Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
ABG Labil



"Tertarik dengan yang kamu lihat?" tanya Elang dengan raut brengseknya. Demi apapun juga, Elang menyukai mata Nindya yang jatuh di area pribadinya.


"Hah? A-pa?" Nindya tergagap dengan wajah bodoh. Ya ampun, bagaimana mungkin hanya dalam waktu singkat Elang mengubahnya menjadi ABG labil dengan pikiran mesum seperti ini?


Elang melengkungkan bibirnya, setengah kesal pada wanita berkepala batu yang tidak mau mengakui rasa di hatinya. Namun, di sisi lain Elang juga menyukai sifat malu-malu yang jelas tidak cocok untuk wanita seusia Nindya. "Apa kamu selalu keras dengan perasaanmu?"


"Ya!" Nindya menjawab mantap dan juga galak.


"Ck-ck," kata Elang manis, menegur seraya menggeleng ringan. "Kita hampir sampai, jika butuh dokter aku akan mengantarmu ke klinik sekarang!"


"Tidak, aku baik-baik saja. Aku akan segera tidur setelah kamu pulang!"


"Aku belum menjejakkan kaki di rumahmu dan sudah terusir dengan pasti."


"El, jangan membuat masalah menjadi semakin rumit. Kamu mahasiswaku dan aku pembimbing penelitianmu, tidak lebih tidak kurang!"


Elang tidak menjawab, hanya menyeringai dengan kedua alis terangkat tinggi. Mulutnya terkunci dari sejak mampir ke minimarket untuk membeli kopi, roti dan juga testpack hingga perjalanan usai. Dia mengikuti Nindya masuk ke rumah untuk memastikan kalau dosennya dalam kondisi sehat sebelum ditinggal pulang.


Tanpa sungkan Elang langsung ke dapur, memasak air, membuat teh juga kopi untuknya dan Nindya.


"Kamu piawai menggunakan dapur!" Nindya membuka obrolan ringan setelah membersihkan dirinya. "Terima kasih tehnya!"


Tentu saja, tidak ada anak mapala yang tidak bisa menyalakan kompor. Lagian memenuhi kebutuhan makan dan minum saat berada di alam bebas adalah tanggung jawab pribadi. Memasak sederhana menjadi keahlian wajib bagi semua penggiat kegiatan petualangan.


Elang menyodorkan obat turun panas pada Nindya. "Semoga hanya demam biasa!"


Nindya mengangguk setuju, wajah lelahnya ingin segera beristirahat. "Pulanglah, aku tidak apa-apa!"


"Tidak, aku akan di sini malam ini. Aku akan menjagamu, anggap saja balas budi karena pertolonganmu tempo hari."


"Tapi El …"


"Kenapa?"


Nindya diam, mengeluhkan sikap Elang yang tidak peka terhadap ketakutannya. "Aku tidak perlu ditemani."


Omong kosong! Tidak ada orang sakit yang tidak suka ditemani. Nindya mengingkari fakta tersebut untuk menyelamatkan dirinya yang kadang tidak berkutik di depan mahasiswanya.


Elang tak menggubris penolakan Nindya. Dia justru mendatangi Nindya dan duduk di sebelahnya dengan ekspresi tenang.


Merasa terancam dengan sikap Elang, Nindya berdiri dan siap pergi ke kamarnya. Alarm bahaya di kepalanya berdering seiring mata tajam Elang yang mengulitinya.


Bukankah Nindya sudah paham bahwa tidak mudah untuk kabur dari sosok Elang? Tentu saja, karena Elang menarik tangannya dengan lembut dan memaksa Nindya kembali duduk.


"Istirahat, aku butuh tidur! Aku juga kedinginan," jawab Nindya bergetar. Ups … sepertinya ada kalimat yang salah ucap. Nindya merona tanpa sebab, alasan yang diucapkannya seperti sebuah undangan agar Elang memberinya kehangatan. Oh ****! Sejak kapan dia jadi begitu menginginkan sentuhan hangat Elang?


Nindya menatap nanar wajah Elang. Dalam jarak dekat seperti sekarang, Nindya bisa merasakan nafas Elang panas menyentuh pipinya. Degup jantungnya tidak terkendali, pikiran sensualnya bersama Elang mengaburkan bayangan tunangannya.


Dengan bodoh, Nindya mengerjap cepat. Menghapus semua pikiran yang tidak semestinya dan melontarkan kalimat baru untuk meralat kata yang dianggap tak senonoh sebelumnya. "Maksudnya aku ingin berbaring selimutan di kamar! Kamu bisa pulang, nggak ada yang perlu dikhawatirkan!"


Elang tersenyum menawan lalu mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku akan pulang besok pagi setelah mengambil sampel urine dan memastikan tidak ada El junior yang sedang tumbuh di sini!"


Tanpa permisi, Elang menunjuk perut Nindya dan mengusapnya dengan sayang.


Mati aku! Keluh Nindya dalam hati. Matanya melotot melihat Elang menyodorkan alat tes kehamilan padanya.


"El, kenapa kamu nggak percaya sih? Aku udah bilang berapa kali kalau nggak hamil?" Nindya berucap lirih seperti sedang tercekik.


"Kamu membohongi perasaanmu padaku, bukan mustahil kamu juga tidak akan jujur dengan kondisi yang mungkin terjadi pada tubuhmu."


Nindya bingung harus menjawab apa. Elang telak membacanya seperti sebuah buku. Lalu apa yang akan dilakukannya untuk menjinakkan ketidakpercayaan Elang padanya?


Nindya memilih tidak berbohong dengan apa yang terjadi pada tubuhnya sekarang. Hormonnya sedang berlebih, dan dia sedang menginginkan Elang.


"Aku tidak seperti itu!" Nindya menggigit bibir bawah sembari menatap lurus mata mahasiswanya, selanjutnya memejamkan mata dengan kepala sedikit mendongak. Meminta tanpa kata. Benar-benar tindakan jujur paling tidak logis yang pernah dilakukan Nindya!


"Apa ini caramu jujur?" Elang mengusap lembut pipi Nindya sebelum menautkan bibir mereka. Membuka bibir Nindya dan memberikan ciuman tanpa jeda dengan sangat terampil, hangat dan menggoda.


Nindya lemas dan mengerang. Lega, lega dan lega karena dia melakukan itu atas inisiatifnya.


Tangan Nindya reflek menyentuh dada dan mengusap hingga bahu Elang saat ciuman diperdalam. Nindya kewalahan menghadapi pemuda di depannya yang melahapnya dengan lapar dan liar. Nindya terpekik tertahan, bagaimana dia menyukai gigitan lembut Elang di bibir bawahnya.


Waktu seolah berhenti, Nindya bahkan tidak tau sejak kapan Elang mendekapnya dengan gerakan erotis, dan Nindya merasa dirinya lebih sinting dari pemuda yang sudah menurunkan kecupannya sampai leher.


"Akh … El!" Desahannya menunjukkan bahwa Nindya menikmati tangan Elang yang sedang mengelus punggung hingga area dada dari dalam baju. Matanya semakin terpejam rapat ketika Elang menjamah puncak tubuhnya yang sudah sekeras batu.


Haruskah Nindya berhenti sekarang, sementara seluruh sel dalam tubuhnya meronta menuntut kepuasan?


***


...Happy malming ELLOVER, jangan lupa kencan biar gak mupeng!...


...Cium jauh - Al...