
Lampu ruang makan, sudah dinyalakan. Gavin dan ayah mertuanya pun, sudah duduk saling berhadapan di meja makan. Segelas air mineral, juga sudah Gavin sediakan di depan Pak Malik yang masih duduk membeku di depannya.
"Jadi… Apa yang mau Ayah bicarakan sama Gavin?" pancing Gavin gugup, memecahkan keheningan antara mereka berdua yang sejak lima menit yang lalu, hanya berdiam diri satu sama lain.
Seperti tidak mendengar, Pak Malik hanya tetap diam. Dia menatap lurus gelas panjang yang berisikan minum yang tadi Gavin berikan kepadanya.
Entah kenapa, tiba-tiba dia seperti ragu untuk berbicara.
"Ayah, Ayah baik-baik aja, kan?" tanya Gavin cemas, melihat wajah murung Pak Malik yang terus menerus mematung dengan pandangan mata sayu yang tertuju ke atas meja.
"Ayah nggak enak badan? Ayah mau Gavin antar berobat? Atau--"
"Apa kamu tahu, saya sangat benci terhadap kamu?" tanya Pak Malik datar, tanpa mengalihkan perhatiannya sama sekali ke arah Gavin, ataupun melihat wajah kaku menantunya itu mendengar perkataannya barusan.
"Jangan bersikap baik. Atau saya akan semakin kacau mendengarnya." Ujar Pak Malik lagi, masih terdengar datar, hingga membuat Gavin harus menahan perasaannya di dada.
Sebenarnya, jika saja Gavin itu adalah tipe pria egois yang tidak peduli dengan perasaan orang lain, maka dia tidak akan keberatan dengan ucapan Pak Malik terhadapnya. Dia bisa saja langsung meninggalkan pria paruh baya itu di dapur dan mengabaikan tatapan dinginnya terhadap Gavin sebagaimana Pak Malik mengabaikan diri Gavin kemarin.
Tapi, kenyataannya tidak seperti itu. Gavin sangat menghargai Pak Malik, sebagai ayah dari wanita yang dia cintai. Wanita yang sudah menjadi istrinya dan wanita yang sudah menjadi ibu dari anaknya. Rasanya, tidak etis, jika dia tidak menghargai Pak Malik sebagai ayah, sedangkan Kalya sanggup menganggap Kendra sebagai ayah mertua sebagaimana mestinya.
Gavin benar-benar takut, jika Pak Malik memang akan membencinya karena ini.
"Maaf," ucap Gavin menunduk, dan tidak berusaha untuk bersikap ramah, seperti yang Pak Malik minta padanya.
Pak Malik kembali terdiam, mengamati wajah Gavin sesaat.
"Saya tidak tahu, apa yang membuat anak saya bisa suka sama laki-laki seperti kamu." Desah Pak Malik panjang, kemudian membuang pandangannya ke arah lain.
"Bahkan, dari yang saya lihat dan dengar, dia juga sangat mencintai kamu." Sambung Pak Malik lagi, menautkan kedua tangannya di atas meja dan menatap Gavin dengan seksama.
Gavin hanya menaikkan sedikit pandangannya. Dia melirik Pak Malik sebentar, yang kini menatap lekat ke arah dirinya, dengan sorot mata yang tidak terbaca.
"Saya juga mencintai Kalya. Bahkan--"
"Saya tahu." Potong Pak Malik datar, mengangkat kedua alisnya. "Karena alasan itu kan, kamu jadi tega untuk merampas kehormatan anak saya?" ujar Pak Malik dingin --penuh sindiran--, membuat Gavin terdiam sejenak.
Di bawah meja, jari jemari Gavin sudah saling bertautan. Rasa cemas serta gelisah, tengah merongrong perasaannya saat ini.
Sekarang, dia tahu bagaimana rasanya berhadapan dengan ayah mertua galak, yang sangat sayang terhadap putrinya.
"Saya… Tidak ingin mencari pembelaan. Tapi…" Gavin yang tadi sempat menundukkan kepalanya sejenak, mengangkat kepalanya lagi, dan menatap Pak Malik dengan berani.
"Saya melakukan itu, karena saya memang benar-benar mencintai Kalya. Saya ingin menjadikan dia istri saya. Saya--"
"Kenapa kamu mengambil jalan pintas seperti itu? Apa kamu tidak percaya sama diri kamu sendiri?"
"Apa?"
Pak Malik yang sejak tadi mencondongkan sedikit tubuhnya bertopang di atas meja, merubah posisi duduknya jadi bersandar, dan melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa kamu tidak mendekatinya secara baik-baik? Kenapa harus dengan cara bodoh seperti itu? Kamu takut, dan tidak yakin, kalau kamu bisa mendapatkan cinta Kalya dengan cara yang normal?" tanya Pak Malik dalam, yang entah kenapa, seolah menusuk jantung Gavin secara perlahan.
"Apa kamu tidak percaya, pada diri kamu sendiri untuk mendapatkan cinta Kalya?" tekan Pak Malik sekali lagi, sukses membuat mulut Gavin terbungkam.
Jujur saja, sejak awal, Gavin memang selalu penasaran, dengan apa yang akan dia jawab, andai ada yang menanyakan hal ini kepadanya.
