Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Titik Nol



Cinta? Elang tidak pernah mengucapkan kalimat sakral itu pada siapapun yang pernah jadi pacarnya. Apa yang baru saja terlontar dari mulutnya hanya berdasar kebenaran informasi dari Mayra.


Ya, Elang tidak perlu berpikir lebih panjang lagi soal perasaannya pada Nindya, karena sebelumnya dia memang tidak pernah merasa ingin selalu dekat dengan wanita lain sebesar keinginannya sekarang.


Bukan lagi karena efek darah perawan yang didapatnya, bukan juga karena kewajiban bertanggung jawab jika sampai dia menghamili Nindya. Tapi karena Elang merasa hatinya terpaut lebih dalam dari dua alasan tersebut. Dia menginginkan Nindya bukan hanya di atas ranjangnya tapi juga dalam hidupnya.


Bukan cinta yang terkamuflase dalam bentuk birahi. Yang terjadi pada Elang adalah sebaliknya … seluruh nafsunya bertransformasi menjadi cinta sejati. Elang tidak menampik dia ingin bercinta dengan Nindya, sangat ingin bahkan … tapi hal itu akan dilakukannya dengan sepenuh cinta. Bukan lagi berdasar nafsu semata.


"Hah, kamu bilang apa? Cinta?" Nindya mengernyitkan dahi dengan mata menyorot Elang yang masih memegang dagunya.


"Aku mencintaimu Nindya!" tegas Elang tanpa melepas tatapan seriusnya. Jarinya menyentuh ringan ke pipi, lalu membelai rambut Nindya, mengarahkannya ke depan dada. "Aku tidak sedang merayu agar kamu mau tidur denganku, ini benar-benar situasi rumit yang baru kusadari."


Nindya memegang erat ujung kemeja Elang dengan panik, gelisah dan sejuta perasaan lain yang menyergap tiba-tiba. "Bagaimana bisa?"


"Awalnya aku takut dengan kata-kata Mayra yang menuduh aku jatuh cinta padamu, tapi ternyata dia memang benar, dia bicara fakta. Aku tidak bisa memungkiri setiap kalimat yang dia lontarkan. Aku memikirkan ini berulang-ulang sebelum mengambil kesimpulan."


"Dia bicara apa memangnya?" tanya Nindya dengan suara tertahan.


"Aku selalu ingin menyentuhmu di tiap kesempatan, bahkan saat ada banyak orang di laboratorium. Aku tidak tau alasan yang mendasari aku berbuat demikian, apa karena getaran yang terjadi saat kita bersentuhan atau aku memang ingin melakukannya karena aku sayang. Apa kamu tidak merasakan getaran yang sama saat bersamaku?"


Nindya tertegun. Dia tidak perlu menjabarkan secara detail apa yang terjadi pada tubuhnya saat bersama Elang. Bukan hanya soal bergetar, tapi perasaan khusus yang sulit dilukiskan, semacam kebahagiaan yang tidak didapatkan saat bersama Daniel atau merasa hangat karena selalu diperhatikan dan dikhawatirkan Elang.


"Aku tidak tau sejauh mana perasaanku padamu, aku milik orang lain, El! Kami punya kesepakatan untuk bersama di masa depan, aku sudah sering mengatakannya padamu."


"Kamu tidak pernah menolak sentuhanku, Nindya!" ucap Elang gusar.


"Mungkin karena aku memang menyukaimu, tapi itu nggak bisa disebut cinta, El." Nindya menanggapi Elang tak kalah serius, dia juga harus hati-hati saat bicara. Hubungannya dengan Daniel terhitung masih baik-baik saja, dan affair dengan Elang bisa berakhir kapan saja.


"Itu cukup untukku sekarang." Elang mengecup singkat sebelum membebaskan Nindya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Berniat mampir sebentar untuk sekedar ngopi dan ngobrol ringan.


Nindya membuat kopi setelah berganti dengan piyama tidur, membawanya ke ruang tamu dimana Elang duduk memegang ponselnya. Membalas chat dari Vivian yang menanyakan keberadaannya.


"Vivian lagi?" tanya Nindya yang mengambil duduk tepat di sebelah Elang. Ikut menyimak percakapan via tulisan antara Elang dan pacarnya. Salah satu hal yang paling tidak disukai Nindya dari sosok Elang, pandai membuat alasan pada perempuan.


