Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Terperangkap



Nindya memperhatikan langkah Elang dengan nafas lega, ternyata tidak sulit untuk mendapatkan tanda tangan mahasiswanya. Matanya masih tak lepas pada sosok yang akhirnya menghilang masuk ke ruangan lain di lantai atas. Nindya hanya perlu menunggu beberapa saat sampai pemuda itu turun kembali dan menyerahkan berkas yang sudah ditandatangani padanya.


Rasa kecewa karena Elang sudah melupakan malam panas di tenda bersamanya, ditepis Nindya berulang kali. Bukan salah Elang, dia yang menginginkan Elang untuk tidak mengingat kejadian itu. Nindya pribadi yang ingin menjauh dan takut terlibat perasaan atau punya hubungan khusus dengan Elang di kemudian hari. Meski ujungnya dia justru merasa sakit hati sendiri.


Nindya mulai mengeluh dan tidak sabar, lima menit yang terlewat terasa sangat lama. Bukan hanya lima menit, Nindya bahkan sudah menunggu selama lima belas menit untuk sebuah tanda tangan yang bisa dilakukan dalam hitungan detik!


Sang dosen cantik menahan marah, tidak menyangka kalau Elang berani bermain-main dengannya di saat penting seperti ini.


Sementara di dalam kamar, Elang yang tidak bisa tidur kembali duduk bersandar headbed dan melanjutkan menonton film mafia yang terjeda karena tamunya.


Masih tidak ada rasa peduli meski Elang menebak Nindya akan bingung sendiri di ruang tamu. Elang enggan turun hanya untuk sebuah perpisahan, lagian Elang bisa menyerahkan berkas tersebut pada ketua jurusan besok di kampus, jadi Elang membiarkan Nindya punya inisiatif sendiri untuk pergi meninggalkan kontrakannya tanpa perlu menunggunya turun.


Dalam hati, Elang sebenarnya hanya kesal dan menganggap Nindya adalah wanita tanpa perasaan. Satu semester yang dihabiskan untuk membuat penelitian sama sekali tidak diberikan penghargaan, bahkan kini dia disingkirkan karena sebuah kesalahan yang tidak disengaja.


Benar-benar tidak profesional!


Elang marah dalam diam, dia tidak ingin berdebat dan semakin sakit kepala dengan situasinya. Nindya atau … wanita sialan itu benar-benar telah memperlambat kinerja otaknya, membuat Elang tampak bodoh dan tidak berarti.


Pemuda yang sedang kesal itu benar-benar merasa sinting dan sudah banyak membuang waktu untuk memikirkan Nindya. Seharusnya apa yang diyakini Elang menjadi nyata, bahwa dia bisa mengganti sosok Nindya dengan siapa saja … seperti Vivian misalnya.


Tapi faktanya, Elang memaki dirinya yang tidak tahan melihat wajah polos dan sendu Nindya yang tadi berhadapan dengannya. Elang justru ingin merengkuh dan membawa kemurungan wanita itu ke dalam pelukannya.


Dengan gusar, Elang menepis wajah Nindya yang memenuhi otaknya, dia kembali memusatkan pikiran pada mafia yang sedang beraksi dengan senjata di layar datar televisinya.


Di ruang tamu, Nindya duduk semakin gelisah. Matanya tidak berhenti mengawasi pintu kamar Elang yang tertutup rapat. Dia kembali melihat jam tangannya dengan kesal, tiga puluh menit berlalu seperti orang tak berguna. Elang sudah menyita waktu berharganya dengan percuma. Haruskah dia pergi tanpa pamit?


Setelah merapikan tas dan bajunya, Nindya memang berniat pulang. Tapi bukan tanpa pamit seperti tamu yang tidak punya sopan santun, dia mencari pembantu rumah tangga yang tadi membukakan pintu untuknya untuk bicara dan meninggalkan pesan untuk mahasiswa nakalnya.


Tidak ada sahutan ataupun suara yang menunjukkan kalau dapur tersebut ada orangnya. Sebelum tertangkap seperti maling yang sedang celingukan, Nindya kembali ke ruang tamu dan memutuskan akan pamit langsung pada Elang yang masih belum keluar kamar.


Nindya tergesa naik tangga dan mengetuk pintu kamar Elang dengan sedikit kurang sopan. Tiga kali ketukan keras dan satu kali panggilan pelan. "El buka pintunya!"


Elang terkesiap dan tergesa membuka pintu dengan ekspresi heran, kalimatnya meluncur datar tanpa perasaan. “Bu Nindya belum pulang?”


Dengan wajah tidak menyenangkan, Nindya menadahkan tangan. Selarik kata-kata ketus keluar dari bibir seksinya. "Mana berkasnya? Sudah ditandatangani belum?"


Nindya tidak harus mendongak untuk menatap Elang, dia terlalu malu untuk terlihat bodoh dengan membiarkan dirinya mendatangi kamar mahasiswa yang dibimbingnya.


Dengan senyum miring Elang menunjuk meja di dalam kamar, "Itu berkasnya ada di atas meja!"


Elang bergeser dan memberikan jalan pada Nindya untuk masuk ke kamarnya, wajahnya datar meski setengah otaknya sudah mulai liar. Dan begitu Nindya melangkah mendekati meja belajar untuk mengambil berkas, Elang memerangkapnya di dalam kamar.


"Bukan salahku! Kamu yang dengan sukarela masuk ke dalam ruangan pribadiku," gumam Elang menang. Dia menutup pintu perlahan, tidak memutar anak kunci tapi menyandarkan dirinya di sana … semacam jadi segel pintu hidup bagi Nindya yang terperangah tak percaya memandanginya.


"Apa maksudnya ini, El?" Nindya sewot mendapati berkas masih bersih dari coretan tangan Elang. Lebih-lebih baru sadar kalau Elang sengaja menjebaknya agar masuk ke dalam kamar yang khas berbau parfum Elang. Maskulin dan jantan.


Nindya seketika sakit kepala menatap Elang yang sedang memasang wajah jenaka dan menggoda, juga bibir dengan senyum setan yang mematikan saraf warasnya.


Fvck you, El!


***