Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Salah Nama



Elang terlalu menggoda untuk dilewatkan, terlalu manis untuk tidak dibalas, terlalu indah untuk diabaikan oleh Vivian.


Dengan sedikit mengulum senyum Vivian membuka bibir untuk menyambut Elang dengan riang dan hati deg-degan. Bukankah terlalu mudah bagi Vivian untuk menaklukkan seorang Elang? Atau sebenarnya Vivian lah yang gampang dimiliki Elang hanya dengan bermodal rayuan?


Vivian tidak begitu peduli dengan kalimat sakti bernama cinta setelah diberi waktu untuk berpikir, baginya memiliki Elang itu sebuah prestasi tersendiri. Baik hanya sesaat, sementara atau hanya dalam sekejap mata. Soal bagaimana caranya itu urusan pribadi.


Nafas Elang kembali menyapu wajah vivian yang merona dengan hangat, dan Vivian memilih memejamkan mata setiap membalas pagutan Elang pada bibirnya. Vivian mengosongkan kepalanya, lalu mengisi penuh dengan sosok Elang yang sedang menghisap bibirnya.


Vivian menahan suara yang hampir keluar dari mulutnya. Dia mendongak tanpa membuka mata, merespon Elang yang sudah menurunkan wajah dan mulai mencium rahangnya.


Tak ayal, satu desah Vivian lolos tak terkontrol, kalbunya berdesir merasakan Elang yang kini menjejaki lehernya dengan basah.


Elang membaringkan Vivian di karpet, mengganjal kepala gadisnya dengan bantal kecil dan tersenyum manis bak malaikat. "Mau dilanjut?"


Wajah Vivian merah padam mendengar pertanyaan Elang. Meski dia pernah ditanya seperti itu oleh pacarnya dulu, tapi menjawab langsung dari mulut Elang rasanya jauh lebih memalukan. Elang belum terikat apapun padanya, tapi Vivian sudah menyerah pasrah dengan tatapan sayunya.


Whatever!


Senyum kikuk Vivian cukup sebagai jawaban, membuat Elang kembali mendekat dan menautkan bibirnya, ******* lebih liar hingga Vivian kewalahan.


"I like you, Vi!" bisik Elang di dekat telinga Vivian. "Peluk aku!" lanjut Elang membimbing tangan gadisnya dan menempatkan di leher belakangnya.


"Kak El … Vivi love you!" Suara Vivian tenggelam oleh ciuman dalam, panas dan menggairahkan dari pria yang sedang menginvasi mulutnya dengan gigi dan lidah.


"Vi …!" gumam Elang serak. Otak lelakinya sudah memerintahkan hal lain yang harus dikerjakan bersamaan dengan mulutnya.


"I love you!" desah Vivian mesra dan manja, mengiyakan apa yang diinginkan Elang.


Elang mengerang di dalam mulut Vivian. Tangannya mulai mengusap bahu dan turun ke dada Vivian, menyentuh dan memijat lembut, bermaksud membagi hasrat muda yang bergejolak tak terkendali dan ingin segera menyalurkan semuanya ke tubuh Vivian.


Bayangan kejadian bersama Nindya melintas beberapa kali dalam pikiran Elang. Tidak bisa dipungkiri, dosen muda itu membuat Elang berfantasi mengulang kegiatan salah paha lagi.


"Vi …!" panggil Elang lirih tanpa menjeda sentuhannya. Menggelitik dan merajai, membuat Vivian tidak kuat untuk tidak mendesahkan nama pemuda yang sialnya membuat dia kelimpungan. Terlalu cepat basah di bagian bawah.


"Kak El!" pekik kecil Vivian saat Elang mulai melepas pakaiannya dan menjelajahi seluruh tubuhnya dengan mulut penuh bara. Panas dan membakar.


Darah Vivian spontan mengalir dengan cepat, dia membusungkan dada agar Elang semakin bebas memainkan puncaknya. Menyapu ringan, memutarinya dengan lidah dan menjepit dengan kedua bibirnya.


Elang menarik gemas mulutnya yang berisi puncak kekenyalan Vivian dengan satu hisapan kuat, lalu melepasnya dengan wajah menggoda. "Aku mau kamu, Vi!"


Vivian mengangguk malu, kedutan di bagian pusatnya tak terbendung. Dia sudah sangat ingin dimasuki pemuda tampan yang menatapnya lembut menunggu persetujuan.


Tak lama, Elang mengangkat Vivian. Memindahkan gadis tanpa busana itu ke atas tempat tidur dan menindihnya tergesa. "Kamu seksi sekali, Vi!"


Vivian hanya pasrah dan melenguh menikmati mulut Elang yang kembali sibuk bermain di atas tubuhnya. Sesekali menggeliat geli mendesakkan badannya agar lebih rapat dengan Elang. Tangan Vivian membalas dengan memberikan usapan lembut pada rambut Elang, menekan agar mulut pemuda itu tak berhenti mempermainkannya. Mengundang secara halus agar Elang segera mengklaim dirinya yang sudah tak berdaya. "I love you, Kak El!"


"Kamu basah sekali, Vi!" gumam Elang dengan senyum miring. Tangannya menyentuh lembut bagian bawah Vivian. Menekan pelan lalu menggosok ringan berulang-ulang.


"Oh …," desis Vivian membuang wajahnya ke kiri, menikmati dengan sepenuh rasa gejolak tubuhnya.


Vivian merutuki kegilaannya. Bisakah Elang tidak lebih membuat dirinya tampak bodoh dengan terus menyentuh bagian tubuhnya yang paling memalukan? Karena Vivian gelagapan menghadapi rasa nikmatnya. Karena Vivian tidak mampu lagi menahan sesuatu yang ingin lepas dari bawah tubuhnya.


"Kak!" Wajah Vivian panas dan memerah, tubuhnya meledak dalam rasa malu beberapa waktu. Vivian kesal karena Elang membuatnya menggigit bibir demi menahan pekikan. Vivian meradang karena Elang memberinya pelepasan hanya dengan sentuhan ringan.


"Ni …!" Elang mengatupkan mulut seketika. Dia hampir salah sebut nama.


Oh ****!


***