Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Analisa Mayra



Laboratorium masih sepi ketika Elang datang. Pakaiannya rapi, lengkap dengan jas praktikum warna putih yang harus dipakai selama berada di ruang penelitian.


Satu jam pertama Elang habiskan untuk memasang peralatan dan menyiapkan semua perlengkapan uji kelayakan air sesi pertama. Fokusnya pada hasil penelitian dan tabel catatan membuat Elang tidak menyadari kedatangan Mayra.


"Sibuk, El?"


"Hai, May … baru mulai tahap awal. Gimana kamu udah sampai mana?"


"Ada revisi data sedikit, moga-moga akhir bulan bisa daftar seminar!" Mayra membantu Elang, mengambil alih membuat data penelitian tanpa diminta.


"Cuma data aja? Hasil penelitian udah beres semua?"


"Minggu depan beres semua kayaknya, kalau lancar!" jawab Mayra dengan senyum manisnya.


Elang termangu sejenak, Mayra memang lembut dan sangat baik padanya. Selama empat tahun selalu membantu tanpa diminta, memperhatikan kuliah Elang dan tak berhenti mengingatkan jika Elang mulai malas-malasan.


Mungkin itu juga yang membuat Nindya ikut-ikutan merekomendasikan Mayra untuknya, lebih setuju Elang menjalin hubungan dengan Mayra daripada dengan Vivian.


"Wah berarti bisa ambil tugas rancang pabrik semester depan, May!"


"Kamu juga bisa sebenarnya kalau nggak ganti judul penelitian begini."


"Em … Bu Nindya janji mau bantu aku biar cepat slese kok May, jadi semua tetep sesuai target. Semoga aja sih."


Mayra tersenyum kecut melihat wajah Elang sumringah dan berbinar-binar saat menyebut nama dosen pembimbingnya. "Bu Nindya nggak kesini hari ini? Kok belum kelihatan, udah jam sepuluh!"


"Bentar lagi juga datang, agak sibuk katanya hari ini. Tiga sesi ngajar anak semester delapan!"


"Kamu sampai hapal jadwal Bu Nindya, kalian memang dekat ya sekarang? Udah baikan?" tanya Mayra dengan senyum dipaksakan.


Elang belum menjawab pertanyaan Mayra ketika sosok Nindya masuk ke dalam laboratorium. Spontan Mayra menyingkir dari sisi Elang, mengurusi penelitiannya sendiri sembari melihat aktivitas Elang dan dosen pembimbingnya.


Tanpa sepengetahuan Mayra, Elang menaikkan satu alisnya ketika melihat Nindya datang dengan penampilan sedikit berbeda. Rok selutut dipadukan dengan atasan setengah blazer dan kemeja di dalamnya yang kancingnya terbuka lebih rendah, sedikit mengekspos belahan dadanya.


Sebenarnya ada kalung putih mutiara untuk menyamarkan pintu aset Nindya agar tidak terkesan vulgar. Bukan! Menurut Elang kalung itu justru mengarahkan mata pria untuk melihat ke arah dada Nindya yang sengaja disamarkan!


Damn … Elang diam-diam merasakan demam dengan pemandangan di depannya. Pemuda itu menarik nafas panjang untuk mengembalikan fokusnya yang tercecer, dengan ekspresi tersiksa. Nindya tampil sangat menggoda naluri lelakinya.


Hampir tidak ada yang dikerjakan Mayra selain memperhatikan dan menguping pembicaraan Elang dan pembimbingnya. Entah sejak kapan rasa penasaran Mayra lebih besar daripada kepentingan penelitiannya. Sebelumnya dia tidak begitu peduli ketika Elang dekat dengan wanita lain. Sebelumnya Elang juga tidak pernah menunjukkan kelakuan aneh pada dosennya, perubahan tingkah laku yang baru saja disadari Mayra.


Meski tidak ada hal mencurigakan ataupun pembicaraan selain soal air, mineral tanah, reaksi kimia dan bahan-bahan seputar penelitian Elang, tetap saja Mayra menajamkan telinganya. Memperhatikan Elang yang sedang serius mengerjakan penelitian, begitu juga dengan pembimbingnya.


