Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Crazy Boy



"Biar aku yang bereskan," kata Elang setelah mereka selesai sarapan. Menyingkirkan semua peralatan kotor dari meja makan, membawanya ke tempat cuci piring. Ketika kembali lagi, Elang langsung menghampiri Nindya yang sudah pindah duduk ke perpustakaan. "Ini bukan waktu untuk membaca, ini waktumu istirahat!"


"El, apaan sih?" Nindya memaksa melepaskan diri dari kungkungan di punggungnya. Niat membaca buku untuk menghindari kontak dengan Elang sepertinya tidak akan berhasil. "Aku sedang menunggu orang laundry."


Bertepatan dengan itu, laundry langganan Nindya datang untuk mengambil karpet kotornya. Nindya membuka pintu, dan menutupnya kembali setelah pegawai laundry meninggalkan rumahnya.


Suasana menjadi canggung untuk Nindya. Tapi Elang mana mau peduli, dia mendekati Nindya dan membalikkan tubuh dosennya dengan cepat, membungkuk rendah lalu mengangkat Nindya dalam gendongan, tangan kirinya menyelip dibawah bahu dan tangan kanan di belakang lutut Nindya.


"El … are you crazy?" Nindya menjerit tertahan karena kaget tidak terelakkan, tapi sekali lagi itu bukan hal yang harus diperhatikan Elang.


Seketika, secara reflek, Nindya melingkarkan tangannya ke leher Elang untuk mengimbangi tubuhnya yang mendadak tidak lagi menginjak tanah. Dia hampir mengumpat kasar pada pemuda yang tersenyum lebar saat menatapnya.


"Yes, i am crazy!"


Gemuruh dada Nindya seperti ombak yang sedang pasang, begitu besar dan menderu. Suaranya tercekat dan bergetar ketika mengucapkan permintaan, "Turunkan aku, El!"


Namun, Elang hanya menatap tajam dengan segala perasaannya yang campur aduk. Dia sendiri merasa cukup sinting melakukan hal itu pada dosennya. Hal manis yang belum pernah dilakukannya pada wanita manapun.


"Nggak suka digendong ala-ala pengantin baru?" tanya Elang dengan mimik menggoda. Entah bagaimana Elang merasa bangga pada dirinya, merasa terhormat dan segudang perasaan lainnya saat mengingat dialah yang pertama menyentuh Nindya.


Hatinya menjadi sedikit posesif dan berharap bahwa dia akan menjadi satu-satunya setelah kejadian itu. Rasa yang tidak selaras dengan pikirannya yang penuh perhitungan.


Nindya memasang wajah jengah, "Nggak usah ngelawak, sama sekali nggak lucu!"


Langkah Elang menuju kamar Nindya terasa ringan, seringan tubuh Nindya yang tidak membebani ototnya sedikitpun.


"Ini bukan ngelawak, ini sikap romantis! Kamu nggak suka ya?" Elang merebahkan Nindya di tempat tidur, dan membayangi wanita cantik itu tepat di atasnya.


Pasrah menjadi pilihan terakhir Nindya, dia tidak mungkin melawan Elang, terlebih melawan perasaannya yang mendadak kacau dan mulai hilang kewarasan.


"El … jangan seperti ini, aku mohon!"


"Seperti apa? Aku sudah pernah bilang aku tidak akan melakukannya jika kamu tidak meminta. Jadi apa yang harus dirisaukan? Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu, jangan ge-er!" Elang menatap lurus dengan mata jenaka pada wanita yang gelisah di bawah himpitannya.


"Tapi kamu memperlakukan aku dengan seenaknya, itu pelecehan!"


"Aku memang sangat ingin melecehkanmu, aku sama sekali tidak bohong soal itu!" Elang menghembus nafas panjang di depan wajah Nindya.


"Hah?! Apa katamu?" tanya Nindya panik.


"Aku sedang menunggu kesempatan itu datang." Elang bersungguh-sungguh mengucapkan kalimat arogan yang dia sendiri sulit untuk percaya.


Elang dalam keadaan kelebihan hormon pagi, mendadak dia sangat ingin menyentuh Nindya, tapi tetap berjuang sepenuh tenaga untuk mengendalikan hasrat mudanya. Membuang semua pikiran kotor yang terlanjur memenuhi kepala.


