
Nindya tertegun, menatap Elang dengan ragu lalu mengulas senyum manis. "Aku datang bulan pagi ini, makanya aku segera mandi karena … em tembus! Itu juga yang jadi penyebab aku fix ambil izin istirahat satu hari. Perutku agak sakit. Kamu latihan nanti sore ditemani Vivian?"
"Oh, nggak jadi hamil berarti ya?" Elang mengangguk samar dengan mata tak lepas memaku Nindya. Mencari kejujuran yang sulit didapatkan dari sikap-sikap introver Nindya.
Elang bisa melihat, Nindya seperti orang tertekan saat mengabarkan kalau dirinya tidak hamil. Dan hal itu membuatnya gemas. Elang dengan tak sabar memaksa Nindya untuk mengikutinya duduk di ruang tamu, menempatkan Nindya di sudut sofa dengan jarak sangat dekat dengannya.
Nindya menempatkan bokongnya dengan gelisah, dia menggeleng dengan senyum hambar di bawah tatapan Elang. "Biar dites urinenya … hasilnya pasti negatif, El! Aku tidak hamil. Mana ada orang hamil datang bulan?"
Elang menatap penuh selidik, "Aku tau soal itu."
"Oh ya kamu belum jawab pertanyaanku!" Nindya segera mengalihkan pembicaraan sebelum pembahasan soal kehamilan jadi panjang.
"Nggak tau, dia belum telepon, belum ngasih info mau ikut atau nggak! Kenapa tanya itu?"
"Cuma ingin tau saja, nggak ada maksud lain." Dikunci dengan tatapan mengancam ala singa, tak urung membuat Nindya justru salah tingkah.
"Kamu ada kencan sama Daniel hari ini?" tanya Elang tak kalah ingin tau.
"Mungkin, jika dia tidak sibuk. Kenapa tanya?" Nindya menghindari pandangan Elang untuk menyembunyikan kebohongan.
"Ya aku nggak suka kamu bawa El junior bertemu laki-laki lain yang bukan ayahnya!"
Nindya melotot galak, "El, Daniel tunanganku! Dan aku tidak sedang hamil anakmu!"
"Aku tidak akan membiarkan anakku memanggil Daniel papa!"
"Maksudnya?"
"Aku calon suamimu!"
"El, stop it!" ucap Nindya dengan ekspresi hampir menangis.
"Kamu takut nggak makan ya kalau nikah sama aku?" tanya Elang santai. "Jangankan kerja, lulus aja belum!"
Nindya melotot marah. "El, bisa nggak sih kamu bersikap dewasa?"
"Oh … sorry! Gini aja deh, setelah kamu selesai periode bulanan kita ke dokter kandungan buat memastikan kalau kamu memang nggak hamil! Mau ya?" Elang meraih dagu Nindya agar kembali menatapnya.
"Kamu masih nggak percaya?"
"Aku butuh kepastian dari ahlinya. Aku berhak tau yang sebenarnya, tidak berlebihan bukan?"
Nindya merasa frustasi menghadapi pemuda yang memiliki niat kuat untuk bertanggung jawab padanya. Tidak sedikitpun Nindya berpikir akan bersuamikan Elang. Nindya anti-playboy meskipun dia merasa tertarik pada pesona mahasiswa yang sedang dibimbingnya.
Elang terlalu muda, tidak setia dan memiliki sejuta keburukan yang dihindari Nindya dari seorang pria. Tapi pipi Nindya justru memerah karena baru saja membayangkan hubungan tak pantas mereka yang semakin dekat.
"Ya kamu berhak tau kebenarannya," jawab Nindya pelan.
"Aku tidak akan lari dari tanggung jawab, jadi jangan pernah berpikir sedikit saja untuk membohongiku, apalagi sampai berusaha menghilangkan nyawa anakku!"
Deg! Jantung Nindya berhenti sesaat. Dia berbicara lirih mengutarakan pembelaan. "Aku tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu."
Elang mematri senyum dan menatap Nindya dalam, "Aku percaya padamu. Boleh aku mendapatkan ciuman?"
