
Nindya lebih banyak diam dalam perjalanan menuju Semarang. Matanya tertutup rapat tapi tidak tidur. Kelelahan membuat tubuhnya tidak bisa beristirahat.
Elang mengusap keringat yang muncul di dahi Nindya, curiga kalau Nindya tidak sehat. Penyejuk udara menyala, tapi Nindya berkeringat. "Capek banget ya?"
"Iya, perutku juga melilit." Nindya meringis, nyeri perutnya semakin tidak bisa ditahan. "Sampai mana ini, El?"
Nindya merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Rasa lelah menghampiri dengan dahsyat, tubuhnya lemas tak bertenaga dan perut bagian bawahnya berdenyut sakit. Wajah Nindya terlalu pucat, keringat dingin juga tidak berhenti memenuhi dahinya.
"Kamu sakit? Apa yang kamu rasakan?" tanya Elang mulai panik.
"Aku kedinginan, perutku juga sakit sekali!" keluh Nindya dengan suara nyaris tak terdengar Elang.
Elang mengecek suhu tubuh Nindya, menempelkan punggung tangan di pipi dan juga leher. Hangat. Elang seketika khawatir dengan kondisi Nindya, dosennya itu kembali demam. Elang berbicara lembut sambil menggenggam tangan Nindya. "Katakan sesuatu, Nindya! Jangan membuat aku menebak-nebak!"
"Rumah sakit, El!" Nindya mengaduh, menarik tangannya yang digenggam Elang untuk diletakkan di atas paha. Perut bagian bawahnya benar-benar mulas, kram dan juga nyeri hebat. Sakitnya bahkan menjalar ke punggung hingga paha.
Organ penting bagian bawahnya seperti mengeluarkan cairan. Nindya ingat betul dia tidak sedang datang bulan. Dia sedang hamil muda. Keluarnya cairan dari pangkal pahanya bisa diindikasikan sesuatu yang berbahaya.
Nindya bukan anak kemarin sore yang tidak tau gejala yang dialaminya itu apa, tapi tetap saja dia menyangkal dan tidak mau memikirkan kemungkinan bahwa dia mendapatkan gejala keguguran kandungan.
Elang menyalakan GPS, mencari rute terdekat untuk ke rumah sakit. Perasaannya was-was dan lebih dari kata khawatir. Di sampingnya, Nindya terlihat sangat tersiksa menahan rasa sakit di perutnya.
"Apa kamu selalu sakit seperti ini jika sedang datang bulan? Apa masih belum selesai?"
Nindya hanya diam. Dismenorea yang dideritanya terbilang ringan. Tidak pernah menyiksanya seperti yang dimaksud Elang. Nindya memejamkan mata, bernafas panjang-panjang untuk membantu meringankan nyeri hebat yang dirasakannya.
"Sayang … kamu masih kuat kan? Sebentar lagi kita sampai rumah sakit," ujar Elang sembari menggenggam lagi jemari Nindya. Memberikan ketenangan dan kekuatan.
Air mata membanjiri pipi Nindya, terlalu banyak rasa sakit yang ditahan oleh sekujur tubuhnya, terlebih perasaannya. Sesuatu terasa keluar dari bagian bawah tubuhnya bersama cairan yang semakin banyak. Saat itulah Nindya tidak mampu lagi mempertahankan kesadarannya.
Beruntung rumah sakit tidak terlalu jauh, Elang tergesa menggendong Nindya masuk IGD dan mengurus semua administrasi sendiri.
Tidak pernah Elang merasa hidupnya sekalut sekarang sejak hari mamanya pergi. Elang phobia dengan orang sakit dan juga segala sesuatu yang berbau rumah sakit. Kenangan buruknya menyeruak menyesakkan dada, menjadi rasa takut kehilangan yang amat besar.
Takut berlebih, hingga tidak ada detik waktu yang dilalui Elang tanpa rasa sakit di hati. Tangannya yang basah oleh darah Nindya saat membawanya ke IGD tadi menjadi momok yang mengacaukan seluruh isi kepala dan dadanya.
Pendarahan yang dialami Nindya bukan hal wajar bagi Elang. Mungkinkah Nindya mengidap penyakit yang berhubungan dengan area pribadi atau hal-hal yang berhubungan dengan reproduksi wanita?
Nindya pasti kelelahan di kampus dan di perjalanan, tapi dengan bodohnya Elang tidak peka.
Salah satu perawat memanggil nama keluarga Nindya. Elang yang duduk di ruang tunggu tergesa menghampiri dan membuntuti perempuan dengan setelan seragam kesehatan ke ruang dokter.
Semakin tidak mengerti ketika tiba di depan dokter disodori berkas yang harus ditandatangani dengan sedikit penjelasan, bahwa Nindya harus merelakan janinnya karena pendarahan yang sedang terjadi.
"Istri bapak harus segera ditangani, janinnya sudah keluar, tapi masih ada jaringan yang tertinggal di dalam rahim. Mohon memberikan persetujuan untuk kuretase dengan mengisi formulir ini," kata perawat sambil menunjukkan tempat dimana Elang harus mengisi identitas dan juga tanda tangan.
Elang tercekat, tangannya gemetar saat menulis dan membubuhkan goresan singkat namanya di lembaran yang ditunjuk perawat.
