Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Positif atau Negatif



"Kamu mau bukain? Caranya sama seperti apa yang udah aku lakuin sama kamu!" jawab Elang kalem, sedikit mengejek Nindya yang merona malu karena ucapannya.


Nindya menggigit bibir, Elang kembali menempatkan dirinya pada situasi yang tidak menguntungkan. Nindya berperang dengan hatinya, nyalinya untuk menelanjangi Elang tidak cukup kuat.


Meski Nindya ingin melihat dan meraba otot perut Elang yang keras, semua diurungkan begitu saja. Dia merasa senewen sendiri di bawah tatapan Elang. Konyol karena dia tanpa sehelai benang sedangkan Elang masih berpakaian lengkap dengan tatapan panasnya.


"Kamu memang beneran brengsek!"


Elang mengabaikan umpatan Nindya, dia justru kembali memeriksa suhu tubuh dosennya. Kali ini punggung tangannya menyentuh dahi Nindya lebih lama.


"Selain demam, sepertinya kamu juga rada edan!" Tangan Elang meraih selimut dan menutup tubuh Nindya dari ujung kaki sampai leher. "Tidurlah, kamu masih demam! Aku mau ke kamar mandi!"


Nindya terperangah, hasratnya padam seketika melihat Elang tidak bergairah padanya. Dia tidak menyangka Elang memilih menenangkan adik kecilnya sendiri daripada menggunakan dirinya.


Harga diri Nindya seolah jatuh, penilaiannya pada Elang berujung salah lagi. Menurut Nindya, Elang tidak mau melakukan 'hal itu' karena dia sedang demam, bukan karena tidak ada karet pengaman.


Tanpa kata, Nindya menurunkan selimut lalu kembali memakai bajunya yang berserakan. Ekor mata Nindya tak lepas dari sosok Elang yang berjalan santai meninggalkannya. Jangkung tapi tegap.


Nindya menghembuskan nafas panjang. Sejak kapan dia mengalami kemunduran pemikiran, mengagungkan fisik seseorang di atas kecerdasan. Apa itu berarti Elang termasuk pria tanpa otak, yang hanya mengandalkan tampang keren saja?


Tidak! Nindya juga menolak pemikiran seperti itu. Elang cukup cerdas, dia hanya kalah umur dan tingkat kematangan dibanding tunangannya. Lalu kenapa Nindya sekarang justru membandingkan dua pria tersebut?


Oh Tuhan! Nindya merasa terjebak dalam masalah besar.


Elang kembali masuk ke kamarnya, dengan wangi sabun dan shampo yang membius indera penciuman Nindya. Itu adalah perlengkapan mandinya sendiri! Tapi saat bau tersebut menempel pada Elang … Nindya jadi sangat menyukainya.


Nindya memijat kepala sebelum menggeser tubuhnya, memunggungi Elang yang menatapnya hangat sebelum hormonnya kembali meningkat.


What? Kenapa dia harus bergeser, apa Nindya juga berharap Elang akan tidur di ranjang yang sama dengannya dan memeluknya sepanjang malam? Astaga ….


"Masih kedinginan?" tanya Elang duduk di pinggiran ranjang.


"Ya - tidak," jawab Nindya tanpa niat melihat pemuda di belakang punggungnya. "Pulanglah, aku sudah lebih baik!"


Elang menyusun bantal lalu merebahkan diri, menggeser tubuhnya lebih dekat dan memeluk Nindya dari belakang. Posesif. Persis seperti yang diinginkan wanita keras kepalanya. "Aku pulang besok pagi."


Mendengar jawaban Elang, Nindya diam-diam melengkungkan bibirnya. Tersenyum menikmati hangatnya pelukan yang mengantarkannya lebih cepat ke alam mimpi.


Paginya Elang belum bangun saat Nindya membuat masakan sederhana. Kulkasnya hampir kosong karena dia belum berbelanja. Asisten rumah tangga yang biasa menemani masih juga belum kembali dari kampungnya.


Telur. Ya, Elang pernah mengatakan sangat menyukainya. Nindya membuat dadar telur berisi kornet dan sup tomat wortel. Setelah selesai, Nindya pergi mandi dan tentu saja akan menggunakan test pack yang dibeli Elang kemarin. Dia juga ingin tau apakah dia hamil atau memang belum masuk jadwal periode bulanan.


