
Elang meraih dua botol yang baru saja diletakkannya di atas meja. Dia berjalan santai ke ruang televisi, menyalakannya dan duduk di karpet tanpa mempedulikan Nindya. Elang sedang tidak ingin diganggu, dinasehati apalagi dimarahi.
Satu tegukan kecil dan terus berulang membuat wajah Elang semakin memerah, matanya juga terlihat lebih sayu dari sebelumnya. Elang tidak berhenti menenggak minumannya, sesekali mendongak menatap langit-langit ruangan dengan pikiran rumit.
Nindya hanya duduk mengawasi sambil membaca di perpustakan. Dia tidak pernah melihat ekspresi kesedihan sedalam itu dari seorang Elang. Bukankah menatap ke atas hanya dilakukan jika mungkin ada air mata yang akan tumpah? Nindya sangsi dengan penilaiannya meskipun isi kepalanya berkata demikian.
"Bu Nindya … apakah salah jika seorang anak merindukan ibunya yang telah tiada?" Mata Elang berwarna merah, menyorot tajam pada Nindya untuk mencari jawaban.
Nindya menggeleng ringan dengan ekspresi lembut, "Itu adalah hak, El! Perasaan itu diberikan Tuhan agar kamu selalu ingat betapa pentingnya kehadiran seorang ibu bagi anak!"
Elang tertawa sedih, banyak luka yang tersampai dari ekspresi yang menurut Nindya ganjil dan tidak lazim. Ada kemarahan dan rasa sakit tak terkira yang bercampur di wajah tampan tapi berantakan tersebut.
"Apa Bu Nindya masih memiliki ibu?" tanya Elang gusar. Kalimat yang mengungkapkan bahwa dia sedang mencari seseorang yang memiliki perasaan terluka yang sama dengannya.
"Ya, aku masih memiliki ibu, beliau ada di Semarang. Tapi … aku sudah tidak memiliki ayah dari sejak kecil, apa itu melegakanmu?"
Nindya tidak ingin salah menjawab, dia jelas tidak bisa membandingkan kesedihan yang sedang dirasakan Elang dengan kesedihan yang pernah dialami olehnya. Bagi Nindya, sakit hati dan kecewa lebih tepat disematkan saat mengingat ayahnya.
Seorang ayah yang memilih pergi dengan wanita lain bukan lagi meninggalkan kesedihan, tapi yang terparah meninggalkan rasa tidak percaya pada yang namanya pria. Ayahnya sudah membentuk pribadi Nindya dari sejak kecil untuk hanya berteman dengan ibu dan buku.
Jelas berbeda dengan Elang yang meratap karena ibunya pergi menghadap Tuhan jauh lebih cepat dari perkiraan.
Perpisahan dengan orang tua yang dialami Nindya tidak sampai membuatnya terluka parah di hati karena ibunya mengambil peran ganda hingga sekarang. Nindya tidak menderita sedalam yang dirasakan pemuda yang serius bertanya padanya.
Elang meneguk minumannya lagi hingga kedua botol di depannya nyaris kosong. Elang menatap sendu pada botol terakhir, mencari seraut wajah yang sangat dia rindukan, yang mungkin bisa ditemukan membayang pada benda mati tersebut. Elang kembali mendongak lalu menoleh ke arah Nindya, mengulas senyum masam.
Wajah Elang sudah semerah udang goreng, dia akhirnya melepas baju karena sangat kepanasan. Tapi Elang masih tidak mau berhenti menenggak minuman hingga tetes terakhir, kali ini entah mengapa Elang merasa kurang.
"Minumannya habis Bu Nindya, saya beli sebentar ya! Nanti saya balik kesini lagi," kata Elang dengan senyum sedih.
Nindya berdiri karena Elang juga berusaha berdiri dengan kondisi sempoyongan, mulai mabuk berat. Tubuhnya terhuyung saat berjalan perlahan ke depan Nindya untuk pamitan.
"Kamu sudah terlalu mabuk, El! Berbahaya berkendara dengan kondisi seperti itu! Kamu juga nggak mungkin keluar tanpa mengenakan baju!" Nindya mencekal lengan Elang sekuat tenaga dengan nada prihatin.
Elang memperhatikan wajah Nindya dengan tatapan lembut, "Apa, Ma?"
"Kenapa mama pergi nggak pamit sama El?" Elang kembali bertanya dengan ekspresi tak berdaya seperti orang yang sangat terluka.
"Aku bukan mama kamu, El! Aku Bu Nindya …." Dosen muda itu menjawab lirih tapi tegas. Dia membimbing Elang untuk kembali ke karpet, membaringkannya dengan paksa.
Tak lama, penyakit Elang saat mabuk kambuh. Elang tidak mampu menahan mual, hingga karpet Nindya menjadi sasaran tempat muntah.
Nindya mengeluh merasakan bau menyengat menyebar dalam ruangan, dia mengambil handuk kecil untuk menyeka bekas muntahan yang ada di wajah dan tubuh Elang. Menutup bekas basah di karpet dengan kain lain dan menggeser paksa tubuh Elang agar tidak tidur di atas muntahannya.
Nindya sama sekali tidak menolak saat Elang menariknya masuk dalam pelukan. Menurut hemat Nindya, Elang bukan jenis pemabuk kriminalis.
"Elang kangen sekali sama mama!" gumam Elang mengeratkan pelukan hingga nafas Nindya terasa sesak.
"El, aku bukan …." Nindya tidak kuasa untuk menyangkal lagi, hatinya ikut sakit menatap ekspresi Elang. Nindya sadar Elang tidak mungkin mendengarkan atau peduli kalau yang didekapnya bukan mamanya.
Nindya menatap wajah Elang dengan rasa kasihan, dia merasa senasib meski tidak pada kasus yang sama. Mereka merindukan orang yang sudah tidak ada di sisi mereka hingga hati terdalam, rindu menyiksa yang berkarat tanpa ada obatnya.
Elang meringkuk dengan mata basah, dia sedang menangis dalam pelukan seorang wanita, pelukan sayang yang diingatnya pernah didapatkan dari wanita yang melahirkannya.
Nindya mengulurkan tangan kanannya, mengusap air mata Elang dengan ibu jari dan menyingkirkan anak rambut yang jatuh menutupi dahi, membelai ringan dengan sentuhan kasih, menyapu membersihkan air yang masih terus mengalir dari mata terpejam Elang.
Tiba-tiba Elang menangkap tangannya, memegang jemari Nindya dan menggenggamnya erat.
Dengan mata masih terpejam, Elang membawa tangannya yang berisi jemari Nindya ke bibirnya, mencium lama namun sangat ringan, lalu meletakkannya di dada, memeluk erat jemari Nindya tanpa mau melepaskan.
Nindya termangu mendapati nafas Elang yang turun naik semakin teratur, hingga akhirnya berubah menjadi dengkuran halus yang berirama rendah. Elang tertidur dalam mabuknya, dalam sedihnya.
Dengan gerakan perlahan, Nindya melepas tangannya tanpa membangunkan Elang. Memberikan posisi nyaman pada Elang dan menutup pintu rumah setelah mengunci pagar depan.
Nindya membiarkan Elang tidur sendirian di depan televisi, sementara dia masuk ke kamar dan merebahkan tubuh, membawa semua perasaan sakit yang dirasakan Elang ke dalam hatinya.
***