Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Kencan Dingin



Ya, Nindya memang sedang duduk di coffee shop bersama tunangannya, Daniel. Berhadapan, tidak seperti sepasang kekasih yang memiliki hubungan cinta, tapi lebih seperti rekan kantor yang sedang membahas pekerjaan.


Daniel fokus pada laptop, sibuk dengan jarinya yang berada di atas tuts dan layar yang menampilkan struktur batuan. Sementara Nindya memegang gelas kopi sambil menatap ke luar kafe. Merenung.


Alih-alih membicarakan pernikahan seperti yang disampaikan Nindya pada Elang pagi tadi, pasangan dosen muda itu hanya membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan kerja, pendidikan, penelitian, jadwal mengajar lalu diam dengan urusan masing-masing.


Nindya melamunkan Elang, jika dia keluar bersama playboy kampus, yang usianya lebih muda darinya itu … tempat seperti apa yang akan dipilih Elang untuk menghabiskan waktu berdua? Hanya ngopi seperti sekarang atau mengajaknya menatap matahari terbenam sambil berpelukan?! Nindya tersenyum samar, Elang menjanjikan senja indah untuknya. Romantis sekali.


"Mau nambah kopi, Nin?" tanya Daniel mengagetkan. "Atau mau makan? Udah laper?"


Nindya menatap Daniel yang berbicara dengan mata masih tidak lepas dari layar laptopnya. "Selesaikan pekerjaanmu dulu! Aku masih belum lapar."


"Oke, ini nggak lama kok. Ohya, seminggu ke depan aku benar-benar sibuk, aku ada studi banding ke Bandung!"


Nindya mengangguk, tersenyum masam sebelum bergumam mengiyakan. Bukankah Daniel memang selalu sibuk?


"Kamu juga ikut ke lapangan sama tim proyek. Besok ya ke Gunung kidulnya?"


"Hm, Pak Ronald meminta ada uji kelayakan air ditambahkan dalam penelitian ekologi kampus. Ada beberapa mahasiswa di bawah bimbinganku yang tergabung di sana."


"Ya, aku tau soal itu. Salah satu mahasiswi geologi yang jadi asistenku sengaja aku titipkan dalam proyek itu."


"Elang juga ada dalam tim yang sama!" Kalimat itu tidak terucap jelas dari bibir Nindya meski dia ingin membahas mahasiswa nakalnya itu bersama Daniel. Tapi waktunya seperti tidak tepat karena Daniel tidak fokus padanya. Padahal Elang tidak nakal dalam porsi yang wajar padanya, Elang sudah terlalu kurang ajar.


Benarkah? Ya ampun Nindya justru memerah saat mengingat kekurangajaran Elang, diam-diam malah membandingkan sikap Elang dengan tunangannya. Menurutnya kencan dengan mapala liar itu tidak buruk juga, maksudnya bercinta dengan Elang yang hangat jadi begitu menggoda daripada hanya menatap Daniel dengan laptopnya.


Daniel mengangkat kepala sebentar untuk selanjutnya menunduk lagi. "Kamu banyak melamun, sedang memikirkan apa?"


"Tidak ada, aku hanya tidak ingin mengganggu konsentrasimu bekerja!" sindir Nindya. Entah mengapa dia merasa sedikit kesal hari Minggunya diisi dengan urusan pekerjaan dan kencan formal yang tak jauh dari dunia kerja juga.


"Aku janji setelah proyek penelitianku selesai, aku akan lebih punya waktu untuk kita. Aku juga sudah lama tidak ke Semarang, gimana kabar ibu?"


"Beliau baik."


"Sepupumu jadi menikah minggu depan?"


Merasa mood Nindya kurang baik, Daniel tidak berani bertanya lebih jauh soal pernikahan saudara Nindya. "Kita akan menyusul secepatnya, kamu percaya padaku kan? Enam bulan lagi tidak lama. Kita akan menikah setelah semua kesibukanku berakhir."


Nindya menaikkan kedua alis tidak percaya, kapan Daniel tidak punya kesibukan? Enam bulan kemudian bukan jaminan Daniel tidak sibuk dan mereka akan menikah, apalagi jika Nindya jadi meneruskan pendidikan doktor ke Jepang.


Nindya tidak ingin berdebat. "Ya, aku percaya padamu!" Seulas senyum manis diberikannya pada Daniel yang menatapnya dengan mata memohon pengertian.


"Soal pergi ke acara nikahan sepupumu … aku tidak bisa janji bisa ya, Nin! Takutnya masih di Bandung!"


"Hm, iya nggak masalah!" jawab Nindya datar. Sepertinya salah mengenali orang di tenda pinggir sungai menjadi benar sekarang. Nindya memang tidak mengenal Daniel dengan baik meskipun sudah enam bulan bertunangan. Jenis kesibukan Daniel terlalu beraneka ragam hingga banyak momen penting bersama yang terlewatkan begitu saja.


"Kamu nggak marah?" Daniel mengambil tangan Nindya, menggenggamnya sesaat.


"Kita bukan anak kecil lagi, bukankah itu yang mau kamu tekankan? Aku bisa mengerti, pekerjaan dan pendidikan sangat penting buat kamu, buat kita." Nindya bersikap bijak meski harus membohongi hatinya. Kebutuhannya untuk memiliki pasangan yang hangat kenapa baru disadarinya setelah terlibat hubungan konyol dengan Elang?


"Sampaikan pada ibumu kalau aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan, aku tidak mungkin bolak balik Bandung - Semarang kan?"


"Ibu akan mengerti, kamu tenang saja."


"Kita akan ke Semarang mengunjungi ibumu setelah aku pulang dari Bandung! Aku janji," ujar Daniel meyakinkan.


"Ya." Nindya mengiyakan tanpa banyak pertanyaan. Janji seperti itu sudah biasa tidak terlaksana, terlupakan tanpa sengaja oleh kesibukan. Dan bagi Nindya, hal itu bukan masalah besar, lagi pula membuat alasan untuk ibunya yang selalu menanyakan tunangannya terlalu mudah.


"Mau makan sekarang? Aku sudah selesai." Daniel menutup laptop dan menyingkirkannya dari meja.


"Boleh," jawab Nindya manis. Dalam hatinya dia ingin segera mengakhiri kencan tak berguna dan kembali ke rumah, membaca buku di perpustakaan. Menikmati kesendirian seperti biasanya.


"Mau ke toko buku setelah ini?"


"Tidak, aku ingin membaca di rumah." Nindya menguap dan menggosok matanya. Apa tidak ada tempat lain untuk menghabiskan waktu bagi dua orang pintar seperti Nindya dan tunangannya?


Jujur Nindya mulai bosan dengan gaya pacaran Daniel. Kaku dan monoton. Nindya mengeluh dalam hati, bertanya-tanya apa yang Elang lakukan hari ini setelah menerima penolakannya? Melampiaskan emosinya pada alkohol seperti kemarin malam, atau justru melampiaskan hasratnya pada Vivian?


***