Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Salah Tingkah



Tiga jam mengarungi sungai bersama Elang rampung dengan melelahkan. Antrian di kamar mandi umum di base camp utama arung jeram mengular panjang.


Nindya berdecak senang melihat jajaran tenda di tepi sungai berwarna warni, indah sekali jika dilihat dari lokasi Nindya berdiri.


"Ibu duluan deh!" bisik Vivian yang sudah mendapatkan giliran masuk kamar mandi. Dia tidak tega melihat dosen pembimbing Elang pucat kedinginan.


Nindya tersenyum sebagai jawaban. Masuk ke dalam dan menyelesaikan mandinya secepat kilat, rasa dingin akhirnya memudar oleh baju kering dan syal yang dikenakannya.


"Makasih ya, Vi!" kata Nindya ramah sebelum melangkahkan kaki ke arah tenda.


Nindya ingin segera kembali ke rumah. Menenggelamkan dirinya dalam selimut dan tidur nyenyak. Dia sungguh masih malu dan gugup jika harus bertemu Elang.


Nindya tidak tahu harus berbuat apa di lokasi kegiatan keakraban untuk mahasiswa baru tersebut, dia hanya bisa menunggu ketua jurusan dan bagian kemahasiswaan mengajaknya pulang.


Ingatan kegiatan di sungai tadi kembali terlintas di kepala Nindya. Hatinya mencemooh sebal, bisa-bisanya dia tadi bergelayut di lengan Elang seperti wanita bodoh dan tidak berguna! Lebih menyesal lagi karena dia tidak jago berenang seperti Vivian?


Sambil mengeringkan rambut basah dengan handuk, Nindya tidak berhenti memikirkan pemuda yang selalu menggoda dengan senyum menawannya. Jika saja semalam tidak ada kejadian salah paha, mungkin Nindya tidak perlu semalu sekarang.


Di atas perahu tadi, menatap mata pemuda yang masih menyimpan hasrat padanya membuat Nindya sesak. Dia memang tidak berpengalaman, tapi bukan berarti tidak mengenal gairah yang dipancarkan seorang pria lewat matanya.


Terlebih itu adalah Elang, mahasiswa yang hampir setiap hari bertemu di laboratorium atau di meja kerja membahas hasil penelitian dan persiapan seminar dengannya. Nindya tahu betul cara Elang biasa menatapnya di kampus sebagai seorang pendidik, bukan sebagai wanita penggoda.


Oh Tuhan ….


Ternyata Elang menatap gelap dari kejauhan saat dirinya berjalan ke tenda dengan rambut basah dan wajah tanpa polesan. Tatapan yang seketika membuat kaki Nindya lebih berat untuk melangkah.


Bisakah Nindya melupakan fakta bahwa dia sedang merona di bawah tatapan Elang? Dan hanya dengan membayangkan bahwa semalam dia tidak sengaja mengerang di bawah himpitan Elang … Nindya spontan tersulut tak nyaman dengan desiran di hatinya.


Bisakah mereka berpura-pura tidak saling mengenal saja? Dan menganggap semua telah lewat atau tidak pernah terjadi? Lalu kembali seperti dulu, menjadi orang asing satu sama lain?


Ya, Nindya akan berpura-pura seperti tidak pernah terjadi apa-apa antara dirinya dengan Elang. Dia harus segera memutuskan hubungannya dengan Elang. Nindya harus mundur jadi dosen pembimbing jika ingin semua kembali normal. Dia harus menghindari Elang.


Meski Elang terlalu spesial ….


Pemuda itu ….


Mahasiswa yang baru berumur 22 tahun dan tiba-tiba menjadi sangat menarik hatinya hanya dalam beberapa jam, rasanya tidak pantas bagi Nindya untuk bertingkah dan mengaku kalau dia masih sama mudanya dengan mahasiswa tampan yang dibimbingnya itu. Dia seorang dosen.


Lalu kapan selisih umur atau jabatan menjadi masalah dalam urusan cinta? Nindya tidak mampu menjawab pertanyaan dalam hatinya. Belum.


Elang masih menatap langkah Nindya hingga jarak terkikis dengan cepat. Senyumnya mengembang tanpa rasa khawatir, Nindya terlihat baik-baik saja dan cantik natural. Bahkan gaya berjalannya biasa saja, tidak seperti gadis yang baru kehilangan separuh nyawa karena merasa sudah tidak perawan. Nindya tampak tegar.


Nindya membuang muka, dia tidak tahan dengan mata gelap Elang yang meluluhkan hati kerasnya. Nindya bergidik, dia berharap Elang menatapnya sama dengan ketika mata itu memandangnya dengan hangat dan ramah seperti saat di kampus.


Elang benar-benar membuat hati Nindya terusik. Menurut Nindya, bukan hanya tatapan intens dari Elang penyebabnya, tapi struktur wajah Elang yang tidak pernah membuatnya bosan, dan perawakan atlet dengan selisih tinggi 20 cm darinya itulah yang membuat Nindya bergetar.


Belum lagi kemaskulinan Elang … kulitnya yang terlihat bersih, ups! Nindya memucat seketika menyadari pikirannya yang tak karuan.


“Bu Nindya sakit?” Alis Elang menaut dan tangan kanannya menggantung di udara, siap menyentuh pipi Nindya jika diperbolehkan.


Sesaat, pertanyaan pemuda itu menimbulkan berbagai pikiran menyesatkan pada otak Nindya yang kacau. Dia tidak suka Elang memperhatikannya begitu spesial, dia bisa salah paham karena salah mengartikan.


Dan jika seorang pria sudah sangat peduli, artinya ada sesuatu yang diharapkan dari wanita di depannya. Tidak, Nindya tidak boleh melantur jauh. Mungkin Elang memang hanya ingin tahu keadaannya setelah hampir tenggelam di sungai saat rafting.


Nindya tidak mungkin berlagak tolol karena dia memang wanita cerdas, dia hanya bisa berlagak galak. Nindya menepis tangan Elang, “Tidak, aku baik-baik saja. Jam berapa acara selesai?”


Elang menurunkan tangannya santai. “Untuk tamu undangan acara sudah selesai. Bu Nindya bisa pulang sekarang,” jawab Elang dengan senyum memikat. Jenis ekspresi yang paling tidak disukai Nindya dari pemuda semacam Elang. Berbahaya.


Nindya melihat ke arah lain, mencari keberadaan rekan-rekan petinggi kampus dan juga tunangannya. “Baiklah, aku akan membereskan barang-barangku sekarang juga! Sampaikan pada kajur aku akan segera siap tidak lebih dari setengah jam."


"Ibu nggak pulang bareng Elang aja?" tanya Elang dengan senyum sintingnya.


"Hah apa? Tambah edan aja kamu!"


***