Elang tergelak jenaka, "Aku harus bisa membuat seorang dosen pembimbing terkesan dengan mahasiswanya kan?"
"El, aku punya tunangan!" desis Nindya hampir tak terdengar.
"Iya aku tau, kamu nggak bosen jelasin status kamu setiap saat? Iya kamu udah tunangan sama Daniel dan mungkin sebentar lagi mau menikah. Trus kenapa? Kamu mau jujur sama dia kalau kamu lagi hamil?"
"Astaga! El, Daniel nggak pernah sejauh itu …."
"Ya, Daniel memang nggak pernah nganu-nganu sama kamu! Aku tau itu. Sudah jelas kok aku yang mengambil perawanmu dan mungkin malah … menghamilimu." Kalimat Elang meluncur mulus memutus ucapan Nindya secara gamblang.
Detik berikutnya, tangan Elang yang berada di dagu Nindya bergerak mengusap pipi, lantas menelusup ke rambut dan menahan belakang kepalanya.
"El …!" Desah Nindya gelisah. Dia rasanya ingin mengutuk dirinya sendiri. Di saat seperti ini, debaran jantungnya selalu tidak mau diajak kompromi. Kelebihan hormon ternyata mengubah otaknya menjadi tumpul dan bodoh.
Ya ampun, bagaimana mungkin wanita cerdas seperti dirinya sekarang menyerah pada nafsu impulsif?
"Aku cuma mau ciuman, nggak lebih!" desis Elang sensual.
Nindya menerima kecupan ringan Elang. Awalnya saja yang ringan karena Elang hanya berniat menggodanya. Tapi selanjutnya ciuman semakin berat, lidah Elang menerobos dan menyentuh semua area mulutnya, merayunya agar lebih tak terkendali dan hilang kewarasan.
Elang selalu bisa menyihir dengan ciuman nakalnya, hingga menyesatkan Nindya ke tempat yang tak pernah dijelajahinya bersama Daniel. Dunia penuh hasrat dan gelora khas anak muda. Dan Nindya pun mulai menyesal karena menyukainya.
Nindya mendorong pelan dada Elang dengan nafas tersengal. "Kamu mahasiswa paling cabul yang pernah aku kenal, El!"
Elang menyeringai tak peduli, sama sekali tidak tersinggung dengan penghakiman dosennya yang sarkastik. Elang hanya ingin Nindya mengingat detail sentuhan yang diberikannya.
Sejauh penilaian Elang, pengalaman pertama yang diberikannya pada Nindya pasti tidak akan terlupakan, akan membekas melebihi apapun yang pernah dilalui Nindya bersama Daniel.
"Ya, aku mungkin memang cabul tapi aku selalu jujur dengan apa yang aku rasakan!" sindir Elang seraya menaikkan satu alisnya.
"Kamu pemaksa! Aku tidak suka berciuman!"
Itu dulu, tiga minggu lalu! Sekarang Nindya mulai suka, apalagi jika yang menciumnya adalah Elang. Mahasiswa brengsek yang tak sengaja merusak hubungan manisnya dengan dengan sang tunangan.
Segenap jiwanya meronta ingin berkata 'tidak', tapi fakta yang ada justru terbalik, Nindya ingin sekali berkata 'bisakah kita mulai bercumbu sekarang?'
"Em, nggak suka? Barusan kamu membalas ciumanku, walaupun … payah!"
"El!" rutuk Nindya jengkel.
Elang meletakkan jari telunjuk di bibir Nindya dengan tatapan gelap, "Ssstttt tenang! Aku cuma ngajarin caranya berciuman, anggap saja buat latihan, pemanasan! Soalnya masih banyak hal lain yang ingin aku lakukan sama kamu di masa depan kalau kita nanti resmi jadi pasangan!"
"Astaga … El!" ujar Nindya geram. Batinnya berkecamuk mengeluhkan situasi yang serba rumit. Kalimat Elang benar-benar membuat Nindya dilanda gelisah.
Bukankah kamu seharusnya menikahi wanita pilihan mendiang ibumu, El?
What the hell!
***