
Bukan hanya rindu pada kenangan, tapi Elang yang sekarang merasa sangat kesepian dari kasih sayang. Hubungannya dengan sang ayah benar-benar memburuk sejak laki-laki paruh baya itu menikah dengan Bu Anita. Janda anak satu yang menggantikan posisi mamanya.
Elang masih sulit menerima keadaan tersebut, sulit menerima kehadiran wanita lain yang minta dipanggil ibu olehnya. Alih-alih memanggil istri ayahnya dengan sebutan ibu atau tante, Elang justru dengan tidak sopan memanggil dengan sebutan Mak Lampir.
Sebenarnya Elang tidak pernah diperlakukan buruk oleh ibu tirinya, tapi tetap saja Elang tidak sudi membangun hubungan baik dengan wanita yang sudah mengambil cinta ayahnya. Elang memiliki pandangan tersendiri mengenai cinta.
Satu-satunya yang bisa mengajak bicara saat Elang di rumah adalah Dewa, anak laki-laki dari Mak Lampir yang terpaut empat tahun lebih muda darinya. Dewa bisa diterima Elang karena tidak pernah sedikitpun ikut campur urusannya. Tidak mendekati ayahnya secara berlebihan ataupun mengambil alih kedudukannya di dalam rumah.
Elang semakin larut dalam kesedihannya, dalam kerinduan pada mamanya. Satu botol minuman yang dibelinya tanpa terasa isinya telah habis ditenggak, dan Elang berhenti sebelum kesadarannya hilang. Selalu saja begitu.
Pemuda tampan itu mandi sebentar untuk mengurangi panas tubuh dan bercermin memperhatikan wajahnya yang sedikit memerah karena efek alkohol.
Elang tidak berniat menanyakan uang saku bulanannya. Elang sadar kalau dia tidak pernah tidak menimbulkan keributan saat bicara dengan ibunya Dewa. Elang selalu berteriak marah jika wanita yang disebutnya mak lampir mulai ikut campur urusan pribadinya.
Elang tidak ingin wanita yang sedang sakit itu jatuh pingsan atau mati mendadak saat berhadapan dengannya. Pilihannya hanya satu, mengambil uang jatah bulanan dari setoran kasir di salah satu homestay yang nanti dilewatinya saat kembali ke kontrakan atau menelpon ayahnya agar beliau saja yang transfer ke rekeningnya.
Namun, belum sempat Elang keluar kamar, satu ketukan halus di pintu membuatnya bergerak malas dari depan cermin, membukanya perlahan.
"Kamu pulang jam berapa, El?" Wanita berparas ayu, istri ayahnya menyapa Elang dengan lembut. Suaranya sedikit bergetar lirih menandakan sedang tidak sehat. "Boleh ibu masuk?"
Elang menggeleng pasti, tidak ada yang boleh masuk ke area pribadinya selain dirinya sendiri. Elang tidak ingin kenangannya bersama sang mama di dalam kamar rusak oleh orang lain.
Biarlah hanya wanita yang melahirkannya saja yang pernah memiliki akses penuh untuk masuk ke kamarnya, membangunkannya, melipat selimutnya dan mengomelinya karena bangun kesiangan setiap hari.
Biarlah itu jadi satu-satunya tempat dimana Elang bisa mengingat penuh wajah sang mama saat menasehatinya, juga ekspresi menyenangkan saat Elang bercerita tentang kesehariannya di luar rumah. Biarlah kamar itu jadi kenangan sakral baginya saat terakhir dia melihat mamanya jatuh pingsan sebelum dilarikan ke rumah sakit dan pergi untuk selamanya.
Elang menghembuskan nafas berat, tubuhnya berdiri di tengah pintu menghalangi wanita di depannya yang baru saja meminta izin untuk masuk. "Aku mau ke bawah, meja makan, lapar!"
Tidak menunggu persetujuan, Elang menutup pintu kamar di depan wajah ibunya dan menuruni tangga menuju tempat makan. Meski tidak ada selera untuk mengisi perut, tapi Elang tidak menolak saat Imah si asisten rumah tangga keluarga, melayaninya dengan baik.
"Apa saja!" Elang mengangguk samar, sekali lagi tidak mau mengecewakan Imah yang selalu perhatian padanya saat di rumah dari sejak remaja. Sama seperti saat mamanya masih ada. Hal kecil yang membuat hati Elang sedikit menghangat.
"Kenapa uang bulanan belum dikirim? Aku butuh tambahan dana penelitian, aku sudah bilang sama ayah dan merincikan semua kebutuhan kuliahku! Aku ganti judul dan mulai penelitian dari awal lagi." Elang berbicara datar tanpa melihat istri ayahnya yang baru saja duduk.
Tanpa menjawab, ibu sambung Elang meletakkan amplop berisi uang tunai di atas meja dan mendorong pelan ke hadapan Elang. "Kamu nggak tidur di sini malam ini?"
"Nggak," sahut Elang ringan. Mulutnya penuh dengan makanan, dan tangannya menyambut piring berisi dadar telur.
"Kenapa? Kamu sudah lama tidak tidur di rumah, El. Ayahmu kangen, mungkin ingin ngobrol sebagai orang tua dan anak!"
Elang mengabaikan pertanyaan wanita di depannya, tapi menghabiskan makanannya dengan cepat lalu pergi meninggalkan meja makan. "Bilang sama ayah, besok aku mau ke Gunungkidul beberapa hari buat ambil sampling penelitian! Kalau mau ngobrol, telepon saja!"
"El, kalau ayahmu tau kamu bau alkohol seperti ini …." Wanita yang dipanggil Elang bersuara gemetar, tidak berani melanjutkan kalimatnya karena Elang sudah memasang wajah marah.
Elang tidak bisa membiarkan istri ayahnya menyelesaikan ucapan yang mungkin akan menyinggung harga dirinya, "Jangan memulai keributan denganku dan jangan suka mengadu pada ayah apa yang aku lakukan, itu urusan pribadi … jangan berani ikut campur!"
"Mau ada arisan keluarga Sabtu depan, sebaiknya kamu pulang, El! Ayahmu akan menjemput jika kamu sampai tidak hadir!" Ibunya berbicara sedikit menaikkan suara agar terdengar oleh Elang yang sudah meniti tangga ke kamar untuk mengambil tas.
Elang melangkah tanpa menoleh ataupun menjawab kalimat terakhir ibunya. Hatinya masih membenci wanita yang mengambil posisi mamanya di rumah besar tersebut. Apapun alasannya.
Dengan cekatan, Elang keluar kamar dan melesat menuju halaman, pergi dari rumah itu lebih cepat dari perkiraan. Elang ingin segera sampai di kontrakan, melanjutkan minum lalu tidur dalam ketenangan.
Haruskah harinya sekacau ini?
***