"Hm … biasa merajuk!"


Bagaimana bisa Elang mengucapkan kalimat cinta padanya sementara dia masih juga menjalin hubungan dengan Vivian? Nindya boleh kesal, tapi dia juga sadar diri bahwa ada Daniel dalam hubungannya dengan Elang. Cukup adil dan bisa dikatakan satu sama.


Namun, tangan Elang sigap menangkap pinggangnya yang mulai beranjak, menarik dan menjatuhkannya tepat di pangkuan Elang.


"Tetap di sini," kata Elang sembari meletakkan ponselnya di atas meja.


Pelukan Elang rapat, bahkan terlalu intim saat memaksa Nindya untuk duduk menghadapinya. Mengangkangi pahanya. Posisi yang spontan membuat pipi Nindya terbakar. Elang terlalu panas bagi Nindya yang minim pengalaman.


Pernahkah Daniel memangkunya seperti ini? Tidak pernah! Maksudnya belum.


Nindya diam tanpa ekspresi, tidak menolak tidak juga memprotes kelakuan mahasiswanya. Dia lebih sibuk menata jantungnya yang berdebar kencang dan gairahnya yang mulai naik perlahan.


Tangan Elang yang memeluk pinggang dan mengusap punggung sama sekali tidak membuat Nindya tenang, gelenyar yang ditimbulkan justru memicu hormonnya naik ke permukaan dan menjadikan ketegangan muncul di setiap sel tubuhnya.


"Kamu masih sibuk sama Vivian, El! Lepaskan aku!" pinta Nindya lembut, tak bersungguh-sungguh.


Elang tersenyum memahami, "Aku sudah selesai dengan Vivian. Tapi tidak denganmu!"


Detik berikutnya bibir Elang sudah menyatu dengan bibir Nindya. Elang mengecup lembut sebagai tanda permintaan maaf. Merayu agar Nindya tidak marah ataupun bersedih karena hubungannya dengan Vivian masih berjalan.


Arrgghh Nindya memang payah, mudah terpedaya dengan buaya macam mahasiswanya. Dia justru membuka bibirnya perlahan, menerima setiap hisapan dan gigitan Elang. Bahkan mengerang berkali-kali saat Elang dengan mahir membelai rongga mulutnya hingga ke dalam dengan lidah nakalnya.


Nindya tidak punya kemampuan menolak, tidak kebal dengan pesona mahasiswanya yang sekarang berani menurunkan kecupan ke rahang, lalu menjajaki lehernya dengan basah. Kembali membuka kancing piyamanya dan mengecup area dadanya. Penutup dadanya disingkap dengan mudah dan Elang mulai meninggalkan jejak merah yang tidak mungkin terlihat oleh Daniel, tunangan konservatifnya.


Membiarkan dan menikmati. Hanya itu yang Nindya lakukan, mengikuti kata hatinya yang sedang dalam dilema. Perasaan nyaman sangat kuat saat bersama Elang, juga tidak ada mual yang kerap terasa saat mereka sedang terpisah jarak. Bau Elang seolah obat, dan dekat dengan Elang ibarat kebutuhan yang tidak terelak.


"El," pekik Nindya tertahan. Gigitan mesra Elang mengantarkan sengatan nikmat di ujung dadanya, turun cepat ke area bawah dan membuat denyutan yang membasahi celananya. Tangan Nindya merambat dari bahu Elang hingga ke belakang kepala, menelusupkan jari-jari kecilnya dan menjambak lembut rambut Elang.


Oh Tuhan, haruskah Nindya jujur saja kalau ada sesuatu yang benar terjadi dengan tubuhnya setelah penyatuan mereka di dalam tenda kala itu? Nindya benar-benar bingung dan belum mampu mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri, Daniel, Elang dan seseorang yang disebutkan mama Elang dalam surat terakhirnya.


Namun, Nindya tak sempat berpikir lebih jauh. Kecerdasannya jatuh ke titik nol saat Elang kembali mengulum dadanya, menyesap, memutar lidah dan kembali memainkan kuncupnya yang menegang sempurna. Kegiatan yang menggiring Nindya untuk lebih pasrah dan basah di celah bagian bawah.


"Oh Elang … ahhh!"


***