
Sebenarnya, jantung Elang sedang berdetak keras, bukan karena olahraga memanjat dinding yang dilakukannya, tapi karena matanya baru saja bertabrakan dengan Nindya saat mengarahkan pandangan tanpa sengaja.
Desiran aneh langsung menyapa hati Elang, ingatannya kembali ke pinggir sungai saat perempuan itu menamparnya. Bukan! Bukan bagian itu yang diingat Elang, tapi kelembaban Nindya yang membuatnya muntah hanya dalam beberapa celupan.
"Sial!" gerutu Elang pelan. Bahkan Vivian yang mengajaknya bicara masih tak mampu mengalihkan pikiran liarnya.
Elang melepas semua perlengkapan panjat dinding yang melekat pada tubuhnya dan berbicara dengan Arga yang masih memegang tali karmantel. "Hari ini cukup kayaknya, Ga! Aku capek!"
Arga mengedikkan kepala ke arah Vivian, "Bukan itu alasannya? Si Nangka?"
Elang tertawa penuh makna yang hanya dipahami oleh Arga sebagai sesama pemuda durjana, "Jangan pernah membuang makanan, Ga!"
"Enak nambah, nggak enak cukup satu kali aja ya?" tanya tegas Arga menatap tubuh Vivian sekilas.
Mata Elang ikut menyusuri lekuk depan gadis yang sedang menunggunya. "Nah … paham bener kamu sekarang!"
"Bisa diwariskan kalau kamu udah bosan sama tuh nangka!" Tawa Arga meledak.
Jujur, kepala Arga ikut pusing membayangkan nikmatnya menjamah seluruh bagian tubuh Vivian yang sama sekali tidak bisa disebut datar, melainkan penuh dengan lekukan yang sangat menggoda.
"Beres!" Elang memasukkan sepatu panjat dan chalk bag ke dalam tas punggung. Merapikan sit hardness yang baru dilepas dan memberikan benda itu pada Arga. "Duluan ya, Ga! Ntar kalau inget, aku sisain getahnya buat kamu."
"Kampret!" Arga tergelak, dia dan Elang tidak jauh berbeda, sama-sama memiliki kecenderungan untuk nakal di usia muda. Hanya saja, Elang lebih banyak mendapat keberuntungan soal wanita dibanding Arga.
Mereka juga gemar memanggil cewek dengan nama buah. Selain agar tidak ketahuan orang lain saat membicarakan yang bersangkutan, mereka memang tukang iseng, karena menganggap perempuan adalah buah segar yang bisa dimakan kapan saja.
Elang melambaikan tangan, beranjak meninggalkan teman-temannya yang masih semangat latihan, menyapa seperlunya pada atlet lain yang sedang berkumpul di depan wall climbing setinggi delapan belas meter lalu menggandeng tangan Vivian agar mengikutinya.
"Ada apa sih? Nangka apa?" Vivian penasaran, dia menjajari langkah Elang yang berjalan tergesa menuju tempat parkir kendaraan.
"Nggak ada apa-apa, aku cuma bilang capek sama Arga, butuh istirahat!" jawab Elang dengan intonasi lelah. Tidak mau menjawab pertanyaan Vivian dengan jujur.
Vivian menatap Elang yang sedang menyalakan mesin motornya, "Kak El mau kemana?"
"Kamu mau ikut aku atau gimana? Aku mau pulang ke kost," jawab Elang singkat.
Vivian mengerjap tak percaya, baru hari ini dia mendapatkan penawaran menarik dari pemuda yang sedang dikejarnya. "Em, iya aku ikut ke kost kak El aja!"
"Nggak takut?" Elang dengan sengaja bertanya pada pokok pikirannya yang sedang melanglang buana.
Vivian tertawa kecil, "Tempat kost kak El ada setannya?"
Pipi Vivian bersemburat merah, hatinya berbunga-bunga. Bibirnya bergumam lirih saat menimpali kalimat Elang, "Setan yang tampan dan meresahkan!"
Tawa Elang meledak, "Kamu cantik kalau merah merona begitu … kayak abg yang baru jatuh cinta."
"Aku memang lagi jatuh cinta, Kak!" Vivian naik ke atas motor dan memeluk Elang mesra saat keluar parkiran.
Motor gede warna hitam Elang meninggalkan kampus menuju tempat tinggal sementara Elang selama kuliah di kota Yogya.
Kost yang dimaksud Elang adalah rumah dua lantai dengan tiga kamar, ditempati Elang bersama dua teman seangkatannya. Salah satunya adalah Arga. Mereka bertiga patungan menyewa rumah asri tersebut untuk masa tinggal dua tahun, Elang menempati satu kamar di lantai atas.
Elang dan dua temannya juga membayar satu pembantu yang datang setiap hari untuk menyediakan makanan, membersihkan pakaian dan rumah.
Selama ini, mengajak perempuan ke kontrakan bagi Elang dan dua temannya sudah biasa. Dari teman kampus yang datang hanya untuk mengerjakan tugas ataupun pacar-pacar mereka yang diundang untuk sekedar menemani makan atau melakukan aktivitas lainnya.
Hanya ada satu peraturan mutlak di sana, yaitu tidak menginapkan perempuan di kontrakan. Itu adalah peraturan yang dibuat dan disepakati bersama. Jadi, dari jam sembilan pagi sampai sembilan malam merupakan waktu bebas mereka bersama wanita di dalam kontrakan. Mau di ruang tamu atau dibawa ke dalam kamar.
Elang memarkir kendaraannya langsung ke dalam garasi. "Ini tempat tinggalku, Vi. Masuk yuk!"
Vivian melempar senyum sumringah dan mengangguk senang. Bagi Vivian, menjadi pacar Elang adalah hal terakhir yang diinginkannya.
Gengsi yang sudah dijatuhkan teman-temannya karena belum juga bisa menggandeng Elang, akhirnya membuat Vivian berpikir pintas. Dia harus mendapatkan Elang hari ini dengan segala cara.
Vivian yakin, taruhan besarnya akan berhasil dan dia pasti keluar sebagai pemenang.
"Kak El tinggal sama siapa disini?"
"Ada dua teman, tapi mungkin belum pulang!" jawab Elang dengan seringai mengundang.
"Oh … bertiga." Vivian tertawa kecil memikirkan keberuntungannya.
Begitu juga dengan Elang yang mengulas senyum sekilas, dia mengajak Vivian ke tempat tinggalnya bukan tanpa maksud tertentu.
Elang sedang butuh sesuatu! Bukan sesuatu, tapi seorang perempuan yang mau membantunya mendinginkan darahnya yang sedang panas. Hasratnya naik mendadak, terpicu wajah cantik Nindya yang tak sengaja dilihatnya dari arena latihan panjat dinding.
Elang butuh Vivian untuk mengendurkan ketegangannya. Melihat Nindya membuat Elang tiba-tiba merasa kelebihan hormon dan butuh pelampiasan.
What the fvck?
***