Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Pemuda Cabul



Elang terbahak melihat Nindya terkejut disertai gelisah, tapi itu tidak cukup untuk menghentikan keusilannya. Nindya boleh keras kepala, tapi Elang bukan pemuda yang mudah percaya apalagi suka mengalah, Elang lebih suka mengedepankan logika dan realita untuk menghadapi Nindya.


"Baiklah, aku mungkin harus mulai mendengarkan dan menghargai hubunganmu dengan Daniel. Hanya saja, aku akan tetap menjadi gangguan kecil selama aku tidak mendapatkan bukti akurat kalau kamu tidak sedang mengandung anakku!"


Nindya diam sejenak sebelum menghembuskan nafas panjang, menunjukkan betapa kacau hidupnya sekarang. "Tidak bisakah kamu sedikit saja percaya padaku?"


"Aku percaya padamu. Berikan saja buktinya dan aku akan melepasmu! Kamu bisa kembali pada Daniel dan melupakan semua yang pernah terjadi!" ujar Elang gusar. Kesal karena dia tidak tau apakah akan menepati kata-katanya atau ucapannya sebenarnya hanya untuk menenangkan kegelisahan Nindya.


Ada perasaan yang sulit dimengerti Elang saat dia bersama dosennya. Semacam ketenangan yang dulu selalu datang bersama ibunya. Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pusing dengan hatinya yang sulit berpaling dari sosok galak di depannya.


"Oke! Seminggu lagi." Nindya mengangguk ragu, menyetujui usul Elang untuk memeriksakan diri ke dokter seminggu lagi. Waktu yang dirasa cukup bagi Nindya untuk membuat alasan lain saat hari itu tiba. Setidaknya dia akan bebas dari tuntutan Elang selama beberapa hari ini.


"Jaga kesehatanmu dan makanlah dengan baik, aku tidak mau anakku kekurangan gizi seperti ibunya!"


Nindya mendelik, "Jangan mulai lagi, El! Dan aku sama sekali tidak kurus!"


Elang menyeringai nakal sebelum berucap dan melirik ke arah yang tidak semestinya, dada Nindya. "Bukankah lebih berisi lebih baik?!"


"Oh … jadi kamu lebih menyukai yang besar seperti punya Vivian ya?"


"Nggak juga! Aku menyukai yang pas dengan genggaman tanganku," kata Elang mengedipkan sebelah mata, tertawa geli mendapati Nindya yang merah padam. Dada Nindya tidak sebesar Vivian, tapi tidak bisa dibilang kecil. Menurut Elang, Nindya cukup seksi meskipun sedikit … pendek!


Spontan Nindya nyaris memukul bahu Elang. Namun, tangan kecil Nindya ditangkap dengan mudah, Elang membawanya ke bibir dan mengecup telapaknya dengan mata sayu. "Kalau saja kamu sedang tidak datang bulan …."


Nindya reflek menarik tangannya, hal kecil yang dilakukan Elang padanya selalu menimbulkan salah paham. Dia bergetar dan sesuatu seperti mengaduk perutnya, antara berdesir dan merasa hangat dalam satu waktu.


"Kamu menolakku kemarin malam!"


Elang tersenyum menawan, gairah Nindya sulit ditebak. "Aku tidak keberatan jika kamu ingin melakukan 'hal itu' sekarang!" kata Elang menantang, terdengar edan dan maniak. Tapi dibalik itu, Elang hanya ingin melihat apakah Nindya benar-benar sedang dalam masa periodenya atau cuma membual untuk menghindari alat tes kehamilan.


"Kamu menjijikkan, El!" tukas Nindya sinis.


"Baiklah, aku mengalah kali ini. Aku tidak mungkin melakukan hal gila seperti itu pada perempuan yang sedang datang bulan. Tapi kalau sekedar ciuman kamu tidak keberatan kan? Sebentar lagi aku pulang!"


"Aku tidak mau! Sebaiknya kamu pulang sekarang!" Nindya mendorong dada Elang saat wajah tampan itu mulai mendekatinya. Lebih lama lagi bersama Elang pasti membuat dirinya kehilangan kewarasan. "Aku juga punya kesibukan!"


"Iya ini udah mau pulang, mau berenang dulu biar badan enakan. Mau ikut nemenin? Duduk aja di sana sambil baca-baca di cafe, ada taman juga. Aku yakin kamu suka tempatnya!"


Nindya mengerjap tak percaya, apa Elang sedang mengajak kencan? Apa pemuda itu tidak malu kedapatan jalan dengan wanita yang lebih tua? Bagaimana jika orang menganggap dia adalah tantenya?


"Tidak! Aku di rumah saja," tolak Nindya halus. Dia juga harus menjaga hubungan baiknya dengan Daniel. Tidak mungkin dia keluyuran dengan Elang sementara Daniel sedang ada urusan di luar kota. Rasa bersalah memenuhi dada Nindya, membuatnya sesak hingga tak tau harus berbuat apa.


Elang seperti mengerti badai kebimbangan dalam mata Nindya. Rasa cemburu mencambuk relung hatinya yang terdalam. "Aku mengerti, kamu takut ketahuan tunanganmu jika pergi ke tempat umum denganku! Baiklah, aku akan mengajak Vivian saja kalau begitu, mungkin dia lebih pantas jalan denganku karena dia masih muda, seksi dan menggairahkan!"


"Apa katamu? Aku tidak menyangka setelah menciumku dengan penuh nafsu, sekarang kamu bilang kalau aku terlalu tua dan tidak pantas kencan denganmu?"


Elang mengedikkan bahu tidak peduli, memilih beranjak dari sofa untuk merapikan barang-barangnya. "Aku nggak pernah ngomong begitu!"


"Tunggu sebentar!" Nindya berlari ke kamar untuk berganti baju. Tiba-tiba dia sangat tidak senang mendengar Elang akan pergi bersama Vivian.


Bukan hanya karena Elang tidak menghargainya, tapi Elang juga tidak menghargai wanita yang diharapkan mamanya. Jiwa anti-playboy Nindya mengisyaratkan untuk menghentikan Elang agar tidak terlalu banyak berhubungan dengan wanita lain. Termasuk Vivian.


Nindya memilih setelan santai dengan gaya seperti anak muda seusia Elang. Celana panjang nya sedikit ketat, tersamarkan oleh sweater rajutan coklat muda yang panjangnya melebihi pinggang.


"Kamu cantik!" puji Elang dengan seringai senang. Tangannya langsung mengulur menyentuh rambut Nindya, mengambil segenggam untuk diletakkan di depan. Membelai ringan hingga ujung rambut yang panjangnya sampai dada. "Aku suka jika rambutmu terurai seperti ini! Apalagi jika terurai berantakan di atas bantal setelah kita bercinta, kamu pasti terlihat manis sekali."


Bukan hanya Nindya yang berdesir dengan sentuhan ringan itu, Elang yang tak sengaja menggesek bagian dada Nindya saat mengelus rambutnya pun ikut merasa sesak.


"Terima kasih," jawab Nindya singkat. Telinganya risih mendengar kalimat vulgar Elang. Kakinya mengambil langkah lebih dulu untuk keluar rumah sebelum rona pipinya terlihat oleh Elang. "Ayo berangkat sekarang!"


Merasa langkahnya tidak diikuti Elang, Nindya menoleh. Seketika, dia melotot dengan kedua alis naik tinggi. Bagaimana tidak? Nindya justru menemukan Elang yang sedang fokus menatap bokongnya dari belakang, dengan tatapan yang tidak bisa didefinisikan. Ya ampun!


Benar-benar pemuda cabul!


***