
Satu jam kemudian, Nindya mengguncang pelan tubuh Elang, membangunkannya. Tapi Elang terlalu lelah setelah latihan berat. Dia masih saja tidur nyenyak.
"El, aku mau pulang!" bisik Nindya rendah tak jauh dari telinga Elang.
"Hm," jawab Elang dengan mata masih tertutup rapat.
Nindya menelusupkan tangannya ke balik kaos Elang, mengusap lembut dari perut hingga dada dan turun lagi ke perut. Mengulanginya beberapa kali sambil bertanya dengan gaya nakal. "El, kamu nggak mau bangun?"
Mungkin Nindya sudah gila melakukan hal di luar nalarnya sebagai dosen Elang. Bagaimanapun rasa penasaran mengalahkan segalanya, dan kenyamanan berbantalkan lengan Elang membuat Nindya ingin melakukan hal lain yang bisa membuat hatinya senang.
Meski dengan jantung yang berdetak lebih cepat dan perasaan terbakar karena ada gairah yang terpercik saat tangannya menjelajah otot perut Elang, Nindya memilih untuk tidak berhenti. Bukankah selama ini Elang yang selalu menggodanya? Bagaimana jika sebaliknya?
Tangan Elang reflek menangkap jemari Nindya, mengarahkannya ke bawah dan menelusupkan ke dalam celana pendek longgar yang dikenakannya. "Iya ini bangun!"
Nindya memekik kaget lalu menarik kasar tangannya sebelum menyentuh milik Elang yang sudah tegak. "Kamu ini …!"
Elang terkekeh dengan mata enggan terbuka, "Aku nggak suka kena tanggung, karena kamu yang memulai kamu juga yang harus tanggung jawab menyelesaikan, bisa?"
Wajah Nindya seketika berpijar dan merona merah, menatap skeptis mata Elang yang terbuka sedikit. "Kamu serius?"
Elang tak menjawab, tapi mengeratkan pelukan dan mendekati bibir Nindya yang bergetar panik. "Aku bisa serius bisa juga duarius."
Nindya awalnya mengira kalau Elang menilai wanita bagai kuda berkacamata, hanya menggunakan mata dan kejantanannya. Tapi setelah mengenal lebih dekat, Elang ternyata bukan orang yang tidak memiliki perasaan.
"Aku cuma bercanda menggodamu! Aku membangunkanmu sesuai pesanmu sebelum tidur." Nindya mencari jalan aman untuk tidak melanjutkan rasa penasarannya. Meredam rasa gatal pada tangan yang ingin menjelajahi perut dan dada Elang lagi.
Elang bergumam malas, menulikan pendengaran dan tidak peduli dengan Nindya yang mulai gelisah dalam pelukannya. "Aku sudah bangun, tapi bukan berarti kamu boleh pulang sekarang!"
Tanpa beban Elang sudah membuat Nindya ada di atas tubuhnya, mengusap-usap lengan Nindya lalu menjejalkan bibir ke mulut Nindya yang siap mendebat idenya. Membungkam dengan ******* lembut yang melelehkan hati.
Nindya mengerang ringan, betapa Elang begitu mudah menyesatkannya, mempermainkan gairahnya yang entah sejak kapan jadi sangat sensitif.
Gelenyar di setiap sel menghasilkan ******* erotis dari bibir Nindya, dan tangannya yang gatal sudah membelai mesra rambut Elang. Menarik-narik dengan penuh godaan nakal. Nindya yakin Elang pasti merasakan desiran yang sama dengannya. "Eum ah, El …!"
"El, ponselmu bergetar hampir tak berjeda dari sejak satu jam lalu, angkat dulu … siapa tau penting!" gumam Nindya menahan rasa panas yang mulai membakar bagian tengah tubuhnya.
Nindya bukannya tidak tahu, nama Vivian muncul di layar ponsel Elang dari sejak Elang terlelap. Mulai dari panggilan sampai pesan yang terbaca sekilas di poni ponsel tersebut. Vivian mencari keberadaan Elang.
"Hm …." Elang mengubah posisi di atas Nindya untuk memperdalam ciuman, menjelajah keseluruhan rongga mulut Nindya hingga dosennya terengah-engah, setelah itu baru melepaskan Nindya dengan satu gigitan ringan dan ekspresi kelam.
Elang mengusap bibir bengkak Nindya, lalu duduk di tepi ranjang, meraih ponsel dan menerima panggilan dari Vivian dengan wajah masam. "Iya halo … nggak bisa sekarang Vi, aku lagi bimbingan penelitian sama Bu Nindya. Gimana kalau besok sore setelah latihan?"
Nindya menaikkan sebelah alisnya mendengar Elang bertelepon ria dengan Vivian. Pandai sekali Elang membuat alasan klasik agar pacarnya tidak curiga kalau dia sedang bersama wanita lain di atas ranjangnya. Enak saja!
Dengan gaya ***-***, Nindya memeluk Elang dari belakang dan menyandarkan dagu di bahu hingga telinganya bisa menangkap suara Vivian yang sedang merajuk di seberang sana. Tanpa belas kasih, Nindya bertanya dengan suara sedikit keras dan manja, "Telepon dari siapa, Sayang?"
Mendengar Vivian menanyakan suara wanita yang didengarnya, Elang spontan menjawab singkat. "Nanti aku telepon balik ya, Vi!" Elang memutuskan panggilan secara sepihak.
Nindya masih belum melepas pelukan saat Elang meletakkan ponselnya. Dia sudah pasrah menerima segala resiko karena mengganggu hubungan Elang dan Vivian dengan berlagak menjadi orang ketiga.
"Kamu sengaja ya?" tanya Elang kalem. Tidak ada ekspresi marah atau keberatan Nindya melakukan hal seperti itu. Elang justru mengambil tangan Nindya dan mengecup singkat.
"Aku tidak suka kamu memiliki banyak pacar!" kata Nindya blak-blakan. Jiwa anti-playboynya meronta tidak terima dengan sikap Elang.
"Apa artinya kamu mau jadi pacar satu-satunya untukku?"
Nindya melepas pelukan, turun dari ranjang untuk bersiap pulang. "No! Aku sudah punya tunangan, El! Maksudku kenapa kamu tidak berpacaran dengan satu gadis saja tanpa menggoda yang lain?"
Elang tergelak mendengar alasan dan wajah cemburu Nindya. Elang memasang wajah mesum sambil menepuk pahanya agar Nindya duduk di sana. "Kemarilah, aku ingin kamu tau sesuatu!"
"Apa? Aku mendengarkan dari sini saja," tolak Nindya waspada.
Dengan ekspresi berubah jahil Elang meraih ponsel Nindya yang sedang bergetar di atas bantal, menghadapkan layarnya ke arah Nindya sambil berbicara serius. "Apa aku boleh mengangkatnya? Siapa tau kamu butuh bantuan untuk jujur sama tunanganmu kalau kita lagi berduaan di kamar dan sedang melakukan foreplay …."
***