mata hitam yang sejak tadi dipakainya. Tersenyum lebih anggun dari biasanya, mencoba meraih simpati dari Pak Dony untuk segera mempersilakannya masuk seperti waktu itu. 


"A-eng… Itu… Mas Ricko…" Pak Dony yang tampak kebingungan harus menjawab apa, mengusap kepalanya resah. 


Pak Dony bingung, apakah harus memperbolehkan perempuan yang merupakan mantan tunangan dari majikannya ini masuk, atau tidak? Secara, yang Pak Dony tahu, sejak dua tahun yang lalu, atau lebih tepatnya sejak mendengar kabar kalau Thalita melarikan diri menjelang hari pernikahannya dengan Ricko, Pak Dony sama sekali tidak mendengar sedikit pun bahasan yang mengatakan kalau hubungan mereka baik-baik saja. 


"Emh, Mas Ricko… Dia lagi--" 


Gumamam Pak Fony yang sepertinya sedang berpikir keras, terhenti, ketika melihat Thalita --yang tanpa dipersilakan terlebih dahulu-- langsung masuk begitu saja melewati pagar rumah Keanu yang siang ini memang terbuka lebar, karena keadaan rumah yang memang sedang ada acara keluarga. 


"Eh, Mbak Thalita! Mbak! Tunggu!" 


Pak Dony yang kaget melihat sikap sembarangan Thalita, berusaha untuk menyusul wanita itu. Dia terlihat tergesa, ketika Thalita, dengan langkah kaki yang cukup cepat, sudah tiba di depan pintu rumah Keanu. 


"Mbak Thalita! Tunggu! Mbak nggak boleh masuk! Mbak--" 


Thalita yang tidak menggubris ucapan Pak Dony, terus saja melangkah maju. Tangannya sudah bersiap hendak mengetuk pintu rumah Keanu, saat tiba-tiba saja dari rumah yang memang sedikit terbuka itu, muncul beberapa orang yang sudah cukup Thalita kenal, dan membuat tubuhnya seketika membeku. 


"Eh, O-om…"


Melihat siapa yang saat ini ada di depan matanya, membuat nyali yang sejak tadi Thalita kumpulkan, seolah runtuh seketika. Sorot mata terkejut serta pandangan mata Gavin yang sangat tajam, membuat kerongkongan Thalita terasa kering dan sulit untuk bernapas. 


"Kamu?!" 


Dan Thalita pun terlihat semakin sulit menelan ludahnya, kala mendengar suara Rara, ibunya Ricko, yang memandangnya dengan sorot mata keheranan. 


"A--hai, Tante… Om… Semuanya… Apa kabar…?" sapa Thalita kikuk menggigit bibir bawahnya ketika semua orang yang ada di depannya mengerutkan dahi mereka.


"Ngapain kamu kemari?" 


Bukannya mendapat balasan yang dia harapkan, Thalita justru mendapat pertanyaan bernada ketus yang Rara lontarkan kepadanya. 


"Ah, i-itu… Sa-saya…" 


Thalita yang sangat kesulitan berbicara, semakin bertambah kaku, ketika secara tidak sengaja, matanya bertemu pandang dengan Gavin yang menatapnya sangat tajam. Seperti mata pisau yang hendak menguliti gadis itu hidup-hidup. 


"A-anu… I-itu… Saya kemari mau--" 


"Ya udah deh, Nu. Kalo gitu, kami pergi dulu. Kayaknya kalian juga lagi kedatangan tamu." Ujar Kendra menyela perkataan Thalita yang tergagap, seakan hendak menyindir wanita yang ada di depan mereka. 


"Oh, oke, Mas. Hati-hati," sahut Keanu mengangguk, melihat kakaknya itu hendak mengajak anak serta istrinya untuk pergi dari rumah Keanu. 


"Tapi, Mas…! Itu--" 


"Udahlah, Ma… Yuk, kita pulang aja. Nggak ada gunanya kita ada di sini." Ajak Gavin pada Nia, setelah melirik Thalita dengan sorot mata tidak suka. 


"Iya, eh, tapi--" 


"Udah, ayo!" 


"Tapi, Mas…!" 


