Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Kenangan



Elang mampir ke warung yang tidak jauh dari kampus, kios kecil yang menjadi langganannya saat kepala pusing karena kebanyakan beban pikiran.


Dua botol minuman beralkohol dibelinya dari sana sebelum pulang ke kontrakan. Apa yang baru saja dialaminya bersama Nindya di dalam lift tak urung membuat kepalanya menjadi berat.


Elang sedang tidak ingin melampiaskan kekacauan dirinya bersama Vivian atau perempuan lain. Elang lebih memilih mabuk demi melupakan siksaan Nindya dalam nadi lelakinya.


Mampir ke mesin pengambil uang di jalan, Elang menggerutu sambil memukul pelan pada layar penunjuk rupiah yang sangat tidak menyenangkan hatinya.


"Mak lampir ini … selalu saja telat transfer uang bulanan," geram Elang lirih. Dia jelas tak mau uang simpanannya yang lain berkurang.


Kekesalan hati membuat Elang batal pulang ke kontrakan, dia melajukan kendaraannya ke arah Malioboro dan akhirnya masuk ke dalam salah satu penginapan di daerah Pajeksan.


"Mas Elang…," sapa resepsionis muda berwajah manis, berdiri menyambut dengan anggukan sopan.


Elang balas mengangguk samar pada pegawai orang tuanya. "Mana ibu?"


"Hari ini belum datang, mungkin agak malam … belum ada info apa-apa dari ibu, Mas!"


"Maksudnya ibu nggak kesini hari ini?"


"Saya kurang tahu soal itu, apa perlu saya tanyakan?" tanya resepsionis muda itu menawarkan solusi.


Elang melambaikan tangan sebagai isyarat untuk kata tidak perlu.


Homestay adalah salah satu bisnis yang ditekuni keluarga Elang dari sejak lama. Beberapa dibangun di kawasan strategis seperti Malioboro dan Parangtritis.


"Brengsek!" umpat Elang keluar penginapan tanpa pamit. Dia kembali mengendarai motor ke arah rumah kediaman orang tuanya yang tak begitu jauh dari lokasi sekarang.


Rumah besar orang tua Elang terlihat sepi, kedatangannya hanya disambut Pak Salim yang sudah lama bekerja di sana sebagai penjaga rumah. "Ibu ada?"


"Sedang istirahat di kamar mungkin, Mas! Kurang enak badan kata Imah tadi." Pak Salim menutup pagar setelah menjawab pertanyaan anak majikannya.


Ruang berwarna abu-abu dengan beberapa corak hitam di dinding menggambarkan pemiliknya adalah pemuda bebas. Gitar tetap tergantung rapi di dinding, begitu juga dengan semua barang milik Elang yang berada dalam kamar tersebut.


Tidak ada satu orangpun penghuni rumah yang berani memindahkan barang-barangnya. Semua tetap di tempat dan bersih seperti pesan Elang, meskipun dia tidak lagi tinggal di sana.


Elang duduk menghadap meja belajarnya sewaktu masih SMA, mengambil foto berbingkai sederhana bergambar dirinya bersama sang mama, memandangi sosok yang sudah tiada itu lekat-lekat. Wajah Elang mendadak sendu mengingat kenangan manis sewaktu mamanya masih ada. Hari dimana kebahagiaan selalu ada setiap hari.


Tidak seperti sekarang, Elang merasa sebagian dirinya ikut hilang saat mengantarkan mama ke peristirahatan terakhir beberapa tahun lalu. Rasa sakit karena kehilangan yang tidak pernah sembuh, dan semakin melubangi hati ketika ayahnya menikah lagi dengan ibunya yang sekarang.


Wanita yang disebutnya sebagai mak lampir meskipun tidak mirip dengan tokoh dalam film itu dari segi manapun. Wanita yang sudah mengambil hati ayahnya dari cinta sang mama. Dan bagi Elang, itu adalah bagian yang paling menyakitkan.


Elang rapuh dan memilih tidak tinggal di rumah untuk mendapatkan perhatian, memilih lari dari permasalahan kekosongan kasih sayang ayahnya. Orang tua yang sudah mencederai hatinya.


Tekad Elang untuk berhasil dan berdiri sendiri sangat besar, Elang ingin mandiri dan benar-benar sendiri. Elang ingin sembuh dari sakit hati, dan menyingkir dari keluarga yang dianggapnya tidak peduli dengan sakitnya kehilangan wanita yang mengantarkannya ke dunia ini.


Untuk itulah Elang serius kuliah dan berprestasi. Mungkin memang hanya dari dunia olahraga panjat dinding dia mendapatkan tropi, tapi setidaknya Elang memiliki kebanggaan untuk dipersembahkan pada mamanya. Bahwa dia tidak hanya sekedar nakal seperti yang selalu dikeluhkan ayahnya.


Elang akui, dia hanya pemuda biasa, pemuda yang tidak bisa menghindar dari kenakalan masa remaja dalam mencari jati diri. Hingga akhirnya, semua kelakuan dan kegiatan Elang di kampus dianggap tidak berguna, ayahnya pun memberi penilaian buruk pada pribadinya.


Padahal, Elang tidak seperti yang dikira ayahnya. Elang tidak merokok meski familiar dengan alkohol dan ganja. Juga tidak pernah sampai mabuk berat. Dia selalu membatasi jumlah barang terlarang yang masuk ke dalam tubuhnya itu agar tidak sampai kehilangan kesadaran.


Elang hanya membutuhkan sedikit lebih banyak untuk membuatnya tenang dan cepat lelap saat malam menjelang.


"I miss you, Ma!" bisik Elang mengusap wajah cantik dalam gambar, wanita yang mewariskan paras mempesona padanya. Matanya lekat menatap senyum yang menari-nari dalam benaknya, dan Elang pun larut dalam kenangannya.


Tidak ingin mengganggu mak lampir yang katanya sedang sakit, Elang memilih mengambil gitar dan membuka botol minuman, menenggak isinya sedikit demi sedikit sembari bernyanyi. Suaranya parau saat melantunkan lagu rindu untuk mama tercinta, menyayat sendu bersama nada yang keluar dari petikan gitarnya.


***