Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Masuk Angin



Dengan sigap, Elang mengambil alih kereta dan mendorongnya ke kasir. Membayar semua belanjaan Nindya dengan uang mendiang mamanya. Dan lagi-lagi Elang rela melakukan itu semua.


"Kamu sok berduit banget pake bayarin belanjaan aku? Uang dari mana, El?"


"Jatah makan bulanan!" jawab Elang enteng.


"Kamu juga membayar pakaian panas tadi …."


"Itu tabungan dari menang lomba."


Nindya menatap Elang penuh selidik tak percaya, "Nanti aku ganti!"


"Pake cinta?"


Enak saja! Tapi tetap saja Nindya berdebar-debar mendengar pertanyaan yang sepertinya spontan keluar dari hati itu.


Tak lama, mereka sudah berada di parkiran untuk menyusun barang di bagasi mobil. Hanya dua kantong plastik besar untuk belanjaan dan satu kantong berisi pakaian yang baru mereka beli.


Elang memperhatikan Nindya menutup pintu belakang sebelum menyudutkan punggung wanita itu hingga menempel di bagian belakang mobil. Kedua tangannya mengungkung Nindya, "Kamu semakin pucat, panas badanmu juga naik lagi. Kenapa masih tidak mau ke dokter?"


"Aku janji akan tidur begitu sampai rumah. Maksudku … kamarmu! Aku sudah bawa obat penurun panas." Nindya menahan dada Elang dengan kedua tangannya agar tidak menempel pada tubuhnya.


Elang menyingkirkan tangan yang menahan dadanya lalu menarik Nindya ke dalam pelukan. Satu tangannya mengusap kepala Nindya yang bersandar di dadanya. "Kamu bikin khawatir, tapi sangat keras kepala!"


Nindya tidak tau harus menjawab apa. Hatinya hangat. Namun air matanya merebak tanpa sebab pasti, mungkin karena rasa bersalah pada tunangannya, mungkin juga karena mengasihani diri sendiri yang tidak pernah dikhawatirkan pria manapun. Terutama ayahnya.


Dari sejak kanak-kanak, hidup Nindya hanya dipenuhi oleh sosok ibu. Tidak ada sosok pria yang benar-benar dekat dengannya, baik sepupu, paman ataupun kakeknya. Bahkan tunangannya sekalipun.


Sikap Daniel yang selalu formal dan sopan padanya seolah menjadi dinding pemisah untuk mereka. Mungkin karena mereka belum menikah! Tapi Nindya juga tidak yakin kalau karakter seseorang bisa berubah seiring perubahan statusnya, dan Nindya sangsi itu terjadi pada Daniel.


Nindya lebih yakin kalau hubungan mereka tidak akan lebih hangat setelah pernikahan. Semakin yakin lagi saat Elang hadir dengan semua kelakuan buruknya yang ternyata manis dirasa di hatinya. Entah bagaimana dia sekarang merasa lebih bebas dan bahagia dari apa yang pernah dirasakannya selama bertahun-tahun. Impulsif.


Lalu, dengan kesadaran penuh, tangan Nindya terangkat dan melingkar di pinggang Elang. Merapatkan pelukan pada mahasiswanya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku!"


"Aku tidak suka kamu berpura-pura sehat dan sok kuat!"


Nindya mengangguk pelan, menggesek pipinya ke dada Elang dan berucap lirih. "Maaf!"


Lalu Elang mengemudi lebih cepat ke kontrakan agar Nindya bisa segera beristirahat. Hatinya ikut ngilu merasakan demam Nindya yang belum juga turun. Harusnya Elang tadi tidak pergi berenang dan mereka tidak pergi ke mall dan Nindya bisa tidur nyenyak tanpa keluar rumah.


Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai. Elang langsung menyuruh Nindya pergi ke kamarnya sementara dia menuju dapur untuk membuat teh hangat.


Setelah memaksa Nindya minum obat, Elang menyelimuti tubuh Nindya. "Tidurlah, aku tidak akan mengganggu!"


"Kamu nggak tidur?"


"Aku ada latihan dan juga harus nyicil laporan untuk Pak Ronald."


Elang menaikkan sebelah alisnya, "Kamu minta ditemani?"


Nindya membalikkan badan, memunggungi Elang yang duduk di tepi ranjang. "Entahlah! Aku kurang nyaman kalau harus sendirian di kamar orang."


"Aku hanya latihan sebentar, dua jam! Tidak lebih."


Nindya tidak menyahut, nafasnya teratur dan matanya terpejam rapat. Lelap menyapa setelah obat yang diminumnya bekerja memberikan rasa kantuk. Tanpa pamit lagi, Elang mengganti baju dan meninggalkan Nindya untuk latihan.


Dua jam kemudian Elang kembali ke kamarnya dan Nindya masih tidur. Baguslah, Elang tidak perlu merasa bersalah karena meninggalkan orang sakit sendirian. Dia hanya perlu menyiapkan makan untuk Nindya dan mandi.


Nindya bangun saat Elang masuk membawa satu gelas teh hangat, sepiring nasi, sayur sop dan paha ayam Upin Ipin. Masakan pembantu di kontrakan alias makanan ala anak kos.


"Maaf aku tidur lama sekali." Nindya duduk di tepi ranjang dengan wajah malas khas bangun tidur. "Ternyata aku benar-benar kelelahan dan sepertinya kurang tidur selama di lapangan."


"Ya, aku yakin kamu juga lapar!"


Nindya menggeleng, "Minum saja, mulutku rasanya pahit, malas makan!"


"Cukup beberapa sendok buat ngisi perut, atau kamu nggak selera sama menunya? Mau dibelikan sesuatu? Tongseng? Capcay?" Elang mengulurkan sendok berisi makanan ke depan mulut Nindya, berniat menyuapinya.


"Aku bisa makan sendiri," ujar Nindya mengambil piring dari tangan Elang. Tidak ada wanita yang tidak suka dimanjakan pria, hanya saja Nindya merasa tidak pantas. Elang bukan suaminya, bukan pacarnya. Maksudnya belum.


Ya ampun, apa Nindya berharap suatu saat Elang akan menggantikan posisi Daniel? Menjadi tunangannya lalu mereka menikah?


Sepertinya kepala Nindya baru saja terantuk dinding, atau mungkin mimpinya terlalu romantis saat tidur, sehingga pikirannya kacau dan mulai melantur.


Nindya makan lebih lambat. Hanya beberapa suapan dan rasa mual menyerang. Nindya sampai mengeluarkan air mata, menahan diri agar tidak muntah di depan Elang. Dia minum sejenak dengan perasaan was-was karena Elang memperhatikan kondisinya yang sedang tidak nyaman. Nindya sebisa mungkin tidak membuat Elang berpikir bahwa dirinya sedang bergejala hamil.


"Aku sudah selesai." Suara Nindya terdengar seperti orang tercekik.


"Ada yang sakit?" tanya Elang perhatian.


"Mungkin masuk angin, perutku rasanya kembung!"


"Sini aku pijetin! Atau kamu suka dikerokin?"


"Jangan El…!"


Nindya mendesah lirih, membayangkan dipijat Elang membuatnya pusing, gairahnya naik perlahan tanpa bisa dikendalikan.


Elang tertawa ringan, "Kenapa? Takut sakit? Aku juga bisa lembut, Manis!"


Apa Elang memang selalu penuh perhatian pada wanita, sebagai upaya untuk mendapatkan mereka? Entahlah, rasa-rasanya Nindya memang sudah terpedaya oleh kenakalan mahasiswanya.


***