Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Playboy Sialan



Nindya tersenyum kikuk merasakan jari-jari Elang membelai pipi hingga rahangnya. "El … bisakah permintaanmu ditunda beberapa hari lagi?"


"Takut ya?" Elang terkekeh, "Aku masih waras, aku menghormati privasi perempuan yang sedang masa periode. Aku hanya iseng menggodamu!"


Spontan Nindya memukul lengan Elang, "Kamu seneng ya bikin orang panik?"


"Aku tau kamu gelisah. Maaf jika bercandanya keterlaluan. Jangan dibawa serius, Manisku!" Elang mengecup bibir Nindya sekilas sebelum melanjutkan ucapannya, "Tidurlah, aku akan mengerjakan tugasku!"


Elang kembali duduk di ruang tamu dan mengeluarkan kertas penuh coretan tangannya. Mulai membuat laporan yang diperlukan untuk bimbingan di hari Sabtu.


"Aku akan membantumu!"


"Tidak perlu, aku bisa mengerjakan ini sendirian. Sekarang cuma mau nulis karakteristik air di kawasan karst sebagai pendahuluan. Materinya sebagian sudah siap."


"Kamu bisa mulai babnya dengan menjelaskan ketersediaan air di daerah itu. Ada tiga macam jenis air yang bisa digunakan, air hujan, air permukaan dan air tanah. Untuk air hujan dan air permukaan, buat saja ulasan singkat karena tidak masuk dalam penelitian. Sedangkan sumber air bawah tanah kamu buat lebih rinci. Lampirkan data statistik kebutuhan air warga desa yang paling dekat dengan tempat penelitian."


"Iya, Bu."


"Kamu tau kan, saat infiltrasi ke tanah, air mengalami kontak dengan mineral-mineral yang ada di dalam tanah dan melarutkannya, kualitas air akan berubah karena adanya reaksi kimia saat peresapan terjadi. Lanjutkan dengan penjelasan sifat kimia air di kawasan karst yang kebanyakan terpengaruh oleh proses pelarutan batuan karbonat."


"Iya, Bu!"


"Itu tidak terlalu sulit, aku rasa tidak sampai dua bulan kamu sudah bisa seminar. Proyek dosen ini juga ditargetkan selesai hanya dalam waktu tiga bulan! Besok kamu bisa mulai uji laboratorium untuk sampling penelitian air tanahnya."


"Siap!"


"Ada tiga pengujian utama yang harus kamu kerjakan, El! Uji fisika, uji biologi dan uji kimia untuk mendapatkan kualitas baku mutu air bersih."


"Iya, siap!"


"Biasanya sih air di daerah seperti itu didominasi dengan kandungan kalsium, magnesium, kesadahan karbonat dan kebasaan! Satu luweng (goa) yang satu dengan yang lain mungkin airnya memiliki unsur kimia yang sama, hanya persentasenya saja yang berbeda."


Elang mengangguk memahami, "Sepertinya memang seperti itu."


"Setidaknya dapatkan satu atau dua sumber air tambahan untuk penduduk dari goa-goa itu. Kamu nggak keberatan kan turun ke beberapa goa untuk mencari sumber air bersih yang dibutuhkan?" tanya Nindya serius.


Elang menanggapi semua kalimat Nindya selayaknya mahasiswa, serius dan juga formal. "Nggak masalah, saya udah bilang sama temen-temen divisi caving. Yang penting bayarannya lancar hehehe, trus misal penelitiannya berhasil … gimana kelanjutannya, Bu?"


"Pasti diupayakan untuk mendistribusikan sumber daya air tanah itu ke penduduk setempat, mungkin butuh sponsor yang mau membiayai pengangkatan dan pemipaan air ke tempat yang lebih mudah dijangkau warga. Butuh tempat penampungan yang besar tentunya … dan juga biaya yang tidak sedikit. Itu jadi urusan kampus nanti." Nindya tersenyum geli, mereka seperti kembali ke saat sebelum malam laknat di tenda pinggir sungai.


"Aku yakin, UKM mapala akan mendapatkan jaminan dana dari kampus, untuk menambah alat dan kelancaran biaya kegiatan petualangan lebih banyak dari pada UKM lain. Kamu juga pasti dapat penghargaan dari kampus, dari Pak Ronald sebagai kepala jurusan dan juga dari dosen pembimbing … Bu Nindya." Suara Nindya lebih rendah saat menyebut namanya sendiri, dan Elang hanya menaikkan satu alisnya untuk menanggapi.


Situasi masih saja formal saat mereka serius membahas materi kuliah. "Saya pinjam laptop ya, Bu!"


"Hm, pakailah!" jawab Nindya singkat. Dia duduk tak jauh dari Elang sembari membaca. Dan seperti biasa, memakai kacamata.


Elang kurang menyukai penampilan Nindya jika sudah seperti itu. Terlihat seperti kutu buku yang menggemaskan!


Elang benar-benar mengesampingkan semua urusan pribadi, dia murni fokus pada laporan penelitian. Obrolan pun tidak kemana-mana selama dua jam penuh, sampai Elang selesai dengan urusan kuliahnya.


"Sebaiknya aku pulang sekarang, soalnya besok harus bangun pagi!" Elang membereskan meja, juga mematikan laptop Nindya setelah mengcopy file yang baru dikerjakan.


"Memangnya besok kamu ke laborat jam berapa?" tanya Nindya seraya menutup buku bacaannya. Melepas kaca mata lantas menguap pelan.


"Jam delapan."


"Aku akan melihat hasilnya sekitar jam sepuluh, mungkin cuma sampai jam sebelas. Jadwalku lumayan padat untuk besok, tiga sesi ngajar maraton anak semester delapan. Kamu ada kegiatan lain apa setelah nge-lab?"


"Tidur mungkin, sore ada latihan," jawab Elang singkat. "Kamu udah baikan mau full day di kampus?"


"Ya, aku sudah sehat!" Menatap lurus pada Elang sebelum bertanya, "Kamu besok nggak ada acara sama Vivian?"


"Belum tau! Kayaknya besok latihan lebih lama, ada teman atlet dari mapala lain ikut gabung … mau bouldering bersama!"


"Aku denger tadi waktu kamu ditelepon Vivian … kamu janji sama dia kalau besok ada waktu ketemuan!"


Elang tertawa ringan, tanpa merasa bersalah dia menjawab asal, "Janji Elang selalu bisa direvisi sesuai kebutuhan!"


"Oh … jadi, janji manis yang kamu obral padaku kemarin-kemarin itu juga semua cuma basa-basi? Bisa direvisi sesuka hati? Hanya sebatas rayuan gombal agar kamu bisa kembali meniduriku?" tanya Nindya dengan mata melebar skeptis dan menghakimi.


Elang mengeluh dalam hati, kenapa juga dia harus menyukai perempuan rewel bermulut keji yang satu ini? Elang mendekatkan dirinya tanpa permisi, memberikan kecupan sekilas di pipi Nindya sebagai sikap undur diri.


"Sejujurnya aku memang sangat ingin mengumbar rayuan gombal setiap hari, khususnya untuk dosen pembimbingku tersayang!" bisik Elang sensual sebelum melangkahkan kaki untuk pulang ke kontrakan.


Dasar playboy sialan!


***