Nia yang seperti hendak mengatakan sesuatu, tergagap dan bungkam, ketika suami dan anaknya kompak membawa dirinya untuk menjauh dari rumah Keanu. Tampaknya mereka memang tidak ingin belama-lama melihat tampang Thalita yang seolah tidak tahu malu karena sudah menghilang selama dua tahun. 


"Jadi… Mau apa kamu ke sini?" 


***


Gavin terlihat sedikit termenung saat membawa mobilnya menuju rumah mereka. Dagunya dia usap dengan jari telunjuknya yang sedikit panjang. Pandangannya menyipit dengan pikiran melayang pada kejadian saat di depan rumah Keanu tadi. 


"Itu anak ngapain datang lagi, sih?" 


Gavin yang sudah menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah merah, menoleh ke arah kaca spion yang menampilkan wajah ibunya yang bergumam. 


"Mau apa lagi dia?" bisik Nia seorang diri, terlihat tengah berpikir sambil melayangkan pandangannya ke arah luar jendela. 


"Ma, Mama kenapa?" tanya Gavin penasaran, membuat Nia sedikit terkaget. 


"Apa?" tanya Nia bingung. 


Sambil menaikkan alisnya, Gavin kembali bertanya. "Itu Mama ngomel sendiri. Kenapa? Ada masalah?" 


"Hah? Oh itu!" seperti tersadar, Nia pun menganggukkan kepalanya paham. 


"Iya, Mama kok jadi kepikiran sama kejadian tadi, ya? Mama… merasa nggak enak." 


"Nggak enak? Maksudnya?" tanya Gavin bingung. 


"Ya… Nggak enak aja. Apalagi, dari dulu Mama udah ngerasa kalo anak itu memang aneh." Jawab Nia. 


"Aneh? Aneh gimana? Kamu jangan ngomong sembarangan, Nia. Ntar kalo ada yang dengar, nggak enak juga." Tegur Kendra, selanjutnya membuat kedua mata Nia melebar. 


"Nggak enak gimana? Mas, aku nggak ngomong sembarangan tahu! Aku bicara yang sebenarnya!" bantah Nia gusar, menyandarkan punggungnya di jok mobil, kemudian menggerutu. 


"Dari dulu aku udah merasa kalau dia itu memang anak yang aneh. Dan lebih merasa yakin lagi, kalau anak itu memang nggak beres, waktu melihat dia kembali, setelah kabur selama dua tahun. Maksudnya apa, coba? Dia mau nyakitin Ricko lagi?!" omel Nia dongkol, melipat kedua tangannya di dada. 


Sejenak, mendengar Nia yang sepertinya sangat kesal itu mengomel sendiri, Gavin dan Kendra pun saling menoleh satu sama lain. 


"Ma, kenapa Mama ngomong gitu, sih? Emang, anehnya Thalita itu dimana?" pancing Gavin, sambil menjalankan mobilnya lagi, ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. 


"Ya, aneh aja. Kamu…" 


Nia yang tadinya sudah terlihat sedikit emosi, menghentikan ucapannya, ketika tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan Gavin di kaca spion tengah mobil mereka. 


"Gavin apa, Ma?" tanya Gavin penasaran, membawa gelagat ibunya yang seperti tengah menimbang sesuatu. 


"Engh, itu… Mama kira dia…" 


Nia yang masih terlihat ragu, merubah posisi duduknya persis di bagian tengah kursi penumpang. 


"Gavin… Kayaknya, kamu harus hati-hati deh, sama perempuan itu. Entah kenapa… Mama kok punya firasat buruk, ya soal dia." Kata Nia menatap Gavin sedikit cemas. 


"Firasat buruk? Maksud Mama?" tanya Gavin bingung, melirik ke arah Nia sekilas.


"Iya, Mama ngerasa kalau dia punya niat buruk sama kamu. Soalnya… dari dulu itu, dia kelihatan tertarik banget sama kamu." Ungkap Nia kemudian, sontak membuat Gavin merasa terkejut bukan main. 


"Nia, maksud kamu apa?! Jangan ngomong sembarangan gitu, ah!" tegur Kendra lagi, yang juga terlihat kaget, mendengar ucapan istrinya. 


