
Selesai berenang, Elang dan Nindya makan di kafe homestay. Lebih banyak bercanda sambil menikmati suasana santai. Tidak begitu lama berada di sana karena Nindya mengatakan ingin segera belanja.
"Aku butuh membeli beberapa kebutuhan, juga mengisi kulkas yang kosong! Temani aku ke supermarket sebentar bisa?"
"Oke, ayo berangkat sekarang!"
"Biar aku yang mengemudi," kata Nindya sembari mengambil kunci mobil yang ada di atas meja.
Elang mengangguk, mengekori Nindya yang berjalan di depannya dengan ekspresi rumit. Bahkan setelah mereka berada di dalam mobil, Elang masih terus saja memperhatikan wajah Nindya yang sedikit pucat.
"Kamu masih kurang enak badan ya?"
"Sedikit pusing. Setelah belanja sepertinya aku akan menghabiskan waktu untuk tidur di rumah."
"Tapi kamu sendirian di rumah, istirahat di tempatku saja!"
"No!" tolak Nindya tegas. Dia tidak mungkin bisa tidur di kamar Elang. Tubuhnya memang kurang sehat, tapi otaknya masih sangat bisa untuk berpikir yang tidak-tidak saat di kamar bersama pemuda tampan itu.
Elang melepas safety belt, mencondongkan tubuh ke arah Nindya dan menempelkan punggung tangannya di dahi, pipi dan juga leher. "Sedikit demam."
Nindya mengangguk setuju, "Ya, bukan masalah besar!"
Tangan Elang yang baru saja mengecek suhu tubuh Nindya merentang di sandaran kursi Nindya, bermain-main dengan ujung rambut dosennya yang fokus mengemudi. Sementara satu tangannya diletakkan di lutut Nindya tanpa bergerak … maksudnya belum, tapi jelas mengandung bahaya.
"Kamu perlu dokter, Nindya!"
"El, kamu mengganggu konsentrasiku menyetir!" protes Nindya kasar.
Bukannya mendengarkan, Elang justru lebih mendekatkan wajahnya. Mencium pipi Nindya, menggeseknya dengan hidung hingga nafasnya masuk ke dalam telinga Nindya.
Setan! Maki Nindya dalam hati. Getaran yang dihasilkan dari gesekan bibir dan hidung Elang di pipi menjalar ke telinganya yang sensitif, turun ke ujung dada lalu dengan sensasional berjalan lambat menuju bagian bawah pusat tubuhnya.
"El, aku bisa menabrak kendaraan lain!" pekik Nindya frustasi. Belum pernah seumur hidupnya digoda dengan cara manis tapi menegangkan seperti itu.
Di jalan raya, di tengah padatnya lalu lintas kota, Nindya harus membagi fokusnya. Tetap membuka mata agar mereka berdua tidak celaka, atau memejamkan mata menikmati sesuatu yang sangat menggugah selera bercintanya. Benar-benar pilihan yang sulit.
"Katakan kamu mau istirahat di kamarku dan aku akan membiarkanmu menyetir dengan tenang!"
"Ok fine, kamu menang!" Nindya sedikit histeris dan cepat menjawab saat merasakan tangan Elang yang memegang lututnya bergerak naik mengusap pahanya, turun ke arah lutut, tapi saat naik lagi justru lebih ke arah bagian dalam paha atas Nindya.
Jantung Nindya hampir meledak merasakan sensasi erotis di lokasi tubuhnya yang tak jauh dari tangan Elang bergerilya. Meski belum sampai menyentuh area pribadinya, tapi rasa terbakar dan panas tidak mampu ditahannya.
Lebih baik mengalah daripada gila di jalan raya. Dia tidak bisa tetap keras kepala bermain-main dengan keisengan Elang. Nyawanya bisa melayang jika mobilnya sampai mengalami kecelakaan.
Elang tertawa santai, melepaskan kedua tangannya dan duduk pada posisi semula. Menyalakan musik slow rock lalu memakai kembali safety belt, memejamkan mata sejenak sebelum mereka sampai di pusat perbelanjaan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Daniel?" tanya Elang dengan suara malas.
"Kamu tidak ingin putus dengannya?"
"Tidak ada alasan untuk putus ataupun membatalkan rencana pernikahanku dengannya!"
"Kenapa kamu tidak membiarkan aku bertanggung jawab?"
"Karena tidak ada yang harus kamu pertanggungjawabkan, El! Kita sudah bahas ini berkali-kali. Jangan memulai omong kosong lagi, aku bosan!" Nindya menekankan tiap kata yang diucapkan dengan tegas, harapannya hanya satu, Elang bisa mengerti dan tidak bersikap seperti pahlawan untuknya.
Elang tak menggubris kalimat Nindya. Bagi Elang, dalam sebuah kalimat, ada kata yang sebaiknya didengar ada juga kata yang harus diabaikan.
Perdebatan kecil dengan Nindya tak pernah berarti apa-apa bagi Elang. Tidak ada yang bisa mengatur kehendak hatinya pada Nindya, baik itu orang lain atau Nindya sendiri.
Nindya kesal karena Elang tidak mendengarkan alasan-alasannya, mood buruknya terbawa sampai mall. Sementara Elang tetap santai seperti tak ada hal penting yang membebani hidupnya.
"Aku ingin membeli celana olahraga buat latihan!" Elang mengajak Nindya ke bagian pakaian pria. Dua kaos oblong berwarna hitam dan dua celana pendek olahraga dimasukkan Elang ke dalam keranjang belanjaan yang dibawa Nindya.
"Haruskah semua berwarna hitam? Selain kemeja kuliah, aku lihat semua kaosmu berwarna hitam, hanya beda gambar saja."
"Aku suka warna hitam."
"Kamu seperti tidak pernah ganti baju, setiap hari memakai warna yang sama!"
"Enak, nggak pusing harus pilih warna baju apa tiap harinya. Yang penting bersih, wangi dan kamu suka."
"Kapan aku bilang suka?" protes Nindya.
Elang menyeringai jahil sebelum menjawab, "Suka nggak selalu diungkapkan dengan kata-kata."
Nindya tak menyangkal lagi, malas meladeni Elang yang selalu punya jawaban. Dia memilih pergi mencari kesenangan ke fashion wanita sebelum Elang protes dengan kemungkinan banyaknya waktu terbuang untuk mencari pakaian yang tepat.
Entah sudah berapa lama Elang tidak berbelanja barang pribadi, kedatangannya ke mall kebanyakan hanya untuk menemani pacarnya nonton atau makan. Hal membosankan yang tidak begitu disukainya karena banyak membuang waktu. Tadi, saat memilih pakaiannya pun tak lebih dari sepuluh menit.
Mengunjungi bagian pakaian wanita, Nindya akhirnya hanya membeli satu handuk baru dan dua piyama. Sehingga mereka juga tidak butuh waktu lama di area baju-baju wanita, sekitar tiga puluh menit saja.
"Aku sudah selesai!" kata Nindya setelah membayar belanjaannya.
"Aku belum!"
"Apa masih ada yang ingin kamu beli?"
"Ada, tunggu sebentar!"
"Oh no, oh no, no!" Nindya mengerang lirih saat menyadari Elang masuk ke dalam toko Victoria's Secret.
***