Setelah mandi, Nindya menyimpan testpack di laci meja perpustakaan dan menguncinya. Elang tidak perlu tau apapun mengenai hasilnya. Setidaknya belum, tidak hari ini.


Nindya memasang pembalut wanita pada ****** ********, lalu memakai baju santai karena hari ini dia mengajar siang.


"Hei, kamu sudah wangi sepagi ini!" sapa Elang seraya menggosok kedua mata dan menguap lebar.


"Hm," ujar Elang ringan.


Tidak lebih dari sepuluh menit, Elang sudah duduk menikmati sarapan bersama Nindya. Hatinya gembira dan tenang, dia merasa ada di rumah. Merasakan kehangatan dan kasih mamanya selama di meja makan.


"Aku suka masakanmu, rasanya mirip dengan masakan mama!" Bukan! Sebenarnya Elang ingin mengatakan kalau dia merasa memiliki istri. Tidur ada yang menemani dan paginya, ada yang membuatkan sarapan dengan penuh cinta untuknya.


"Jangan gombal, aku nggak bisa masak! Belum ada yang pernah ngasih pujian masakanku!"


"Calon istriku nggak harus pinter masak, karena aku juga bukan calon suami serba bisa, yang bisa benerin genteng bocor atau pipa saluran yang macet!"


Nindya tersenyum manis, "Oh ya, kamu adil sekali, tapi apa semua ini membuatmu bersedih?"


"Tidak sama sekali, aku justru senang memiliki momen baru untuk mengingat mama. Beliau dulu selalu menyiapkan sarapan untukku." Elang menatap Nindya penuh terima kasih saat menyelesaikan suapan terakhir. "Bagaimana kondisimu? Masih pusing?"


"Tidak juga, tapi mungkin hari ini aku izin tidak mengajar. Aku hanya akan datang sebentar ke lab melihat uji sampel pertamamu!"


"Aku juga berniat istirahat satu hari, aku lelah dua kali turun goa vertikal untuk ambil contoh air kemarin! Apalagi set SRT (Single Rope Technique \= Teknik lintasan satu tali untuk menuruni goa vertikal) yang aku pakai kemarin agak error waktu dipakai naik!"


"Untung tidak ada kecelakaan, kamu harus lebih hati-hati, El!" Nindya memasang wajah khawatir dan serius. "Mungkin ada alat yang perlu diganti?"


"Sepertinya iya, itu juga yang jadi alasan aku meminta bayaran ke Pak Ronald untuk tenaga anak-anak mapala yang turun ke goa. Setidaknya kami bisa beli tali statis (tali khusus yang dipakai untuk turun goa) dan jummar (alat bantu naik) baru. Jumlah inventaris alat divisi caving masih kurang banyak, harusnya kami paling sedikit punya lima set SRT."


"Aku nggak ngerti bentuk, kegunaan atau apapun mengenai alat petualangan yang kamu maksud. Tapi setiap unit kegiatan mahasiswa seperti mapala di kampus bisa mengajukan penambahan alat setiap tahunnya kan?"


"Bisa, hanya saja sementara ini divisi panjat yang didukung penuh oleh kampus, semua tergantung prestasi yang didapat!"


"I see, karena ada atlet wall climbing potensial yang membawa nama kampus di dalamnya," kata Nindya ikut prihatin. "Ya sudah kamu istirahat saja hari ini, besok baru nge-lab!"


"Ya aku pulang sebentar lagi, kamu serius sudah baikan? Aku sore ini harus latihan buat persiapan lomba panjat!"


"Kalau belum baikan aku tidak mungkin bisa buat sarapan dan mandi sepagi ini. Kamu latihan di kampus?"


"Iya di kampus seperti biasa. Mau nemenin?"


Nindya menggeleng, "Nggak kayaknya, nggak enak dilihat teman-teman kamu!"


"Teman-temanku bukan jenis nyai gosip, mereka juga kadang membawa pacar saat latihan, sebagai penyemangat!"


"Mungkin lain kali, lagi pula aku bukan pacarmu!"


"Oke terserah kamu saja, trus gimana hasil tes urinenya? Positif atau negatif?" tanya Elang antusias. Mendadak dia deg-degan menunggu Nindya bicara.


***