Dia melirik Nia tidak suka, ketika wanita itu menarik napasnya0 panjang. 


"Mas, aku nggak ngomong sembarangan! Si Thalita itu, dari dulu emang udah aneh! Masa hampir setiap hari, kalo kamu dan Gavin nggak di rumah, dia pasti datang. Kayak mau cari muka gitu. Padahal, kalo dipikir-pikir, harusnya kan dia cari mukanya sama Rara, yang notabenenya adalah ibunya Ricko! Bukan sama aku, yang ibunya Gavin!" ujar Nia panjang, lantas mengatur napasnya kembali. 


"Aku cuma takut, kalo tujuan dia kembali itu memang untuk menyakiti keluarga kita lagi. Apalagi, sekarang Gavin udah menikah sama Kalya. Mama takut, kalo kehadiran Thalita bisa mengacaukan semuanya." Keluh Nia resah, *** tangannya satu sama lain. 


Untuk beberapa saat, Gavin dan Kendra pun kembali saling melihat. Dan begitu mereka tiba di pekarangan rumah, Gavin segera menghentikan mobilnya dan menoleh ke arah Nia yang duduk di belakang. 


"Mama nggak usah khawatir. Kalau pun kekhawatiran Mama itu memang benar, Gavin nggak bakalan biarin hal itu terjadi." Kata Gavin meyakinkan, menggenggam tangan Nia dengan sayang. 


"Gavin cinta sama Kalya. Gavin sayang sama keluarga kita. Dan untuk itu Gavin nggak bakal biarin siapapun orang dari luar sana, yang datang cuma untuk mengacaukan rumah tangga Gavin. Jadi, Mama nggak usah takut, ya?" 


"Tapi, Gavin…" 


"Nia… Udahlah, kamu nggak perlu cemas kayak gitu. Ini urusan rumah tangga Gavin. Dia udah jadi seorang suami sekarang. Dan sudah seharusnya dia, yang melindungi keluarganya untuk urusan ini. Jadi, kamu nggak perlu khawatir, ya." Timpal Kendra tersenyum tipis, ikut mengusap lengan Nia yang satunya. 


"Jaga kesehatan kamu," bisik Kendra kemudian, yang kali ini, mau tidak mau dibalas anggukan kepala oleh Nia. 


Pikirnya, mungkin ini memang sudah bukan lagi urusannya. Sudah tanggung jawab Gavin untuk melindungi rumah tangganya sendiri. Dan Nia hanya bisa berdoa untuk setiap kebahagiaan anaknya. 


"Yaudah, Mama harap… Mama bisa percaya sama kamu."


***


Sementara itu, yang terjadi di kediaman Keanu adalah, Thalita yang sudah duduk di ruang tamu rumah keluarga Keanu. 


Di sampingnya, ada Kalya yang sejak tadi terus menatapnya dengan kerutan alis samar di dahinya. Terlihat wanita itu sedang meneliti Thalita dengan tajam, seolah tidak percaya kalau wanita itu benar-benar ada di depannya. 


"Ehm, Tante… Kenapa Tante lihatin aku kayak gitu? Aku--" 


"Kenapa? Kamu keberatan? Kalau keberatan, kamu bisa kok, pulang sekarang. Nggak usah sok memaksakan diri." Sela Kalya langsung, begitu tegas, pada Thalita yang sontak menutup mulutnya rapat-rapat. 


Thalita bersumpah, kalau sebelum ini Kalya tidak pernah berbicara kasar kepadanya. Tapi, kenapa sekarang dia terlihat begitu menyeramkan? Thalita pikir, Kalya adalah orang pertama yang bisa dia dekati kembali, mengingat wanita itu yang selalu memiliki pikiran yang lebih dewasa dari anak-anak Keanu yang lain. 


"E-enggak kok, Tante… Nggak keberatan…" Cengir Thalita kaku, membuang pandangannya dari Kalya, mengitari sekitar rumah. 


Dalam hati, Thalita mengumpat. Dia berpikir, kemana semua orang yang ada di rumah Keanu? Setelah tadi menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah, kenapa sekarang dirinya malah ditinggalkan berdua dengan Kalya? 


