Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Interogasi



Nindya tidak tidur nyenyak semalaman demi menjaga Elang, dia khawatir kalau pemuda yang tidur gelisah di dalam rumahnya membutuhkan sesuatu. Setidaknya dengan tidak lelap, Nindya juga secara otomatis sudah menjaga dirinya sendiri dari keusilan Elang yang mungkin terjadi seperti kejadian rafting beberapa waktu lalu.


Dosen muda itu sedang memasak di dapur untuk membuat sarapan saat Elang terbangun. Dia melirik dan memperhatikan sekilas Elang yang sedang duduk sambil termenung.


Tak lama, Elang pergi ke arahnya, tersenyum hambar lalu masuk ke kamar mandi setelah Nindya mengulurkan handuk bersih dan sikat gigi yang masih bersegel tanpa berbicara. Harus Nindya akui, pemandangan dada lebar Elang dan wajah yang baru bangun tidurnya benar-benar menunjukkan pesona Elang. Born to be awesome, istilahnya.


Menit berikutnya suara air shower mengalir deras, menandakan yang ada di dalam kamar mandi mulai membersihkan diri. Nindya terpekur sejenak membayangkan tubuh telanjang Elang dengan tetesan air di rambut, wajah dan dada … dan bagian bawahnya, dan Nindya berdesir. Astaga!


Nindya spontan mengalihkan perhatiannya, menyiapkan sarapan sambil berpikir mengenai surat yang dia temukan di tas Elang. Surat yang berjumlah lebih dari lima tapi dengan isi yang sama. Surat yang entah sejak kapan selalu ada di tas Elang dan dibawa kemana-mana. Dilihat dari amplop yang kotor dan lusuh, surat itu jelas sekali sudah sangat lama.


Awalnya, Nindya membuka dan memeriksa tas Elang hanya untuk memastikan kalau Elang tidak membawa narkoba ke rumahnya. Sebagai pendidik yang sedikit memahami kenakalan remaja, Nindya tidak ingin terseret masalah fatal atau melanggar hukum yang mungkin ditimbulkan Elang.


Namun, membaca surat tersebut membuat hati Nindya nyeri, alasan yang juga membuat Nindya menjadi sangat maklum terhadap kelakuan buruk Elang. Nindya diam-diam mengambil satu lembar tulisan mama Elang dan menyimpannya di dalam lemari. Entah untuk alasan apa dia belum tahu. Lagi pula Elang juga pasti tidak akan menyadari kalau jumlah surat di dalam tasnya berkurang satu.


Elang keluar kamar mandi dengan handuk yang hanya menutup bagian pinggang hingga atas lututnya. Rambut basahnya berantakan saat menghampiri Nindya yang sedang menata piring di meja makan.


Sembari menunggu Nindya selesai, Elang tetap berdiri menatap tangan terampil Nindya yang sedang sibuk. Dia baru memundurkan tempat duduk, menarik tangan Nindya, memaksanya agar mau dipangku olehnya setelah dosennya itu menatapnya jengah.


"El … apa-apan sih?" Nindya kaget, duduk dalam posisi miring dengan kikuk di pangkuan Elang yang langsung mengeratkan pelukan di pinggangnya.


"Aku hanya ingin bicara, aku mau kamu jujur!" Elang menarik dagu Nindya agar mata mereka bisa saling tatap.


"Nggak perlu pake acara begini kalau cuma mau bicara," gerutu Nindya gerah dengan kelakuan Elang.


Terlebih pemuda yang mendekapnya sedang tidak memakai baju, dan Nindya duduk di atas paha yang hanya berlapis satu kain saja. Membayangkan apa yang ada dibalik penutup itu, spontan wajah Nindya panas dan memerah dengan sendirinya.


"Apa aku melakukan sesuatu yang buruk padamu saat mabuk tadi malam?" tanya Elang tak peduli pada gerakan gelisah dosennya.


"Tidak sama sekali, kamu hanya tidur!"


"Yakin?" tanya Elang mengangkat sebelah alisnya.


Nindya kesal, suaranya ketus saat bertanya balik, "Jadi kamu berharap aku menjawab apa?"


"Apa kamu melakukan sesuatu padaku?"


Nindya menggeleng ringan, menjawab sinis pertanyaan tidak masuk akal dari Elang. "Aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang hina, El! Kamu pikir aku bakal mencuri ciuman atau memperkosamu saat tidak sadar?"


Nindya melebarkan mata tak percaya meski nada suaranya sedikit turun saat bicara, "Bisakah kamu melepasku sekarang, tidak baik bersikap tidak sopan di rumah orang, El?!"


Elang tertawa sumbang, "Aku masih belum selesai, Sayang!"


"Aku bukan pacarmu, El. Stop panggil aku seperti itu!"


"Lalu kenapa aku tidur tidak memakai baju?"


Nindya bernafas dengan jengkel, "Kamu nggak lihat muntahan yang aku tutup kain di sebelah posisi tidurmu?"


"Ohya aku muntah dan bajuku basah ya?"


"Hm, baju kotormu ada di jemuran belakang!"


"Bagaimana dengan celana? Kalau tidak salah aku bangun tidur hanya mengenakan ****** tadi. Apa aku mengompol sampai kamu juga harus melepas celanaku … atau ada motif lain?"


Wajah Nindya semakin merah. Dia memang membantu melepaskan celana yang basah di bagian pinggang agar Elang tidur lebih nyaman. "Basah juga terkena muntahan, celanamu juga ada di belakang!"


"Em … kamu nyentuh itu nggak pas buka celanaku?" tanya Elang dengan muka jahil seraya menunduk menatap bagian yang diduduki Nindya.


"El …!" pekik Nindya keras dengan mata mendelik tidak terima.


"Aku sudah bilang tidak keberatan, lagian aku hanya bertanya hal ringan kenapa kamu harus marah. Kamu sedang pms apa sedang hamil?" Elang meraba perut Nindya dengan ekspresi berubah menjadi sangat penasaran. Tidak menggubris sedikit pun amarah Nindya.


"Tidak! Aku tidak hamil." jawab Nindya risih dan cepat, menyingkirkan tangan Elang yang masih menempel pada perut datarnya.


"Apa kamu sudah memastikannya? Mana buktinya kalau kamu tidak hamil, aku mau lihat!" Elang menatap tajam mata Nindya yang mengelak bersirobok dengannya. Wajahnya seketika memerah membahas hal pribadi seperti itu, mengingatkan pada sentuhan Elang di bagian bawahnya yang membuat sakit kepala hingga sekarang.


"Aku belum melakukan pemeriksaan, tapi tidak ada perubahan berarti yang aku rasakan dalam tubuh. Aku sedang menunggu jadwal periode bulanan, harusnya minggu depan!"


"Apa waktu itu kamu sedang dalam kondisi tidak subur?"


Nindya mendelik jengkel, kenapa pemuda yang seharusnya masih sibuk dengan urusan kuliah itu harus tau masa subur wanita? Apa Elang begitu pengalamannya hingga harus bertanya demikian?


***