Nindya menggeleng keras, "Dengar, El! Tidak akan pernah ada kesempatan seperti itu untukmu!"


"Beritahu aku alasannya!"


Nindya memejamkan mata, mengingat tiap kata yang dia baca dari kertas lusuh tulisan tangan mama Elang, mengenai perempuan yang akan mendampingi Elang di masa depan.


Wajah Nindya berubah sendu, dia menitikkan air mata perlahan setelah bertatap lama dengan Elang. Hatinya yang semula goyah dan ingin menerima kehadiran Elang, kini kembali menolak, lalu rasa nyeri menjalar cepat dalam ledakan isak.


"Aku akan menikah dengan Daniel!"


Elang tau dia ditolak, tapi dia tidak menyangka dengan cara seperti ini. Wanita dan air mata adalah kolaborasi yang bisa melemahkan ya. Lalu apakah Elang salah menilai perasaan Nindya padanya?


Elang bisa mengerti bahasa tubuh Nindya saat menerima ciumannya. Elang bisa memahami kalau Nindya juga menginginkannya. Elang tidak mungkin keliru mengartikan apa yang dirasakannya dalam tiga kali terakhir terlibat ciuman serius dengan Nindya. Meski wanitanya punya tunangan!


Tidak! Elang memang tidak salah menilai hati Nindya yang sudah dijatuhkannya. Elang hanya tidak tahu kalau Nindya baru saja membaca rahasianya, sesuatu yang seharusnya tidak diketahui dosen muda yang masih didekapnya.


Elang mengecup mata basah Nindya, pipi dan berakhir di bibir, memberikan sentuhan terdalam dan penuh perasaan. Memaksa Nindya mengikuti aturan mainnya hingga Elang sekali lagi bisa memastikan kalau apa yang diucapkan Nindya tidak sejalan dengan keinginannya.


Pemuda itu yakin Nindya memiliki perasaan khusus padanya. Elang hanya butuh waktu untuk bersabar meski itu sama sekali bukan sifatnya. Tapi Elang tidak punya pilihan. Dia paling tidak suka melihat perempuan mengeluarkan air mata untuknya, menangis karena tertekan olehnya.


Bibir Elang merayap ke leher bagian bawah telinga Nindya, mengecup basah dan meninggalkan beberapa ruam merah di sana.


"Jangan gunakan air mata untuk menolakku!" bisik Elang sensual. Melepas bibirnya dengan satu hisapan lembut yang membuat Nindya kalang kabut.


"El, hentikan!" Nindya mendorong kasar tubuh Elang. Nalurinya mengatakan Elang sengaja cari masalah dengan meninggalkan jejak nakal di lehernya.


"Terima kasih untuk penginapan dan makan paginya!" bisik Elang datar.


"El aku …," panggil Nindya ragu. Wanita itu benar-benar dalam dilema.


"Aku tau tidak ada hal baik yang bisa kamu lihat dalam diriku. Apalagi aku tidak bisa menjanjikan apapun … selain senja indah di beberapa tempat yang pernah aku datangi, senja paling mempesona yang baru saja ingin aku ceritakan padamu, tapi … sudahlah!"


Nindya menatap nanar pemuda yang sudah menjungkirbalikkan dunianya. Air mata Nindya kembali jatuh dengan deras. Tapi Nindya tak berdaya mencegah Elang pergi dari sisinya. Rasa bersalah memenuhi rongga dada Nindya, sesak dan sakit terasa oleh hatinya yang rapuh. Kenapa dia harus membohongi perasaannya?


Elang keluar kamar Nindya dengan tergesa, dengan kalimat yang tidak selesai diungkapkannya. Tidak ada gunanya dia lebih lama di rumah itu dan meratapi cinta yang terasa samar di hatinya.


Elang merapikan barang-barangnya dengan cepat dan berjalan gontai ke arah motornya. Tanpa pamit, Elang pergi meninggalkan rumah Nindya. Mencari teman yang bisa membuatnya melupakan sakit karena harus kembali kesepian … mungkin juga kehilangan.


***