"Eum… Saya--"
"Saya tidak menyangka dengan pria arogan seperti kamu, yang ternyata tidak mempunyai pesona yang kuat untuk menjerat hati Kalya." Sela Pak Malik remeh, tersenyum miring pada Gavin yang hanya bisa menahan rasa kesal di hatinya.
"Ayah menyinggung harga diri saya, sebagai seorang lelaki."
"Dan kamu, merendahkan harga diri saya, sebagai orang tua." Timpal Pak Malik langsung, menatap serius Gavin yang juga tengah menatapnya dalam.
"Kamu sudah menjadi orang tua sekarang. Bayangkan, jika ada orang yang berani merusak kehormatan anak kamu, hanya karena alasan cinta. Apa kamu bisa menerimanya?" tanya Pak Malik tajam, menatap satu per satu mata Gavin.
Lewat tatapan mata Pak Malik, Gavin bisa melihat luka yang sangat lebar di sana.
"Andai saja… Anak perempuan kamu diperkosa, lalu dipaksa menikah dengan orang tersebut karena sudah hamil, apa kamu bisa menerimanya begitu saja? Apa kamu bisa memaafkan pelakunya, dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja? Tolong jawab saya, jika kamu memang bisa melakukan hal bodoh itu dengan mudah." Tuntut Pak Malik lagi, dengan napasnya yang memburu, menatap Gavin yang kini terdiam membisu.
Iya, Gavin paham dengan duduk permasalahan mereka saat ini. Memang, jika kondisi ini berbalik kepada Gavin selaku orang tua yang anak perempuannya dinodai hingga hamil, Gavin pasti tidak akan bisa dengan mudah menerimanya. Terlebih, kalau anaknya sampai menderita, seperti kondisi Kalya waktu itu. Bisa-bisa, Gavin malah tidak akan membiarkan anaknya menikah dengan pria brengsek semacam dirinya.
"Saya--"
"Kamu bisa memaafkannya?" sambar Pak Malik lagi, setengah menekan, dan membuat Gavin menunduk sejenak.
"Iya, Ayah benar. Saya yang salah. Dan maaf, udah terlalu percaya diri soal itu." Aku Gavin, berani mengangkat kepalanya, menatap Pak Malik sayu.
"Sekarang, terserah Ayah mau menghukum saya seperti apa. Selain tidak menjauhkan saya dari Kalya dan juga anak kami, saya akan menerimanya." Ucap Gavin pasrah, namun terkesan keras kelapa di telinga Pak Malik. Beliau bahkan sampai mengepalkan tangannya geram mendengar ucapan Gavin yang terkesan menantangnya seperti itu.
Asal tidak menjauhkan Kalya dan Gian, dia siap menerima hukuman apapun?
Hah! Lucu juga menantu kurang ajarnya ini. Dengus Pak Malik dalam hati.
Lama Pak Malik dan Gavin saling menatap serius satu sama lain, hingga pada akhirnya Pak Malik menghelakan napas beratnya, membuang pandangan ke arah lain.
"Saya sudah bicara dengan istri saya waktu di kamar tadi. Dan dia bilang saya terlalu egois sebagai seorang ayah. Apa menurut kamu juga seperti itu?" tanya Pak Malik tiba-tiba, menatap Gavin datar, hingga pria itu menelan ludahnya susah payah.
Tunggu! Dia harus jawab apa sekarang? Salah-salah, Pak Malik justru akan semakin marah kepadanya.
"Eum… Menurut saya--"
"Tadinya, saya ingin membawa Kalya beserta Gian untuk pergi dari kehidupan kamu. Cuma…" Pak Malik, menggantung kalimatnya, tepat saat kedua mata Gavin melebar mendengar ucapannya.
"Itu pasti tidak akan mudah, mengingat anak saya juga sangat mencintai kamu." Kata Pak Malik lagi, kali ini membuat kedua alis Gavin, menjadi bertautan.
"Maksud Ayah…"
Gavin yang tadi begitu paham dengan arah pembicaraan Pak Malik, memandang Pak Malik yang tengah menatapnya dengan sorot mata tidak terbaca.
"Untuk sementara, saya akan lihat, apa kamu memang benar-benar bisa membuat Kalya bahagia, atau tidak. Kalau iya, maka saya akan menarik diri saya untuk membiarkan dia tetap bersandar pada kamu. Tapi kalau, tidak…" Pak Malik menatap kedua mata Gavin dalam, dan menggelengkan kepalanya sejenak.
"Terpaksa, saya bawa mereka pergi dari kamu."
"Engh… Jadi, maksud Ayah… Gavin lagi dikasih kesempatan buat buktikan kesungguhan Gavin, terhadap Kalya dan Gian?" tanya Gavin berbinar, yang tiba-tiba saja merasa sedikit kaget, ketika Pak Malik menghembuskan napasnya panjang.
Kalau tidak salah mengartikan, sih… Kayaknya gitu. Pikir Gavin semangat.
Sambil menggidikkan bahunya seolah acuh tak acuh, Pak Malik menjawab. "Apa boleh buat?"
Bersambung