"Kamu sebenarnya mau ngapain ke mari? Bukannya kamu udah nggak ada urusan apapun lagi sama yang tinggal di rumah ini? Terus, kenapa sekarang kamu datang? Kamu mau buat apalagi?" tanya Kalya berenten pada Thalita, sesaat setelah keheningan tercipta di antara keduanya. 


Tampak Thalita yang mendengar pertanyaan itu, menjadi sedikit salah tingkah dengan menggeser posisi duduknya dengan resah. 


"A-ah, itu… Enggak kok, Tante… Aku nggak mau buat macam-macam lagi, kok. Aku… cuma mau minta maaf doang sama keluarga ini. Terutama sama…" 


"Setelah dua tahun, baru sekarang minta maafnya?" dengus Kalya sinis, hingga wanita itu menundukkan kepalanya dalam. 


"Selama ini kamu kemana aja? Terjebak dalam kaleng ikan tuna?" ejek Kalya menohok, semakin membuat Thalita merasa terpojok dan sulit untuk menjawab. 


"Itu… Aku…" 


Thalita yang tidak bisa berilah lagi, menggigit bibirnya resah. Dia menyesal datang ke rumah Ricko hari ini. Andai saja dia tidak terjebak dalam ucapan Gavin yang mengatakan kalau dirinya akan menikah hari ini, tidak mungkin dia akan datang sekarang. 


"Itu…" 


Tapi, saat Thalita memperhatikan Kalya dengan seksama, ada yang aneh dengan cara berpakaian wanita itu siang ini. Perempuan yang bisa terlihat selalu memakai pakaian kasual itu, terlihat formal dengan kebaya putih yang membalut tubuh berisinya. Meski Thalita juga bingung, kenapa Kalya bisa terlihat sedikit lebih gemuk dari terakhir mereka bertemu, tapi Thalita menebak kalau hari itu memanglah bukan suatu hari yang biasa.


"Eum, Tante… Ngomong-ngomong, kok hari ini Tante kelihatan cantik banget sih? Ada acara, ya?" tanya Thalita tiba-tiba, seolah tidak merasa ada masalah di antara mereka. 


"Apa?" 


"Eum, maksud aku… Tadi juga, aku sempat lihat keluarga Om Kend sama keluarga Papa Nunu pake bajunya kayak formal banget gitu. Emang ada apa, ya? Ada acara? Apa…" 


"Kayaknya itu bukan urusan lo, deh!" 


Thalita yang tadi bertanya dengan nada cukup penasaran, membungkam mulutnya, setelah mendengar suara ketus dan sinis yang diberikan Ricky kepadanya. 


Terlihat, cowok itu muncul dari dalam rumahnya, dengan memasang tampang judes dan tidak bersahabat. 


"Lo nggak perlu nanya-nanya gitu sama Tante Kal. Itu bukan urusan lo. Dan lagi, berhenti buat manggil bokap gue dengan sebutan Papa. Karena, selain Ricka, orangtua gue nggak pernah punya anak perempuan yang lain. Apalagi anak kayak lo!" 


"Ricky,"


Thalita yang mendapati Ricky sudah berdiri di depannya, lebih tepatnya lagi di hadapan Kalya, menundukkan wajahnya kembali. Sepertinya, mau dulu hingga sekarang, hubungan mereka tetap tidak akan bisa baik-baik saja. 


"Ricky, Ricko mana?" tanya Kalya sedikit berbisik pada Ricky, yang jelas masih terdengar oleh Thalita sendiri. 


"Tuh, di dalam. Lagi nyiapin mental buat ngadepin perempuan luar biasa ini." Sahut Ricky sinis, melirik Thalita yang semakin menundukkan kepalanya. 


"Emang, dia mau keluar? Bukannya tadi… " 


Kalya terdiam, karena tadi dia sempat melihat Ricko yang main masuk begitu saja ke dalam rumah, setelah melihat Thalita di rumah mereka. Tampak pria itu masih sangat sakit hati, dan belum siap untuk bertemu Thalita saat ini. 


"Tenang aja. Dia bakal keluar, kok. Dia itu kan gentle! Nggak Pengecut kayak orang yang kita kenal!" tekan Ricky berbicara pada Kalya, namun tatapannya jelas sekali mengisyaratkan penghinaan yang dalam bagi Thalita. 