Tepat satu jam, Nindya bersiap pergi dari laboratorium dengan gaya anggun. Disengaja atau tidak, Elang berbicara sangat dekat dengan Nindya, bahkan terlihat mencuri ciuman kecil pada rambut Nindya. Mayra melengos ke arah lain sebelum mereka berdua memergokinya mengintai.


"Ehm … Bu Nindya nggak balik sini lagi nanti?"


Elang menoleh ke arah Mayra, "Sibuk dia!"


"Kamu pacaran sama Bu Nindya?" selidik Mayra.


"Nggak, dia sudah punya tunangan!"


"Jatuh cinta dengan tunangan orang nggak ada salahnya, El!" sindir Mayra hati-hati.


"Aku? Nggak mungkin aku jatuh cinta sama Bu Nindya, May!" Elang menyeringai merasakan debaran di jantungnya, bayangan Nindya melintas di pikirannya dan Elang menyatakan mustahil dia akan jatuh cinta begitu cepat pada dosennya. "Kenapa kamu bisa bilang begitu, May?"


"Aku sudah menduganya dari sejak kamu tidak ingin dibimbing Bu Yuni, kamu memilih ganti judul untuk mendapatkan kebersamaan dengan Bu Nindya lagi. Kamu juga tidak bisa mengalihkan tatapan dari dosenmu barusan!"


"Yang bener aja kamu, May! Aku fokus sama penelitian, nggak mungkin aku terus-menerus ngeliatin Nindya kan?" tanya Elang keceplosan menyebut Nindya tanpa embel-embel kehormatan di depan namanya. "Lagi pula sudah biasa mataku jelalatan kalau ada wanita cantik."


"Caramu menatap selalu dalam dan bermakna, El! Itu bedanya. Belum lagi kamu jadi seperti pria gatel yang dikit-dikit ingin bersentuhan dengannya, kamu bicara dengan jarak terlalu dekat dan aku lihat tadi kamu hampir menciumnya!" jelas Mayra mengungkapkan apa yang dilihatnya.


Elang tercengang, apakah dia sangat terlihat seperti anak baru gede yang sedang kasmaran?


Elang sudah menahan diri sejak tadi untuk tidak mencium Nindya meski dia sangat ingin. Bukan hanya berciuman, Elang selalu membayangkan lebih dari itu jika sedang bersama Nindya. Bayangan er*tis di tenda tidak pernah pergi dari otaknya, dan mengulangi adalah keinginan normalnya sebagai pemuda yang cukup dewasa.


Benarkah dia sudah jatuh cinta pada dosennya? Elang mulai memikirkan kata-kata Mayra, sekaligus memikirkan bagaimana rasanya bercinta dengan wanita yang dicintainya? Ya ampun!


Elang bimbang, seperti apa yang selalu Nindya katakan, mereka tidak mungkin bersama. Terlalu banyak perbedaan, baik dari latar belakang, usia, kedewasaan maupun tabiat.


Contoh nyatanya adalah, Nindya memuja kecerdasan pria sementara Elang hanya mengagungkan kecantikan. Tapi bayangan Nindya yang tidak mau pergi dari kepalanya membuat Elang mulai resah. Jangan-jangan Mayra benar kalau dia mulai mencintai Nindya.


Elang terkekeh, "Kamu terlalu banyak berasumsi, May! Aku nggak seperti itu, penglihatan dan penilaian kamu salah!"


"Liat aja nanti, traktir aku nonton kalau aku benar! Dah ah aku mau ke BPS (Badan Pusat Statistik), mau ambil data!"


"Sama siapa?" tanya Elang peduli.


"Sendiri lah, belajar mandiri!"


Elang menahan tangan Mayra yang hampir pergi. "Sebentar!"


Detik berikutnya, Elang mengambil ponsel, menghubungi adiknya. "Dewa? Kamu dimana? Anterin Mayra ke BPS … sekarang masih di lab analis, iya sekarang!"


***