Bad Boy In Love

Bad Boy In Love
Arung Sungai



Sungai mulai berkelok-kelok, dan Elang pun memainkan dayungnya dengan lihai. Memberi aba-aba seperlunya namun jelas terdengar semua rafter dalam perahu agar tidak ada yang bingung saat mendayung.


Suara teriakan Elang mulai membelah aliran sungai yang sangat deras. Dia berteriak keras menyaingi suara debur air sungai, "Depan siap … pancung kanan kuat!"


Perahu karet berbelok ke arah kiri sebelum menabrak bebatuan. "Maju … lurus!"


Elang berdiri sebentar untuk mengamati aliran sungai, "Sebentar lagi kita akan masuk ke aliran utama sungai yang lebih deras!"


"Whoa takut!" teriak Vivian diikuti rafter perempuan yang ada di sampingnya.


"Rodeo ya?!" Elang mengambil jangkauan kanan besar dengan dayungnya dan memberi perintah dengan suara keras, "Pancung kanan terus … kanan kuat, kanan lagi! Ayo tambah power lagi!"


Perahu karet Elang menyusuri aliran deras sungai dengan posisi berputar. Elang sudah memilih jalur paling aman untuk bermain perahu ala rodeo, membuat mereka yang berada di perahu berteriak dan histeris bahagia. Meskipun adrenalin melonjak seketika, tapi kepuasan ada pada wajah para rafter. "Keren, Kak El … tapi Vivian agak takut jatuh, serem!"


"Jiah … jatuhnya juga ke air, Vi! Nggak usah lebay!" jawab pemuda yang duduk paling depan bagian kanan.


Hingga akhirnya mereka semua mengatur nafas setelah tiba di aliran dengan permukaan air yang tenang dan aman. Elang iseng membalik perahu karet bersamaan dengan teriakannya. "Flipflop, babe! Waktunya mandi!"


Semua rafter, tak terkecuali Elang jatuh ke air. Beberapa mengumpat karena merasa tidak siap saat perahu mendadak terbalik dan menjatuhkan mereka semua ke dalam air.


Tim rescue memerintahkan semua rafter berenang ke pinggir sungai untuk istirahat. Vivian dengan cekatan membawa dirinya berenang ke arah yang ditunjuk, tempat yang akan digunakan untuk istirahat makan siang. Tangan Vivian disambut Arga saat keluar dari sungai.


Arga tertawa menang, memandangi tubuh Vivian sambil bersiul keras meledek sahabatnya. "Ayo El, jangan kebanyakan modus!"


Elang mengabaikan panggilan Arga. Dia sibuk menolong dosen pembimbingnya yang ternyata tidak bisa berenang. Satu kesalahannya, Elang tadi tidak bertanya terlebih dahulu sebelum melakukan aksi flipboard pada perahunya.


Apakah ada yang tidak familiar dengan air? Apakah ada yang tidak bisa berenang? Sudahlah, namanya juga lupa apa hendak dikata, ujar Elang dalam hati. Kalimat sakti yang kerap dipakai untuk membenarkan diri sendiri.


"Iya tenang, Bu! Nggak bakal tenggelam, ibu pakai pelampung!" Elang memegang pundak pelampung yang dipakai Nindya, sedikit memeluk agar perempuan yang semalam ditidurinya tanpa sengaja itu tidak terlalu takut dan panik berlebihan.


"Brengsek kamu, El!" umpat Nindya kesal setelah bergelayut aman di bahu mahasiswanya. Dia terpaksa meminum air sungai beberapa teguk karena bergerak tak tau arah dan mengira dirinya bakal tenggelam.


"I am," jawab Elang dengan seringai miring. "Maksudnya maaf, Bu!"


"Kamu main-main sama nyawa orang!" hardik Nindya kesal. Mulutnya terbatuk dan hidungnya sakit karena kemasukan air.


"Tapi aku nggak bisa berenang, Elang!" geram Nindya meluapkan amarah. Tangannya sedikit mencengkram bahu Elang karena jengkel.


"Kan ada Elang, Bu!"


Ingin sekali Nindya memberi tamparan lagi pada pemuda yang jauh lebih tampan saat wajahnya basah penuh butiran air itu. Apalagi Elang memasang ekspresi tak bersalah. "Jangan kurang ajar kamu!"


"Menyelamatkan ibu agar tidak tenggelam tidak dalam kategori kurang ajar. Itu heroik!" Elang mendekatkan wajah dengan sengaja. Sedikit melepaskan pegangan pada pelampung yang dipakai Nindya.


"Tapi kamu sengaja melakukan flipboard!" Nindya menjawab gelagapan. Tangannya langsung meraih Elang lebih dekat karena takut tenggelam setelah Elang melepaskannya.


"Sengaja atau tidak, kecelakaan di alam bisa saja terjadi. Yang terpenting sikap setelah kejadian," kata Elang mempertahankan argumen sembari tertawa kecil melihat kepanikan dosennya.


"Kamu …!" Nindya kehabisan kata-kata.


"Gini deh, tadi sebelum berangkat, semua rafter belajar renang jeram kan? Fungsinya ya sekarang, coba dayung Bu Nindya kemana? Padahal itu buat alat bantu keluar dari derasnya aliran sungai loh!" terang Elang kalem.


"Bodo amat, siapa yang peduli dayung itu ada dimana? Hilang ya sudah! Kapok saya, nggak bakal ikut lagi acara beginian," kata Nindya berusaha lepas dari tangan Elang yang sudah menahan pelampungnya kembali. "Bawa aku ke pinggir sekarang!"


"Bu Nindya nggak tahu ya kalau harga paddle standar arung jeram itu berapa? Saya nanti yang ganti kalau sampai ilang, ibu nggak kasihan?"


Elang menurut, dia berenang santai sambil membawa dosen yang wajahnya merah padam karena menahan malu. Buat Elang, rona pipi itu lah yang membuat wanita terlihat menggemaskan.


"Nggak mau tahu aku, El! Kamu aja nggak ada belas kasihan sama orang nggak bisa berenang. Ayo lebih cepat, hidungku panas kemasukan air!"


"Saya seneng kalau Bu Nindya ngomongnya aku kamu gitu …!" jujur Elang dengan seringai tak sopan. "Lama-lama bisa jadi kita!"


"El, bisa bantu saya ke pinggir sekarang juga?" tegur Nindya sarkas.


"Siap, Bu Nindya! Kapan-kapan kalau misalnya ibu mau belajar berenang sama El boleh banget, serius!" kata Elang tidak tahu adat. Setelah mata mereka bertatapan sekilas, Elang tersenyum menawan dan menyambung ucapannya. "Gratis, Bu!"


Nindya seketika menolak dengan ketus, "Nggak bakalan ada yang namanya kapan-kapan, kodrat manusia hidup di daratan, bisa berenang atau tidak bukan hal penting!"


***