Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Doa Bad Boy



Nindya cemburu saat mendengar pengetahuan Elang tentang urusan yang biasanya dibicarakan oleh pasutri tersebut. Kepalanya dipenuhi bayangan Elang berada di kamar bersama perempuan-perempuan seperti Vivian. Kenapa hal seperti itu jadi begitu sulit diterima Nindya? Bukankah gaya pacaran anak muda sekarang memang demikian?


"Ya, sepertinya begitu. Aku sedang tidak subur waktu itu, jadi kamu nggak perlu khawatir!" Nindya membalas tatapan Elang dengan ekspresi datar lagi. "Kita makan sekarang saja, keburu dingin semua nanti!"


"Aku berharap kamu hamil,” kata Elang cuek. Menyembunyikan keterkejutan karena ucapannya sendiri. Elang bahkan tidak menyangka kalau kata-kata yang terucap spontan itu mampu membuat hatinya berdesir.


Bukankah Elang cukup tolol dengan harapannya? Karena jika Nindya hamil, Elang sudah pasti menikahinya. Dan menjadi seorang ayah di usia muda?


“No! Never!” timpal Nindya sarkas.


“Jadi kamu memang tidak ingin aku bertanggung jawab? Apa menurutmu aku sangat buruk dan tidak layak menjadi suami?” tanya Elang serius. Mendadak dia ingin mendengar penilaian Nindya mengenai dirinya.


Nindya diam membuang muka, dia tidak mungkin menjawab pertanyaan Elang dengan jujur. Ketakutannya, rasa tidak percayanya pada pria sejenis Elang masih begitu besar mempengaruhi pola pikirnya. Nindya anti-playboy, apalagi badboy!


“Aku belum memikirkan tentang pernikahan!”


Elang bergumam santai tapi jelas sekali terdengar oleh Nindya, "Ohya? Menurutku sebuah sampul tidak menjelaskan keseluruhan bagian isi. Begitu juga dengan pemikiranmu soal menikah! Kamu dewasa, kamu punya tunangan, alasanmu belum memikirkan pernikahan itu omong kosong."


Elang kembali memaksa wajah Nindya untuk menghadapnya, dan dengan lihai dia sudah menekan bibir indah tersebut dengan mulutnya, menyingkirkan tangan Nindya yang berusaha menghalangi, dan mulai mencecapnya perlahan.


"Kamu tidak perlu tau bagian isinya," desis Nindya sinis di sela-sela mengambil nafas dan langsung menjauhkan wajahnya agar Elang tidak melanjutkan ciuman nakalnya.


"Aku selalu penasaran saat sudah membuka sebuah buku, biasanya aku membacanya sampai selesai sebelum berganti buku lain." Elang menaikkan alis sejenak.


"Aku bukan buku bacaan untukmu! Kamu bisa langsung membaca judul lain, seperti Lady Vivian misalnya!"


Elang tau ada nada cemburu dalam kalimat Nindya ketika menyebut nama gadis yang bertemu dengannya di kontrakan. "Aku memilih bacaan sendiri."


Tangan Elang memeluk rapat hingga wajah Nindya tak bisa jauh, hanya butuh menunduk sedikit untuk membuat bibir Nindya kembali dalam kuasa Elang.


Nindya jengkel dengan jawaban ringan Elang, juga kesal karena Elang pandai memanfaatkan keadaan. Ciuman Elang selalu nakal, dan bibir Nindya selalu jadi sasaran gigitan … yang memabukkan. Sebagai balasan, Nindya menggigit keras bibir Elang dan berusaha lepas secepatnya. "Minggir!"


“Aku berdoa semoga suamimu nanti seorang bad boy!” sahut Elang menulikan telinganya, ciumannya berlanjut semakin menyesatkan Nindya meski bibirnya sedikit sakit.


Tak lama, pagutannya pada Nindya dilepaskan. Nindya sontak merasa panas dan malu dalam waktu bersamaan. Kalimat Elang terngiang di telinganya dan kemarahan hampir meledak karena Elang dengan rasa tak bersalah memasang wajah jenakanya.


"Kamu sedang menyumpahiku punya suami bejat seperti …?" tanya Nindya keji tapi tak berani meneruskan.


Elang menjawab dengan mendekatkan wajah dan melakukan hisapan kecil pada bibir bawah Nindya. Elang sendiri bingung, merasa cukup gila karena mencium dengan segenap hatinya. Rasanya sungguh berbeda ketika dia menomorduakan hasratnya saat bersama Nindya.


"Aku tidak memiliki dosa besar hingga Tuhan harus menghukumku dengan memberi jodoh seorang bad boy! Aku juga sudah sangat lapar, bisa kita makan sekarang?" Nindya terengah di tengah ciuman, Elang sudah membuat jantungnya nyaris meledak. Bagaimana bisa mereka mengobrol sambil berciuman seperti sepasang kekasih?


Entahlah … Nindya sudah cukup kesulitan untuk mencari alasan tepat kenapa dia harus memiliki pengecualian saat bersama Elang. Apa mungkin karena pemuda yang sedang menciumnya adalah yang mengambil perawannya?


Nindya tak mampu berpikir logis saat ini, dia sudah sangat tersesat di bawah kendali Elang. Nindya mengerang lirih dan mendorong bahu Elang agar menyudahi kecupannya yang mulai penuh rayuan.


"El, stop it!"


"Hm, baiklah!" Elang menurunkan Nindya dari pangkuannya perlahan, berniat mengambil piring untuk diisi nasi. "Oke, kita makan sekarang!"


"Kamu mau makan dengan kondisi begitu?"


Damn! Nindya tidak bisa menutupi semburat merah pipinya, juga rasa canggung saat mata mereka kembali bersitatap. Sepersekian detik yang lalu, Nindya mencuri pandang ke bagian bawah Elang yang menonjol karena telah tegang.


Elang menyeringai, menyingkir dari meja makan dan membuka tasnya untuk mengambil baju cadangan. Kaos oblong hitam bergambar pemanjat dan celana lapangan yang biasa dipakai latihan di wall.


Selanjutnya, mereka makan dalam diam, dalam pikiran yang tidak diketahui masing-masing. Sesekali Elang memperhatikan wajah cantik yang terlihat lelah dan kurang tidur karena menjaganya semalam penuh.


"Kamu suka makanannya? Aku tidak begitu pandai memasak," ujar Nindya mencairkan suasana yang mendadak beku. Dia senang melihat Elang makan banyak dan lahap.


"Aku selalu suka telur!" Elang menjawab penuh ketulusan.


"Aku belum sempat berbelanja, biasanya Sabtu aku selalu pulang ke Semarang!" Nindya berjengit kaget, ucapannya meluncur seperti curhatan.


Elang tersenyum ceria, "Aku akan mengantarmu berbelanja nanti siang!"


"Aku ada janji dengan Daniel siang ini untuk membahas … pernikahan!"


"Are you kidding me?"


"Dia tunanganku, apa ada masalah?" tanya Nindya tidak peka, atau mungkin sengaja, agar Elang segera pergi dari rumahnya.


"Oh oke," jawab Elang singkat, dia juga sedang tidak ingin membahas acara Nindya nanti. Elang tidak begitu peduli, mereka hanya akan mengobrol siang nanti, bukan menikah.


Yang jelas urusannya dengan Nindya pagi ini belum selesai!


***