
Di rumah, Nindya belum juga bersiap pulang ke Semarang. Dia duduk termenung di ranjang seperti orang linglung. Hatinya masih terguncang dengan permintaan Daniel yang menurutnya kejam dan tak berperasaan. Debat sengit selama dua jam membuat otaknya berjalan lambat. Belum lagi efek dari aktivitas di kampus serta kesehatannya yang naik turun karena hamil muda. Nindya dalam kondisi sangat lelah, baik fisik maupun mental.
"Aku janji akan menikahimu setelah janin itu dihilangkan!"
"Kenapa aku harus mau menjadi ayahnya, dia bukan anakku, kasih aku alasan yang masuk akal, Nindya!"
"Untuk apa kamu keras kepala mempertahankan bayi itu jika bapaknya saja tidak mau bertanggung jawab? Aku nggak habis pikir dengan isi kepalamu sekarang!"
"Kenapa kamu harus melindungi orang yang melecehkanmu? Siapa dia? Yang ada di lokasi makrab kebanyakan mahasiswa, atau orang itu petinggi kampus?"
"Gugurkan! Setelah itu kita atur pernikahan segera!"
"Aku minta maaf, aku juga salah karena terlalu sibuk! Aku tidak begitu memperhatikanmu!"
"Seharusnya kamu cerita masalah ini waktu kita pulang dari acara makrab itu, jadi dokter bisa cegah kamu biar nggak sampai hamil!"
"Oke, kita berdua salah karena aku langsung ke luar kota sepulang makrab. Aku nggak ngerti harus ngomong apa lagi sama kamu!"
Dan masih banyak kalimat-kalimat Daniel yang terngiang-ngiang menyakitkan di telinga Nindya. Namun, dari sekian banyak janji Daniel dan rayuan masa depan cerahnya, keputusan Nindya sudah bulat, dia tidak akan melakukan aborsi.
Soal Elang? Entahlah, Nindya juga masih dalam kebimbangan. Dia bukan wanita jahat, terlebih pada sesama wanita. Nindya tidak ingin merebut Elang dari siapapun, apalagi dari Mayra.
Nindya berdiri mendekati lemari, membuka laci dan mengambil satu kertas lusuh yang beberapa waktu lalu diambilnya dari tas Elang. Sebuah surat yang dicurinya saat Elang sedang mabuk dan tak sadar.
Nindya membuka perlahan, lalu kembali membacanya dengan mata basah, merasa sangat bersalah.
[Teruntuk putraku tersayang, Elang
Hai El sayang, mama tebak kamu pasti sudah menemukan satu dari sekian banyak surat yang sengaja mama tinggalkan untuk kamu. El nemuin surat yang mama simpan dimana? Di meja belajar El, tumpukan baju, lemari pakaian atau yang selalu ada di kantong baju mama?
Jadi, gimana kabar El hari ini?
El udah makan?
Apa El sedang banyak kegiatan?
Mama harap El bisa menjalani hari dengan lebih baik setiap saat, meskipun itu tanpa ada mama lagi di sisimu sekarang.
Maafin mama ya El, maaf karena mama belum bisa menjadi orang tua terbaik untuk kamu!
Maafin mama yang pada akhirnya membuat El kecewa!
Maafin mama yang nggak pernah bisa berterus terang tentang kondisi yang sebenarnya!
Mama sangat menyesal harus meninggalkan kamu sendirian, mama menyesal nggak bisa nemenin kamu lebih lama, tapi sudahlah … yang penting kamu harus bisa memaafkan mama!
El sayang, mama harap kamu tetap menjadi putra kebanggaan untuk mama. Buatlah mama bangga melihatmu berhasil dari atas sana! Mama percaya El bisa dan El mampu mewujudkan impian mama. Mama juga yakin El sabar menghadapi manis pahitnya kehidupan dengan cara yang baik.
El sayang … bisakah mama meminta satu hal lagi padamu? Mayra, dia gadis baik, dari keluarga baik dan mama rasa dia juga cantik. El setuju kan soal itu? Tapi, bisakah kamu menjaga Mayra untuk mama, Sayang?
Mama berharap El bisa menerima Mayra, untuk menemani El di setiap langkah dan untuk selalu berada di sisimu di setiap keadaan.