"Apa istri saya baik-baik saja, Dok?" tanya Elang dengan ekspresi sakit, sedih dan tak berdaya.
"Kami melakukan yang terbaik untuk istri bapak!"
Elang mengangguk samar. Ada rasa nyeri di hati yang amat menyiksa ketika dia keluar dari ruang dokter dan menunggu Nindya selesai ditangani. Hatinya tercabik kecewa karena ketidakjujuran Nindya.
Untuk apa Nindya berbohong? Bukankah Elang siap bertanggung jawab atas kelakuan tercelanya?
Setelah beberapa waktu yang terasa sangat lama bagi Elang, akhirnya Nindya dipindahkan ke bangsal perawatan. Elang duduk gelisah di sisi ranjang tempat Nindya istirahat. Sesekali masih tersenyum sembari mengusap jemari Nindya yang terasa dingin.
"El, aku minta maaf!" Nindya menatap Elang sendu, dengan mata merebak dan penuh penyesalan.
Elang mengeratkan genggaman, lalu mencium tangan Nindya dengan kasih sayang. "Sssttt …! No, kamu tidak boleh menangis! Itu salahku, jadi seharusnya aku yang minta maaf."
"Aku tidak bermaksud berbohong," ucap Nindya serak.
"Kamu pasti punya alasan kuat melakukan itu semua, aku menduga ada dua hal yang menyebabkan kamu begitu. Pertama kamu akan menikah dengan Daniel dalam waktu dekat karena aku tidak pantas menjadi seorang suami. Kedua, kamu melakukan ini untuk Mayra, kamu tidak lelah selalu menyuruhku untuk bersamanya."
Nindya menahan air mata yang hampir jatuh, "Aku melakukan ini untuk diriku sendiri."
"Aku akan menikahimu segera!" Elang mengusap air mata Nindya yang mulai menetes dan membasahi pipi. "Aku akan tetap bertanggung jawab meski janinmu sudah tidak ada."
Nindya menggeleng berat, "Tapi aku … aku sudah tidak hamil, El! Kamu tidak perlu bertanggung jawab. Aku akan menikah dengan Daniel."
Benarkah? Apa itu cara menghindar terbaik dari seorang Nindya?
Rasa percayanya pada Elang belum tumbuh. Nindya butuh perasaan itu untuk bersama Elang di masa depan. Bagaimanapun Elang baru ada untuknya dalam hitungan hari, jauh jika dibandingkan dengan Daniel, tunangannya.
Semua sikap manis Elang bisa saja berubah, Elang masih muda dan tidak stabil. Nindya tidak bisa menggadaikan seluruh hidupnya pada pemuda yang belum dikenalnya dengan baik. Dia butuh waktu untuk mengenal Elang lebih jauh.
Pernikahan bukan hal main-main untuk Nindya, sekali dalam seumur hidup dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah. Kisah tragis kedua orang tuanya sudah cukup memberikan banyak pelajaran.
Dengan memilih Daniel, artinya Nindya tidak hidup bersama playboy seperti Elang, yang mungkin akan menyakiti hatinya di kemudian hari. Seperti ayahnya yang sudah sangat menyakiti ibunya.
"Aku serius ingin bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi pada hidupmu, Nindya! Menikahlah denganku!"
"Jangan, El! Biarkan aku menikah dengan Daniel! Kita sudahi saja affair kita sekarang, jangan lagi dilanjutkan demi kebaikan kita!" Nindya menatap Elang dengan kemantapan hati. Keputusannya sudah tepat hari ini.
Affair? Sial, bagaimana bisa Nindya masih menganggap hubungan mereka hanya sebatas itu?!
"Daniel? Baiklah, terserah kamu! Tapi aku tidak yakin Daniel tidak akan membawa-bawa masa lalumu dalam pernikahan kalian nanti." Elang menarik tangannya, membiarkan Nindya menimbang ulang keputusannya.
"Maafkan aku, El! Aku tetap pada keputusanku!" kata Nindya pelan. Bibirnya bergetar mengucapkan kata yang pasti menyakiti mahasiswanya itu. "Terimalah cinta Mayra! Dia perempuan baik."
Elang berdiri, dadanya sesak mendengar alasan Nindya yang tidak masuk akal baginya. Pemuda itu berjalan keluar dengan langkah gontai. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan untuk mencari angin, Elang berdiri di tengah pintu dan berucap serius.
"Aku mencintaimu, Nindya! Sangat mencintaimu." Elang hanya menggerakkan kepala sedikit saat mengucapkan itu, hanya melihat sampai bahu. Lalu keluar ruangan tanpa menoleh ke arah Nindya lagi.
Air mata Nindya tak terbendung, dia tidak bisa mencegah Elang pergi dari ruangannya. Jawaban yang keluar dari bibirnya hanya serupa bisikan yang bisa didengarnya sendiri, "Aku juga mencintaimu, El!"
TAMAT
***
...Hai Ellover, Bad Boy in Love sesion 1 ending di sini ya?!...
...Gimana rasanya baca Elang dengan gaya badboy-nya berusaha bertanggung jawab pada Nindya demi si calon bayi? ...
...Kali ini Elang bakal ngejar Nindya untuk dirinya sendiri ya! Alias demi cinta, cus baca Bad Boy in Love sesion 2 dengan judul 'Musim Bercinta' ...
...Cium jauh - Al...