"Tapi, Tante kok--" 


"Udah, mending sekarang Tante ikut sama aku aja, yuk! Kita ke dalam." Ajak Ricky pada Kalya, sambil mengulurkan tangannya kepada wanita tersebut. 


"Loh… Tapi, dia--" 


"Udah... Tante masuk aja ke dalam. Biar dia, aku yang urus."


Kalya hendak menolak ajakan Ricky, ketika Ricko tiba-tiba saja muncul dari arah dalam dengan wajah yang sedikit lebih sendu. 


Laki-laki itu duduk di kursi yang berseberangan dengan Thalita, dimana perempuan itu sudah *** tangannya gelisah, begitu mendapati Ricko yang melirik sekilas ke arahnya. 


"Emh, tapi, Ko… Tante--"


"Udah, deh, Tante Kal… Turutin aja kata Ricko! Ini memang urusannya dia. Jadi, biar dia yang menyelesaikan. Jadi, mending sekarang kita ke belakang." 


Tanpa menunggu respons Kalya yang masih terlihat tidak enak meninggalkan Ricko berdua bersama Thalia, Ricky pun langsung menarik tangan wanita itu lembut semakin masuk ke dalam rumah. 


"Ricky, kamu yakin, mau ninggalin Ricko berdua sama dia? Tante kok ya--" 


"Tante Kal…" 


Kalya yang masih terlihat keberatan, berhenti mengoceh, tatkala Ricky berhenti dan memenag kedua bahunya erat. 


"Kejadian itu udah dua tahun yang lalu. Aku yakin, kalo Ricko nggak sebodoh itu untuk masih terluka cuma karena perempuan nggak jelas kayak Thalita itu. Jadi, mending Tante tenang dan nggak usah mikirin soal itu. Oke?" bujuk Ricky pada Kalya, yang langsung ditepis wanita itu dengan cemberut. 


"Tante khawatir sama dia! Ricko itu benar-benar tulus cinta sama Thalita. Dan bisa aja 'kan kalau sekarang dia--" 


"Nggak bakal. Aku berani jamin soal itu!" tandas Ricky langsung, meletakkan kedua tangannya di pinggang, dan menatap Kalya dengan tegas. 


"Ricko itu jauh lebih cerdas daripada aku. Jadi, Tante nggak perlu khawatir sama dia." Ujar Ricky lagi, melihat Kalya yang saat ini menghembuskan napasnya yang terasa berat.


"Lagian, Tante emang nggak sebaiknya ada di sana. Selain bukan urusan kita, itu juga nggak baik buat kesehatan calon anaknya Tante." Kata Ricky lagi nyentuh kedua bahu Kalya yang menatapnya dengan heran. 


"Maksud kamu?" tanya Kalya bingung, mengerutkan dahinya sedikit. 


"Ya, maksud aku, kasihan dedek Bayinya kali kelamaan lihat muka mantannya si Ricko itu. Bisa sawan nanti." 


"Ricky!" 


Kalya yang kesal, memukul bahu Ricky yang tertawa. Untuk sesaat, mereka pun tersenyum bersama. Namun, tidak untuk berikutnya, karena keduanya sudah kembali terdiam dengan pandangan mata yang saling melihat satu sama lain. 


"Kira-kira… Mereka lagi ngomongin apa, ya?" tanya Kalya pelan, pada Ricky yang hanya mengangkat sedikit bahunya. 


Lalu, seperti sudah disepakati sebelumnya. Kalya dan Ricky pun kembali ke ruang tamu dengan cara mengendap-endap. Seolah tahu dengan niat hati masing-masing, keduanya bersembunyi di balik pilar ruangan, dimana mereka masih bisa melihat dan mendengar Ricko berbicara dengan Thalita di sana. 


Dengan pandangan mata tajam, Kalya dan Ricky mencermati semua kata yang keluar dari mulut Thalita terhadap Ricko. Termasuk satu kalimat, yang sontak membuat keduanya terkejut dan menatap heran satu sama lain. 


"Aku mau… balikan lagi sama kamu."


Bersambung