Terimakasih karena telah menjadi putra terbaik mama, juga karena bisa melepas mama dengan ikhlas pada akhirnya.
Cium dari mama dengan penuh cinta, untuk Elang tersayang, Putraku.]
Nindya melipat kertas itu dan menyimpan kembali ke dalam lemari dengan perasaan getir. Apakah bersalah misalnya dia menjauhkan Elang dari Mayra?
Oh Tuhan, Nindya terlalu rapuh dan tidak punya keberanian untuk menyakiti Mayra yang baik hati. Mayra yang mencintai Elang dalam diam dan penuh kesabaran, Mayra yang diharapkan mendampingi Elang di masa depan. Nindya tidak mampu melukai hati Mayra, apalagi mengabaikan pesan wanita yang melahirkan Elang. Dia juga wanita.
Nindya mengambil sepasang baju yang dipesan khusus untuk menghadiri pernikahan sepupunya, menyingkirkan milik Daniel dan hanya mengemas miliknya.
Daniel tidak bersedia ikut ke Semarang, dan Nindya juga sudah malas melihat tunangannya itu setelah perdebatan panjang mengenai kehamilannya.
Daniel boleh berkeras hati ingin menikahinya dengan syarat, tapi Nindya juga lebih keras kepala untuk tetap mempertahankan kehamilannya. Menikah atau tidak dengan Daniel akhirnya tidak lagi penting, Nindya hanya ingin anaknya lahir selamat, dengan atau tanpa bapak.
Nindya melirik ponselnya yang terus berdering, Elang berusaha menghubungi dari sejak siang, dan Nindya mengabaikannya demi menenangkan hati.
Dua puluh menit berikutnya, Nindya sudah siap dengan tas dan perlengkapannya. Dia ingin menumpahkan beban hatinya pada sang ibu sesegera mungkin, bercerita apa adanya mengenai situasi sulit yang sedang dihadapinya.
Setelah meraih kunci, Nindya bersiap keluar rumah. Namun, rautnya seketika terkejut karena Elang berdiri di depan pintu dengan wajah tidak ramah, setengah marah.
"El? Sejak kapan kamu di sini?" tanya Nindya parau.
"Sejak tadi," jawab Elang dingin.
"Aku tidak dengar kamu mengetuk pintu!"
"Aku menghubungi benda yang selalu ada di dekatmu dari siang, bukankah seharusnya kamu dengar teleponmu berbunyi?"
"A-ku …," ucap Nindya terputus, sibuk mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Elang. Kesedihan kembali menyeruak hingga air mata nyaris merebak.
Nindya tau betul, cara terbaik bagi wanita untuk menjauh dari pemuda agresif seperti Elang adalah dengan kabur dan menghindar. Tapi … dia jelas tidak berhasil pada percobaan pertama.
"Aku akan mengantarmu pulang ke Semarang!" kata Elang tanpa basa-basi. Matanya tajam mematri wajah sendu Nindya yang kesulitan menolak kehadirannya.
"El …." Nindya maju mendekat dengan penuh keragu-raguan, bingung dengan perasaan dan sikap yang harus ditunjukkan. Air matanya sudah tak terbendung.
"No, no … kamu tidak boleh menangis!" Elang menyambut dengan sigap, merengkuhnya dalam pelukan hangat dan posesif, hingga kedua tangan Nindya memiliki keberanian untuk membalas. Melingkari pinggang dan menyandarkan dahinya di dada Elang, dalam isak yang sulit ditahan.
Elang tidak bisa mengabaikan Nindya yang tidak mengangkat teleponnya, perasaannya tidak bebas tanpa mendengar kabar dosen pembimbingnya. Terlebih tadi siang Nindya keluar kampus bersama Daniel.
Pemuda itu bahkan meninggalkan acara arisan keluarga yang masih berlangsung demi memastikan keadaan Nindya. Pamit pada ayahnya dengan segala cara agar bisa menemui wanita yang mulai dicintainya.
"Thanks udah datang!" kata Nindya semakin mengeratkan pelukan. Lega, tapi juga terluka.
"Aku mengkhawatirkanmu, Bu Dosen!" ucap Elang lembut sembari mencium bagian atas kepala Nindya.
***